Sinopsis
Keluarga Soemarto tidak pernah kaya. Yang mereka punya adalah rumah kontrakan yang atapnya bocor di tiga titik berbeda, motor butut yang hidup karena doa lebih dari bensin, dan Bapak — seorang pria pendiam yang bekerja sebagai 'asisten pribadi' di perusahaan besar tanpa pernah menjelaskan dengan jelas apa yang ia kerjakan. Ketika Bapak meninggal mendadak karena serangan jantung di usia enam puluh dua tahun, Nadia — si sulung yang baru saja dipecat dari startup karena 'restrukturisasi' — berpikir masalah terberatnya adalah bagaimana membayar cicilan makam. Ia salah besar. Tiga hari setelah pemakaman yang sederhana, seorang pengacara rapi bernama Pak Wibisono mengetuk pintu kontrakan mereka sambil membawa tas kulit yang harganya mungkin lebih mahal dari isi rumah mereka. Ia duduk di sofa yang pegas-nya sudah pasrah, menghela napas profesional, lalu membacakan daftar aset yang membuat Nadia, ibunya, adik laki-lakinya Dito, dan adik perempuannya Shinta, serentak terdiam. Bapak — Soemarto bin Karman, pensiunan 'asisten' yang bawa bekal nasi dari rumah setiap hari — ternyata adalah tangan kanan rahasia seorang konglomerat kakap yang telah memberikan hibah saham dan properti senilai ratusan miliar rupiah kepadanya selama dua dekade. Bapak tahu. Bapak sengaja tidak bilang. Karena Bapak takut uang akan merusak keluarganya.
Total Baca
16
Suka
0
Subscribe
0
Bab
50
0.0
dari 5