Jalan tanah selebar tiga meter yang dilalui Bima perlahan terbuka, menampilkan pemandangan yang membuat langkahnya terhenti. Di balik rimbunnya pohon-pohon beringin tua yang memagari jalan masuk, terhampar sebuah permukiman yang tertata dengan sangat rapi. Sukamaya sama sekali tidak terlihat seperti desa tertinggal. Rumah-rumahnya besar, dibangun dari kayu jati berkualitas tinggi dengan ukiran-ukiran khas yang rumit di bagian pintu dan jendelanya. Atap-atapnya terbuat dari sirap yang berjajar rapi, dan halaman setiap rumah dilapisi oleh batu kali yang disusun presisi.
Namun, estetika yang menawan itu tidak mampu menutupi aura 'kematian' yang menyelimuti tempat ini. Di bawah terik matahari tengah hari yang menyilaukan, Bima menyusuri jalan utama desa tanpa berpapasan dengan satu orang pun. Jendela-jendela kayu besar itu tertutup rapat. Bima merasa seolah ia sedang berjalan di tengah sebuah museum peninggalan purbakala, atau lebih buruk lagi, sebuah kota hantu yang disiapkan secara khusus untuk menyambut kedatangannya.
Bima mengusap keringat dingin yang mengalir di pelipisnya. Keheningan ini tidak wajar. Insting jurnalistiknya mulai bekerja; matanya menyapu setiap sudut, mencari kejanggalan struktural atau tanda-tanda kehidupan. Sesekali, ia merasa tengkuknya meremang, perasaan familiar yang selalu muncul saat ia tahu ada seseorang yang sedang mengawasinya secara diam-diam. Ia melirik ke arah salah satu rumah di sisi kanan jalan. Untuk sepersekian detik, ia bersumpah melihat siluet manusia berdiri di balik tirai jendela yang sedikit terbuka, namun saat ia menajamkan pandangan, tirai itu sudah tertutup rapat sempurna.
"Selamat datang, anak muda. Jarang sekali desa kami kedatangan tamu dari jauh."
Sebuah suara bariton yang dalam dan tenang tiba-tiba memecah keheningan, membuat Bima hampir melompat mundur. Ia menoleh ke depan dan melihat seorang pria paruh baya berdiri di tengah jalan, sekitar sepuluh langkah darinya. Pria itu entah muncul dari mana. Bima tidak mendengar suara langkah kaki atau derit pintu terbuka.
Pria itu mengenakan pakaian yang sangat rapi untuk ukuran penduduk pedalaman: kemeja batik lengan panjang berwarna cokelat gelap, celana kain hitam, dan peci hitam yang bertengger pas di kepalanya. Wajahnya ramah, dipenuhi gurat-gurat halus yang menunjukkan kedewasaan, dan bibirnya menyunggingkan senyum yang lebar. Terlalu lebar. Matanya menatap lurus ke arah Bima, namun tatapan itu terasa kosong, seperti kaca jendela yang gelap gulita.
"Maaf kalau saya mengejutkanmu," lanjut pria itu sambil berjalan mendekat dengan langkah yang anehnya mengalir sangat mulus, nyaris tanpa suara. "Saya Karsa, Kepala Desa Sukamaya. Anda pasti lelah setelah perjalanan panjang mendaki kemari."
Bima berdeham, mencoba menguasai kembali detak jantungnya yang berpacu kencang. Ia mengulurkan tangannya. "Nama saya Bima, Pak. Saya datang dari Jakarta. Saya minta maaf kalau kedatangan saya tiba-tiba dan mungkin tidak sopan tanpa memberitahu terlebih dahulu."
Pak Karsa menyambut uluran tangan Bima. Bima tersentak kecil di dalam hati. Tangan pria itu terasa sedingin balok es yang baru dikeluarkan dari lemari pendingin, dan tekstur kulitnya terasa kasar, seperti menyentuh kertas perkamen yang sudah sangat tua dan kering.
"Tidak ada yang tidak sopan, Nak Bima. Tamu adalah pembawa kabar, dan kami selalu menyukai kabar," jawab Pak Karsa, senyumnya tidak memudar sedikit pun. "Apa yang membawa seorang pemuda kota kemari? Apakah mencari ketenangan dari bisingnya ibu kota?"
"Saya mencari kakak saya, Pak. Namanya Arya," Bima langsung masuk ke inti pembicaraan, matanya menatap tajam ke arah mata Pak Karsa, mencari reaksi. "Dia seorang peneliti antropologi. Sekitar dua atau tiga bulan yang lalu, ia mengirimkan kabar bahwa ia sedang berada di daerah ini untuk melakukan riset kebudayaan. Apakah Bapak mengenalnya?"
Untuk pertama kalinya, senyum di wajah Pak Karsa sedikit mengendur. Matanya sedikit menyipit, menatap Bima dengan intensitas yang baru. Namun, ekspresi itu hanya bertahan selama dua detik sebelum senyum ramah itu kembali terpasang.
"Ah, Nak Arya. Tentu saja, tentu saja saya ingat," kata Pak Karsa sambil mengangguk pelan. "Pemuda yang sangat cerdas dan punya rasa ingin tahu yang besar. Dia memang tinggal bersama kami selama beberapa minggu. Dia sangat tertarik dengan sejarah berdirinya desa ini. Tapi sayangnya, Nak Bima... dia sudah pergi sekitar sebulan yang lalu. Katanya dia ingin melanjutkan penelitian ke komunitas adat di balik gunung."
Bima merasakan ada sesuatu yang janggal dari jawaban itu, terlalu tertata dan terlampau tenang. "Pergi? Sebulan yang lalu? Tapi dia tidak pernah memberikan kabar kepada keluarga sejak saat itu, Pak."
"Mungkin di pedalaman sana belum ada akses komunikasi," jawab Pak Karsa santai. "Mari, jangan kita bicarakan hal ini di tengah jalan yang terik. Matahari sedang tidak bersahabat hari ini. Mampirlah ke rumah saya, istri saya pasti senang membuatkan teh hangat untuk tamu kita."
Pak Karsa membalikkan badan dan mulai berjalan memimpin di depan. Bima mengekor di belakangnya, pikirannya berputar cepat menganalisis setiap informasi. Saat mereka berjalan beriringan, Bima menunduk, melihat ke arah kakinya sendiri untuk memastikan langkahnya di atas batu kali. Saat itulah, matanya menangkap sesuatu yang membuat aliran darahnya terasa berhenti mengalir.
Matahari sedang berada di puncaknya, bersinar tanpa terhalang awan sedikit pun. Cahayanya jatuh tegak lurus, menimpa tubuh Bima dan memproyeksikan bayangan gelap dan pekat tepat di bawah kakinya, bergerak seiring dengan langkahnya. Namun, saat tatapan Bima bergeser ke arah sebelah kirinyaβtepat ke area di bawah kaki Pak Karsaβia mendapati kekosongan yang absolut.
Tanah di bawah kaki Pak Karsa dibanjiri oleh cahaya matahari, namun tidak ada sedikit pun bayangan hitam yang tercipta. Pria itu berjalan menembus cahaya terik, namun eksistensi fisiknya seolah tidak diakui oleh hukum fisika. Tidak ada siluet yang jatuh di atas bebatuan. Ia ada di sana, bernapas, berbicara, berwujud padat, namun ia tidak menghalangi cahaya. Ia melintas tanpa jejak gelap sama sekali.
Bima berhenti melangkah. Jantungnya berdetak sangat keras hingga terasa menyakitkan di dada. Logikanya langsung memberontak, berusaha mati-matian mencari penjelasan rasional. Ini pasti ilusi optik, batinnya berteriak panik. Sudut cahaya matahari mungkin tepat berada di titik buta, atau warna baju bapak itu menyerap cahaya sehingga bayangannya berbaur dengan batu kali. Bima bergeser dua langkah ke kanan, mencoba melihat dari sudut yang berbeda. Hasilnya nihil. Kekosongan itu nyata.
"Ada apa, Nak Bima? Kenapa berhenti?" Pak Karsa menoleh, menatap Bima yang berdiri mematung dengan wajah pucat pasi.
Bima menelan ludah, tenggorokannya mendadak sangat kering. Ia menggeleng pelan, memaksakan sebuah senyum canggung. "Ti... tidak apa-apa, Pak. Kaki saya sedikit kram."
"Ah, berjalan di jalan berbatu memang kadang menyiksa bagi yang belum terbiasa," kata Pak Karsa memaklumi. Ia menunjuk sebuah rumah kayu paling besar yang berada di ujung jalan utama. "Itu rumah saya. Mari."
Sambil menahan rasa gemetar di lututnya, Bima kembali berjalan. Kali ini, ia mencoba memperhatikan beberapa warga desa yang mulai keluar dari rumah mereka. Ada seorang perempuan tua yang menyapu halaman, dan dua orang pria yang memikul kayu bakar. Bima menatap ke arah kaki mereka satu per satu. Rasa dingin yang menjalar di punggungnya semakin pekat.
Tidak ada. Tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki bayangan. Mereka bergerak beraktivitas di bawah sinar matahari seperti manusia normal, namun tanah di sekitar mereka bersih dari proyeksi gelap sekecil apa pun. Kata-kata Pak Dadang si supir jip, dan kalimat mengerikan di surat Arya, mendadak terasa masuk akal dengan cara yang paling sinting. Mereka memakan bayangan.
Setibanya di rumah Pak Karsa, Bima dipersilakan duduk di ruang tamu yang luas. Perabotannya terbuat dari kayu ukir tua yang memancarkan aroma mistis. Bima merogoh tasnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar, mengeluarkan kamera mirrorless-nya. Logikanya membutuhkan pembuktian. Ia berniat merekam atau memotret fenomena gila ini untuk dianalisis nanti. Jika matanya menipu, lensa kamera tidak akan berbohong.
Diam-diam, saat Pak Karsa membelakanginya, Bima menghidupkan kamera itu dan mengarahkannya ke sang Kepala Desa. Namun, saat layar digital itu menyala, Bima terkesiap pelan. Sensor kameranya tidak menangkap gambar apa pun. Layarnya hanya dipenuhi oleh garis-garis statis merah dan hitam yang berkedip cepat (glitch), seolah sensornya mengalami malfungsi parah akibat gangguan medan magnetik yang ekstrem.
"Perangkat modern sering kali cepat lelah di desa kami, Nak," tegur Pak Karsa tiba-tiba, suaranya terdengar sangat dekat. Bima mendongak dan melihat pria itu sudah berdiri tepat di hadapannya, membawa secangkir teh. Pak Karsa tidak tersenyum kali ini. Matanya yang gelap menatap tepat ke arah kamera di tangan Bima. "Mereka mencoba menangkap sesuatu yang seharusnya tidak perlu ditangkap."
Bima buru-buru mematikan kameranya dan menyimpannya ke dalam tas, jantungnya berdegup tak karuan. "Baterainya bermasalah, Pak," kilahnya gugup.
"Minumlah," Pak Karsa menyodorkan cangkir teh itu. Cairan di dalamnya tidak berwarna cokelat atau kuning, melainkan merah pekat nyaris kehitaman. Asap tipis mengepul dari permukaannya, membawa aroma manis melati yang sangat kuat, namun di baliknya, Bima bisa mencium bau logam atau karat yang samar, mengingatkannya pada aroma darah kering.
Bima menatap teh itu, lalu menatap wajah Pak Karsa. Ia tahu, mulai detik ini, ia sedang bermain di atas batas tipis antara hidup, mati, dan sesuatu yang jauh lebih buruk dari kematian itu sendiri.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar