Cahaya pagi menembus celah-celah dinding papan paviliun, menusuk mata Bima yang sembap dan merah. Sepanjang malam ia duduk bersandar di sudut ruangan sambil menggenggam erat pisau lipatnya, tak berani memejamkan mata sedetik pun. Suara embikan kambing yang meregang nyawa dan jeritan Arya dari alat perekam itu terus terngiang, berputar-putar di dalam kepalanya bagaikan kaset kusut yang enggan berhenti.
Bima menelan ludah, merasakan tenggorokannya sekering gurun pasir. Ia perlahan bangkit, sendi-sendinya bergemeretak kaku akibat udara dingin yang tidak wajar. Hal pertama yang ia lakukan adalah menunduk ke arah lantai kayu yang disinari cahaya matahari pagi. Jantungnya yang sempat berdegup kencang perlahan mereda. Sebuah siluet gelap berbentuk tubuhnya terproyeksi dengan jelas di atas lantai. Bayangannya masih ada. Ia belum sepenuhnya ditelan oleh kegilaan desa ini.
Insting jurnalisnya, yang sempat lumpuh oleh teror semalam, perlahan kembali mengambil alih. Ketakutan Bima perlahan bermutasi menjadi amarah dan determinasi. Arya, kakaknya, telah menjadi korban tempat terkutuk ini, dan Bima tidak akan membiarkan tragedi itu terkubur begitu saja. Ia butuh bukti. Laporan jurnalistik tidak bisa dibangun di atas asumsi gaib atau cerita hantu; ia butuh dokumentasi visual yang tak terbantahkan.
Bima membongkar tas ranselnya. Kamera mirrorless utamanya sudah terbukti tidak berguna di hadapan fenomena desa ini. Layar digitalnya selalu glitch saat dihadapkan pada warga. Namun, Bima selalu punya rencana cadangan. Ia mengeluarkan sebuah kamera analog SLR tua peninggalan ayahnya, lengkap dengan gulungan film 35mm ISO 400. Kamera ini sepenuhnya mekanik, beroperasi menggunakan tuas, pegas, dan reaksi kimia cahaya pada pita seluloid. Tidak ada sensor digital yang bisa dirusak oleh medan magnet aneh atau frekuensi gaib. Jika mata telanjang bisa melihat ketiadaan bayangan itu, maka reaksi kimia pada film seluloid pasti bisa merekamnya.
Dengan langkah mantap, Bima keluar dari paviliun. Udara pagi di Sukamaya terasa aneh. Matahari bersinar cerah, langit biru bersih tanpa awan, namun tidak ada embun di dedaunan dan burung-burung sama sekali tidak terlihat, apalagi terdengar.
Di halaman depan, Bima melihat aktivitas warga yang sudah dimulai. Beberapa pria memikul cangkul menuju ladang, sementara ibu-ibu menggelar tikar anyaman untuk menjemur gabah. Semuanya tampak seperti pemandangan desa agraris yang damai. Namun, bagi Bima yang kini mengetahui rahasia gelap mereka, pemandangan itu terasa amat sangat mengerikan. Ia melihat kekosongan yang nyata di bawah kaki setiap penduduk. Mereka melangkah melintasi halaman yang disinari terik matahari pagi, namun tanah di bawah mereka tetap bersih dari bayangan. Mereka lebih terlihat seperti hantu yang beraktivitas di siang bolong daripada manusia hidup.
Bima mengangkat kamera analognya, mengintip dari viewfinder. Ia membidik sekumpulan ibu-ibu yang sedang menampi beras. Ia mengatur fokus, menyesuaikan aperture, dan menahan napas. Jemarinya menekan tombol shutter.
Cekrek.
Suara mekanik kamera itu terdengar memuaskan. Bima menggeser tuas kokang untuk frame berikutnya. Ia mengarahkan lensa ke arah seorang bapak tua yang sedang membelah kayu bakar. Sekali lagi, cekrek. Ia memotret sepuluh frame berturut-turut, mendokumentasikan sudut-sudut di mana matahari bersinar terang namun tidak menghasilkan bayangan apa pun dari tubuh warga.
Namun, kepuasannya hanya bertahan sesaat. Pada jepretan kesebelas, tuas kokang kamera mendadak macet. Bima mencoba menariknya lebih keras, tapi tuas itu terkunci mati. Ia membalik kamera itu, membuka sedikit pelatuk pengaman film untuk mengecek, dan seketika hawa dingin menjalar dari ujung jari hingga ke tengkuknya.
Dari sela-sela penutup belakang kamera analog tersebut, merembes keluar cairan kental berwarna hitam pekat. Cairan itu berbau sangat busuk, campuran antara bau belerang dan daging yang membusuk. Bima melepaskan kamera itu dengan panik hingga benda malang itu jatuh berdebum ke tanah berbatu.
Tutup belakang kamera terlempar terbuka akibat benturan. Gulungan film seluloid yang seharusnya merekam bukti-bukti itu tumpah keluar. Namun, pita film itu tidak lagi berupa lembaran plastik; gulungan itu telah meleleh sepenuhnya, berubah menjadi gumpalan lendir hitam yang mendidih dan mengeluarkan asap tipis di atas tanah.
Desa ini tidak hanya menolak teknologi modern. Sesuatu yang menguasai tempat ini secara aktif menghancurkan segala bentuk upaya untuk merekam wujud asli mereka. Benda mati pun dipaksa tunduk pada anomali ini.
"Sayang sekali kameranya jatuh, Nak Bima."
Suara itu datang dari arah belakang. Bima berbalik cepat dan mendapati Pak Karsa sudah berdiri di teras rumahnya, mengenakan pakaian serba putih bersih. Senyumnya masih sama, lebar dan tidak mencapai matanya yang kosong. Pria itu berdiri tepat di bawah paparan sinar matahari, tanpa bayangan.
"Ya... tuasnya licin, Pak," jawab Bima dengan suara bergetar, mencoba menutupi kepanikannya. Ia memungut sisa kameranya yang kini hanya berupa rongsokan berbau busuk.
"Barang dari luar sering kali tidak cocok dengan udara di sini," kata Pak Karsa lembut, melangkah turun dari teras. "Benda-benda itu rapuh. Sama seperti keyakinan orang-orang kota. Mereka butuh alat untuk melihat kebenaran, padahal kebenaran itu cukup dirasakan. Apakah tidurmu nyenyak semalam?"
Bima menatap mata pria tua itu, mencoba mencari celah empati atau manusiawi, namun nihil. "Cukup nyenyak, Pak. Desa ini... sangat tenang." Bima berbohong. Ia yakin Pak Karsa tahu persis apa yang ia saksikan semalam. Ini adalah permainan psikologis.
"Baguslah," Pak Karsa mengangguk. "Hari ini warga akan sibuk di ladang atas. Jangan terlalu jauh masuk ke hutan di utara desa. Kadang, ada hewan liar yang tidak suka diganggu."
Peringatan itu terdengar lebih seperti ancaman. Pak Karsa kemudian berjalan berlalu, meninggalkan Bima yang masih berdiri mematung.
Bima memutuskan untuk berjalan menjauh dari rumah kepala desa, menyusuri jalanan setapak yang membelah permukiman. Matanya terus waspada. Di tengah keputusasaan karena kehilangan seluruh alat buktinya, pandangan Bima menangkap sebuah pemandangan yang ganjilβganjil dalam artian yang paling normal.
Di sebuah halaman rumah yang agak terpencil di dekat batas desa, berdiri seorang gadis muda sedang menjemur kain. Berbeda dengan warga lain yang mengenakan pakaian tipis dan terbuka karena cuaca yang terik, gadis itu mengenakan jubah panjang berbahan tebal berwarna cokelat pudar yang menutupi leher hingga mata kakinya. Tudung jubahnya ditarik ke atas, menyembunyikan sebagian besar wajahnya.
Namun, bukan jubah aneh itu yang membuat langkah Bima terhenti seketika. Di bawah kaki gadis itu, memanjang lurus membelah halaman tanah yang kering, terdapat sebuah bayangan hitam pekat yang bergerak mengikuti gerak tubuhnya.
Dia memiliki bayangan!
Bima merasa seperti menemukan setitik air di tengah gurun. Gadis itu adalah anomali di dalam anomali. Tanpa berpikir panjang, Bima melangkah mendekati pagar kayu rumah tersebut. Mendengar suara derap langkah Bima, gadis itu tersentak. Ia menoleh cepat. Bima bisa melihat wajahnya yang pucat pasi, matanya memancarkan ketakutan yang luar biasa.
Sebelum Bima sempat membuka mulut untuk memanggil, gadis itu menjatuhkan kain cuciannya, memutar tubuhnya, dan berlari masuk ke dalam rumah, membanting pintu kayu dengan keras hingga bunyinya menggema di jalanan desa yang sunyi.
Bima terdiam di luar pagar. Siapa gadis itu? Kenapa ia menyembunyikan dirinya? Dan yang terpenting, kenapa hanya dia yang masih memiliki bayangan di desa terkutuk ini? Bima tahu, gadis itu adalah kunci. Ia harus mencari cara untuk berbicara dengannya, sebelum malam Jumat Kliwonβmalam yang Arya sebutkan dalam rekamannyaβtiba.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar