Hari Rabu. Hari paling berat karena ada Fisika dua jam di jam terakhir. Pas bel pulang bunyi, semua orang langsung lari kayak ada pembagian sembako gratis. Kelas langsung sepi dalam hitungan menit.

Gue? Seperti biasa, nunggu keributan itu reda dulu. Gue sengaja lama-lamain masukin buku ke tas. Pas gue keluar kelas, gue nggak sengaja papasan sama Tiara, temen sebangku gue yang baru balik dari toilet.

"Sa, lo nggak balik? Eh, lo tahu nggak sih, si Arka tumben-tumbenan tadi pas istirahat nanya ke gue lo piket hari apa," bisik Tiara sambil benerin kunciran rambutnya.

Gue ngerutin denger. "Hah? Arka nanya gitu? Salah denger kali lo."

"Ih, beneran! Gue juga kaget. Secara tuh anak kan biasanya kayak patung Liberty, diem doang. Gue jawab aja lo nggak piket hari ini, tapi biasanya emang suka pulang telat. Eh, dia cuma bilang 'oh' terus pergi. Aneh ya?"

Gue cuma ketawa kecil, padahal dalam hati mulai deg-degan nggak jelas. "Mungkin dia mau pinjem catatan kali. Udah ah, gue duluan ya."

Gue jalan menuju gerbang. Pikiran gue berkecamuk. Nggak mungkin kan yang kemarin itu disengaja?

Dan bener aja. Begitu gue sampai di deket gerbang, pemandangan yang sama terulang lagi.

Arka berdiri di sana. Di titik yang sama persis kayak kemarin. Kali ini dia lagi megang botol air mineral yang sudah tinggal setengah. Pas dia lihat gue muncul dari balik pos satpam, dia langsung masukin botol itu ke kantong samping tasnya.

"Balik, Sa?" tanya dia. Kali ini dia yang negur duluan.

Gue berhenti di depannya, ngerasa risih tapi penasaran juga. "Iya. Lo… nunggu siapa sih, Ka? Tiap hari gue lihat lo di sini terus."

Arka diam sebentar. Dia melihat ke arah jalan raya yang lagi macet-macetnya. "Nggak nunggu siapa-siapa. Cuma lagi mau jalan aja."

"Jalan ke mana? Rumah lo kan arahnya sama kayak gue, harusnya naik angkot atau ojek dari sana," gue nunjuk pangkalan ojek yang jaraknya cuma beberapa meter.

"Lagi pengen jalan kaki," jawabnya lempeng. "Boleh bareng?"

Gue bengong. Boleh bareng? Kita nggak akrab. Kita bahkan nggak pernah kerja kelompok bareng.

"Eh… ya boleh aja sih. Jalanan kan punya pemerintah," jawab gue asal biar nggak kelihatan salting.

Akhirnya kita jalan beriringan. Tapi jangan bayangin kayak di film-film yang ngobrol asik sambil ketawa. Enggak. Kita jalan dalam diam yang sangat amat kaku. Gue sibuk mainin gantungan kunci di tas, dia sibuk masukin tangan ke saku celana.

"Ka," panggil gue akhirnya karena nggak tahan sama suasananya.

"Hm?"

"Ini bukan kebetulan, kan?" tanya gue to the point. "Kemarin lo di sana. Hari ini lo di sana lagi. Dan Tiara bilang lo nanyain jam pulang gue."

Langkah Arka terhenti. Dia menoleh ke gue, matanya tenang banget, beda sama gue yang sudah keringat dingin.

"Bukan," jawabnya singkat. "Emang bukan kebetulan."

Gue nahan napas. "Terus?"

Dia nggak jawab. Dia cuma lanjut jalan lagi, ninggalin gue yang masih matung di trotoar.