"Wajahmu kenapa kusam sekali, Salma? Suami kalau pulang berdakwah melihat istrinya berwajah muram begini, rezekinya bisa seret. Malaikat rahmat enggan masuk ke rumah ini."
Kalimat setajam silet itu menjadi hal pertama yang menyambut Salma di pagi ketiganya sebagai seorang istri.
Salma masih berdiri mematung di ambang pintu ruang tamu, tangannya mencengkeram erat nampan berisi dua cangkir teh kamomil. Di hadapannya, duduk Umi Hajar—ibunda Farid—dengan postur tegak paripurna di atas sofa kulit buatan Italia. Wanita paruh baya berbalut gamis sutra hitam dan jilbab panjang itu menatap Salma dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menilai yang sangat mengintimidasi.
Udara pagi di Jakarta sedang terik-teriknya, namun Salma membalut tubuhnya dengan baju rajut kerah tinggi (turtleneck) lengan panjang. Ia tidak punya pilihan lain. Lehernya penuh dengan memar ungu pekat berbentuk cetakan jari putranya.
"Maaf, Umi," Salma menunduk, meletakkan cangkir teh itu ke atas meja marmer dengan tangan bergetar pelan. Denting cangkir yang beradu dengan tatakan piring terdengar nyaring di ruangan yang senyap itu. "Salma agak kurang enak badan."
"Kurang enak badan?" Umi Hajar mengangkat alisnya yang dicukur rapi. Beliau menyesap tehnya sedikit, lalu meletakkannya kembali dengan helaan napas kecewa. "Gula batu, Salma. Bukan gula pasir. Farid tidak pernah memberitahumu kalau Umi hanya minum teh dengan gula batu?"
"B-belum, Umi."
Umi Hajar menggelengkan kepala dramatis. "Baru tiga hari menikah sudah mengeluh kurang enak badan. Farid itu jadwalnya padat. Nanti malam ada pengajian keluarga besar di sini. Kamu sebagai nyonya rumah harus gesit. Jangan terlihat lemah. Laki-laki itu butuh tiang sandaran, bukan beban tambahan."
Salma menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu. Rentetan pesan misterius semalam yang menanyakan 'Apa dia sudah mulai menyakitimu juga?' masih membuat kepalanya mau pecah. Ia bahkan belum tidur sedetik pun. Namun, di depannya kini duduk satu-satunya sosok yang mungkin bisa menjembatani kewarasannya. Umi Hajar adalah sesama perempuan. Insting Salma berbisik, memohon pertolongan. Mungkin, hanya mungkin, jika ibunya tahu kelakuan asli Farid, beliau bisa menegurnya.
Salma duduk di sofa seberang dengan sangat hati-hati, memastikan posturnya sesopan mungkin. Ia menatap mata mertuanya.
"Umi..." suara Salma bergetar. Ia membasahi bibirnya yang masih bengkak terlapisi lip cream. "Mas Farid... jadwalnya memang sangat padat. Mungkin karena terlalu lelah, kadang... kadang emosi Mas Farid menjadi... tidak terduga di rumah."
Umi Hajar yang sedang merapikan lipatan lengan gamisnya seketika berhenti. Mata tuanya menatap Salma dengan kilat peringatan. "Apa maksudmu dengan 'tidak terduga'?"
Salma menelan ludah. Jantungnya berdetak liar. Ini pertaruhannya. "Semalam, karena masalah kecil... Mas Farid sangat marah. Umi... Mas Farid bersikap sangat keras. Saya... saya sampai dicekik karena—"
"Salma!"
Bentakan Umi Hajar menggelegar, memotong ucapan Salma dengan brutal. Wanita paruh baya itu meletakkan cangkirnya dengan keras hingga air tehnya tumpah ke meja. Ekspresinya bukan terkejut karena khawatir, melainkan marah karena merasa dihina.
Salma terkesiap, tubuhnya otomatis menyusut ke sudut sofa.
"Jaga lisanmu!" desis Umi Hajar sambil mencondongkan tubuhnya ke depan. Jari telunjuknya yang dihiasi cincin zamrud besar menunjuk tepat ke wajah Salma. "Kamu sedang membicarakan ulama kebanggaan umat! Kamu sedang membicarakan anak laki-laki saya yang sejak kecil tidak pernah putus tahajudnya!"
"T-tapi Umi, demi Allah, leher saya—" Salma secara refleks menyentuh kerah tingginya, bersiap menurunkannya untuk menunjukkan bukti memar ungu itu.
"Saya tidak mau lihat!" potong Umi Hajar dingin, membuang muka. "Dengar baik-baik, Salma. Laki-laki alim itu bebannya berat! Musuhnya banyak! Setan dari segala penjuru berusaha meruntuhkan imannya setiap hari. Kalau dia pulang dan sedikit bersikap keras padamu, itu tandanya setan sedang berusaha masuk lewat dirimu! Karena kamu tidak melayaninya dengan benar!"
Logika Salma seakan ditampar bolak-balik. Mulutnya terbuka, tak sanggup mengeluarkan suara.
"Istri yang baik itu menutupi aib suaminya, bukan malah mengumbarnya ke ibunya sendiri!" lanjut Umi Hajar tanpa ampun. "Kalau suamimu marah, instrospeksi diri! Apa pelayananmu kurang? Apa bicaramu menyinggung egonya? Suami itu mendidik. Kalau dia sampai 'main tangan' sedikit, itu pasti karena teguran lisan sudah tidak mempan untuk istrimu yang keras kepala ini!"
Dunia Salma berputar. Ruang tamu mewah ini mendadak terasa seperti ruang eksekusi. Harapannya untuk mendapatkan sekutu hancur lebur berkeping-keping. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kini ia mengerti dari mana Farid belajar memelintir agama untuk menjustifikasi kekejamannya. Umi Hajar tidak peduli jika Salma mati dicekik, selama citra 'anak suci'-nya tidak ternoda.
"Kamu ini sungguh istri yang tidak bersyukur," gumam Umi Hajar sambil bersandar kembali, menatap Salma dengan tatapan jijik. "Keluargamu yang hampir bangkrut itu diselamatkan oleh anak saya. Kamu diangkat derajatnya dari gadis biasa menjadi istri seorang tokoh. Bukannya berterima kasih, kamu malah mendramatisir hal kecil. Untung saja keluarga kita malam ini datang, biar kamu belajar bagaimana bersikap dari kakak-kakak iparmu."
Salma hanya bisa menunduk menatap ujung sandalnya. Air mata merembes keluar tanpa suara. Tidak ada yang bisa menolongnya di rumah ini. Semua orang adalah kaki tangan Farid.
Malam harinya, rumah besar itu dipenuhi wangi dupa dan aroma masakan Timur Tengah. Dua mobil Pajero dan satu Alphard tambahan terparkir di halaman. Kakak perempuan Farid, Mbak Rina, beserta suaminya hadir, begitu pula adik bungsu Farid, Nisa, yang datang bersama Umi Hajar.
Meja makan panjang dari kayu jati itu penuh dengan hidangan Nasi Mandhi, kambing bakar, dan berbagai hidangan pendamping yang dimasak susah payah oleh Salma sejak siang—dengan leher berdenyut dan kaki yang masih kram akibat hukuman berdiri semalam.
Farid turun dari lantai dua dengan jubah putih bersih yang baru disetrika Salma. Pria itu tersenyum lebar, memeluk ibunya, mencium pipi saudara-saudaranya dengan hangat. Tawa renyah Farid menggema, memenuhi ruangan dengan aura positif yang begitu memabukkan. Jika orang luar melihat adegan ini, mereka akan menangis haru melihat betapa harmonisnya keluarga sang ustad.
Tapi bagi Salma, tawa itu lebih mengerikan daripada auman singa kelaparan.
"Ayo, ayo, silakan duduk semua. Alhamdulillah kita bisa kumpul malam ini," ucap Farid sambil menarik kursi di kepala meja. Ia menatap Salma yang berdiri kaku di dekat kitchen set. "Salma, Sayang, tolong ambilkan Umi piringnya."
Kata 'Sayang' itu meluncur begitu mulus, namun tatapan mata Farid pada Salma berkilat penuh peringatan.
Salma mengangguk pelan. Ia berjalan mendekat, mengambilkan piring, lalu menyendokkan nasi mandhi ke piring Umi Hajar. Tangannya masih sedikit gemetar.
"Wah, wangi banget nih," komentar suami Mbak Rina, Mas Anton, sambil mengendus aroma kambing. "Salma yang masak semua ini, Rid?"
"Iya, Mas. Belajar dari resep YouTube katanya," jawab Farid sambil tersenyum ke arah Salma.
Semua orang mulai menyendok makanan ke dalam mulut. Hening sejenak. Salma menahan napas, berdiri mematung di samping meja sambil memeluk nampan kosong. Ia belum diizinkan duduk sebelum semua anggota keluarga melahap suapan pertama mereka.
Farid mengunyah daging kambing itu perlahan. Senyum di wajahnya tiba-tiba memudar. Ia mengambil tisu, lalu secara demonstratif meludahkan daging itu kembali ke dalam tisu.
Semua mata di meja makan langsung tertuju padanya.
"Kenapa, Nak?" tanya Umi Hajar khawatir.
Farid mendesah pelan, menatap piringnya dengan raut kecewa yang dibuat-buat. "Alot, Mi. Dan bumbu kapulaganya terlalu tajam. Rasanya jadi aneh di lidah."
Dada Salma mencelos. "T-tapi Mas, tadi Salma sudah rebus dua jam pakai panci presto—"
"Kalau masih alot artinya cara motong dagingmu yang salah, Salma," potong Farid cepat, suaranya halus namun mematikan. Ia menatap sekeliling meja dengan tawa kecil yang merendahkan. "Yah, namanya juga anak yang tidak pernah diajari masak sungguh-sungguh oleh ibunya. Harap maklum ya, Mas Anton, Mbak Rina."
Wajah Salma seketika terbakar rasa malu. Darahnya mendidih, tapi tubuhnya terpaku. Farid tidak hanya menghinanya di depan keluarga besar, tapi juga membawa-bawa ibunya yang sedang sakit di rumah.
Mbak Rina meletakkan sendoknya. "Bener sih kata Farid. Ini agak keras. Kasihan gigi Umi nanti sakit."
"Iya ih, rasanya agak nyegrak di tenggorokan," timpal Nisa, sang adik bungsu, sambil minum air putih banyak-banyak dengan gaya berlebihan. "Gimana sih Mbak Salma, masa masak buat keluarga aja gagal. Untung Mas Farid orangnya sabar."
Salma mencengkeram tepi nampan hingga buku-buku jarinya memutih. Tiga hari lalu, ia adalah ratu di acara pernikahannya. Malam ini, ia tak lebih dari pembantu rendahan yang dihakimi di rumahnya sendiri.
Farid bersandar di kursinya, melipat tangan di dada. Matanya menatap Salma dengan kepuasan sosiopat yang terang-terangan.
"Umi ingat tidak?" Farid memulai kalimat yang akan menjadi puncak penghinaan malam itu. "Coba kalau dulu rencananya dilancarkan, dan Farid jadi menikah sama Dokter Sarah. Umi kan tahu sendiri masakan Dokter Sarah. Selain dia hafizah dan punya klinik sendiri, masakannya itu lho Mi, sudah sekelas restoran bintang lima. Belajar langsung dari chef saat dia ambil spesialis di Turki."
Deg.
Nama itu dijatuhkan bagai bom di tengah meja makan. Dokter Sarah.
Nisa langsung menyahut antusias. "Ya ampun, Dokter Sarah! Iya banget! Waktu dia bawakan kita baklava sama nasi kebuli dulu, dagingnya sampai lumer di mulut! Sayang banget ya Mas Farid batal sama dia gara-gara masalah nasab keluarga."
"Laki-laki memang harus ikhlas menerima takdir Allah, Nis," jawab Farid bijak, menundukkan pandangannya dengan raut sedih palsu. Ia lalu menatap Salma lagi. "Ya begini ini takdir Mas Farid. Dapatnya yang tidak bisa masak, yang harus diajari dari nol. Tapi tidak apa-apa, inilah ujian kesabaran buat suami. Ya kan, Sayang?"
Salma berdiri di sana, dikuliti hidup-hidup oleh kata-kata suaminya. Dipermalukan. Dibandingkan dengan mantan calon istri di depan seluruh keluarganya. Ia melihat Umi Hajar menatapnya dengan raut kasihan yang merendahkan. Mbak Rina berbisik sesuatu ke telinga suaminya sambil melirik Salma sinis.
Tidak ada satu pun yang membelanya. Mereka semua menikmati pertunjukan ini. Mereka menikmati proses Farid menginjak-injak harga diri Salma hingga rata dengan tanah.
"Salma, kenapa diam saja?" tegur Umi Hajar tajam. "Suamimu sedang menasihati, kamu malah melamun. Bukannya minta maaf karena sudah menyajikan makanan tidak layak. Bawa piring suamimu ke belakang, ganti dengan ayam goreng saja kalau ada."
"B-baik, Umi. Maafkan Salma," bisik Salma dengan suara bergetar menahan tangis yang sudah mengumpul di tenggorokan.
Ia mengambil piring Farid. Saat jarinya menyentuh tepian piring, tangan Farid dengan sengaja menyentuh punggung tangan Salma. Jempol pria itu menekan kasar tulang jari Salma, sebuah ancaman fisik tak terlihat, sebelum melepaskannya.
Sepanjang sisa malam itu, Salma menghabiskan waktunya di dapur, pura-pura mencuci piring dan membersihkan pantry. Ia tidak sanggup mendengar tawa keluarga itu di ruang TV. Ia merasa kotor, bodoh, dan tidak berharga. Manipulasi Farid bekerja dengan sangat sempurna; ia mulai merasa bahwa dirinya memang istri yang tidak berguna.
Sekitar pukul sebelas malam, keluarga mertuanya akhirnya pamit pulang. Umi Hajar diantar pulang oleh Nisa.
Rumah raksasa itu kembali sunyi. Kesunyian yang selalu membawa teror baru bagi Salma.
Salma mengelap meja dapur untuk ketiga kalinya, mencoba mengulur waktu agar tidak perlu segera naik ke lantai atas. Ia tahu, setelah pertunjukan 'suami sabar' di depan keluarganya tadi, Farid pasti akan mencari gara-gara baru untuk menghukumnya di kamar.
"Bi Inah," bisik Salma pada asisten rumah tangga paruh baya yang sedang mengelap wastafel. "Bibi boleh istirahat ke paviliun belakang. Sisa piringnya biar Salma yang selesaikan."
Bi Inah menatap Salma dengan tatapan prihatin yang ditutupi. Beliau pasti menyadari mata Salma yang sembap dan memar yang mengintip di lehernya. Tapi seperti semua pekerja di rumah ini, Bi Inah disumpah untuk tutup mulut dan buta. "Baik, Nyonya. Permisi."
Setelah Bi Inah keluar melalui pintu belakang, Salma menghela napas panjang yang gemetar. Ia harus naik. Menunda hanya akan membuat Farid semakin murka.
Dengan langkah seberat timah, Salma mematikan lampu dapur dan berjalan menuju tangga utama.
Lantai dua remang-remang. Lampu koridor dibiarkan mati, hanya menyisakan cahaya bulan yang menerobos masuk melalui kaca jendela besar di ujung lorong.
Pintu kamar utama tertutup rapat. Namun, saat Salma berjalan mendekat, ia melihat pintu ruang kerja Farid di ujung lorong sebelah kiri sedikit terbuka. Seberkas cahaya kuning dari lampu meja memancar keluar, menerangi sebagian karpet lorong.
Salma memperlambat langkahnya. Instingnya menyuruhnya untuk mengendap-endap. Mengapa Farid tidak di kamar?
Saat ia berjarak sekitar dua meter dari celah pintu ruang kerja itu, Salma mendengar suara Farid.
Pria itu sedang berbicara di telepon.
Salma menghentikan langkahnya, menahan napas. Ia merapatkan punggungnya ke dinding lorong yang dingin, berdiri tepat di luar jangkauan cahaya dari celah pintu.
"Aku tahu... aku tahu kamu lelah," suara Farid terdengar, namun nadanya membuat bulu kuduk Salma seketika meremang.
Itu bukan suara bariton yang berat dan mengintimidasi seperti saat pria itu menghukumnya. Itu juga bukan suara mendayu-dayu yang penuh kepalsuan seperti saat pria itu berdakwah. Suara ini... lembut, sedikit serak, dan penuh dengan keputusasaan yang aneh. Suara seorang pria yang sedang merayu.
"Kamu harus sabar sedikit lagi," Farid melanjutkan, terdengar suara gesekan kursi kulit, pertanda pria itu sedang bersandar. "Ini belum waktunya. Publik masih memantau rumah tanggaku. Media sedang lapar-laparnya."
Hening sejenak. Farid sedang mendengarkan lawan bicaranya.
Tangan Salma yang menempel di dinding mulai berkeringat dingin. Jantungnya berdetak begitu keras hingga ia takut Farid bisa mendengarnya dari dalam sana.
Siapa yang sedang ditelepon suaminya tengah malam begini dengan nada suara seintim itu?
Dokter Sarah? Alya si perempuan dalam foto? Atau ada perempuan lain lagi dalam labirin iblis ini?
"Jangan menangis, kumohon," suara Farid terdengar lagi, kali ini terdengar frustrasi, sebuah emosi manusiawi yang tak pernah ia tunjukkan pada Salma. "Kamu tahu aku sangat mencintaimu. Anak yang ada di rahimmu itu buktinya."
Dada Salma seakan dihantam godam tak kasatmata. Anak di rahimmu?
Lutut Salma lemas seketika. Ia terpaksa berpegangan erat pada ukiran dinding kayu agar tidak merosot jatuh ke karpet. Suaminya... ustad suci yang diagungkan jutaan umat karena moral dan adabnya itu... memiliki wanita lain yang sedang mengandung anaknya?
"Dengar," nada Farid berubah sedikit mengeras, mengambil kembali kontrol dominasinya. "Aku sedang membereskan istri pertamaku. Dia masih butuh banyak dididik agar bisa menunduk patuh. Kalau dia sudah hancur dan menurut, baru aku bisa membawamu masuk tanpa penolakan."
Air mata panas mengalir deras dari kedua pelupuk mata Salma. Kata-kata Farid bagaikan belati berkarat yang ditusukkan perlahan lalu diputar di dalam jantungnya. Ia bukan dinikahi untuk dicintai. Ia dinikahi hanya sebagai tameng publik, dan kini sedang disiksa secara sistematis hanya untuk 'dijinakkan'.
Salma menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan isak tangis yang mendesak naik ke tenggorokan. Ia harus pergi dari sini sebelum Farid keluar.
Namun, sebelum Salma sempat membalikkan badan, kalimat terakhir Farid menembus celah pintu dan menghancurkan sisa-sisa kewarasannya malam itu.
"Tunggu sebentar lagi, sayang. Aku belum bisa menikahi kamu sekarang."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar