Aku tidak duduk di sampingnya. Aku duduk di kursi tunggal di seberang sofa. Bukan karena aku marah. Karena aku tidak ingin dia merasa aku menahan dia dengan kehadiranku saat dia bicara.


"Bagus Pranowo," aku berkata. "Konsultan pajak. Tiga minggu lalu. Kafe Senopati."


Mata Salma melebar. "Mas tahu —"


"Ada foto. Di rumah Mama. Tante Sri terbang dari Surabaya buat lihat foto itu. Karina punya enam foto kalian berdua."


Salma menutup mulutnya dengan tangan.


"Salma. Aku tidak akan tanya kamu kenapa kamu ketemu Bagus. Aku sudah tahu. Yayasan Ibu. Audit pajak. Kamu mau kasih kejutan ke aku di ulang tahunku karena aku pernah curiga laporan keuangan yayasan tidak benar."


Air mata mengalir dari mata Salma. Dia tidak berusaha menahan.


"Tapi yang aku tanya," aku berkata, "adalah satu hal yang ibuku bilang tadi malam sebelum dia pergi. Dia bilang — *tanyakan siapa Galih.*"


Salma membeku.


Selama mungkin sepuluh detik, dia tidak bergerak. Tidak bernafas. Lalu dia berdiri pelan, jalan ke lemari di sudut ruangan, membuka laci paling bawah, dan mengeluarkan satu kotak sepatu lama. Dia bawa kotak itu ke meja. Dia duduk kembali.


Dia membuka kotak.


Di dalamnya: amplop-amplop. Sembilan. Sepuluh. Aku tidak menghitung. Semua amplop putih biasa, semua dengan stempel pos dari berbagai daerah, semua diberi nomor di pojok kanan atas dengan pulpen.


"Galih itu sepupu Karina." Suara Salma bergetar. "Lima tahun lalu, sebelum aku ketemu Mas, Galih melamar aku. Aku menolak."


"Kenapa?"


"Karena aku tahu siapa dia. Dia... dia bukan orang baik, Mas. Dia di-DO dari fakultas hukum gara-gara kasus pemalsuan nilai. Dia pernah pacaran sama teman sekantorku, dan teman aku itu pulang dari rumah Galih dalam keadaan... " Salma menarik napas. "Dia muncul di kantorku waktu itu, bawa cincin, dengan dua bodyguard. Dia bilang kalau aku tidak terima, dia akan pastikan aku tidak punya tempat kerja di Jakarta. Aku tetap menolak. Aku resign minggu itu, pindah ke kantor cabang yang lebih kecil."


"Cabang Bekasi."


"Iya."


"Cabang yang aku kunjungi enam bulan kemudian dan pertama kali ketemu kamu."


Salma mengangguk.


"Apa Karina tahu?"


"Karina yang mengatur perjodohan itu, Mas." Suara Salma turun setengah oktaf. "Galih itu sepupu dari pihak ibu Karina. Karina yang minta Galih melamar aku, karena Karina mau membuktikan ke ibu kalian bahwa dia bisa 'membersihkan masalah keluarga.' Aku waktu itu cuma staf admin yang kebetulan tidak sengaja melihat dokumen yang seharusnya tidak aku lihat — soal pengiriman duit yayasan ke perusahaan cangkang Karina."


Aku mengepalkan tangan di lututku.


"Lima tahun lalu kamu sudah lihat fraud Karina?"


"Tidak utuh. Cuma satu invoice. Tapi cukup buat Karina khawatir. Galih disuruh menikahi aku — biar setelah jadi suami, dia bisa kontrol aku. Aku menolak. Aku resign. Karina mengira masalah selesai. Sampai..." Salma menggeser kotak amplop ke arahku. "Sampai aku ketemu Mas."


Aku membuka amplop paling atas. Kertas A4 dilipat tiga. Tulisan tangan rapi, pena hitam.


> *Salma, aku tahu kamu sekarang dekat dengan adikku.

> Aku kasih kamu satu peringatan. Jangan dekati dia.

> Kalau kamu maksa, aku akan pastikan kamu menyesal selama hidupmu — dan kalau kamu kira aku bohong, ingat kasus Mira di kantor lamamu.*


Aku menelan ludah. Aku ingat kasus Mira. Itu kasus yang membuat Salma resign — kolega Salma yang ditemukan over-dosis di indekos setelah diancam debt collector misterius.


Amplop kedua. Tahun berikutnya.


> *Aku tidak mengira kamu cukup bodoh untuk menikahi Arsen.

> Selamat. Aku akan mengamati kamu. Setiap. Hari.

> Suatu saat kamu akan membuat satu kesalahan kecil, dan aku akan ada di sana.*


Amplop ketiga. Foto. Foto Salma menggendong Kira yang baru lahir di RS, diambil dari jendela RS dari jarak jauh. Di balik foto tulisan:


> *Anak yang cantik. Mata Arsen sekali.

> Sayang sekali bayinya tidak akan tahu betapa banyak yang harus dilalui ibunya.*


Aku menjatuhkan amplop ketiga.


"Berapa banyak surat ini, Salma?"


"Dua belas. Satu setiap setengah tahun, kira-kira. Yang terakhir bulan lalu."


"Kamu tidak pernah cerita."


"Aku takut, Mas."


"Takut apa?"


