Tepat pukul 02:14 dini hari, raungan bel utama menyobek keheningan mutlak di rumah raksasa itu.
Rentetan bunyi lonceng elektronik itu ditekan tanpa jeda, brutal, dan penuh keputusasaan, mengalahkan gemuruh hujan badai yang sedang meremukkan atap Jakarta. Di atas ranjang king size di kamar utama, mata Salma terbuka lebar. Ia belum tertidur sedetik pun sejak menguping pembicaraan telepon suaminya sejam yang lalu. Tubuhnya meringkuk kaku di tepi kasur, memunggungi sosok Farid yang terbaring di sisi lain.
Bel itu terus menjerit. Tett! Tett! Tett!
Salma merasakan pergerakan kasar dari sisi suaminya. Farid menyibakkan selimut dengan sentakan marah. Terdengar umpatan tertahan—sebuah kata kotor yang tak pernah dibayangkan Salma bisa keluar dari bibir ustad pujaan umat itu—sebelum kaki Farid menjejak lantai.
"Pak Ujang budek atau mati?!" desis Farid tajam, mengutuk satpam jaga di pos depan. Ia meraih jubah tidur sutranya, melangkah lebar keluar dari kamar tanpa melirik Salma sedikit pun. Bantingan pintu kamar utama membuat jantung Salma hampir copot.
Logika Salma berteriak menyuruhnya tetap bersembunyi di balik selimut. Namun, rasa penasaran yang bercampur dengan adrenalin murni memaksanya bangkit. Salma turun dari ranjang tanpa suara. Kakinya yang tak beralas menyentuh lantai kayu yang sedingin es. Ia mengendap-endap keluar kamar, menyusul langkah suaminya dari kejauhan, berlindung di balik bayang-bayang pilar marmer lantai dua yang menghadap langsung ke foyer lantai dasar.
Dari atas balkon dalam, Salma melihat lampu gantung kristal di ruang tamu utama menyala terang. Farid berdiri tegak di depan pintu jati raksasa ganda itu. Melalui interkom layar sentuh di dinding, Salma bisa melihat siluet seseorang di luar gerbang, namun Farid yang tak sabaran langsung membuka kunci pintu utama. Rupanya orang itu sudah berhasil melewati pos satpam.
Begitu pintu terbuka, hempasan angin basah dan tampias hujan langsung menerobos masuk, membawa aroma petrikor yang pekat.
Dan di ambang pintu itu, berdiri seorang perempuan.
Penampilannya sangat berantakan. Gamis cokelat murahan yang dipakainya basah kuyup, menempel cetak pada tubuhnya yang bergetar hebat. Ujung jilbab instannya meneteskan air berlumpur ke atas karpet Turki seharga ratusan juta di foyer tersebut. Riasan wajahnya luntur total, meninggalkan jejak hitam maskara yang mengalir bersama air mata di pipinya yang pucat pasi.
Napas Salma tercekat di tenggorokan. Tangan kirinya tanpa sadar meremas pagar balkon marmer.
Mata bengkak. Garis rahang yang familier.
Itu Alya.
Perempuan di dalam foto polaroid yang disembunyikan Farid di laci bawah. Perempuan dengan luka lebam di wajah, yang fotonya ditulisi kalimat 'Istri yang butuh dididik'.
"Alya..." desis Farid. Suara baritonnya rendah, tertahan, dan sarat akan ancaman mematikan. "Berani sekali kamu datang ke rumahku jam segini. Kamu sudah gila?!"
Alya tidak membalas dengan amarah. Perempuan basah kuyup itu justru langsung menjatuhkan dirinya ke lantai marmer yang dingin. Ia bersimpuh, memeluk lutut Farid dengan isak tangis yang begitu memilukan hingga menyayat hati Salma yang mendengarnya dari lantai atas.
"Mas... tolong aku, Mas..." Alya meratap, suaranya serak dan putus asa. Wajahnya disembunyikan di lipatan celana tidur Farid. "Pemilik kos sudah mengusirku... Aku nggak punya uang lagi. Kandunganku sering kram. Kamu janji bulan ini mau mencarikan apartemen untukku. Kamu janji, Mas..."
Kandunganku.
Kata itu bagaikan peluru meriam yang menghantam ulu hati Salma. Jadi benar. Wanita yang ditelepon Farid sejam lalu adalah Alya. Dan wanita ini sedang membawa darah daging suaminya.
Di bawah sana, Farid tidak menunduk untuk menolong. Ia justru mundur selangkah, menendang kasar tangan Alya yang memeluk kakinya, seolah perempuan itu adalah hewan pembawa virus.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu!" bentak Farid. Matanya melotot liar ke arah pintu luar yang masih terbuka, memastikan tidak ada orang atau tetangga yang melihat adegan ini. Ia dengan cepat menarik kerah gamis Alya, menyeret perempuan itu masuk ke dalam rumah bagai karung beras, lalu membanting pintu jati itu hingga tertutup rapat.
Bunyi dentuman pintu itu membuat Salma berjengit ngeri.
Farid melepaskan kerah Alya hingga perempuan itu tersungkur di atas karpet. "Berapa kali aku bilang, jangan pernah menginjakkan kaki di rumah ini! Kamu tuli?! Ini area publikku! Kalau ada kamera yang merekammu masuk ke sini jam dua pagi, hancur reputasiku!"
"Reputasi?!" Alya mendongak. Tangisannya kini bercampur dengan tawa sumbang yang getir. Ia memegangi perutnya yang mulai menunjukkan sedikit tonjolan. "Aku mengandung anakmu, Mas! Kita sudah nikah siri satu tahun yang lalu! Kamu membuangku di kos-kosan kumuh sementara kamu gelar pesta mewah miliaran rupiah dengan istri barumu itu! Aku istri pertamamu, Mas!"
Dunia Salma berhenti berputar.
Istri pertama.
Bukan calon istri. Bukan selingkuhan. Istri pertama. Farid telah menikah siri dengan Alya jauh sebelum ia meminang Salma. Semua kisah tentang ustad muda lajang yang menjaga kesuciannya itu adalah omong kosong terbesar abad ini.
Salma merasa perutnya mual luar biasa. Kepalanya berputar hebat. Ia harus berpegangan kuat pada pilar agar tidak pingsan.
"Tutup mulutmu, pelacur," desis Farid, suaranya berubah menjadi geraman iblis. Ia menunduk, mencengkeram rahang Alya dengan paksa, persis seperti yang ia lakukan pada Salma di malam pertama. "Pernikahan kita tidak ada catatannya. Kamu cuma perempuan buangan yang aku pungut dari jalanan. Kalau kamu terus bikin ulah, anak di perutmu itu tidak akan pernah melihat matahari."
"Bunuh saja aku, Mas!" jerit Alya histeris, mencoba melepaskan tangan kokoh suaminya. "Bunuh aku dan anak ini sekalian! Biar semua orang tahu ustad pujaan mereka adalah pembunuh berdarah dingin! Biar istrimu yang masih suci itu tahu kalau suaminya monster!"
Mendengar kata 'istrimu', insting predator Farid tiba-tiba bereaksi. Ia mendongakkan kepalanya, menatap lurus ke arah lantai dua.
Salma terlambat menarik tubuhnya ke belakang pilar. Tatapan mata mereka bertemu.
Jantung Salma seakan ditikam balok es. Mata Farid membesar sedetik, sebelum senyum sosiopat yang sangat mengerikan perlahan mengembang di wajah pria itu.
"Salma, sayangku," panggil Farid dengan nada lantang dan sangat lembut, sebuah kontras yang membuat Salma ingin memuntahkan isi perutnya. "Turunlah ke sini. Ada tamu yang ingin menemuimu."
Salma membeku. Tubuhnya menolak bergerak, tapi tatapan mata Farid dari bawah sana adalah perintah mati. Jika ia tidak turun, hukumannya akan jauh lebih parah. Dengan sisa tenaga dan kaki yang bergetar hebat, Salma menuruni tangga marmer itu selangkah demi selangkah. Setiap pijakan terasa seperti melangkah menuju tiang gantungan.
Begitu Salma sampai di foyer, Alya menoleh. Perempuan basah kuyup itu menatap Salma dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kebencian, rasa iri, dan rasa kasihan yang mendalam. Salma melihat wajah Alya secara langsung untuk pertama kalinya. Memar di foto itu sudah memudar, tapi garis keputusasaan di wajahnya terukir permanen.
Farid langsung meraih tangan Salma, menariknya mendekat, dan melingkarkan lengannya posesif di pinggang Salma. Cengkeraman jari Farid di pinggang Salma menekan kuat, mengingatkan wanita itu untuk bermain sesuai skenarionya.
"Nah, Alya. Coba lihat," Farid menatap Alya yang masih terduduk di lantai dengan raut wajah merendahkan. Ia mulai memutarbalikkan fakta dengan sangat halus dan presisi. "Lihat istri saya, Salma. Dia sedang sakit. Lehernya sampai harus dibalut pakaian tertutup karena kurang sehat. Tapi gara-gara teriakanmu yang tidak beradab ini, dia harus terbangun ketakutan di rumahnya sendiri."
Salma menatap suaminya dengan ngeri. Pria ini menggunakan lebam hasil cekikannya sendiri sebagai alasan 'sakit' untuk mencari simpati palsu. Gila. Farid benar-benar gila.
"Astagfirullah, Ukhti," Farid melanjutkan dengan nada dakwah yang sering ia gunakan di mimbar, menggelengkan kepalanya dramatis. "Saya tahu kamu adalah jamaah saya yang fanatik. Saya tahu kamu punya obsesi yang tidak sehat kepada saya. Tapi mendatangi rumah saya di tengah malam, memfitnah saya menghamilimu, dan merusak kebahagiaan rumah tangga saya? Fitnah apa lagi yang kamu bawa malam-malam begini, Alya?"
Alya ternganga. Matanya membelalak lebar melihat kelicikan pria di depannya. "F-fitnah?! Mas, kamu waras?! Aku punya bukti chat kita, aku punya rekaman suaramu—"
"Obsesi setan telah membutakan hatimu," potong Farid cepat, suaranya meninggi, menunjukkan otoritas. Ia menoleh ke arah Salma. "Kamu lihat ini, Sayang? Inilah risiko berdakwah. Banyak perempuan yang kehilangan akal sehat karena halusinasi. Dia ini sudah berbulan-bulan meneror manajemen kita, mengaku-ngaku sebagai istri siri saya. Padahal saya saja baru kenal namanya."
Salma menatap Alya. Ia tahu persis Farid sedang berbohong. Ia punya buktinya. Foto polaroid itu. Telepon sejam yang lalu. Namun, saat Salma mencoba membuka mulutnya untuk bicara, jempol Farid menekan tulang rusuknya dengan sangat keras hingga Salma meringis tertahan.
Diam, perintah tanpa suara itu tersalurkan lewat rasa sakit di rusuknya.
"Mbak Salma..." Alya merangkak maju, mengabaikan Farid dan memohon langsung pada Salma. Tangan basahnya mencoba meraih ujung piama Salma. "Mbak Salma sesama perempuan, tolong percaya sama aku. Jangan tertipu senyumnya. Malam ini dia telepon aku, dia bilang—"
"Cukup!"
Suara Farid menggelegar bak guntur. Wajahnya seketika merah padam. Kepanikan karena kebohongannya hampir dibongkar di depan Salma membuat maskot kesuciannya hancur berantakan dalam sekejap mata.
Alya berdiri, wajahnya penuh amarah yang nekat. "Biar dia tahu, Mas! Biar dia tahu kalau sejam yang lalu kamu masih merayuku di telepon! Kamu bilang kamu cuma menikahinya demi citra publik, dan kamu sedang berusaha 'menjinakkan' istrimu yang ini—"
Plak!
Suara daging beradu dengan daging itu meledak di tengah foyer.
Salma memekik keras. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, mundur selangkah hingga punggungnya menabrak anak tangga.
Tangan Farid yang siangnya memegang tasbih dan mengusap kepala anak yatim itu, baru saja mengayun membelah udara, menghantam wajah Alya dengan kekuatan penuh.
Tamparan itu begitu brutal hingga Alya terpelanting ke lantai marmer. Kepalanya membentur kaki meja pajangan dengan bunyi gedebuk yang mematikan. Sebuah vas porselen di atas meja itu bergetar hebat.
Darah segar langsung menyembur dari hidung dan sudut bibir Alya, menetes mengotori keramik putih. Perempuan itu mengerang kesakitan, memegangi kepalanya yang pusing, sementara tangan kirinya memeluk perut buncitnya secara protektif.
Salma gemetar hebat hingga giginya bergemeretak. Jantungnya berhenti berdetak sesaat. Ia baru saja menyaksikan suaminya melakukan kekerasan fisik terhadap seorang perempuan yang sedang hamil anaknya sendiri. Di depan matanya. Tanpa ada rasa penyesalan sedikit pun.
"Mas... dia hamil..." cicit Salma, suaranya parau oleh teror yang mencekik. Ia mencoba melangkah maju untuk menolong Alya, namun Farid langsung menahan lengannya dengan kasar.
"Jangan sentuh dia, Salma. Dia kotor." Farid menatap Alya yang terkapar dengan napas memburu. Dadanya naik turun. Setan telah sepenuhnya menguasai wajahnya.
Farid merogoh saku jubahnya, mengeluarkan ponselnya. Ia menekan nomor satpam di pos depan dengan gerakan cepat dan marah.
"Pak Ujang! Masuk ke dalam sekarang bawa payung besar. Lewat pintu garasi samping. Bawa perempuan gila ini keluar dari rumah saya sebelum saya panggil polisi!" bentak Farid ke telepon, lalu memutus panggilannya.
Farid berjongkok di depan Alya, menarik jilbab basah perempuan itu hingga kepala Alya mendongak paksa. "Dengar baik-baik, sampah," bisiknya dengan kekejian absolut. "Kalau besok aku dengar ada satu saja rumor tentang malam ini, aku pastikan kamu tidak akan pernah melihat anakmu lahir. Mengerti?"
Alya tidak menjawab. Ia hanya terisak, darah menetes dari hidungnya bercampur dengan air mata. Seluruh perlawanannya telah dihancurkan oleh rasa sakit dan ancaman nyata itu.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara langkah kaki berlari dari arah dapur. Dua orang satpam berjas hujan basah tergopoh-gopoh masuk ke area foyer, menunduk ketakutan melihat ustad majikan mereka berdiri di atas tubuh seorang perempuan berdarah.
"Angkat dia. Bawa dia pergi dari sini. Kasih dia seratus ribu buat ongkos taksi," perintah Farid dingin, mengusap tangannya ke jubahnya. "Kalau besok ada wartawan yang tahu kejadian malam ini, kalian berdua saya pecat."
Kedua satpam itu tidak berani banyak tanya. Mereka segera mengapit lengan Alya, mengangkat tubuh lemas perempuan itu dengan kasar, dan menyeretnya menuju pintu samping.
Salma berdiri membeku di dekat tangga. Air matanya mengalir tanpa henti. Ia tidak berani melawan, tidak berani membela. Rasa pengecut ini menggerogoti jiwanya. Ia adalah penonton dari sebuah penyiksaan berdarah dingin.
Saat Alya diseret melewati posisi Salma, langkah kedua satpam itu sedikit melambat karena lantai yang licin oleh air hujan.
Di titik itulah, Alya memutar kepalanya.
Mata perempuan malang yang babak belur itu menatap lurus menembus mata Salma. Tatapan itu bukan lagi tatapan memohon bantuan. Itu adalah tatapan belasungkawa. Tatapan seseorang yang melihat cermin masa depannya sendiri.
Dari bibir Alya yang sobek dan berdarah, sebuah bisikan lolos, sangat pelan, nyaris tertelan suara hujan di luar sana. Namun Salma mendengarnya dengan sangat jelas di dalam kepalanya.
"Kamu pikir... kamu istri pertama yang dia hancurkan?"
Salma menelan ludah. Tubuhnya seketika terasa sebeku bongkahan es di antartika.
Pintu samping dibanting tutup oleh satpam. Meninggalkan Salma, Farid, dan keheningan yang lebih mengerikan dari kematian.
Farid berbalik menghadap Salma. Pria itu menghela napas panjang, menunduk, lalu tiba-tiba tersenyum lembut seolah tidak terjadi apa-apa. Ia berjalan mendekat, menghapus air mata di pipi Salma dengan ibu jarinya yang masih menyisakan aroma darah Alya.
"Maafkan drama tadi ya, Sayang," bisik Farid, mengecup kening Salma yang mematung ngeri. "Ujian orang berdakwah memang berat. Sekarang ayo kita tidur lagi. Besok pagi aku ada live kajian subuh tentang pentingnya memuliakan perempuan."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar