Pertanyaan ituβ€”β€œKita pernah kenal?”—terasa seperti hantaman godam yang menghancurkan sisa-sisa ketegaran Nisa. Selama tiga tahun, ia membayangkan berbagai skenario kepulangan Farel. Ia membayangkan Farel datang ke rumahnya dengan senyum bersalah, ia membayangkan Farel mengirim surat dari antah berantah, atau bahkan ia membayangkan skenario terburuk di mana ia harus menerima bendera lipat di atas peti jenazah. Namun, dilupakan sepenuhnya adalah satu-satunya kemungkinan yang tidak pernah ia siapkan.

Nisa mematung. Senter pen di tangannya masih menyala, cahayanya bergetar mengikuti jemarinya. Ia ingin berteriak. Ia ingin mencengkeram kerah piama Farel dan mengguncangnya, mengingatkan pria itu tentang setiap janji, setiap malam yang dihabiskan untuk merencanakan masa depan, dan setiap tetes air mata yang jatuh karena ketidakpastian.

Namun, Nisa tetaplah Nisa. Seorang perawat yang dididik untuk menelan emosi pribadinya demi keselamatan pasien. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan oksigen dingin memenuhi paru-parunya yang terasa panas.

"Saya perawat di bangsal ini, Lettu. Mungkin Anda pernah melihat saya saat baru tiba di IGD," jawab Nisa, suaranya terdengar datar, nyaris tanpa nyawa. Itu adalah kebohongan yang paling menyakitkan yang pernah ia ucapkan.

Farel tidak langsung melepaskan tatapannya. Ia tampak tidak puas dengan jawaban itu. Ada kerutan dalam di keningnya, sebuah usaha keras dari otaknya yang rusak untuk menarik fragmen memori dari balik kabut PTSD yang pekat. Namun, usaha itu tampak menyakitkan baginya. Farel tiba-tiba memejamkan mata rapat-rapat, tangannya kembali mencengkeram seprai ranjang hingga buku jarinya memutih.

"Keluar," desis Farel.

"Saya belum selesai memeriksa perban di bahu Anda, Lettu."

"Saya bilang keluar!"

Suara Farel naik satu oktav, bergema di ruangan yang sempit itu. Nisa tersentak, namun ia tidak bergeming. Ia tahu ini adalah bagian dari gejalanya. Reaktivitas yang berlebihan, kemarahan yang tiba-tiba, dan keinginan untuk mengisolasi diri.

"Saya akan melakukannya dengan cepat. Jika tidak diperiksa, risiko infeksi pasca-operasi sangat tinggi. Anda tentu ingin cepat sembuh dan kembali bertugas, bukan?"

Kata 'kembali bertugas' seolah menjadi pemicu yang salah. Tubuh Farel menegang secara tidak wajar. Namun, ia tidak lagi berteriak. Ia hanya diam, membiarkan Nisa mendekat dengan rasa pasrah yang terasa dingin.

Nisa mulai membuka kancing piama Farel dengan tangan gemetar. Saat kain itu tersingkap, pemandangan di hadapannya membuat Nisa hampir kehilangan keseimbangan. Bahu kiri Farel dibalut perban tebal yang sedikit merembeskan cairan serosa. Namun, bukan itu yang membuat Nisa sesak. Di sekitar perban itu, tersebar luka-luka lama yang sudah menjadi jaringan parut. Ada bekas jahitan yang kasar, bekas luka bakar yang tidak merata, dan garis-garis putih yang menceritakan betapa banyak kekerasan yang telah dialami tubuh ini selama tiga tahun terakhir.

Nisa menyentuh pinggiran perban dengan ujung jari yang sangat ringan. "Ini pasti sangat sakit," bisiknya tanpa sadar.

"Luka fisik tidak ada artinya," sahut Farel tiba-tiba. Matanya kini menatap langit-langit kamar dengan pandangan hampa. "Luka yang bisa dilihat adalah luka yang paling mudah disembuhkan."

Nisa terdiam, tangannya terus bekerja membersihkan area di sekitar luka bedah. Ia menggunakan cairan antiseptik, mengusapnya perlahan. Farel sama sekali tidak meringis, seolah rasa sakit fisik sudah tidak lagi memiliki akses ke saraf pusatnya. Ia telah menjadi mesin yang kebas.

"Apa yang Anda rasakan di dalam sini, Lettu?" tanya Nisa sambil menunjuk perlahan ke arah dada Farel, lalu ke pelipisnya. "Dokter Dimas bilang Anda mengalami kesulitan tidur."

Farel tertawa kecil. Sebuah tawa kering yang tidak mengandung humor sedikit pun. "Tidur adalah kemewahan bagi orang-orang yang tidak memiliki darah di tangan mereka, Suster."

Nisa tertegun. Ia mengganti perban lama dengan yang baru, merekatkannya dengan plester medis dengan gerakan yang sangat hati-hati. Saat ia selesai dan merapikan kembali piama Farel, suasana mendadak berubah.

Hujan di luar semakin menderu, dan tiba-tiba guntur menggelegar dengan suara yang sangat keras, menggetarkan kaca jendela Ruang 402.

Reaksi Farel instan dan mengerikan.

Pria itu tersentak hebat. Matanya membelalak lebar, namun pupilnya mengecil drastis. Ia tidak lagi berada di bangsal rumah sakit militer yang tenang. Dalam sekejap, kesadarannya terseret kembali ke medan perang yang basah dan berdarah.

"Tiarap!" teriak Farel. Suaranya penuh dengan ketakutan yang murni.

Ia mencoba melompat dari ranjang, namun kakinya yang masih lemah dan terbalut perban membuatnya terjatuh ke lantai dengan dentum keras. Nisa panik. Ia segera menjatuhkan peralatan medisnya dan menghampiri Farel.

"Lettu! Lettu Farel, tenang! Anda di rumah sakit!" Nisa mencoba memegang bahu Farel.

Itu adalah kesalahan fatal. Dalam kondisi flashback akut, sentuhan adalah ancaman.

Farel berbalik dengan kecepatan predator. Dengan satu gerakan tangan yang terlatih, ia menyambar leher Nisa dan menekannya. Nisa terdesak ke dinding, punggungnya menghantam tembok beton dengan keras. Tangan Farel yang kuat mencekik lehernya, tidak cukup untuk memutus jalan napas sepenuhnya, tapi cukup untuk membuat Nisa kesulitan bernapas dan merasa ngeri.

Mata Farel merah, penuh dengan amarah dan halusinasi. Ia tidak melihat Nisa. Ia melihat musuh. Ia melihat kematian.

"Di mana dia?!" raung Farel tepat di depan wajah Nisa. "Di mana dia?! Aku sudah bilang jangan pergi ke sana! Kenapa kalian tidak mendengarku?!"

"F-farel..." Nisa mencoba mengeluarkan suara, tangannya mencengkeram pergelangan tangan pria itu, mencoba melepaskan cengkeramannya. "Ini aku... Nisa... lepaskan..."

Air mata Nisa mengalir, bukan karena rasa sakit di lehernya, tapi karena melihat kehancuran di mata pria yang ia cintai. Farel sedang tenggelam dalam nerakanya sendiri, dan Nisa tidak tahu bagaimana cara menariknya kembali.

Cengkeraman Farel semakin menguat seiring dengan guncangan tubuhnya. Ia seolah sedang bergulat dengan hantu. "Darah... terlalu banyak darah... Bangun! Aku bilang bangun!"

Nisa tidak memanggil bantuan. Ia bisa saja menekan tombol darurat di samping ranjang, tapi ia tahu jika polisi militer atau perawat pria datang dan melumpuhkan Farel secara paksa, trauma pria itu akan semakin dalam. Ia memilih untuk bertahan.

"Farel... lihat aku..." Nisa memaksakan tangannya untuk mengusap pipi Farel yang kasar karena jambang. "Ini Nisa. Kamu sudah pulang. Kamu aman. Tidak ada senjata di sini. Lihat aku, Farel..."

Nama itu, yang diucapkan dengan nada penuh cinta dan kepedihan yang mendalam, seolah menembus lapisan kegelapan di otak Farel. Fokus matanya mulai berubah. Pendaran kemarahan itu perlahan memudar, digantikan oleh kebingungan yang menyakitkan.

Farel berkedip. Ia melihat wajah wanita di hadapannya. Wajah yang basah oleh air mata. Ia merasakan kehangatan tangan wanita itu di pipinya. Ia perlahan menyadari bahwa ia tidak sedang memegang senapan atau mencekik musuh, melainkan mencekik seorang perawat wanita yang rapuh.

Farel tersentak seolah tersengat listrik. Ia melepaskan leher Nisa dan mundur dengan cepat, menyeret tubuhnya di lantai hingga punggungnya membentur kaki ranjang. Ia menunduk, menatap kedua tangannya dengan gemetar yang tak terkendali.

"Apa yang... apa yang saya lakukan?" suaranya pecah.

Nisa jatuh terduduk, terbatuk pelan sambil memegangi lehernya yang memerah. Ia berusaha mengatur napasnya, jantungnya masih berpacu gila. Namun, hal pertama yang ia lakukan adalah mendekati Farel lagi, kali ini dengan gerakan yang lebih lembut dari sebelumnya.

"Tidak apa-apa," bisik Nisa. "Itu hanya mimpi buruk. Kamu sudah kembali."

Farel menggelengkan kepalanya dengan liar, menutup telinganya dengan kedua tangan. "Jangan mendekat! Saya berbahaya! Saya... saya hampir membunuhmu."

"Kamu tidak membunuhku, Farel. Aku di sini. Aku tidak ke mana-mana."

Farel mengangkat wajahnya. Tatapannya kini penuh dengan rasa benci pada diri sendiri. "Suster, tolong... panggil dokter. Beri saya obat apa saja. Matikan kepala saya. Saya tidak mau melihat mereka lagi. Saya tidak mau melihat dia lagi..."

Nisa ingin memeluknya. Ia ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi ia tahu, luka di dalam diri Farel jauh lebih dalam dari apa yang bisa disembuhkan oleh sebuah pelukan. Luka itu telah mengubah Farel menjadi orang asing, dan malam ini, Nisa menyadari bahwa perjalanan untuk membawa 'Farel-nya' kembali akan menjadi medan perang yang jauh lebih sulit daripada yang pernah ia bayangkan.

"Saya akan mengambilkan obat untuk Anda," ucap Nisa pelan, bangkit berdiri dengan kaki yang masih lemas. "Tunggu di sini. Jangan bergerak."

Saat Nisa melangkah keluar ruangan dengan leher yang terasa perih dan hati yang hancur berkeping-keping, ia tahu satu hal: Farel memang sudah pulang secara fisik, tapi jiwanya masih tertinggal di suatu tempat yang sangat gelap, dan ia mungkin tidak akan pernah benar-benar kembali untuk Nisa.