"Takut kamu memilih keluargamu. Takut kamu memilihku, lalu hancur seperti yang Karina janjikan. Takut Kira terseret. Aku pikir kalau aku diam, kalau aku terus baik, kalau aku tidak pernah mengganggu mereka — mereka akan capek sendiri."


Aku menatap Salma. Empat tahun. Empat tahun perempuan ini menyimpan kotak ini. Empat tahun dia tersenyum di depanku setiap pagi, masak sarapan kesukaanku, mengurus anakku, dan setiap enam bulan dia menerima ancaman tertulis dari kakak perempuan suaminya, dan dia memilih untuk diam.


Karena dia pikir, kalau dia ngomong, aku akan rusak.


Aku berdiri. Aku jalan ke arahnya. Aku berlutut di depan sofa. Aku ambil kedua tangannya, dingin, gemetar.


"Salma."


"Iya, Mas?"


"Maaf."


"Mas tidak salah —"


"Maaf, aku tidak pernah melihat. Empat tahun kamu menanggung ini sendirian. Maaf."


Aku menundukkan kepala di tangannya. Aku tidak menangis — tapi aku tahu kalau aku angkat kepala sekarang, mataku akan basah, dan aku ingin Kira yang sedang main di lantai dapur tidak melihatnya.


Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, Salma menangis tanpa berusaha menahan suaranya. Dia menangis seperti seseorang yang baru saja diizinkan untuk meletakkan beban yang terlalu lama dipikulnya.


---


Aku tidak langsung tidur malam itu.


Setelah Salma akhirnya tertidur di sofa, masih dalam pelukanku, aku pelan-pelan menggesernya, menyelimutinya, dan duduk lagi di lantai depan meja. Aku membuka amplop demi amplop. Aku perlu tahu pola. Aku perlu tahu kebiasaan musuh yang sudah mengawasi kami selama lima tahun.


Amplop nomor delapan, tahun lalu. Foto Salma menjemput Kira di TK.


> *Kira mulai sekolah. Cantik sekali dengan rok merahnya.

> Aku menghitung — dia masih 3,5 tahun. Masih cukup kecil untuk lupa kalau sesuatu terjadi padanya. Kau pikir tentang ini, Salma?*


Aku menahan ludah.


Amplop nomor sebelas. Tiga bulan lalu.


> *Sebentar lagi waktunya.

> Arsen sedang melakukan satu hal yang tidak boleh dia lakukan. Dia akan tahu sendiri sebentar lagi.

> Kau mau cerai dengan damai, atau menunggu hancur secara dramatis? Pilihan ada di tangan kau, Salma. Pertama kalinya pilihan ada di tangan kau.*


Aku menatap surat itu lama.


*"Arsen sedang melakukan satu hal yang tidak boleh dia lakukan."*


Aku menulis-nulis tanggal di kepala. Tiga bulan lalu... apa yang aku lakukan tiga bulan lalu? Aku tidak melakukan apa-apa yang luar biasa. Aku menjalankan kantor cabang Surabaya seperti biasa. Aku — tunggu.


Tiga bulan lalu aku mulai menyuruh tim auditor internal memeriksa laporan keuangan beberapa proyek yang melibatkan vendor pilihan Karina. Aku tidak mencurigai apa-apa. Aku hanya melakukan audit rutin yang seharusnya. Tapi Karina pasti tahu. Karina pasti dapat laporan dari salah satu manajer keuangan yang loyal pada keluarga, bukan pada perusahaan.


Aku menarik napas panjang.


Bukan cuma Salma yang sedang mereka serang.


Aku juga.


Sudah dari tiga bulan lalu.


Aku berdiri pelan, menatap Salma yang sedang tidur dengan napas yang akhirnya teratur, dan menjalankan ringkasan kasar di kepalaku. Lima tahun lalu, Karina mencoba menjebak Salma lewat Galih. Gagal. Empat tahun ancaman tertulis. Salma diam. Tiga bulan lalu, aku mulai audit yang tidak mereka inginkan. Tiga minggu lalu, Salma diawasi profesional di kafe. Dua hari lalu, ibuku menyiram anakku. Hari ini, foto-foto disetel di rumah keluarga.


Bukan rangkaian. Pola. Eskalasi.


Mereka sudah lama sekali tidak sabar.


Aku kembali duduk. Aku menumpuk amplop dengan rapi. Aku menutup kotak. Aku membawa kotak itu ke kamar dan menyembunyikannya di balik pakaianku — kebiasaan absurd dari pria yang baru saja menyadari bahwa di rumahnya sendiri, dia tidak yakin lagi siapa yang aman dan siapa yang tidak.


---


Pukul 23.47 malam itu, HP-ku berdering.


Bukan telepon. Notifikasi email.


Subjek: **Surat Pemutusan Hubungan Kerja — Efektif Pukul 00.00 WIB.**


Pengirim: Reno Wibowo, Direktur Utama PT Wibowo Group.


Isi: tiga paragraf formal. Pemberhentian dari jabatan Direktur Cabang Surabaya. Tanpa pesangon. Tanpa notice period. Efektif tigabelas menit lagi.


Aku menatap layar HP, lalu menatap kotak amplop yang masih terbuka di meja.


Galih, lima tahun lalu. Foto perselingkuhan palsu pagi tadi. Pemecatan tengah malam ini.


Ini bukan tiga kejadian.


Ini satu kejadian dalam tiga babak.


Dan babak pertama sudah dimulai lima tahun sebelum aku menyadarinya.


---