Malam pertama Bima di Sukamaya terasa seperti kurungan yang perlahan menyempit di sekelilingnya. Pak Karsa mengizinkannya menempati sebuah paviliun kecil yang terbuat dari kayu di bagian belakang kompleks rumahnya, dengan alasan agar Bima bisa beristirahat sebelum memulai pencarian keesokan harinya. Ruangan itu hanya diterangi oleh sebuah lampu minyak tua yang menggantung di sudut ruangan, menyebarkan pendar cahaya kekuningan yang redup dan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding.
Bau di ruangan itu sangat mengganggu penciuman Bima. Bukan bau apek kayu lama, melainkan perpaduan antara wangi kemenyan Jawa yang berat dan aroma melati yang terlalu tajam, seolah sengaja dibakar dalam jumlah besar untuk menutupi bau busuk yang disembunyikan di baliknya.
Bima duduk bersila di atas kasur tipis yang beralaskan tikar pandan. Ia tidak memiliki niat sedikit pun untuk memejamkan mata. Kewarasannya sedang diuji hingga batas maksimal. Ia membuka tasnya, mengeluarkan buku catatan bersampul kulit milik Arya, dan membukanya di bawah cahaya temaram lampu minyak. Ia mulai membaca halaman demi halaman dengan teliti, mencari sesuatu, apa saja, yang bisa menjelaskan kegilaan yang ia saksikan siang tadi.
Halaman-halaman awal berisi catatan standar seorang antropolog: data demografi, sketsa arsitektur rumah adat, dan analisis struktur sosial masyarakat Sukamaya. Namun, memasuki pertengahan buku, tulisan tangan Arya mulai berubah. Huruf-hurufnya menjadi tidak beraturan, miring, dan ditekan terlalu kuat. Terdapat banyak coretan frustrasi dan kalimat-kalimat yang terputus.
Bima membaca salah satu entri yang ditandai dengan banyak lingkaran merah: Tanggal 14. Hari ini aku menemukan kebenaran yang mustahil. Mereka tidak memiliki bayangan. Aku sudah menguji semua teori optik, ini bukan fatamorgana. Ada fenomena anomali yang melawan hukum fisika murni. Penduduk desa menganggapnya biasa saja. Pak Karsa menyebutnya sebagai 'anugerah'. Anugerah apa yang merampas refleksi eksistensimu dari alam semesta?
Bima membalik halaman dengan cepat. Jantungnya berdebar membaca keputusasaan kakaknya. Tanggal 21. Aku berhasil menyusup ke perpustakaan desa, ruang bawah tanah di bawah balai pertemuan. Aku menemukan lontar-lontar kuno. Ini bukan fenomena alam. Ini kutukan yang dipilih secara sadar. 'Perjanjian Cahaya'. Mereka menukar esensi jiwa mereka—yang termanifestasi dalam bentuk bayangan—dengan entitas penghuni hutan larangan. Entitas itu memberikan kemakmuran tanpa batas, penyakit tidak bisa menyentuh mereka, umur mereka berhenti menua. Tapi mereka bukan manusia lagi. Mereka adalah cangkang kosong. Berjalan di bumi tapi tidak diakui oleh Sang Pencipta.
Tiba-tiba, suara ritmis yang berat memecah kesunyian malam dari luar jendela paviliun. Bunyinya seperti dengungan rendah manusia dalam jumlah banyak, bergumam dalam bahasa yang tidak Bima pahami. Nada-nadanya terdengar sumbang dan mengerikan, membuat bulu kuduk Bima meremang secara otomatis.
Ia mematikan lampu minyak, membiarkan kamarnya tenggelam dalam kegelapan, dan merangkak mendekati jendela kayu. Ia mengintip melalui celah sempit di antara bilah jendela. Pemandangan di luar membuat napas Bima tercekat di tenggorokan.
Di lapangan terbuka tepat di sebelah timur rumah kepala desa, puluhan warga Sukamaya telah berkumpul. Mereka berdiri membentuk lingkaran besar di sekeliling sebuah sumur tua yang terbuat dari susunan batu hitam. Mereka semua memegang obor yang menyala terang. Namun, kegilaan itu kembali tersaji di depan mata Bima: di tengah terang benderangnya api obor yang menjilat-jilat udara malam, tak satu pun dari warga desa itu memproyeksikan bayangan ke tanah atau dinding di sekitarnya. Cahaya obor itu menembus mereka, seolah mereka hanyalah proyeksi hologram yang mengerikan.
Di tengah lingkaran, berdekatan dengan bibir sumur, berdiri Pak Karsa. Ia tidak mengenakan kemeja batiknya lagi, melainkan jubah panjang berwarna hitam pekat. Di tangannya, ia memegang seutas tali tambang tebal yang diikatkan ke leher seekor kambing jantan berbulu hitam legam. Kambing itu tampak gelisah, mengembik ketakutan dan meronta-ronta, mencoba menarik diri menjauh dari sumur tersebut.
Pak Karsa mengangkat tangan kirinya, dan seketika gumaman warga terhenti. Kesunyian malam kembali mengambil alih, hanya menyisakan suara api obor dan embikan panik si kambing hitam.
Dengan gerakan perlahan dan tanpa paksaan yang kasar, Pak Karsa berjongkok di samping kambing tersebut. Ia tidak mengeluarkan pisau atau senjata tajam apa pun. Ia hanya mendekatkan wajahnya ke telinga hewan malang itu dan membisikkan sesuatu—mantra atau kutukan—yang tidak bisa didengar oleh Bima.
Apa yang terjadi selanjutnya akan menghantui Bima seumur hidupnya. Begitu bisikan itu selesai, kambing itu tiba-tiba berhenti meronta. Tubuhnya menegang hebat, matanya melotot membelalak ngeri. Dari bawah tubuh kambing itu—dari bayangan hitamnya yang menempel di tanah—muncul sulur-sulur hitam menyerupai asap pekat yang hidup. Asap itu ditarik paksa dari dalam bayangan si kambing, meliuk-liuk di udara seperti tentakel penderitaan, dan bergerak cepat masuk ke dalam lubang sumur tua itu.
Seiring dengan tersedotnya bayangan itu, tubuh kambing itu mengempis seketika, mengering seperti mumi yang diawetkan ribuan tahun, sebelum akhirnya ambruk ke tanah menjadi tumpukan tulang dan kulit kering yang tak bernyawa. Makhluk di dalam sumur itu baru saja memakan esensi kehidupan si kambing.
Bima mundur dari jendela, menutup mulutnya dengan kedua tangan agar tidak menjerit. Perutnya bergejolak hebat, rasa mual yang luar biasa menyerang ulu hatinya. Ia mundur terhuyung-huyung hingga punggungnya menabrak dinding kamar, dadanya naik turun dengan cepat, mencoba menghirup udara sebanyak mungkin.
Saat ia sedang berusaha menenangkan diri dari serangan panik, telinganya menangkap sebuah suara lain. Suara yang sangat pelan, berjarak dekat.
Tok... tok... tok...
Bima menahan napas. Matanya nanar menatap ke sekeliling ruangan yang gelap gulita. Suara itu bukan datang dari luar pintu atau jendela. Suara itu berasal dari bawah kakinya. Dari bawah lantai kayu tempatnya berdiri.
Dengan tangan gemetar, Bima berlutut dan meraba permukaan lantai kayu. Di sudut ruangan dekat tempat tidur, ia merasakan salah satu papan lantai sedikit menonjol dan tidak terpasang rapat. Ia mengeluarkan pisau lipat serbaguna dari sakunya, menyelipkan mata pisau ke celah papan, dan mencongkelnya sekuat tenaga. Papan kayu itu terangkat dengan bunyi derit pelan.
Di bawahnya, di ruang sempit antara lantai dan pondasi tanah, terdapat sebuah lubang galian kecil. Bima merogoh ke dalam kegelapan lubang itu dan jari-jarinya menyentuh sesuatu yang dibungkus kain kasar. Ia menariknya keluar.
Itu adalah bungkusan kain kafan putih yang sudah kotor oleh tanah. Bau anyir darah menyengat tajam dari kain tersebut. Dengan hati-hati, Bima membuka ikatan kainnya. Di dalamnya, terdapat kartu pers atas nama Arya Mahardika, sebuah kalung berliontin batu giok yang selalu dipakai Arya, dan sebuah perekam suara digital (voice recorder) yang layarnya retak namun masih menyala dengan lampu indikator merah berkedip lemah.
Jari Bima gemetar saat menekan tombol 'Play' pada perangkat tersebut.
Terdengar suara kresek-kresek statis yang panjang, sebelum akhirnya disusul oleh suara napas yang terengah-engah dan berat. Itu suara Arya.
"Bim... kalau kamu menemukan rekaman ini... berarti aku gagal," suara Arya terdengar sangat parau, dipenuhi oleh keputusasaan yang absolut. "Mereka menangkapku, Bim. Pak Karsa... dia bukan manusia. Jangan percaya siapa pun di desa ini. Tolong, jangan mencariku ke hutan. Jangan masuk ke sumur itu."
Terdengar suara batuk yang keras, disusul rintihan kesakitan dari Arya.
"Bim... kakiku terasa sangat ringan. Mereka membawaku ke sumur itu malam ini. Mereka tidak membunuh tubuhku, Bim... tapi mereka mencabutnya. Rasanya dingin sekali. Sangat dingin. Saat kamu berjalan nanti... dan kau menunduk ke tanah... jika kau tak lagi melihat dirimu sendiri di sana... berarti kau sudah menjadi milik mereka."
Rekaman itu diakhiri dengan suara dobrakan pintu yang sangat keras, teriakan tertahan dari Arya, lalu suara benda jatuh disusul keheningan statis.
Bima menjatuhkan perekam suara itu ke lantai. Air mata mengalir di pipinya tanpa bisa ia tahan. Di tengah keputusasaan yang mencengkeram dadanya, Bima menunduk, menatap ke arah kakinya yang diterangi cahaya redup bulan dari celah jendela. Untuk sesaat, ia merasa bayangannya sendiri sedang bergetar, seolah bersiap untuk ditarik masuk ke dalam kegelapan yang mengintai di bawah lantai desa terkutuk ini.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar