Kalau ada lomba murid paling betah di sekolah, gue mungkin bakal masuk tiga besar. Bukan karena gue ambis atau cinta mati sama perpustakaan, tapi karena rumah gue rasanya… terlalu berisik. Atau mungkin, terlalu sepi dengan cara yang salah.

Gue lebih suka duduk di depan kelas yang sudah kosong, dengerin lagu pakai earphone sampai baterainya merah, atau sekadar coret-coret nggak jelas di buku sketsa sampai Pak Satpam keliling buat kunci jendela.

Sore itu, sekitar jam lima lewat. Langit Jakarta lagi cantik-cantiknyaβ€”warna oranye campur ungu yang kalau di foto estetik banget, tapi kalau dilihat langsung malah bikin melankolis. Gue menggendong tas, berjalan pelan menyusuri koridor yang gema langkah kaki gue sendiri aja kedengeran jelas.

Gue pikir, hari ini bakal sama kayak kemarin. Gue bakal lewat gerbang yang sudah terbuka lebar, nyapa Pak Edi satpam, terus jalan kaki ke depan kompleks buat cari angkot atau ojek.

Tapi, ada yang beda.

Di deket tiang gerbang sebelah kiri, ada cowok berdiri. Masih pakai seragam putih abu-abu, tapi tasnya cuma disampirkan di satu bahu. Dia nggak main HP. Dia cuma berdiri di sana, mandang ke arah lapangan basket yang sudah kosong melompong.

Itu Arka.

Cowok paling irit ngomong di kelas XI-IPA 2. Cowok yang kalau ditanya guru cuma jawab "iya", "nggak", atau "belum, Bu". Kita sekelas, tapi gue rasa total kata yang pernah kita tukar selama setahun ini nggak sampai lima puluh kata.

Gue memperlambat langkah. Ngapain dia di situ?

Gue berusaha bersikap biasa aja. Pas gue lewat di depannya, gue sempat ragu mau negur atau nggak. Tapi karena kita sekelas, rasanya jahat banget kalau gue melengos gitu aja.

"Eh, Ka? Belum pulang?" tanya gue, basa-basi paling standar sejagat raya.

Arka menoleh. Matanya yang biasanya kelihatan ngantuk itu sekarang fokus ke gue. Dia nggak kaget, nggak senyum lebar juga. Cuma mengangguk pelan.

"Bentar lagi," jawabnya pendek.

"Nunggu jemputan?"

"Nggak."

Gue manggut-manggut canggung. "Oh, oke. Duluan ya."

Gue jalan terus. Tapi jujur, tengkuk gue berasa aneh. Pas gue sudah jarak sepuluh meteran, gue iseng menoleh ke belakang. Arka masih di sana. Dia nggak beranjak, tapi sekarang dia jalan pelan di belakang gue. Jaraknya jauh, sekitar lima meter.

Gue mempercepat langkah. Dia juga. Gue melambat buat benerin tali sepatu yang sebenarnya nggak lepas, dia ikut berhenti sambil pura-pura lihat jam tangan.

Ini cowok kenapa, sih?

Sampai di depan jalan raya, gue naik angkot yang kebetulan lewat. Pas gue sudah duduk di dalam, gue lihat Arka masih berdiri di pinggir jalan, ngelihatin angkot gue jalan menjauh.

Dia nggak naik apa-apa. Dia cuma diam di sana.

"Besok juga aku bakal di sini," gumam gue menirukan gaya bicara cowok-cowok di film, terus gue ketawa sendiri. "Nggak mungkinlah. Paling dia lagi nunggu temennya yang ekskul basket."

Tapi entah kenapa, bayangan Arka yang berdiri sendirian di bawah langit senja itu nggak hilang-hilang dari kepala gue sampai gue sampai di rumah.