Matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden koridor rumah sakit, memberikan warna emas yang kontras dengan suasana kelabu di hati Nisa. Ia baru saja menyelesaikan laporan shift malamnya. Tangannya masih sedikit gemetar saat ia menyerahkan berkas rekam medis kepada suster penggantinya, Maya.
"Nisa, lehermu kenapa?" tanya Maya dengan nada khawatir, matanya tertuju pada bekas kemerahan yang kini mulai berubah menjadi lebam kebiruan di leher Nisa.
Nisa refleks menarik kerah seragamnya lebih tinggi. "Oh, ini... tadi malam ada pasien yang gelisah dan saya tidak sengaja terbentur pinggiran ranjang saat membantunya."
Maya menyipitkan mata, tidak sepenuhnya percaya. "Pasien di 402 ya? Si Lettu itu? Aku dengar dari bagian IGD dia memang sangat tidak stabil. Kamu harus hati-hati, Sa. Mereka yang pulang dengan PTSD berat seringkali tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan."
Nisa hanya tersenyum tipis dan mengangguk. "Aku tahu, May. Aku baik-baik saja."
Nisa melangkah menuju ruang loker untuk mengganti pakaiannya. Ia sangat lelah, secara fisik maupun mental. Namun, saat ia melewati meja perawat sentral, ia melihat Dr. Dimas sedang berbicara serius dengan seorang perwira menengah berpakaian dinas harian TNI AD.
"Dia secara spesifik meminta itu, Dok," suara perwira itu terdengar tegas. "Lettu Farel merasa tidak nyaman dengan perawat yang menanganinya semalam. Dia meminta perawat pria atau setidaknya orang yang berbeda."
Langkah Nisa terhenti. Dunia seolah berhenti berputar sekali lagi.
Farel meminta perawat lain?
Rasa sakit yang baru saja mereda di lehernya kini berpindah ke dadanya, jauh lebih sesak dan menyiksa. Setelah apa yang terjadi semalam, setelah Nisa mencoba menenangkannya dalam kondisi paling rentan, Farel justru memilih untuk mengusirnya.
Dr. Dimas melihat Nisa dan memberi isyarat agar ia mendekat. "Nisa, kebetulan sekali. Ini Mayor Hendra, rekan dari Lettu Farel."
Nisa memberi hormat dengan sopan. "Selamat pagi, Mayor."
"Suster Nisa, saya baru saja menyampaikan permintaan Lettu Farel," ucap Mayor Hendra dengan nada yang sedikit lebih lembut. "Dia merasa sangat bersalah atas apa yang terjadi semalam. Dia sadar dia hampir melukaimu, dan itu membuatnya sangat tertekan. Dia bilang, dia tidak ingin kamu berada di dekatnya karena dia tidak bisa menjamin keselamatannya... atau keselamatanmu."
Nisa meremas tali tasnya. "Mayor, saya sudah biasa menangani pasien dengan kondisi seperti itu. Saya tidak keberatan. Apa yang terjadi semalam adalah respons medis yang wajar."
"Masalahnya bukan hanya itu, Suster," sela Dr. Dimas dengan raut wajah menyesal. "Kondisi psikologis Lettu Farel sangat rapuh. Jika dia merasa kehadirannya mengancam orang lain, terutama perawat yang berusaha membantunya, itu akan meningkatkan kadar kortisol dan memperparah episodenya. Dia merasa tertekan setiap kali melihatmu."
Tertekan setiap kali melihatku.
Kalimat itu seperti vonis mati bagi harapan Nisa. Apakah kehadirannya memang begitu mengganggu? Ataukah, jauh di dalam alam bawah sadarnya, Farel mengenali sesuatu tentang Nisa yang membuatnya merasa sangat bersalah hingga ia tidak sanggup menatapnya?
"Jadi, saya akan memindahkanmu ke bangsal bedah umum untuk sementara waktu, Nisa," lanjut Dr. Dimas. "Dan Ruang 402 akan ditangani oleh Perawat Budi."
"Tapi, Dok—"
"Ini perintah medis, Nisa. Untuk kebaikan pasien. Dan juga untuk keamananmu."
Nisa tidak punya pilihan lain selain mengangguk patuh. "Baik, Dok. Saya mengerti."
Nisa berjalan menuju ruang loker dengan kepala tertunduk. Di dalam ruangan yang sepi itu, ia akhirnya membiarkan dirinya luruh. Ia duduk di bangku kayu panjang, menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan menangis tanpa suara. Isakannya tertahan di tenggorokan, membuat dadanya terasa sangat sakit.
Ia telah menunggu tiga tahun. Tiga tahun penuh kesunyian. Dan sekarang, setelah pria itu berada hanya beberapa meter darinya, Nisa justru dipaksa untuk menjauh. Takdir seolah sedang mempermainkannya dengan cara yang paling kejam.
Namun, Nisa bukanlah tipe orang yang mudah menyerah. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Mengapa Farel begitu ketakutan? Mengapa reaksinya begitu hebat? Dan siapa yang ia maksud dengan "dia" yang gagal diselamatkan?
Alih-alih pulang untuk beristirahat, Nisa justru kembali ke area bangsal lantai empat setelah mengganti pakaiannya dengan baju sipil—kaus katun biru dan celana panjang hitam. Ia memakai masker medis untuk menutupi sebagian wajahnya dan berjalan dengan langkah tenang agar tidak menarik perhatian.
Ia berdiri di dekat sudut koridor yang memberikan pandangan ke pintu Ruang 402. Ia melihat Perawat Budi masuk dengan nampan sarapan. Tidak lama kemudian, Budi keluar dengan wajah lesu.
"Bagaimana, Bud?" tanya Nisa saat Budi melewatinya.
Budi menggeleng. "Susah, Sa. Dia tidak mau makan. Dia cuma duduk diam menatap jendela. Saat aku mencoba bicara, dia cuma bilang 'letakkan saja di situ'. Dia seperti patung."
Nisa menggigit bibir. Ia tahu Farel butuh asupan energi untuk pemulihan fisiknya. Farel yang ia kenal adalah seorang atletis yang sangat menjaga pola makan. Melihatnya menjadi layu seperti itu sungguh menyiksa.
Setelah Budi pergi ke ujung koridor untuk mengecek pasien lain, Nisa memberanikan diri. Ia tahu ini melanggar perintah Dr. Dimas, tapi ia tidak bisa membiarkan Farel hancur sendirian.
Ia mendekati pintu 402 dan membukanya sangat pelan.
Farel masih dalam posisi yang sama. Duduk bersandar dengan pandangan tertuju ke luar jendela. Hujan sudah berhenti, menyisakan langit mendung yang suram. Di atas nakas, nampan sarapan berisi bubur ayam dan susu sama sekali tidak disentuh.
Nisa tidak masuk sepenuhnya. Ia hanya berdiri di ambang pintu.
"Kenapa Anda melakukan itu, Lettu?" tanya Nisa pelan.
Farel tidak terkejut. Ia seolah sudah tahu bahwa Nisa akan kembali. "Saya sudah minta Anda dipindahkan, Suster. Kenapa Anda masih di sini?"
"Karena saya perawat Anda sebelum dokter memindahkannya. Dan karena saya tahu Anda butuh makan."
Farel memutar kepalanya. Kali ini, tatapannya tidak kosong, melainkan penuh dengan luka yang sangat nyata. "Kenapa Anda begitu peduli? Saya hampir membunuh Anda semalam. Tidakkah Anda punya rasa takut?"
Nisa melangkah masuk satu langkah. "Saya lebih takut melihat seseorang menyerah pada hidupnya sendiri daripada takut pada serangan fisik."
Farel terdiam. Ia menatap Nisa dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sesuatu pada suara wanita ini, pada cara dia berdiri, yang terus-menerus memicu alarm di kepalanya. Sesuatu yang terasa seperti rumah, tapi juga terasa seperti abu yang terbakar.
"Anda mengingatkan saya pada seseorang," gumam Farel begitu pelan, nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri.
Jantung Nisa berhenti berdetak sesaat. "Siapa?"
Farel kembali membuang muka. "Seseorang yang seharusnya saya lindungi. Seseorang yang hidupnya hancur karena kesalahan saya."
"Kita semua pernah melakukan kesalahan, Farel." Nisa sengaja tidak menggunakan pangkatnya kali ini.
Farel terkekeh sinis. "Kesalahan orang lain mungkin hanya merusak hari. Kesalahan saya merusak garis takdir orang lain. Kesalahan saya membuat seorang adik kehilangan kakaknya. Kesalahan saya membuat sebuah janji menjadi sampah."
Nisa merasa lututnya lemas. Seorang adik kehilangan kakaknya? Apakah Farel sedang membicarakan misinya? Apakah ini terkait dengan rahasia yang ia simpan?
"Siapa dia, Farel? Siapa yang tidak bisa kamu selamatkan?" tanya Nisa dengan suara bergetar.
Farel menoleh dengan cepat. Matanya kini berkaca-kaca, memancarkan keputusasaan yang begitu hebat hingga Nisa bisa merasakannya merambat di kulitnya.
"Jangan terlalu dekat sama saya, Suster," ucap Farel dengan nada memperingatkan yang sangat dingin, lebih dingin dari sebelumnya. "Jangan mencoba menjadi pahlawan bagi orang yang sudah mati di dalam. Semakin kamu tahu tentang saya, semakin kamu akan menyesal pernah mengenal saya."
"Aku tidak akan menyesal," sahut Nisa mantap.
Farel menatapnya lurus-lurus. "Kamu akan menyesal. Karena orang yang kamu coba selamatkan ini... adalah monster yang membawa kabar kematian bagi orang-orang yang kamu cintai."
Farel kemudian berbaring dan menarik selimut hingga menutupi kepalanya, memutus percakapan secara sepihak.
Nisa berdiri terpaku di tengah ruangan. Kalimat terakhir Farel terngiang-ngiang seperti lonceng kematian. Monster yang membawa kabar kematian bagi orang-orang yang kamu cintai.
Apa maksudnya? Nisa tahu Farel adalah seorang prajurit, dan kematian adalah bagian dari pekerjaannya. Tapi kenapa dia terdengar begitu spesifik?
Nisa melangkah keluar dari ruangan dengan perasaan yang jauh lebih berat. Ia tahu, Farel sengaja menciptakan jarak. Dia sengaja membangun dinding yang sangat tinggi dan berduri agar tidak ada yang bisa menjangkaunya. Bukan karena dia benci, tapi karena dia takut melukai lebih banyak orang.
Namun bagi Nisa, jarak itu bukan hanya sekadar prosedur medis atau permintaan pasien. Jarak itu adalah jurang yang memisahkan masa lalu mereka yang indah dengan masa kini yang mengerikan.
Saat ia berjalan menjauh dari Ruang 402, Nisa berjanji pada dirinya sendiri. Ia tidak akan peduli seberapa keras Farel mendorongnya menjauh, ia tidak akan peduli seberapa banyak duri yang dipasang Farel pada dindingnya. Ia akan tetap di sana. Karena jika ia melepaskan Farel sekarang, maka ia benar-benar akan kehilangan pria itu selamanya.
Ia harus tahu apa yang terjadi. Ia harus tahu siapa yang membuat Farel menjadi seperti ini. Dan yang paling penting, ia harus tahu kenapa Farel merasa kehadirannya adalah sebuah ancaman bagi kewarasan mereka berdua.
Langkah Nisa terhenti di depan lift. Ia meraba lehernya yang lebam. Di cermin pintu lift yang mengkilap, ia melihat bayangan dirinya yang terlihat begitu rapuh namun bertekad kuat.
"Dia memang pulang," bisik Nisa pada bayangannya sendiri. "Tapi dia benar-benar bukan Farel-ku lagi."
Dan kenyataan itu, jauh lebih menyakitkan daripada dicekik di kegelapan malam. Karena kali ini, musuh yang dihadapi Nisa bukan lagi jarak atau waktu, melainkan kenangan yang ingin dilupakan oleh pria yang paling ia cintai.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar