Matahari mulai condong ke arah barat, mengubah warna langit biru menjadi sapuan jingga kemerahan yang mengingatkan Bima pada warna teh beraroma karat yang disajikan Pak Karsa. Setelah penemuannya tentang gadis berjubah itu—yang belakangan ia ketahui dari bisik-bisik warga bernama Laksmi—Bima menyadari bahwa menunggu bukanlah pilihan yang bijak. Waktu terus berjalan, dan atmosfer desa ini semakin terasa mencekik setiap jamnya.
Bima mengingat kembali catatan Arya yang ia temukan di bawah lantai paviliun. Tanggal 21. Aku berhasil menyusup ke perpustakaan desa, ruang bawah tanah di bawah balai pertemuan... Aku menemukan lontar-lontar kuno.
Balai pertemuan desa, atau Balai Desa, terletak tepat di tengah-tengah pemukiman. Bangunan itu adalah struktur kayu terbesar di Sukamaya, berbentuk seperti pendopo joglo raksasa tanpa dinding penutup di lantai atasnya. Namun, Arya menyebutkan tentang sebuah "ruang bawah tanah". Bima mengamati bangunan itu dari balik rimbunnya pohon nangka di seberang jalan. Saat ini, desa terlihat lebih sepi dari biasanya. Kebanyakan warga sedang berada di ladang, dan Pak Karsa tadi siang pamit untuk menghadiri pertemuan sesepuh di balai ujung desa. Ini adalah kesempatan satu-satunya.
Dengan langkah mengendap-endap dan indra yang menajam layaknya seekor mangsa yang dikepung predator, Bima menyelinap ke area Balai Desa. Ia menaiki tangga kayu perlahan, memastikan kayunya tidak berderit. Di bagian belakang pendopo, tersembunyi di bawah lantai panggung yang dinaikkan, Bima menemukan sebuah pintu kolong yang digembok menggunakan rantai besi berkarat.
Jantung Bima berdegup kencang. Rantai itu tampak kokoh, tapi gembok kuningan tuanya terlihat lapuk. Bima mengambil sebuah batu kali yang cukup besar dari halaman, melilitkan bajunya ke batu itu untuk meredam suara, lalu menghantamkannya ke arah gembok berkali-kali. Pada hantaman keempat, besi pengait gembok itu patah.
Bima menarik pintu kolong itu hingga terbuka. Gelap. Bau apak debu yang telah menumpuk puluhan tahun menyergap hidungnya, bercampur dengan aroma kertas tua dan—lagi-lagi—wangi kemenyan yang samar. Ia menghidupkan senter kecil dari ponselnya (syukurlah fitur senter masih menyala meski fungsi kameranya mati total), lalu menuruni tangga tanah yang curam.
Ruang bawah tanah itu tidak terlalu besar. Dindingnya terbuat dari susunan batu bata merah yang lembap. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja kayu panjang yang dipenuhi tumpukan kertas kusam, gulungan daun lontar kering, dan beberapa buku tebal bersampul kulit binatang. Ini adalah perpustakaan rahasia Sukamaya, tempat di mana sejarah gelap desa ini disembunyikan dari pandangan dunia luar.
Bima segera mendekati meja tersebut. Tangannya dengan sigap namun hati-hati memilah tumpukan dokumen itu. Banyak di antaranya ditulis menggunakan aksara Jawa kuno yang tidak ia pahami. Namun, di bawah sebuah lontar tebal, ia menemukan sebuah gulungan perkamen kulit yang ujungnya menjuntai. Ia membukanya perlahan.
Itu adalah sebuah peta. Peta desa Sukamaya.
Senter Bima menyorot ke atas permukaan peta tersebut. Gambar itu digoreskan menggunakan tinta merah yang sudah mengering. Sekilas, itu tampak seperti denah permukiman biasa. Namun, saat Bima memperhatikannya lebih jeli, tata letak rumah-rumah tersebut sama sekali tidak acak atau mengikuti kontur tanah. Susunan rumah warga, jalan utama, Balai Desa, dan rumah Pak Karsa di ujung, membentuk sebuah pola geometris yang sangat presisi.
Bima menelan ludah. Garis-garis yang menghubungkan antar titik rumah membentuk sebuah simbol sakral—sebuah segel raksasa. Dan tepat di pusat segel itu, di titik pertemuan garis-garis merah tersebut, tergambar sebuah lingkaran hitam pekat yang merepresentasikan sumur tua yang Bima lihat semalam.
Pikiran logis Bima menyusun kepingan-kepingan teka-teki itu dengan cepat. Desa ini bukan sekadar tempat tinggal. Tata ruang desa ini sengaja dibangun sebagai sebuah medium sihir berskala masif. Sumur tua itu adalah "mulut" dari entitas tersebut, dan rumah-rumah tanpa bayangan yang mengelilinginya adalah jaring yang dirancang untuk menangkap energi—atau jiwa—dan mengalirkannya langsung ke tengah.
Di sudut peta, tertulis sebuah bait kalimat dalam bahasa Indonesia ejaan lama, kemungkinan ditulis oleh Arya atau pendahulu sebelum Arya: “Mereka tidak dapat keluar dari batas cahaya, kecuali ada darah segar dari luar batas yang membuka jalan. Tumbal harus memiliki bayangan yang utuh untuk menipu langit.”
Napas Bima tercekat. Tumbal harus memiliki bayangan yang utuh. Pernyataan itu menghantamnya seperti palu godam. Itu sebabnya mereka begitu ramah menerimanya. Itu sebabnya Pak Karsa membiarkannya berkeliling bebas. Bima bukan tamu. Ia adalah makanan segar yang masuk sendiri ke dalam perangkap. Bayangannya yang masih utuh adalah sesuatu yang sangat diinginkan oleh "Sang Penelan Cahaya" yang berdiam di dasar sumur. Kakaknya, Arya, telah menjadi korban sebelumnya.
Kepanikan mulai mengambil alih akal sehatnya. Ia harus segera keluar dari ruangan ini. Ia harus menemukan Laksmi, satu-satunya orang yang mungkin mengerti cara selamat dari tempat ini, dan lari menembus hutan sebelum malam turun sepenuhnya.
Bima menggulung peta itu dan memasukkannya ke dalam jaketnya. Saat ia hendak melangkah menuju tangga keluar, sebuah suara menghentikan langkahnya.
"Bima..."
Tubuh Bima membeku. Suara itu sangat pelan, bergetar, dan terdengar seolah terbawa oleh embusan angin yang masuk melalui celah pintu kolong. Itu suara Arya.
"Bima... tolong aku..."
Suara itu tidak datang dari atas balai desa. Suara itu menggema dari kejauhan, dari arah utara. Dari arah Hutan Larangan yang sedari tadi dilarang keras oleh Pak Karsa untuk didatangi.
"Kak Arya?" bisik Bima dengan suara gemetar. Otaknya berteriak untuk tidak memedulikan suara itu, memperingatkan bahwa itu hanyalah halusinasi akibat stres ekstrem. Namun, suara itu terdengar sangat nyata. Penuh penderitaan dan kerinduan.
Melawan setiap insting bertahan hidup yang ia miliki, Bima berlari menaiki tangga ruang bawah tanah. Ia keluar dari kolong pendopo dan berlari menyusuri jalan kecil di belakang balai desa yang langsung mengarah ke batas hutan di utara.
Sore telah berganti senja. Matahari nyaris tenggelam di ufuk barat, meninggalkan warna ungu lebam di langit. Bayangan pepohonan memanjang, menciptakan lorong-lorong gelap yang menyeramkan. Bima tiba di batas desa. Di hadapannya, menjulang deretan pohon pinus dan beringin raksasa yang batangnya saling melilit, menciptakan kanopi alami yang menghalangi sisa-sisa cahaya matahari.
Udara di batas hutan ini terasa beku. Setiap hembusan napas Bima menghasilkan kepulan uap putih.
"Bim... di sini..."
Suara itu datang lagi, kali ini jauh lebih jelas, hanya berjarak beberapa belas meter di balik pepohonan yang gelap gulita.
Bima memicingkan mata, menyorotkan cahaya senter ponselnya ke arah kegelapan hutan. Sinarnya menembus kabut tipis yang mulai merayap naik dari tanah. Di antara dua pohon beringin kembar yang batangnya menghitam, Bima melihat sebuah siluet berdiri membelakanginya. Siluet seorang pria yang mengenakan kemeja flanel kotak-kotak—kemeja favorit Arya.
"Kak Arya! Itu kau?!" Bima berseru, melangkah maju melewati batas pepohonan tanpa ragu. Hatinya membuncah oleh harapan. Jika Arya masih hidup, ia akan menyeret kakaknya itu keluar malam ini juga.
Siluet itu perlahan menoleh ke belakang.
Senter di tangan Bima bergetar hebat sebelum akhirnya jatuh ke tanah berumput basah. Pria yang berdiri di sana memang mengenakan pakaian Arya. Postur tubuhnya persis Arya. Namun saat wajahnya tersorot sisa cahaya senja, Bima merasakan jiwanya seakan direnggut paksa dari raganya.
Wajah itu datar. Tidak ada mata, tidak ada hidung, dan tidak ada mulut. Permukaan wajahnya rata seperti selembar kanvas abu-abu yang terbuat dari kulit manusia yang ditarik kencang. Dan yang paling mengerikan, di bawah kaki sosok itu, menempel pada tanah yang tertutup lumut, terdapat bayangan hitam pekat yang meliuk-liuk secara mandiri, seolah bayangan itulah yang mengendalikan tubuh tanpa wajah tersebut.
Sosok itu mengangkat tangannya perlahan, menunjuk lurus ke arah Bima. Dan dari dalam rongga dada sosok itu, bukan dari mulutnya yang tak ada, terdengar suara Arya berbisik dengan nada gembira yang sinting:
"Bim... bayanganmu... terlihat sangat lezat."
Di sekeliling Bima, puluhan siluet mata merah perlahan menyala dari balik rimbunnya Hutan Larangan, mengelilinginya dalam formasi yang mematikan. Ia telah masuk terlalu dalam, dan kini, hutan itu bersiap untuk menelannya bulat-bulat.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar