"Ciri pertama dari seorang istri yang mulai dihinggapi iblis... adalah hilangnya keikhlasan di wajahnya saat menatap sang suami."

Suara bariton Farid yang menggema dari sound system raksasa membelah ruang utama Masjid Agung. Kalimat itu meluncur mulus, dihiasi intonasi sempurna yang sanggup menggetarkan hati lima ribu jamaah perempuan yang memadati lantai satu hingga lantai tiga. Terdengar gumaman setuju, helaan napas kagum, dan isak tangis tertahan dari lautan kerudung putih yang mengelilingi mimbar megah tersebut.

Di barisan paling depan, tepat di karpet VVIP yang hanya dibatasi tali beludru merah dari podium, Salma duduk membeku.

Secara fisik, Salma tampak seperti bidadari. Ia mengenakan gamis sutra warna peach muda dengan hijab syar'i yang menjuntai anggun. Riasannya natural namun menutupi sebuah rahasia gelap: butuh tiga lapis concealer tebal dan color corrector hijau untuk menyembunyikan memar biru keunguan berbentuk cetakan jari di pipi kirinya. Luka robek di sudut bibirnya masih berdenyut perih setiap kali ia dipaksa tersenyum, disamarkan mati-matian dengan lipstik matte tebal.

Namun, rasa sakit fisik itu tidak sebanding dengan siksaan psikologis yang tengah menelannya hidup-hidup detik ini.

Di atas podium, Farid berjalan mondar-mandir dengan gaya karismatiknya. Jubah putihnya berkibar pelan terkena hembusan pendingin ruangan. Dan dari ketinggian itu, sepasang mata tajam yang mematikan itu terus menatap lurus ke arah Salma.

"Banyak istri di zaman sekarang yang mengeluh," lanjut Farid. Ia memegang mikrofon dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya bertumpu di dada, berakting seolah ia adalah pria paling berbelas kasih di dunia. "Suaminya banting tulang mencari nafkah, suaminya lelah berdakwah, menghadapi ribuan orang, memikul beban umat. Lalu ketika sang suami pulang dan menutup pintu rumah... apa yang dia dapatkan?"

Farid menghentikan langkahnya tepat di tengah panggung. Tatapannya kembali mengunci mata Salma. Jantung Salma berdetak brutal, menghantam tulang rusuknya. Udara di sekitarnya mendadak terasa lenyap.

"Sang istri justru menyambutnya dengan wajah ditekuk," suara Farid merendah, berubah menjadi bisikan tajam yang ditangkap sempurna oleh mikrofon, mengirimkan sensasi merinding ke seluruh gedung. "Bahkan, sang istri berani menghela napas panjang di depan wajah suaminya. Seolah-olah, melayani suami yang kelelahan itu adalah sebuah beban yang menyiksa. Seolah-olah ia sedang dipaksa menjadi budak, bukan bidadari surga."

Darah Salma seakan tersedot habis hingga ke ujung kaki. Napasnya tercekat di pangkal tenggorokan. Jemarinya yang disembunyikan di balik rumbai mukena meremas kain itu hingga buku-buku jarinya memutih pasi.

Dia sedang menceritakan kejadian semalam.

Pria gila ini sedang menceritakan detik-detik sebelum ia menampar wajah Salma dengan brutal, tapi ia memutarnya sedemikian rupa menjadi bahan ceramah untuk memvalidasi kekerasannya di depan ribuan orang!

"Nauzubillah min dzalik," terdengar sahutan dari ibu-ibu pengajian di sebelah kanan Salma. Seorang wanita paruh baya dengan berlian melingkar di jarinya menoleh ke arah Salma dan tersenyum takzim. "Ustad Farid ini luar biasa ya, Mbak Salma. Beruntung sekali jenengan. Kalau istri ustad seperti beliau sih, boro-boro mau menghela napas, rasanya pasti mau senyum terus setiap hari karena bersyukur."

Salma menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu. Ia memaksakan kedua sudut bibirnya yang terluka untuk naik, mengangguk kecil. "Iya, Bu... Alhamdulillah."

Di atas sana, Farid melihat anggukan Salma. Sebuah senyum miring—senyum sinis yang hanya bisa dikenali oleh Salma—tercetak sekilas di wajah tampan pria itu sebelum ia kembali menatap jamaahnya dengan raut sedih.

"Maka berhati-hatilah, para istri," seru Farid, suaranya kembali menggelegar, membius lautan manusia di bawahnya. "Ketaatan itu bukan hanya dari gerakan tubuh, tapi dari wajahmu! Istri yang bermuka masam, yang tidak pandai menutupi lelahnya di depan suami, adalah istri yang perlahan-lahan sedang membangun dinding nerakanya sendiri! Ridaku adalah rida Allah. Murkaku adalah murka Allah!"

Terdengar gemuruh kalimat takbir dari para jamaah. Banyak yang menunduk sambil mengusap air mata dengan tisu, merasa tertampar oleh 'dakwah' yang begitu menyentuh kalbu.

Hanya Salma yang tahu, bahwa setiap kata yang keluar dari mulut pria suci itu adalah belati yang sengaja ditusukkan perlahan-lahan ke ulu hatinya. Itu adalah ancaman terbuka. Ancaman bahwa jika Salma berani melawan, bukan hanya tenaga fisik Farid yang akan menghancurkannya, tapi juga validasi dari ribuan orang buta yang memujanya ini.

Kajian berlangsung selama dua jam yang terasa seperti dua abad di neraka. Saat acara ditutup, Farid turun dari podium bagaikan seorang raja. Ia dikerubungi puluhan jamaah yang berebut ingin mencium tangannya. Dengan senyum bak malaikat, Farid melayani mereka satu per satu, menundukkan pandangan seolah menjaga batas suci, dan sesekali mengucapkan doa-doa keselamatan.

Ketika ia akhirnya mencapai barisan depan, Farid mengulurkan tangannya pada Salma. Di depan ratusan pasang mata yang masih menonton, Salma tidak punya pilihan selain meraih tangan itu dan mencium punggungnya, persis seperti yang dipaksakan Farid semalam usai menyiksanya.

"Terima kasih sudah datang menemaniku, Humaira," bisik Farid lembut di telinga Salma, panggilan sayang yang membuat jamaah di sekitar mereka menjerit kegirangan dan meleleh terbawa perasaan.

Namun, saat bibir Farid menyentuh sisi hijab Salma, gigi pria itu mengatup keras. Bisikan lembut itu seketika berubah frekuensi, tajam dan mematikan, hanya bisa didengar oleh Salma. "Jangan pasang muka menyedihkan seperti itu di depan kamera wartawan di luar nanti, atau kamu akan menyesal saat kita sampai di rumah."

Tubuh Salma menegang kaku. Ia segera menarik wajahnya, memasang senyum terlebar yang bisa ia paksa keluar dari bibirnya yang robek, lalu mengangguk patuh.

Perjalanan dari masjid menuju mobil Alphard hitam milik Farid dipenuhi kilatan blitz kamera dan sapaan para penggemar. Sepanjang lorong, pinggang Salma dirangkul erat oleh Farid. Rangkulan yang dari luar tampak begitu protektif dan romantis, namun kenyataannya, jari-jari besar Farid mencengkeram tulang rusuk Salma begitu keras di balik kain bajunya, sebuah peringatan fisik agar Salma tidak melakukan kesalahan sekecil apa pun.

Begitu mereka masuk ke dalam kabin mobil yang mewah dan pintu geser otomatis tertutup rapat, memutus keramaian dunia luar, atmosfer seketika berubah seratus delapan puluh derajat.

Tidak ada lagi ustad yang meneduhkan. Tidak ada lagi senyum malaikat.

Suhu pendingin ruangan di dalam Alphard itu terasa menusuk tulang, tetapi Salma berkeringat dingin. Farid melepaskan kacamata hitamnya, melemparnya ke kursi kosong di depan, lalu menyandarkan tubuhnya dengan helaan napas panjang. Sopir pribadi mereka di depan sudah memasang kaca partisi kedap suara, membuat area penumpang belakang menjadi ruang isolasi yang mencekam.

Jalanan aspal meluncur mulus di bawah mereka. Sepuluh menit berlalu tanpa ada satu pun kata yang terucap. Keheningan ini membunuh Salma. Ia lebih memilih Farid membentaknya daripada membiarkannya menebak-nebak hukuman apa yang sedang dirancang di dalam kepala pria itu.

"Kamu pikir saya tidak melihatnya?"

Suara Farid akhirnya memecah kesunyian. Sangat pelan, namun efeknya seperti bom yang meledak di pangkuan Salma.

Salma menoleh dengan leher yang kaku. "M-melihat apa, Mas?"

Farid menoleh perlahan. Matanya menyipit, menelanjangi segala kepanikan yang Salma coba tutupi. "Mata yang kosong. Senyum yang dipaksakan. Gerakan gelisah saat saya sedang berbicara di depan sana. Kamu pikir lima ribu orang di sana itu bodoh, Salma? Kamu pikir mereka tidak bisa melihat ada yang salah dengan 'bidadari' kebanggaan ustad mereka?"

"Demi Allah, Mas, aku sudah berusaha tersenyum—"

"Berusaha?!" Farid tiba-tiba mencondongkan tubuhnya, menyudutkan Salma ke pintu mobil. Tangannya mencengkeram sandaran kepala di belakang leher Salma, mengurung wanita itu tanpa jalan keluar. "Saya tidak butuh istrimu yang berusaha tersenyum! Saya butuh kamu tersenyum karena kamu memang bahagia bersuamikan saya! Kamu sadar tidak apa yang baru saja kamu lakukan? Kamu sedang mempermalukan saya!"

"Siapa yang mempermalukanmu, Mas?" Air mata Salma akhirnya menetes, tak sanggup lagi ditahan. "Semua orang di sana memujamu! Semua orang di sana menatapku iri! Apa lagi yang kamu mau? Pipi saya masih memar karena pukulanmu semalam, dan Mas memaksaku datang ke kajianmu, mendengar Mas menjadikan kekerasan itu sebagai bahan ceramah. Aku ini manusia, Mas... aku—"

Plak!

Sebuah tamparan, tidak sekeras semalam namun cukup mengejutkan, mendarat di bahu Salma. Bukan di wajah, karena Farid tahu memar baru di wajah akan sulit dijelaskan kepada publik.

"Jangan pernah potong ucapan saya!" desis Farid, napasnya memburu, urat di lehernya menonjol. "Saya tidak peduli dengan memar di pipimu! Itu akibat dari kebodohanmu sendiri. Yang saya pedulikan adalah citra yang kita bangun! Kalau satu saja jamaah di sana curiga melihat matamu yang berair dan wajahmu yang tertekan itu, lalu mereka menyebarkannya di media sosial... hancur semua yang sudah saya bangun bertahun-tahun!"

Farid menarik kembali tubuhnya, merapikan jasnya yang sedikit kusut. "Kamu egois, Salma. Kamu cuma memikirkan lukamu yang sepele, tanpa memikirkan beban umat yang ada di pundak saya."

Logika yang begitu cacat dan terbalik itu membuat Salma ingin menjerit hingga tenggorokannya robek. Pria ini memukulnya, menyiksanya secara mental, lalu mengklaim bahwa Salma-lah yang egois karena tidak bisa menyembunyikan rasa sakit itu dengan sempurna demi 'beban umat'. Ini bukan pernikahan. Ini adalah sekte sesat di mana Farid adalah tuhan satu-satunya yang tidak pernah salah.

Sisa perjalanan menuju rumah mewah mereka di kawasan elite Jakarta Selatan dihabiskan dengan isak tangis Salma yang diredam telapak tangannya sendiri.

Mobil berhenti di garasi tertutup. Sopir membukakan pintu, dan seperti sihir, wajah Farid kembali ramah. Ia mengucapkan terima kasih kepada sopirnya, lalu merangkul bahu Salma menuju pintu utama rumah bertingkat tiga yang akan menjadi neraka barunya.

Begitu pintu jati raksasa itu ditutup dan dikunci, Farid langsung melepaskan rangkulannya seolah Salma adalah penyakit menular.

"Masuk ke ruang kerja saya," titah Farid dingin. Ia melepaskan jasnya dan melemparkannya begitu saja ke atas sofa ruang tamu.

Salma meneguk ludah. Kakinya bergetar saat melangkah mengikuti Farid menaiki tangga menuju lantai dua. Ruang kerja Farid adalah ruangan luas yang didominasi warna cokelat tua dan rak-rak buku berisi kitab suci dan literatur agama. Tirai tebal menutup seluruh kaca jendela, membuat ruangan itu terasa kedap dan terisolasi dari dunia luar.

Farid duduk di kursi kulit kebesarannya di balik meja mahoni. Ia menatap Salma yang berdiri gemetar di tengah ruangan.

"Sebagai suami, saya berkewajiban mendisiplinkan istri yang membangkang," ucap Farid tenang, membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah tasbih kayu garu. Jari-jarinya mulai memutar butiran tasbih itu dengan ritme konstan yang mengerikan. "Karena hari ini kamu telah menunjukkan ketidakikhlasan di depan publik dan hampir menghancurkan nama baik suamimu... kamu harus dihukum."

"Mas, tolong..." Salma menangis memohon, bersiap untuk pukulan fisik lainnya. Ia menyilangkan kedua lengannya di depan dada, melindungi diri secara insting.

Namun Farid hanya tersenyum merendahkan. "Saya tidak akan menyentuhmu. Saya bukan monster yang suka memukul perempuan tanpa alasan, Salma. Saya hanya memukul jika sangat terpaksa." Kalimat manipulatif itu meluncur dengan sangat lancar dari mulutnya.

Farid menunjuk ke arah sudut ruangan, ke arah lantai kayu jati yang kosong di sebelah rak buku besar.

"Berdiri di sana," perintahnya.

Salma ragu sejenak, namun tatapan tajam Farid membuatnya tak berkutik. Ia berjalan gontai ke sudut ruangan tersebut.

"Menghadap ke dinding," lanjut Farid.

Salma menurut. Kini wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari dinding kayu berlapis wallpaper bermotif daun emas. Ia menatap kosong ke arah pola dinding tersebut, merasa seperti anak kecil yang sedang dihukum di taman kanak-kanak, namun dengan nuansa horor yang mencekik nyawa.

"Kamu akan berdiri di situ, menghadap dinding, tanpa menoleh, tanpa duduk, dan tanpa bicara, sampai saya izinkan kamu bergerak," suara Farid menggema dari balik punggungnya. "Gunakan waktu itu untuk merenungkan dosa-dosamu. Renungkan betapa tidak bersyukurnya dirimu memiliki suami seperti saya. Dan jika saya mendengar ada satu saja isakan tangis yang keluar dari mulutmu..."

Suara kursi berderit. Terdengar langkah kaki Farid mendekat ke arah belakang tubuh Salma. Hembusan napas pria itu terasa di tengkuk Salma yang tertutup kain hijab.

"...saya akan pastikan bukan cuma pipi kirimu yang tidak bisa menatap kamera esok hari."

Salma memejamkan mata rapat-rapat. Air matanya mengalir deras, namun ia menggigit bibir bawahnya—tepat di bagian yang robek—sangat keras hingga ia mengecap darah segar lagi, demi menahan isak tangisnya agar tak bersuara.

Terdengar langkah kaki Farid menjauh, lalu pintu ruang kerja ditutup dengan bantingan pelan. Suara kunci diputar dari luar. Klik.

Salma ditinggalkan sendirian. Dikunci di dalam ruangan ber-AC yang suhunya terus menurun, menghadap dinding dengan kaki yang masih dibalut sepatu hak tinggi, menanggung hukuman atas dosa yang tidak pernah ia lakukan.

Satu jam berlalu. Kakinya mulai kram. Betisnya terasa seperti ditusuk ribuan jarum. Tulang punggungnya nyeri luar biasa akibat kelelahan luar biasa yang diakumulasi sejak acara resepsi kemarin. Beberapa kali tubuhnya oleng, hampir ambruk ke lantai, namun ketakutan akan ancaman Farid memaksanya kembali berdiri tegak.

Salma kehilangan konsep waktu. Rasa sakit di kakinya perlahan berubah menjadi kebas. Ia seperti manekin hidup yang kehilangan jiwanya. Apakah ini hukuman yang pantas untuk seorang istri yang hanya menghela napas lelah? Logikanya terus berperang dengan rasa bersalah buatan yang ditanamkan Farid ke dalam otaknya secara sistematis.

Setelah entah berapa lama—mungkin dua atau tiga jam—suara kunci kembali terdengar.

Pintu terbuka. Farid masuk, aroma sabun mandi mahal menguar darinya. Pria itu sudah berganti pakaian dengan kaus putih santai dan celana kain. Ia tampak sangat segar, sangat berbanding terbalik dengan Salma yang berantakan, pucat pasi, dan gemetar menahan bobot tubuhnya sendiri.

"Cukup," ucap Farid.

Begitu kata itu keluar, pertahanan kaki Salma runtuh. Ia jatuh berdebum ke atas karpet tebal, tidak sanggup lagi berdiri. Salma meringkuk, memijat-mijat betisnya yang kaku dengan napas memburu.

Farid mendekat, berjongkok di sampingnya. Ia mengelus kepala Salma dengan kelembutan yang memuakkan. "Apakah hatimu sudah lebih lunak sekarang, istriku?"

Salma hanya bisa mengangguk lemah, tak punya tenaga bahkan untuk sekadar menjawab.

"Bagus," senyum Farid mengembang. "Saya lapar. Tadi di kajian tidak sempat makan siang. Tolong turun ke bawah, hangatkan sup yang dikirim ibuku tadi pagi. Saya tunggu di meja makan lima belas menit lagi."

Tanpa rasa bersalah sedikit pun, Farid berdiri dan melangkah keluar menuju ruang makan. Meninggalkan Salma yang masih berjuang mengumpulkan nyawanya dari lantai.

Dengan sisa-sisa tenaga terakhir, Salma memaksa dirinya merangkak bangun. Ia harus patuh. Ia harus menjadi robot yang diinginkan Farid agar bisa bertahan hidup di rumah ini. Salma berjalan menyeret kakinya keluar dari ruang kerja, menuju kamar tidur utama untuk mengganti pakaiannya yang basah oleh keringat dingin, sebelum turun ke dapur.

Kamar tidur utama mereka sangat luas. Salma melihat jas, kemeja, dan peci yang dipakai Farid tadi dilemparkan sembarangan ke atas ranjang. Kebiasaan kecil yang tidak pernah terlihat oleh publik. Salma menghela napas sepelan mungkin, mengambil pakaian-pakaian kotor itu untuk dimasukkan ke keranjang laundry di dalam ruang wardrobe (lemari pakaian berjalan).

Saat Salma mengangkat jas hitam milik Farid, sesuatu terjatuh dari saku dalamnya.

Benda logam itu mendarat di atas karpet berbulu dengan bunyi buk pelan.

Salma menunduk. Itu adalah sebuah kunci kecil berwarna perak, dengan gantungan kulit berwarna hitam pudar. Bentuknya bukan kunci pintu rumah atau kunci mobil. Salma mengerutkan dahi.

Instingnya, yang telah dipertajam oleh rasa takut dan curiga selama dua puluh empat jam terakhir, tiba-tiba mengambil alih. Ia menoleh ke sekeliling ruang wardrobe yang dipenuhi lemari-lemari besar berlapis kaca. Hampir semua laci dan pintu lemari di sana menggunakan sistem sentuh atau tak berkunci.

Kecuali satu.

Mata Salma tertuju pada sebuah laci kayu solid di bagian paling bawah sudut lemari pakaian Farid. Laci itu tidak memiliki pegangan, hanya ada lubang kunci kecil yang tertutup logam kuningan.

Salma menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka. Terdengar samar suara televisi dari lantai bawah; Farid sedang menonton berita sambil menunggunya menghangatkan makanan. Waktunya tidak banyak. Kalau Farid sadar kuncinya hilang, nyawa Salma yang menjadi taruhannya.

Namun rasa penasaran bercampur adrenalin menekan rasa takutnya. Tangan Salma yang gemetar meraih kunci perak itu dari atas karpet. Ia berjongkok di depan laci terbawah itu, memasukkan kuncinya.

Klik. Pas sempurna.

Salma menarik laci itu perlahan agar tidak menimbulkan suara decit kayu.

Napasnya tertahan saat laci itu terbuka.

Ia menduga akan menemukan tumpukan uang tunai, dokumen rahasia, atau mungkin berkas-berkas properti yang disembunyikan. Namun, bagian dalam laci itu kosong melompong. Hanya ada satu benda di sana.

Sebuah kotak kayu kecil seukuran telapak tangan.

Salma mengangkat kotak itu. Tidak terkunci. Dengan jantung yang bertalu-talu seakan mau meledak, ia membuka tutupnya.

Di dalam kotak berlapis beludru merah pudar itu, terbaring sebuah foto polaroid. Ujung-ujungnya sudah sedikit menguning, tanda bahwa foto itu sudah sering dipegang atau disimpan cukup lama.

Salma mengambil foto tersebut. Udara di paru-parunya seketika menguap lenyap. Matanya melebar penuh horor, mulutnya terbuka tanpa sanggup mengeluarkan suara apa pun.

Itu adalah foto seorang perempuan muda berwajah sangat ayu. Perempuan itu memakai hijab instan sederhana. Namun bukan wajah cantik itu yang membuat darah Salma membeku.

Di dalam foto itu, perempuan tersebut sedang duduk meringkuk di sudut sebuah ruangan yang sangat familier. Salma mengenali dinding wallpaper bermotif daun emas itu. Itu adalah sudut ruang kerja di lantai atas. Sudut yang sama persis di mana Salma baru saja dihukum berdiri selama berjam-jam.

Perempuan dalam foto itu menatap ke arah kamera dengan mata yang bengkak parah. Air matanya berlinang membasahi pipi. Dan yang paling mengerikan... di wajah perempuan itu, terdapat luka lebam biru keunguan yang ukurannya jauh lebih besar dan mengerikan daripada milik Salma.

Di bagian bawah pinggiran putih polaroid itu, terdapat tulisan tangan menggunakan spidol merah. Tulisan tangan Farid yang sangat rapi dan khas.

"Alya. Istri yang butuh dididik."

Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar menaiki tangga.

"Salma?! Mana makanannya?!" Suara Farid menggema dari lorong, semakin dekat ke arah kamar utama. "Kamu mau menguji kesabaran saya lagi?!"