Kecanggungan di dalam Ruang 402 terasa sangat tebal hingga Nisa merasa bisa memotongnya dengan pisau bedah. Suara detik jam dinding di atas pintu dan detak monitor EKG adalah satu-satunya yang mengisi keheningan.
Tangan Nisa bergerak nyaris mekanis saat ia mengambil tensimeter dari keranjang medis di ujung ranjang. Matanya terus mencuri pandang ke arah wajah pria itu. Setiap guratan di wajah Farel, setiap bayangan gelap di bawah matanya, menceritakan penderitaan yang tak tersuarakan. Ada bekas luka goresan panjang di pelipis kirinya yang tampak baru mengering, memberikan kesan garang pada wajah yang sudah kehilangan kehangatannya.
Apa yang terjadi padamu, Farel? batin Nisa, menjerit pilu. Di mana kamu selama tiga tahun ini?
Tapi Nisa mengunci rapat-rapat bibirnya. Ia adalah perawat. Di ruangan ini, ia tidak boleh menjadi wanita dari masa lalu Farel. Emosinya hanya akan memperburuk keadaan pasien yang stabilitas mentalnya sedang hancur.
"Permisi, Lettu Farel. Saya harus memasang manset ini di lengan kanan Anda untuk memeriksa tekanan darah," ucap Nisa dengan nada senetral mungkin.
Farel tidak merespons secara verbal. Matanya yang sedingin es perlahan bergeser dari wajah Nisa turun ke arah tensimeter di tangannya, lalu kembali lagi ke wajah Nisa. Tatapan itu mengintimidasi. Bukan intimidasi khas komandan yang memberi perintah, melainkan tatapan seekor serigala terluka yang siap menyerang siapa saja yang berani menyentuhnya.
Nisa menelan ludah, mengartikan keheningan itu sebagai izin. Dengan hati-hati, ia meraih lengan kanan Farel.
Sensasi dingin langsung menyengat telapak tangan Nisa saat kulit mereka bersentuhan. Tubuh Farel tidak hangat seperti dulu. Kulitnya pucat dan terasa sedingin pualam.
Detik berikutnya, ketika jari Nisa sedikit memberi tekanan untuk menggulung lengan piama Farel, otot-otot di lengan pria itu mendadak mengeras. Tubuh Farel tersentak mundur dengan gerakan yang sangat cepat dan refleksif, menarik lengannya dari sentuhan Nisa seolah tangan Nisa adalah besi panas yang membakar kulitnya.
Nisa mundur selangkah, jantungnya berdegup kencang karena kaget. "M-maaf," gumam Nisa cepat. "Saya menyakiti Anda?"
Napas Farel berubah menjadi sedikit lebih pendek. Matanya menatap tajam ke arah tangan Nisa, lalu ke sudut-sudut ruangan, sebelum kembali menatap lurus ke depan, menghindari kontak mata. Dadanya naik turun dengan cepat. Rahangnya mengatup rapat hingga urat-urat di lehernya menonjol.
"Jangan sentuh."
Suara itu akhirnya keluar. Serak, parau, seakan tenggorokannya sudah berbulan-bulan tidak digunakan untuk berbicara. Nadanya rendah, nyaris seperti geraman peringatan, dan diucapkan tanpa intonasi sama sekali. Dingin.
Nisa terpaku. Suara itu… adalah suara Farel. Suara berat yang dulu sering berbisik di telinganya melalui sambungan telepon di tengah malam, menceritakan tentang kerasnya latihan atau sekadar merindukan masakannya. Namun malam ini, suara itu terdengar seperti bilah pisau yang menancap ulu hati Nisa.
"Saya harus memeriksa tekanan darah Anda, Lettu. Ini prosedur rumah sakit," Nisa memaksakan dirinya untuk terdengar tegas, meski suaranya sedikit gemetar. Ia harus menjaga jarak profesionalnya. Jika ia terbawa emosi sekarang, ia akan hancur malam ini juga.
Farel perlahan menolehkan kepalanya lagi. Kali ini matanya mengunci tatapan Nisa. Tidak ada lagi kekosongan mutlak di sana, melainkan sebuah penolakan yang keras kepala.
Di dalam kepala Farel, semuanya adalah kekacauan yang tak berujung. Suara hujan di luar terdengar seperti rentetan tembakan senjata mesin. Pendaran lampu monitor EKG mengingatkannya pada lampu suar di tengah hutan malam itu. Aroma karbol rumah sakit ini tidak bisa menutupi bau amis darah dan mesiu yang seolah masih menempel permanen di rongga hidungnya.
Dan perawat ini… wanita berseragam putih dengan mata besar yang berkaca-kaca ini… mengganggu fokusnya. Farel benci ketika orang menatapnya dengan kasihan. Ia benci sentuhan tiba-tiba. Setiap sentuhan di kulitnya terasa seperti ancaman. Ia hanya ingin dibiarkan sendiri. Mengapa mereka tidak mengerti bahwa tubuhnya memang di sini, tapi jiwanya tertinggal di tanah yang bersimbah darah itu?
Farel menatap wajah perawat itu. Ada sesuatu yang aneh. Tangan wanita itu gemetar saat memegang tensimeter. Mata wanita itu menatapnya tidak dengan pandangan klinis seorang tenaga medis, melainkan dengan intensitas yang sarat akan rasa sakit yang tertahan.
Kenapa perawat ini mau repot-repot terlihat terluka melihatnya?
"Hanya tekanan darah," ulang Nisa pelan, suaranya melembut, mengalahkan insting profesionalnya. Ia menurunkan tangannya, menempatkannya di sisi tubuh agar Farel bisa melihat bahwa ia tidak memegang senjata. "Saya janji tidak akan menyakiti Anda. Tolong?"
Farel diam. Ia mengamati gerak-gerik wanita itu. Sorot mata yang memohon itu entah mengapa membuat sudut dadanya yang kebas terasa aneh. Sebuah keakraban yang samar, yang otaknya tolak untuk proses karena terhalang kabut trauma yang tebal.
Dengan enggan dan gerakan yang lambat, Farel membiarkan lengan kanannya rileks di atas kasur. Sebuah tanda persetujuan yang bisu.
Nisa menghela napas lega yang nyaris tak terdengar. Ia melangkah maju dengan sangat hati-hati, seolah sedang mendekati hewan buas yang siap menerkam. Dengan gerakan lambat dan terukur—memastikan Farel bisa melihat setiap detail pergerakannya—Nisa memasang manset di lengan atas pria itu.
Jari-jarinya tanpa sengaja menyentuh bekas luka bakar melingkar di pergelangan tangan Farel. Nisa menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk menahan air mata yang mendesak naik. Tuhan, apa saja yang sudah dia lewati?
Sambil memompa alat pengukur tekanan darah, Nisa memberanikan diri menatap wajah Farel lagi. Jarak mereka sangat dekat sekarang. Nisa bisa melihat dengan jelas bulu mata Farel yang panjang, garis rahangnya yang kasar karena belum dicukur, dan napasnya yang tidak teratur.
"Tekanan darah Anda 140 per 90. Sedikit tinggi, tapi wajar untuk kondisi stres pasca-trauma," ucap Nisa seraya melepaskan manset dengan cekatan. Ia mencatat angka tersebut di papan jalannya. "Suhu tubuh Anda 36,5 derajat."
Farel menarik lengannya menjauh begitu manset dilepas. Ia membuang muka, kembali menatap ke luar jendela. Hujan belum juga reda.
"Apakah ada bagian tubuh yang terasa nyeri malam ini?" tanya Nisa, berusaha mencari celah untuk memulai interaksi. Ia membutuhkan Farel untuk bicara. Ia butuh mendengar suara itu lagi, meski itu menyakitkan.
"Tidak," jawab Farel singkat.
"Obat penenang Anda dijadwalkan masuk jam empat pagi nanti. Tapi kalau Anda merasa kesulitan tidur atau cemas, saya bisa menghubungi dokter untuk memberikan dosis tambahan sekarang."
"Saya tidak butuh obat."
"Anda belum tidur sama sekali sejak dipindahkan dari IGD."
"Bukan urusanmu."
Kalimat itu meluncur tajam, menusuk tanpa ampun. Nisa terdiam. Tulisannya di atas kertas rekam medis terhenti. Tangannya mencengkeram bolpoin hingga buku-buku jarinya memutih.
Bukan urusanmu. Tiga tahun lalu, segala sesuatu tentang pria ini adalah urusannya. Nisa tahu persis berapa sendok gula yang Farel sukai dalam kopinya. Nisa tahu bahwa Farel tidak bisa tidur jika kamarnya gelap gulita. Nisa tahu pria itu selalu menggaruk alis kirinya saat sedang berbohong.
Dan sekarang, berada di ruangan yang sama dengannya, memastikan ia tetap bernapas, dianggap bukan urusannya?
Nisa memejamkan mata sesaat. Menelan semua ego dan rasa rindunya kembali ke dalam perut. Ia mengambil senter pen kecil dari sakunya.
"Saya harus memeriksa respons pupil Anda. Tolong lihat ke mari," Nisa memberi instruksi, mengangkat senter pen itu sejajar dengan mata Farel.
Farel mendecak pelan, sebuah suara ketidaksukaan yang jelas. Namun, alih-alih menolak, ia memutar kepalanya, menatap lurus ke arah Nisa.
Nisa menyalakan senter. Cahaya kuning kecil itu menyinari mata Farel secara bergantian. Nisa mencondongkan tubuhnya sedikit untuk melihat konstriksi pupil pria itu. Saat itulah, mata mereka terkunci dalam jarak yang sangat dekat.
Aroma mint yang pudar dan bau disinfektan menyeruak dari napas Farel yang mengenai wajah Nisa. Mata cokelat gelap itu balas menatap mata Nisa. Di bawah sorot cahaya senter, Nisa bisa melihat bayangan dirinya sendiri di kornea Farel.
Tiba-tiba, mata Farel memicing. Keningnya berkerut tajam. Ia menatap wajah Nisa dengan intensitas yang mengagetkan, seolah sedang memindai setiap inci fitur wajah wanita itu. Tatapan kosong tadi perlahan tergantikan oleh sebuah kebingungan yang pekat.
Jantung Nisa berpacu brutal. Napasnya tertahan. Apakah dia ingat? Tuhan, tolong, biarkan dia mengingatku.
Farel mengangkat tangan kanannya perlahan. Jari-jarinya yang besar dan kasar hampir menyentuh pipi Nisa, membuat Nisa mematung di tempat. Ia membiarkan Farel menatapnya, berharap sentuhan itu akan menghancurkan dinding es yang mengurung akal sehat pria itu.
Namun, tangan itu berhenti di udara, hanya beberapa sentimeter dari wajah Nisa. Farel menarik tangannya kembali dan mengepalkannya kuat-kuat di atas pangkuan.
Sorot matanya kembali dingin, namun kali ini ada lipatan keraguan di antara alisnya. Suara seraknya memecah kesunyian ruangan, menghantam Nisa dengan kekuatan yang lebih menyakitkan dari sekadar penolakan.
"Kita pernah kenal?"
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar