Suara langkah kaki yang menaiki tangga itu terdengar seperti ketukan palu godam pencabut nyawa di telinga Salma.
Panik luar biasa menyergapnya. Salma dengan terburu-buru berusaha memasukkan kembali foto polaroid itu ke dalam kotak beludru merah. Tangannya bergetar kelewat hebat. Jari-jarinya berkeringat dingin, membuat pinggiran foto itu licin dan hampir terlepas.
"Salma?! Kamu dengar panggilan saya?!" Suara berat Farid kini sudah berada di ambang pintu kamar utama.
Salma berhasil menutup laci bagian bawah itu, tapi ia terlambat. Belum sempat ia memutar kunci perak di lubangnya, sosok tinggi Farid sudah berdiri di ambang pintu ruang wardrobe.
Waktu seakan berhenti berdetak.
Mata Farid, yang beberapa detik lalu mungkin hanya menyorotkan rasa lapar dan tidak sabar, kini menangkap pemandangan yang membuat suhu ruangan anjlok drastis ke titik beku. Ia melihat istrinya berlutut di sudut lemari terdalam, dengan sebuah laci rahasia yang setengah terbuka, dan sebuah foto polaroid berujung kuning masih tergenggam erat di tangan wanita itu.
Ekspresi Farid tidak meledak marah. Tidak ada teriakan. Namun, perubahan di wajahnya jauh lebih menakutkan daripada amukan badai. Rahangnya mengeras hingga otot-otot di pelipisnya menonjol. Matanya menggelap, menelan habis seluruh cahaya di sekitarnya.
Sebelum Salma sempat menarik napas untuk menyusun kebohongan, Farid menerjang maju bak predator yang memburu mangsanya.
Gerakannya terlalu cepat untuk ditangkap mata Salma yang kelelahan. Dalam satu kedipan, tangan kiri Farid melesat menyambar foto polaroid itu dari genggaman Salma dengan kasar, sementara tangan kanannya yang kokoh langsung mencengkeram leher Salma.
"Akh!"
Salma terkesiap keras saat Farid menariknya berdiri paksa hanya dengan cengkeraman di tenggorokannya. Pria itu menghempaskan tubuh Salma ke belakang. Punggung Salma membentur keras pintu kaca lemari pakaian, menciptakan suara dentuman yang menggetarkan seisi ruangan.
Jari-jari tebal Farid mengunci lehernya bagai tang besi.
Salma meronta. Ia mencengkeram pergelangan tangan suaminya dengan kedua tangan, kuku-kukunya yang berhias henna berusaha mengikis kulit pria itu. Tapi tenaga Farid tidak manusiawi. Pria itu menekan ibu jarinya tepat di jalur napas Salma, memutus pasokan oksigen ke paru-paru wanita itu dalam hitungan detik.
"Kamu... mencari apa di laci saya?" desis Farid. Suaranya berubah menjadi geraman rendah, mendesis tepat di depan wajah Salma yang mulai memucat.
Salma membuka mulutnya, mencoba meraup udara, tapi yang keluar hanya bunyi serak yang menyedihkan. Akh... uh... m-mas...
Bintik-bintik hitam mulai menari-nari di sudut pandangan Salma. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Salma merasakan teror yang absolut. Rasa takut yang murni dan primitif. Ini bukan lagi sekadar pukulan atau tamparan untuk mendisiplinkan. Sorot mata yang menatapnya saat ini adalah sorot mata seorang pembunuh yang tidak memiliki setetes pun empati.
Pria ini bisa membunuhnya sekarang juga. Di sini. Di rumah mewahnya sendiri. Dan di luar sana, tidak akan ada satu orang pun yang menuduh Sang Ustad. Mereka mungkin akan mengira Salma mati karena kelelahan atau serangan jantung mendadak.
Salma menatap mata suaminya, dan di dalam kegelapan bola mata itu, ia melihat bayangan perempuan di foto tadi. Alya. Apakah Alya juga pernah dicekik seperti ini? Apakah lebam di wajah Alya adalah hasil dari tangan yang sama yang kini sedang merenggut nyawanya?
"Istri macam apa kamu ini, Salma?" Farid mendekatkan wajahnya. Hembusan napasnya yang beraroma mint terasa kontras dengan niat membunuhnya. "Hari kedua pernikahan, dan kamu sudah menunjukkan wajah aslimu. Kamu seorang pengintip. Kamu pembongkar rahasia. Kamu iblis berwujud bidadari."
Air mata Salma mengalir deras dari sudut matanya, membasahi tangan Farid yang mencekiknya. Kaki Salma mulai lemas, ujung jempolnya nyaris tak menyentuh karpet. Ia kehilangan tenaga untuk melawan. Cengkeramannya di pergelangan tangan Farid melonggar. Kepalanya terasa mau pecah.
Melihat istrinya hampir kehilangan kesadaran, Farid akhirnya melepaskan cengkeramannya dan membiarkan tubuh Salma merosot ke lantai.
Salma jatuh tersungkur. Ia terbatuk-batuk dengan keras, meraup udara sebanyak-banyaknya hingga paru-parunya terasa perih terbakar. Ia memegangi lehernya yang kini berhias cetakan jari kemerahan. Seluruh tubuhnya gemetar hebat bagai daun kering yang diterpa badai.
Farid berdiri menjulang di atasnya, merapikan kaus putihnya yang sedikit berantakan. Ia mengangkat foto polaroid di tangan kirinya, menatap wajah perempuan di foto itu sejenak dengan raut jijik, lalu menyimpannya dengan sangat hati-hati ke dalam saku celananya.
Pria itu berjongkok, menatap Salma yang masih tersengal-sengal di karpet.
"Agama melarang keras yang namanya tajassus, Salma," ucap Farid, nadanya kembali tenang, sedingin es, kembali menggunakan ayat dan dalil untuk menutupi kebiadabannya. "Mencari-cari kesalahan orang lain, apalagi suamimu sendiri. Di mana adabmu? Ibumu tidak mengajarimu etika menyentuh barang pribadi suami? Kelancanganmu ini lebih menjijikkan daripada dosa besar."
Salma menelan ludah, berusaha membasahi tenggorokannya yang terasa robek. "Mas... u-uhuk... s-siapa Alya?" bisiknya terbata-bata, menantang maut dengan satu pertanyaan yang terus menghantui kepalanya.
Tangan Farid yang sedang merapikan lipatan celananya terhenti. Pria itu menatap Salma lekat-lekat. Sebuah senyum miring, senyum sinis yang mengiris kewarasan, tercetak di bibirnya.
"Kamu ingin tahu siapa Alya?" Farid mendekatkan bibirnya ke telinga Salma, berbisik layaknya setan yang sedang menggoda manusia. "Dia adalah perempuan yang gagal belajar ketaatan. Perempuan histeris yang tidak tahu cara bersyukur. Sama sepertimu malam ini. Dia berusaha menghancurkan dakwah saya, dan dia mendapatkan balasannya. Jangan sampai, Salma... jangan sampai saya harus menulis namamu dengan spidol merah di foto lain."
Ancaman itu diucapkan tanpa intonasi marah, tapi efeknya membuat sumsum tulang Salma membeku.
Farid berdiri, membalikkan badan, dan berjalan ke arah laci terbuka tadi. Ia mengunci laci itu, mencabut kunci peraknya, lalu memasukkannya ke dalam saku.
"Saya masih lapar," ujar Farid tanpa menoleh, seolah ia baru saja menegur Salma karena lupa menyapu lantai, bukan karena baru saja mencekiknya hingga nyaris mati. "Saya tunggu supnya di bawah. Kalau dalam lima menit kamu belum turun, saya akan anggap kamu menolak melayani saya, dan hukumanmu akan lebih berat dari sekadar berdiri menghadap dinding."
Pria itu melangkah keluar dari ruang wardrobe, meninggalkan Salma yang masih meringkuk di lantai, memeluk tubuhnya sendiri yang menggigil.
Salma menangis tanpa suara. Air matanya terasa panas. Tenggorokannya sakit tak terperi setiap kali ia menelan ludah. Tapi insting bertahannya memaksa akal sehatnya bekerja. Ia tahu Farid tidak main-main. Jika ia terlambat turun, pria itu akan menyiksanya lagi.
Dengan sisa tenaga yang entah datang dari mana, Salma memaksa tubuhnya berdiri. Ia berpegangan pada pinggiran lemari, menarik napas panjang berulang kali untuk menenangkan ritme jantungnya yang masih berpacu gila-gilaan. Ia berjalan ke meja rias, mengambil sedikit foundation, dan menepuk-nepukkannya ke area lehernya yang memerah, berusaha menyamarkan jejak cengkeraman maut suaminya.
Setidaknya, ia harus terlihat 'baik-baik saja' di mata sang tuhan kecil di rumah ini.
Di dapur berlapis marmer putih yang luas, Salma bergerak seperti robot. Ia memanaskan sup ayam pesanan suaminya. Tangannya masih gemetar saat mengangkat mangkuk keramik itu, membuat kuah sup sedikit tumpah ke nampan.
Salma membawa nampan itu ke ruang makan. Di sana, Farid sudah duduk santai di kursi ujung meja makan panjang, menyilangkan kaki, matanya fokus menatap layar tablet. Pria itu sedang menonton cuplikan video ceramahnya sendiri di YouTube yang baru saja diunggah oleh tim medianya sejam yang lalu. Suara tawa dan tepuk tangan jamaah dari video itu menggema di ruang makan yang sepi.
Salma meletakkan mangkuk sup di depan Farid. Ia menunduk dalam-dalam, tak berani menatap mata pria itu.
"Duduk," perintah Farid tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet.
Salma menarik kursi di sebelah Farid perlahan dan duduk dengan postur sekaku kayu.
Farid mengambil sendok, meniup kuah sup itu pelan, lalu menyeruputnya. "Kurang panas sedikit, tapi bumbunya pas. Masakan ibuku memang tidak pernah gagal."
Salma hanya diam. Tenggorokannya berdenyut nyeri. Jangankan menjawab, bernapas saja rasanya sakit. Ia meremas ujung piama yang dipakainya di bawah meja.
"Kamu tidak makan?" tanya Farid, akhirnya menoleh menatap wajah pucat Salma.
"Saya... saya tidak lapar, Mas," bisik Salma serak. Suaranya terdengar seperti pita kaset yang kusut.
Farid meletakkan sendoknya. Ia mengambil mangkuk kecil yang kosong, menuangkan sedikit sup dan beberapa potong ayam ke dalamnya, lalu mendorongnya ke depan Salma. "Makan. Saya tidak mau besok ibumu datang dan melihat anak kesayangannya kurus kering, lalu menuduh saya menelantarkanmu. Makan, Salma."
"Tenggorokan saya sakit, Mas..."
Tenggorokan saya sakit karena Mas baru saja mencoba membunuh saya. Kalimat itu hanya berani diteriakkan Salma di dalam kepalanya.
"Makan." Mata Farid kembali menajam, memberikan sinyal bahaya. "Atau saya harus menyuapimu dengan paksa?"
Merasa teror kembali merayap di tengkuknya, Salma buru-buru mengambil sendok. Ia menyendok kuah sup itu sedikit, memasukkannya ke dalam mulut. Rasa hangat dari kaldu ayam itu justru terasa seperti menyiramkan air garam ke luka menganga di tenggorokannya yang memar. Salma memejamkan mata, menahan ringisan sakit saat menelan cairan itu. Matanya kembali berair.
Farid tersenyum puas melihat ketaatan istrinya. Ia mengalihkan pandangan kembali ke tabletnya.
"Lihat ini, Salma," ucap Farid tiba-tiba, menyodorkan layar tablet itu ke arah Salma. Di layar, terlihat ribuan komentar netizen yang membanjiri video ceramahnya. "Bacakan komentar yang paling atas."
Salma menelan ludah, menatap layar yang kabur karena air matanya. Ia menyipitkan mata, membaca tulisan dari sebuah akun bernama HambaAllah_99.
"M-masya Allah... Ustad Farid adalah definisi suami idaman akhir zaman. Beruntung sekali Mbak Salma mendapatkan pemimpin keluarga yang sesabar dan selembut beliau. Semoga sakinah mawaddah warahmah selalu," Salma membaca dengan suara bergetar parah, menahan isak tangis yang mendesak keluar dari dadanya.
Membaca pujian itu di saat lehernya masih berdenyut akibat cekikan pria yang dipuja-puja tersebut, rasanya seperti disuruh menelan kaca beracun.
Farid mengangguk-angguk pelan, mengambil kembali tabletnya. "Kamu dengar itu? Jutaan orang di luar sana mendoakan pernikahan kita. Jutaan orang menaruh harapan pada citra keluarga Islami yang kita bangun. Jadi saya peringatkan sekali lagi, Salma... jangan biarkan tangan kotormu, atau rasa penasaranmu yang bodoh itu, menghancurkan apa yang sudah saya bangun. Karena kalau sampai umat tahu kamu bukan istri yang baik, mereka sendiri yang akan menghancurkanmu sebelum saya turun tangan."
Ancaman itu begitu nyata. Salma sadar, ia tidak sedang berhadapan dengan suami pemarah biasa. Ia sedang berhadapan dengan narasi publik. Jika ia melapor polisi sekarang, siapa yang akan percaya? Rekam medisnya mungkin akan mencatat memar, tapi Farid dengan mudah bisa menyewa pengacara terbaik dan menggerakkan massa untuk menuduh Salma berhalusinasi atau mencemarkan nama baik ulama.
Salma terjebak dalam jaring laba-laba raksasa, dan laba-laba itu mengenakan sorban putih.
Makan malam yang mencekam itu akhirnya selesai saat Farid menghabiskan supnya. Salma membereskan piring kotor dan mencucinya di wastafel dapur dengan air mata yang terus menetes tanpa henti. Setiap kali ia melihat pantulan dirinya di kaca jendela dapur yang gelap, ia melihat bayangan perempuan bernasib malang bernama Alya di sana.
Alya. Siapa kamu? Di mana kamu sekarang? Apakah kamu masih hidup?
Pertanyaan itu terus berputar-putar di benak Salma bagai kaset rusak.
Menjelang tengah malam, Farid akhirnya masuk ke kamar tidur. Pria itu sudah melakukan rutinitas wudhu dan membaca doa, rutinitas yang membuat perut Salma mual luar biasa melihat kemunafikannya. Farid mematikan lampu utama, merebahkan diri di ranjang, dan dalam hitungan menit, dengkuran halusnya terdengar.
Salma masih terjaga. Ia tidak berani tidur di ranjang yang sama dengan pria itu. Dengan langkah mengendap-endap, Salma mengambil bantal kecil dan selimut tipis, lalu menyelinap masuk ke dalam kamar mandi dalam yang luas itu. Ia mengunci pintunya perlahan dari dalam.
Hanya di ruangan berlapis porselen sedingin es inilah Salma merasa sedikit aman.
Ia duduk meringkuk di atas karpet kecil di dekat bathtub, memeluk lututnya rapat-rapat. Cahaya lampu dari cermin wastafel menyorot wajahnya yang hancur. Lebam di pipi kirinya makin pekat. Bibirnya bengkak. Dan saat ia menyingkap sedikit kerah piamanya, ia bisa melihat jejak jari-jari besar Farid tercetak mengerikan di leher jenjangnya. Besok pagi, warna itu pasti akan berubah menjadi ungu pekat. Ia harus mencari syal atau atasan kerah tinggi untuk menyembunyikannya dari asisten rumah tangga yang akan mulai bekerja besok.
Salma merogoh saku piamanya, mengeluarkan ponselnya yang sejak tadi siang selalu diatur dalam mode senyap. Ia ingin menghubungi ibunya. Ia ingin menjerit, menangis, dan minta dijemput malam ini juga. Tapi bayangan ibunya yang memegangi dada karena serangan jantung membuat jari Salma membeku di atas layar kontaknya.
Tidak bisa. Keluarganya tidak akan sanggup menerima kenyataan ini. Ayahnya sudah berutang budi terlalu besar pada Farid karena pria itulah yang menyelamatkan rumah mereka dari sitaan bank bulan lalu. Uang. Citra. Agama. Tiga senjata mematikan yang mengikat Salma dari segala arah.
Tiba-tiba, layar ponsel di tangannya menyala terang.
Sebuah getaran pendek merambat ke telapak tangannya. Notifikasi pesan WhatsApp masuk.
Salma mengerutkan dahi. Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Siapa yang mengirim pesan selarut ini?
Ia mengusap layar, membuka kunci ponselnya. Pesan itu datang dari sebuah nomor asing tanpa nama kontak dan tanpa foto profil. Hanya siluet abu-abu default.
Salma membuka kolom obrolan tersebut. Napasnya langsung terhenti saat membaca satu baris kalimat pendek yang tertera di sana. Darahnya berdesir hebat, mengirimkan sensasi dingin yang merayap hingga ke ubun-ubun.
+62-811-XXXX-XXXX
Apa dia sudah mulai menyakitimu juga?
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar