Dua belas jam sejak dr. Dimas memindahkannya ke bangsal bedah umum, Nisa merasa seperti hidup dalam cangkang kosong. Tubuhnya bergerak, tangannya mengganti infus, suaranya melafalkan dosis obat kepada pasien, tetapi pikirannya tertinggal di lantai empat. Di ruang 402.

Pukul 02.15 dini hari.

Lorong bangsal bedah umum sepi. Hanya terdengar dengungan pelan dari mesin pendingin ruangan dan suara televisi dari ruang tunggu keluarga yang dibiarkan menyala dengan volume terendah. Nisa duduk di balik meja perawat, matanya menatap layar komputer, namun deretan angka rekam medis pasien di hadapannya mengabur. Jari telunjuknya tanpa sadar mengetuk-ngetuk permukaan meja baja nirkarat, menciptakan ritme gelisah yang selaras dengan detak jantungnya.

Perawat Budi, yang malam ini bertugas di lantai empat, baru saja turun untuk mengambil persediaan kasa steril di farmasi utama. Nisa melihatnya lewat sepuluh menit yang lalu. Itu berarti, lorong VIP lantai empat saat ini hanya dijaga oleh satu perawat junior yang biasanya tertidur di jam-jam krisis seperti ini.

Jangan ke sana, Sa. Kamu sudah dipindahkan. Logikanya memperingatkan dengan keras.

Namun, perasaannya mengkhianati logika itu. Nisa menoleh ke arah jendela. Hujan deras yang mengguyur sejak sore belum juga mereda. Petir menyambar di kejauhan, membelah langit malam Tasikmalaya dengan kilatan cahaya putih yang menyilaukan. Nisa tahu persis apa arti suara guruh itu bagi seseorang yang pikirannya terjebak di medan perang.

Tanpa berpikir panjang lagi, Nisa bangkit berdiri. Ia meraih senter kecilnya, memasukkannya ke dalam saku seragam, dan berjalan cepat menuju tangga darurat. Ia menghindari lift agar tidak terekam kamera pengawas utama. Langkahnya bergema pelan di dalam lorong tangga beton yang dingin. Setiap anak tangga yang ia pijak terasa seperti membawanya semakin dalam ke labirin masa lalu yang menyakitkan.

Setibanya di lantai empat, firasatnya terbukti benar. Meja jaga perawat kosong. Suasana di lorong VIP ini jauh lebih hening dan mencekam. Lampu-lampu utama telah dipadamkan, menyisakan pendaran lampu dinding berwarna kuning redup yang menciptakan bayangan panjang di atas lantai linoleum.

Nisa berjalan mengendap-endap, napasnya tertahan saat ia mendekati pintu bernomor 402. Pintu itu sedikit terbuka, menyisakan celah selebar dua jari. Budi pasti lupa menutupnya rapat-rapat saat keluar tadi.

Dari balik celah itu, Nisa mendengar suara.

Bukan suara monitor EKG yang berkedip stabil, melainkan suara napas yang memburu. Kasar. Terputus-putus. Seperti seseorang yang sedang tenggelam dan berusaha meraup oksigen di atas permukaan air.

Nisa mendorong pintu itu dengan sangat pelan, memastikan engselnya tidak berderit.

Ruangan itu gelap, hanya diterangi oleh lampu jalan yang menembus masuk melalui kaca jendela yang basah oleh hujan. Di atas ranjang, Farel tidak sedang tertidur lelap. Pria itu meringkuk, tubuhnya menggulung seperti janin, dan ia gemetar hebat.

Dalam tidurnya yang gelisah, Farel terlempar kembali ke neraka itu.

Suara peluru mendesing melewati telinganya, merobek daun-daun pakis di sekitarnya. Tanah di bawah tubuhnya terasa basah, berlumpur, dan berbau anyir darah yang sangat pekat. Napasnya memburu. Paru-parunya terbakar. Ia merangkak di bawah hujan tembakan peluru tajam, tangannya yang berlumuran lumpur mencengkeram erat kerah seragam tempur seseorang yang tergeletak di sampingnya.

"Bertahan! Sialan, ku bilang bertahan!" raung Farel dalam ingatannya, suaranya serak oleh debu mesiu.

Wajah pria di bawahnya tertutup lumpur dan darah merah gelap yang terus membanjir dari luka menganga di dadanya. Pria itu menatap Farel dengan mata yang mulai kehilangan cahayanya. Tangan yang dingin dan gemetar itu terangkat, mencengkeram lengan seragam Farel dengan sisa tenaga yang ada.

"Rel... tinggalkan aku... mereka mendekat..." suara itu terdengar seperti gemerisik daun kering yang diinjak.

"Diam! Aku komandanmu, aku yang memberi perintah! Kita pulang sama-sama!" Farel menarik tubuh yang semakin berat itu, otot-otot bahunya menjerit kesakitan. Serpihan peluru baru saja menembus dagingnya sendiri, tapi ia mengabaikannya.

Tiba-tiba, sebuah ledakan hebat terjadi hanya beberapa meter dari mereka. Gelombang panas melemparkan tubuh Farel ke udara. Telinganya berdenging keras, pandangannya memutih. Saat ia kembali mendapatkan kesadarannya sedetik kemudian, tangannya sudah kosong. Cengkeramannya terlepas.

Ia menoleh ke belakang dengan panik.

Dan apa yang ia lihat, menghancurkan seluruh kewarasannya. Di atas ranjang rumah sakit, Farel mulai meracau. Kepalanya menggeleng ke kanan dan ke kiri dengan brutal, menggesekkan rambutnya yang berkeringat pada bantal putih hingga sarungnya berantakan.

"Tidak... tidak... jangan..." Farel bergumam. Tangannya mencengkeram seprai di sisi kanan dan kirinya, meremasnya seolah ia sedang mencengkeram tanah.

Nisa berdiri membeku di ambang pintu. Jantungnya berdebar sangat kencang hingga terasa sakit di rongga dadanya. Ia belum pernah melihat Farel, atau siapa pun, dalam kondisi serapuh dan sehancur ini. Farel yang ia kenal adalah perisai. Farel yang ia kenal adalah pria yang tidak pernah gentar menghadapi apa pun. Namun pria di hadapannya ini terlihat seperti anak kecil yang sedang disiksa oleh monster tak kasat mata.

"Farel..." panggil Nisa lirih. Suaranya bergetar.

Farel tidak mendengarnya. Racauannya semakin keras seiring dengan napasnya yang semakin panik. Peluh membanjiri wajah pucatnya. Luka di bahunya, yang baru saja diperban sore tadi, tampak sedikit merembeskan warna merah karena otot-ototnya menegang secara ekstrem.

"Sialan! Mundur! Mundur!" teriak Farel tertahan, giginya gemeretak hebat. Tiba-tiba tangannya terangkat ke udara, meraba-raba kegelapan, mencari sesuatu yang tidak ada. "Pegang tanganku! Kumohon, pegang tanganku!"

Air mata Nisa tumpah. Ia tidak peduli lagi dengan larangan dr. Dimas. Ia tidak peduli jika kehadirannya di ruangan ini akan membuatnya dipecat esok pagi. Nisa berlari mendekati ranjang.

"Farel! Farel, bangun!" Nisa memanggil dengan nada yang lebih keras, setengah berteriak untuk mengalahkan suara guruh yang kembali menggelegar.

Tangan Farel yang menggapai-gapai di udara menyambar lengan Nisa. Cengkeramannya begitu kuat, begitu putus asa, hingga kuku-kuku pria itu menancap di kulit Nisa. Nisa meringis menahan sakit, tapi ia tidak menarik tangannya. Ia justru membiarkan Farel mencengkeramnya, berharap kehangatan kulitnya bisa menarik pria itu keluar dari halusinasi masa lalunya.

"Ini aku, Farel. Kamu aman. Buka matamu!" Nisa menundukkan tubuhnya, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Farel yang masih terpejam rapat. "Tolong, dengarkan suaraku. Tidak ada tembakan di sini. Tidak ada perang."

Namun Farel masih terjebak di sana. Di tengah hutan yang terbakar itu.

Mata pria yang terluka itu menatapnya untuk terakhir kalinya. Sebuah senyum tipis, senyum pasrah yang sangat menyakitkan, tergambar di bibirnya yang pucat. "Jaga dia, Rel... maafkan aku..."

Dan kemudian, cahaya di mata itu padam sepenuhnya.

"TIDAK!"

Jeritan Farel membelah kesunyian malam rumah sakit. Jeritan itu begitu melengking, penuh dengan rasa sakit yang murni dan keputusasaan yang absolut, hingga membuat darah Nisa terasa membeku di nadinya.

Farel membuka matanya dengan kasar. Napasnya terengah-engah seperti orang yang baru saja lolos dari tiang gantungan. Tubuhnya melenting ke atas, dan ia menarik lengan Nisa dengan kekuatan penuh. Nisa kehilangan keseimbangan dan jatuh berlutut di sisi ranjang, tangannya masih dicengkeram erat oleh Farel.

Mata Farel yang terbuka lebar menatap liar ke sekeliling ruangan. Pupilnya melebar sempurna, menelan seluruh warna cokelat di matanya. Dadanya naik turun dengan ritme yang tidak terkendali.

"Farel... hei... lihat aku," Nisa berbicara dengan nada yang sangat pelan, selembut mungkin, berusaha menyalurkan ketenangan yang sama sekali tidak ia rasakan. Tangan Nisa yang bebas perlahan terangkat, mengusap punggung tangan Farel yang mencengkeram lengannya. "Kamu di kamar rumah sakit. Hujan di luar. Hanya itu. Kamu aman."

Farel menunduk, menatap wanita yang sedang berlutut di samping ranjangnya. Tatapan matanya masih kabur oleh bayang-bayang kematian. Napasnya menyapu wajah Nisa, membawa serta aroma kepahitan dan obat penenang.

Selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian, Nisa melihat pergulatan di dalam mata pria itu. Kesadaran perlahan-lahan merayap kembali, mengusir halusinasi yang menyiksanya. Farel menatap wajah Nisa, lalu turun ke lengannya sendiri yang sedang mencengkeram lengan perawat itu begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan kulit Nisa memerah.

Seketika, Farel melepaskan cengkeramannya seolah ia baru saja menyentuh bara api.

Pria itu mundur ke sudut ranjang, menarik kedua lututnya ke dada, menyembunyikan wajahnya di antara lipatan lengannya. Bahunya yang lebar, yang biasanya tegak menantang dunia, kini bergetar hebat. Sebuah suara isakan tertahan lolos dari bibirnya. Suara tangis seorang pria yang jiwanya telah dikoyak hingga tak bersisa.

Nisa belum pernah melihat Farel menangis. Bahkan saat pria itu mengalami patah tulang parah saat latihan bertahun-tahun lalu, Farel hanya mengertakkan gigi. Tapi malam ini, pria itu hancur berantakan di hadapannya.

"Saya gagal..." gumam Farel dari balik lengannya. Suaranya pecah, serak, dan penuh dengan kebencian pada diri sendiri. "Saya komandannya... seharusnya saya yang mati... bukan dia."

Hati Nisa mencelos. Ia menahan napas, takut setiap gerakannya akan menghentikan pengakuan Farel. Ia tetap berlutut di lantai yang dingin, membiarkan rok seragamnya kotor, hanya untuk tetap berada di dekat pria itu.

"Siapa yang mati, Farel?" tanya Nisa dengan suara bergetar, lebih mirip bisikan angin. "Siapa yang kamu coba selamatkan?"

Farel mengangkat kepalanya secara perlahan. Wajahnya basah oleh keringat dan air mata. Matanya yang merah menatap ke arah jendela, menembus rintik hujan, melihat sesuatu yang jauh di masa lalu yang tidak bisa diubahnya. Ekspresinya adalah perpaduan antara kengerian dan keputusasaan yang tidak ada obatnya.

Pria itu menelan ludah dengan susah payah, jakunnya naik turun. Tangan kirinya mencengkeram dada kirinya sendiri, tepat di atas jantungnya, seolah ada sesuatu yang mengoyak rongga dadanya dari dalam.

Ketika Farel akhirnya membuka mulutnya, suaranya terdengar begitu sunyi, namun efeknya seperti ledakan bom tepat di telinga Nisa.

"Aku nggak bisa nyelamatin dia..." Farel berbisik, tatapannya kosong. "Tangannya terlepas dari tanganku... aku biarin dia mati di sana... aku biarkan dia mati..."

"Siapa, Farel?" desak Nisa, rasa penasaran dan ketakutan bercampur menjadi satu, membuat tangannya berkeringat dingin. "Siapa dia?"

Farel menoleh, menatap tepat ke dalam mata Nisa. Di detik itu, Nisa melihat sesuatu yang aneh. Sebuah kilatan pengenalan yang menyakitkan. Farel menatap wajah Nisa seolah wajah wanita itu adalah cermin dari penyesalannya sendiri.

"Dia..." Bibir Farel bergetar hebat. "...janji yang tidak bisa aku tepati."

Farel tidak menyebutkan nama. Ia hanya menutup matanya rapat-rapat, membiarkan air mata kembali menetes turun melewati hidungnya. Pria itu kemudian menjatuhkan tubuhnya ke samping, membelakangi Nisa, menolak untuk mengucapkan satu patah kata pun lagi. Punggungnya bergetar dalam isakan tanpa suara.

Nisa terpaku di lantai. Tangannya yang masih bertumpu di tepi ranjang terasa kaku. Udara di sekitarnya mendadak terasa sangat tipis. Kalimat Farel terus terngiang di kepalanya, berputar-putar seperti kaset rusak yang diputar dengan volume maksimal.

Aku biarin dia mati.

Janji yang tidak bisa aku tepati.

Tiba-tiba, suara derap langkah kaki terdengar dari ujung lorong. Seseorang sedang berlari mendekat. Nisa tersentak dari lamunannya. Itu pasti Perawat Budi yang baru kembali dan mendengar suara jeritan Farel.

Nisa harus pergi dari sini. Jika dr. Dimas atau Budi melihatnya di sini, Farel mungkin akan semakin tertekan dengan keributan yang terjadi.

Dengan gerakan cepat, Nisa bangkit berdiri. Ia menatap punggung Farel yang bergetar untuk terakhir kalinya malam itu. Aku akan mencari tahu, Rel. Aku bersumpah aku akan mencari tahu siapa yang membuatmu hancur seperti ini.

Nisa menyelinap keluar ruangan tepat saat bayangan Perawat Budi muncul dari belokan lorong. Ia menempelkan tubuhnya di balik pintu tangga darurat, membiarkan kegelapan menyembunyikannya. Dadanya naik turun dengan cepat saat ia menuruni anak tangga, kembali ke bangsalnya yang sepi.

Malam itu, Nisa tidak bisa menutup matanya sedetik pun. Hujan di luar terus turun, seolah langit sedang menangisi rahasia besar yang terbawa pulang oleh angin malam yang dingin. Rahasia yang tanpa Nisa sadari, akan segera menghancurkan hidupnya untuk yang kedua kali.