Bunyi plak itu menggema tajam, memecah kesunyian kamar presidential suite bernuansa emas dan putih tersebut.
Salma terhuyung keras ke samping. Tubuhnya yang masih terbalut gaun pengantin seberat tujuh kilogram membentur ujung meja rias jati dengan suara debuk yang menyakitkan. Rasa panas yang membakar seketika menjalar dari pipi kiri hingga ke pangkal lehernya, meninggalkan sensasi kebas yang asing dan mengerikan. Telinganya berdenging keras, menenggelamkan suara dengungan pendingin ruangan.
Hanya butuh waktu sepuluh menit. Sepuluh menit sejak pintu kamar hotel berbahan kayu tebal ini tertutup rapat dan dikunci dari dalam.
Gemetar hebat, Salma mengangkat tangan kanannya yang dihiasi henna putih, menyentuh sudut bibirnya yang tiba-tiba terasa tebal. Matanya yang sudah memerah karena menahan tawa bahagia seharian ini, kini melebar oleh syok yang melumpuhkan akal sehat. Ia mendongak dari atas karpet tebal, menatap pria yang baru empat jam lalu menjabat tangan ayahnya di depan altar masjid agung. Pria yang disaksikan jutaan pasang mata—karena disiarkan langsung di televisi nasional—menitikkan air mata saat mengucapkan kalimat ijab kabul.
Farid berdiri hanya dua langkah darinya. Pria itu tidak terengah-engah. Wajahnya tidak memerah karena amarah. Ustad karismatik muda yang dielu-elukan jamaah seantero negeri itu justru tampak sangat tenang. Ia bahkan sedang melonggarkan kancing manset di pergelangan tangannya dengan gerakan lambat dan sangat metodis, seolah baru saja memukul lalat, bukan wajah istrinya.
"Mas... salah saya apa?" Suara Salma keluar seperti cicitan hewan yang tercekik. Air matanya mulai merusak riasan mahalnya, menetes jatuh ke atas gaun putihnya yang bertabur kristal swarovski.
Farid menghentikan gerakannya. Sorot matanya yang selalu digambarkan media sebagai 'mata yang meneduhkan umat', kini menatap Salma sedingin bongkahan es.
"Kamu masih bertanya?" Suara Farid rendah, berat, dan tanpa intonasi tinggi sedikit pun. Kepalanya sedikit miring, menatap Salma dengan raut kekecewaan yang dibuat-buat. "Saya tidak suka melayani istri yang hatinya masih tertinggal di luar kamar, Salma. Kamu melepas mahkota di kepalamu dengan helaan napas berat. Kamu menatap saya seolah tugas melayani suami ini adalah siksaan bagimu. Di mana letak ikhlasmu?"
Dunia Salma seakan runtuh mendengarnya. Alasan yang begitu sepele, begitu tak masuk akal, baru saja direspons dengan sebuah tamparan keras yang kini menyisakan rasa asin darah di ujung lidahnya.
Pikirannya langsung terlempar pada kejadian beberapa jam lalu. Resepsi pernikahan mereka adalah royal wedding versi religius terbesar tahun ini. Sepanjang acara, Farid adalah inkarnasi dari kesempurnaan seorang laki-laki. Pria itu terus menggenggam tangan Salma di atas pelaminan, mengelus punggung tangannya dengan ibu jari, dan membisikkan kata-kata manis yang membuat para tamu undangan wanita berbisik iri hingga menahan napas.
“Beruntung sekali Salma,” bisik bibi-bibinya di ruang rias tadi sore, kalimat yang terus terngiang di kepalanya. “Dapat suami alim, mapan, lembut pula tutur katanya. Laki-laki seperti Nak Farid itu cuma ada satu banding sejuta, Nduk.”
Bahkan ketika ibunda Salma menangis haru saat prosesi sungkeman, Farid memeluk mertuanya itu dengan erat, berjanji dengan suara bergetar di depan mikrofon yang menggema ke seluruh gedung, “Saya akan menjaga Salma lebih dari saya menjaga nyawa saya sendiri, Bu. Surga Salma kini adalah tanggung jawab saya.”
Namun, ilusi kesempurnaan itu ternyata punya batas kedaluwarsa yang sangat singkat: tepat saat pintu kamar tanpa saksi ini ditutup rapat.
Sejak di dalam mobil pengantin menuju hotel, Salma sebenarnya sudah merasakan perubahan atmosfer yang ganjil. Farid tiba-tiba membisu. Tangannya yang tadinya selalu menggenggam erat jemari Salma untuk kebutuhan dokumentasi fotografer, tiba-tiba ditarik dan dimasukkan ke dalam saku jas begitu pintu mobil tertutup. Saat Salma bertanya dengan lembut apakah ia lelah, Farid hanya menjawab dengan gumaman tak jelas, matanya sibuk memindai layar ponsel, membaca metrik engagement dari video pernikahannya yang baru saja diunggah tim medianya.
Salma mencoba memaklumi. Berdiri berjam-jam menyalami ribuan tamu pastilah menguras energi siapa pun.
Begitu sampai di kamar, Salma yang luar biasa kelelahan langsung duduk di depan meja rias. Kepalanya pusing bukan main karena puluhan jarum pentul yang menahan beban mahkota dan hijabnya seharian. Tanpa sadar, ia menghela napas panjang—sebuah helaan napas kelegaan seorang manusia biasa karena acara akhirnya usai—sambil mencabut jarum pentul pertamanya.
Dan satu helaan napas itulah yang mengundang petaka.
Farid yang baru saja meletakkan peci putihnya di atas ranjang, berbalik perlahan. Langkah kakinya di atas karpet tebal nyaris tak terdengar. Tiba-tiba, tangannya sudah mencengkeram bahu Salma dari belakang, menatap tajam pantulan wajah istrinya dari cermin besar.
"Kamu mengeluh?" tanyanya saat itu, suaranya sedingin angin malam.
"Eh? Enggak, Mas. Cuma lega akhirnya selesai. Kepalaku agak berat gara-gara mahkota—"
"Saya tidak bertanya tentang kepalamu, Salma." Cengkeraman jari-jari kokoh di bahu Salma mengerat hingga Salma meringis tertahan, merasakan tulang selangkanya seakan mau patah. "Saya tanya, apakah kamu mengeluh saat menyadari kamu sekarang sepenuhnya milik saya? Apakah kewajiban melayani saya membuatmu seberat itu, sampai kamu harus menghela napas di depan wajah suamimu sendiri?"
Salma kebingungan setengah mati. "Mas, maksudnya apa? Aku benar-benar cuma capek—"
Kalimat itu belum selesai terucap saat Farid menarik bahu Salma dengan kasar, memaksa wanita itu berdiri dan berbalik menghadapnya. Dan tanpa peringatan apa pun, tanpa aba-aba, punggung tangan kanan pria itu mendarat telak di pipi kiri Salma.
Kini, di detik ini, di atas karpet mewah yang menjadi saksi bisu, Salma masih berusaha mencerna realitas yang terdistorsi secara brutal. Pria di depannya ini seolah digantikan oleh entitas lain, iblis yang memakai wajah suaminya.
Aroma parfum oud dari tubuh Farid, yang selama enam bulan masa taaruf selalu membuat Salma merasa aman, berdebar, dan terlindungi, mendadak berubah menjadi aroma pekat yang mencekik paru-parunya.
"Mas... aku seharian berdiri... kakiku lecet berdarah karena heels," Salma mencoba merasionalisasi situasi, memohon empati, berharap suaminya akan kembali 'sadar' dari entah kejanggalan apa yang merasukinya. "Bukan aku nggak ikhlas... Mas Farid tahu betul betapa bahagianya aku hari ini."
Farid melangkah maju. Sepatu pantofel kulit hitamnya berhenti tepat di depan lutut Salma yang terlipat lemas di lantai. Alih-alih membantunya berdiri seperti pangeran yang dibicarakan orang-orang, Farid berjongkok perlahan, menyejajarkan wajah mereka. Jari telunjuk dan jempolnya terjulur, mencengkeram rahang Salma dengan paksa, memaksanya mendongak menatap sepasang mata tajam itu.
"Bahagia katamu?" Farid menyeringai tipis, sebuah senyum asimetris yang membuat seluruh bulu kuduk Salma meremang hebat. "Perempuan yang bahagia menikah dengan saya tidak akan menunjukkan wajah kusam, tidak akan mendesah letih di detik pertama kami berada di kamar. Di luar sana, Salma... di luar gedung sana ada ribuan perempuan. Muslimah yang jauh lebih cantik, jauh lebih berpendidikan, jauh lebih kaya darimu, yang menangis meraung-raung dalam tahajud mereka agar bisa berada di posisimu sekarang."
Air mata Salma akhirnya tumpah deras, menembus pertahanannya, membasahi jari-jari Farid yang mencengkeram dagunya bagai capit besi. "Lalu kenapa kamu memukulku, Mas? Kalau aku salah, tegur aku baik-baik. Bukankah Islam mengajarkan kelembutan? Bukankah tadi di mimbarmu kamu—"
"Jangan bawa-bawa agama untuk menutupi adabmu yang cacat!" desis Farid, memotong ucapan Salma dengan bisa yang mematikan. Suaranya tetap tak meledak-ledak, sangat terkontrol, dan justru itulah yang membuatnya seratus kali lipat lebih mengerikan.
Farid melepaskan cengkeramannya, mendorong wajah Salma sedikit hingga wanita itu hampir terjengkang. Ia berdiri kembali, menatap Salma dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan, seolah melihat sampah yang tak sengaja terbawa ke dalam kamarnya.
"Saya ini pemimpinmu sekarang," lanjut Farid, mengambil sapu tangan dari sakunya dan mengusap jari-jarinya seolah baru saja menyentuh sesuatu yang penuh bakteri. "Surgamu tidak lagi ada di bawah telapak kaki ibumu yang cengeng itu, tapi pada saya. Dan saat ini, malam ini, rida saya padamu sedang saya cabut. Kamu tahu apa hukumnya istri yang membuat suaminya murka di malam pertama?"
Salma menggeleng pelan, dadanya naik turun dengan ritme kacau. Serangan panik mulai merambat naik dari ulu hatinya. Ruangan luas ini mendadak terasa menyusut, dinding-dindingnya menghimpit. Oksigen seakan tersedot habis oleh ego pria ini.
"Minta maaf," perintah Farid singkat, memasukkan kembali sapu tangannya.
Salma menelan ludah yang terasa seperti menelan pecahan kaca. Kepalanya masih berdenyut. "Minta maaf untuk apa, Mas? Aku bahkan tidak tahu apa dosa besarku—"
"Saya bilang minta maaf!" Nada suara Farid akhirnya naik sedikit, setajam silet yang memotong udara dingin. Rahangnya mengeras, otot di lehernya menonjol. "Atau saya akan telepon ibumu malam ini juga. Jam segini beliau pasti belum tidur, kan? Saya akan beritahu beliau betapa gagalnya beliau mendidik anak perempuan untuk menghargai suaminya. Saya akan suruh ibumu datang ke hotel ini sekarang juga untuk menjemput anak perempuannya yang durhaka."
Ancaman itu menghujam tepat ke jantung pertahanan Salma. Napas Salma seakan berhenti berdetak sesaat. Ibunya memiliki riwayat lemah jantung dan hipertensi parah. Jika di tengah malam buta begini menerima telepon dari Farid—menantu pujaan hatinya—dengan tuduhan bahwa putrinya dicerai karena kurang ajar di malam pertama, ibunya tidak akan sanggup menahannya. Beliau bisa kolaps.
Farid tahu kelemahan terbesarnya. Pria ini sangat tahu kartu mana yang harus dimainkan untuk mematikan langkahnya.
Dengan sisa harga diri yang sudah terkoyak-koyak, Salma menundukkan kepala sedalam mungkin. Jemarinya yang bergetar meremas kain gaun pengantinnya hingga buku-buku jarinya memutih. "Maaf..." bisiknya, dengan bibir gemetar hebat.
"Saya tidak dengar."
Salma memejamkan mata erat-erat, membiarkan air mata kekalahannya mengalir bebas jatuh ke karpet. "Maafkan saya, Mas Farid. Saya... saya minta maaf karena sudah menghela napas. Saya minta maaf kalau saya terlihat tidak ikhlas melayani Mas. Saya salah."
Farid diam. Keheningan absolut yang menggantung di udara terasa lebih menyiksa daripada rentetan pukulan. Hanya terdengar detak jam dinding bergaya klasik di sudut ruangan, menghitung detik-detik kehancuran mental seorang perempuan bernama Salma.
"Kamu pikir permintaan maaf setengah hati sambil meremas gaun seperti itu bisa menebus kelancanganmu?"
Salma membuka matanya. Ia melihat sepatu Farid melangkah melewatinya, menuju meja kecil di sudut ruangan. Terdengar suara air dituangkan ke dalam gelas kristal. Farid meneguknya perlahan, punggungnya tegak, posturnya sangat elegan. Sangat kontras dengan istrinya yang berantakan bagai boneka rusak di lantai.
"Sujud," titah Farid santai, meletakkan gelasnya dengan denting pelan.
Salma mengangkat wajahnya perlahan. Matanya melebar penuh horor, urat nadinya berdenyut panik. "A-apa?"
"Sujud, Salma," ulang Farid. Ia berbalik, menatap langsung ke mata Salma yang dipenuhi ketakutan absolut. "Kamu belum menyadari betapa tingginya kedudukan seorang suami di matamu. Bersihkan hatimu dari kesombongan. Cium tanganku, lalu minta maaf sekali lagi."
"Mas, demi Allah, kita berdua manusia. Dalam agama tidak boleh sujud kepada manusia—"
"Istri salehah tidak membantah!"
Gema suara Farid memotong kalimat Salma dengan brutal. Kali ini pria itu tidak lagi tenang. Ia melangkah cepat membelah ruangan, menunduk, dan menarik kasar pergelangan tangan Salma hingga wanita itu terpaksa berlutut tegak dengan lutut yang membentur lantai dengan keras. Farid menyodorkan punggung tangannya tepat beberapa sentimeter di depan wajah Salma.
Pikiran logis Salma berteriak liar untuk melawan, untuk memukul tangan itu, berdiri, berlari keluar pintu dan berteriak minta tolong. Tapi tubuhnya kaku oleh ketakutan dan manipulasi yang sangat rapi ini. Reputasi keluarganya, wajah bahagia ayahnya yang baru saja melunasi utang keluarga karena bantuan Farid, senyum bangga ibunya di kursi roda... semuanya melintas bagai film horor di kepalanya.
Jika ia lari sekarang dengan gaun robek dan menangis, siapa yang akan percaya padanya? Seluruh negeri memuja Farid bagaikan sosok suci tanpa cela. Pengikutnya jutaan, mereka fanatik. Jika Salma menuduh ustad pujaan mereka melakukan KDRT di malam pertama, netizen pasti akan menghabisinya, mencapnya sebagai istri gila yang halusinasi. Keluarganya akan hancur lebur dihujat massa.
Salma sendirian. Di dalam sangkar emas ini, ia benar-benar sendirian tanpa pelindung.
Dengan dada yang terasa mau meledak menahan isak tangis, Salma menunduk perlahan. Rasa perih di sudut bibirnya makin menyengat saat ia mendekatkan wajahnya ke tangan kokoh itu. Matanya terpejam saat bibirnya menyentuh punggung kulit tangan pria yang baru saja menamparnya. Bau parfum oud itu kembali menusuk penciumannya, bercampur dengan bau ketakutan dari keringat dinginnya sendiri. Mual yang hebat mengaduk-aduk perutnya.
"Maafkan saya, suamiku," bisik Salma, mengucapkan kalimat itu dengan sisa nyawa yang ia punya. Ia merasa jiwanya baru saja diludahi.
Farid tersenyum puas. Ketegangan di bahunya menurun. Tangannya yang bebas kini terulur, mengelus lembut kepala Salma yang masih tertutup hijab berlapis-lapis. Sebuah sentuhan 'kasih sayang' yang membuat Salma merasa sekujur tubuhnya dijalar ribuan ulat menjijikkan.
"Begitu jauh lebih baik," ucap Farid sangat lembut. Suaranya ajaibnya langsung kembali ke mode 'ustad meneduhkan' yang biasa ia gunakan di acara kajian minggu pagi. "Saya memukulmu karena saya sayang padamu, Salma sayang. Ingat itu. Suami yang baik harus mendidik istrinya agar tidak tersesat di awal pernikahan. Kamu mengerti, kan? Ini semua demi kebaikanmu. Demi surga keluarga kecil kita."
Salma tidak menjawab. Matanya menatap kosong, tembus ke serat karpet hotel. Tubuhnya menggigil halus. Logikanya masih mencoba berteriak bahwa ini salah, namun insting bertahannya menyadari satu hal yang mengerikan: malam ini bukan sekadar luapan emosi sesaat. Ini adalah perkenalan. Perkenalan dari neraka yang sangat panjang yang telah dirancang pria ini untuknya.
Farid menepuk pipi Salma yang tak terluka pelan sebanyak dua kali, lalu melepaskan diri. "Sekarang, berdirilah. Bersihkan dirimu. Wajahmu berantakan sekali dengan riasan luntur itu. Kamu membuat gaun seharga puluhan juta itu terlihat murahan dipakai olehmu."
Pria itu berbalik dan berjalan menuju kopernya yang terbuka di sudut ruangan, membongkar pakaian ganti seolah insiden barusan tak lebih dari percakapan santai soal cuaca. Seolah ia tidak baru saja meremukkan mental seorang perempuan secara sistematis dalam waktu kurang dari lima belas menit.
Salma bertumpu pada meja rias untuk berdiri. Kakinya lemas seperti jeli. Ia berjalan tertatih menyeret gaunnya yang berat menuju pintu kamar mandi luas berbalut marmer hitam itu. Ia masuk, menutup pintu perlahan tanpa berani menguncinya—takut memicu kemarahan pria gila di luar sana—lalu menyalakan keran air wastafel dengan tangan gemetar.
Di depan cermin besar yang terang benderang, Salma akhirnya bisa melihat kerusakannya. Mahkotanya miring tajam. Pipi kirinya memerah hebat, membengkak, dan membentuk cetakan jari yang memar membiru. Dan di sudut bibir bawahnya, ada luka robek kecil.
Ternyata rasa asin yang ia kecap sejak tadi bukan sekadar halusinasi. Itu benar-benar darah segar. Darah dari bibirnya sendiri. Malam pertamanya tidak dihiasi tawa dan kasih sayang, melainkan tamparan dan penghinaan.
Salma menyalakan keran air kencang-kencang untuk meredam suaranya, lalu menangis tersedu-sedu. Ia mengutuk dirinya sendiri karena terlalu naif. Karena termakan oleh citra di layar televisi, karena mempercayai ceramah-ceramah manis tanpa pernah mencari tahu iblis seperti apa yang bersembunyi di balik senyum teduh dan sorban putih itu.
Setelah lima belas menit menangis sampai matanya bengkak parah, Salma membasuh wajahnya. Ia harus bertahan. Setidaknya untuk malam ini. Ia melepas gaun pengantinnya yang terasa seperti kain kafan yang mencekik, menghapus sisa make-up dengan kasar, dan menggantinya dengan piama sutra lengan panjang yang disiapkan hotel.
Salma keluar dari kamar mandi dengan langkah gontai, kepalanya menunduk, bersiap menerima omelan lagi jika ia terlalu lama.
Namun kamar itu sunyi.
Salma berjalan lambat menuju king size bed raksasa di tengah ruangan. Tenaganya sudah habis terkuras hingga minus. Ia hanya ingin merebahkan tubuhnya yang hancur, memejamkan mata, dan berdoa pada Tuhan agar besok pagi ia terbangun mendapati semua ini hanyalah mimpi buruk menjelang pernikahan.
Namun, saat ia berdiri di tepi ranjang, pandangannya langsung terpaku pada bantal putih bersarung sutra di sebelahnya. Ada bercak merah kental sebesar koin di sana.
Itu darah.
Darah dari bibirnya yang menetes jatuh saat tubuhnya oleng dan wajahnya menabrak kasur tadi, sebelum ia akhirnya jatuh terpelanting ke lantai. Warna merah gelap itu tampak sangat kontras, kotor, dan menjeritkan kengerian di atas kain seprai seputih salju. Sebuah bukti bisu kekerasan fisik nyata yang baru saja terjadi.
Salma baru saja akan mengulurkan tangannya yang gemetar, berniat membalik bantal itu untuk menyembunyikan noda memalukan tersebut, ketika tiba-tiba seluruh lampu utama di kamar presidential suite itu padam serentak.
Klik.
Jantung Salma melonjak brutal ke kerongkongan. Ruangan menjadi remang-remang, hanya diterangi oleh lampu tidur kuning di nakas.
Lalu, sebuah cahaya putih yang sangat terang dan menyilaukan tiba-tiba menyala dari sudut ruangan dekat jendela.
Salma menoleh perlahan dengan napas tertahan, tubuhnya mematung di sisi ranjang.
Farid sudah selesai membersihkan diri. Pria itu kini memakai baju koko putih bersih lengan panjang yang kasual namun tetap memancarkan aura wibawa. Ia duduk bersandar di kursi santai berlapis beludru biru, kaki kanannya menyilang elegan di atas lutut kirinya.
Di depan Farid, berdiri sebuah ring light besar bertangkai tinggi yang menyala terang benderang. Alat itu mengapit sebuah ponsel pintar terbaru yang lensanya diarahkan tepat ke wajah suaminya.
Pria itu merapikan rambutnya yang masih sedikit basah dengan jari, memeriksa penampilannya di layar, lalu memastikan angle pencahayaannya sempurna. Setelah menekan satu tombol di layar, raut wajah Farid berubah drastis dalam sepersekian detik. Mata yang sedingin es tadi kini memancarkan kehangatan yang luar biasa. Senyum sinisnya tergantikan oleh senyum paling tulus, paling lembut, dan paling memabukkan yang membuat jutaan jamaah memujanya.
Ia melirik sekilas ke arah Salma yang berdiri membeku dalam gelap dengan bibir berdarah, lalu kembali menatap kamera ponselnya.
"Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh, Sahabat Surga semuanya," suara Farid mengalun merdu, berat, dan dipenuhi cinta, memecah keheningan malam. "Masya Allah, Alhamdulillah malam ini saya sudah sah menjadi seorang suami. Maaf ya baru bisa live sebentar jam segini untuk menyapa teman-teman online semua. Istri saya tersayang, Salma, baru saja tertidur pulas karena kelelahan di hari yang panjang ini. Tadi saat saya membelai kepalanya..."
Farid menjeda kalimatnya, memberikan tawa kecil yang terdengar sangat renyah dan penuh kasih sayang suami yang ideal.
"...saya menyadari, bahwa puncak dari kelembutan seorang laki-laki, adalah saat ia mampu memuliakan istrinya di dalam rumah mereka sendiri."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar