Hari Kamis. Hari di mana gue mutusin buat jadi agen rahasia dadakan.
Sejak kejadian kemarin sore—saat Arka bilang kalimat yang sukses bikin gue overthinking semalaman—gue bertekad buat nggak pulang lewat gerbang utama. Gue nggak mau GR, tapi gue juga nggak mau terus-terusan ngerasa canggung. Jadi, rencana gue hari ini adalah: pulang lebih awal, lewat gerbang belakang deket parkiran motor guru, dan lari sekencang mungkin sampai ke perempatan.
Bel pulang baru aja bunyi teng-teng-teng tiga kali, dan gue udah selesai masukin buku Biologi ke dalam ransel. Resleting tas gue tarik dengan kasar.
"Buset, Sa. Lo kesurupan apa gimana? Tumben banget belom juga Pak Tatang keluar kelas, tas lo udah rapi aja," komentar Tiara yang duduk di sebelah gue. Dia masih sibuk nyalin catetan dari papan tulis karena tadi ketiduran.
"Gue ada urusan negara, Ra. Penting banget," jawab gue sambil nyangklongin tas ke bahu kanan. "Gue duluan ya."
"Eh, bentar! Urusan apaan? Lo nggak lagi ngehindarin tukang cilok depan sekolah karena ngutang, kan?" tuduh Tiara sambil nyipitin mata.
"Enak aja! Sejak kapan gue ngutang cilok? Udah ah, gue balik. Bye!"
Tanpa nunggu jawaban Tiara, gue langsung jalan cepat keluar kelas. Mata gue sempat melirik sekilas ke meja deretan belakang. Kosong. Arka udah nggak ada di tempat duduknya. Bagus. Mungkin dia lagi ke toilet, atau mungkin dia ekskul. Masa bodoh. Pokoknya ini kesempatan emas gue buat kabur.
Gue jalan setengah berlari menyusuri koridor lantai dua, turun lewat tangga dekat lab kimia yang biasanya sepi, lalu tembus ke kantin belakang. Suasana sekolah masih lumayan rame. Suara anak-anak yang ngobrol, suara sepatu basket yang berdecit di lapangan, sampai suara knalpot motor yang mulai dipanasin kedengeran bersahut-sahutan.
Gue menyelinap di antara mobil-mobil guru, merapat ke tembok pudar dekat tempat pembuangan sampah akhir sekolah. Gerbang belakang ini biasanya cuma dibuka setengah buat akses tukang kebun atau guru yang parkir di area belakang.
Gue menghela napas lega pas lihat gerbangnya kebuka sedikit. Aman.
Gue melangkah keluar, menghirup udara sore yang agak berdebu. "Bebas," gumam gue sambil senyum puas.
"Kamu ngapain lewat sini?"
Langkah gue terhenti seketika. Senyum di wajah gue luntur kayak es krim kena matahari siang bolong. Suara itu… suara serak yang tenang tapi selalu sukses bikin jantung gue merosot ke perut.
Gue menoleh pelan-pelan ke sebelah kiri gerbang. Di bawah pohon mangga yang daunnya rimbun, Arka lagi bersandar di tembok batu bata yang udah lumutan. Tangannya masuk ke saku celana abu-abunya. Dia menatap gue dengan ekspresi yang… astaga, datar banget. Nggak ada kaget, nggak ada bingung. Cuma nunggu.
"Ka… Arka?" Suara gue keluar lebih mirip cicitan tikus kejepit. "Lo… lo ngapain di sini?!"
"Nunggu," jawabnya santai. Dia menegakkan badan dan berjalan mendekat ke arah gue.
"Nunggu? Di gerbang belakang? Lo cenayang ya?!" Gue mulai panik. Perasaan tadi dia nggak ada di koridor, gimana ceritanya dia bisa nyampe sini duluan?
Arka menggeleng pelan. "Nggak. Tadi aku ke kelas kamu pas bel bunyi, tapi kata Tiara kamu buru-buru keluar. Terus aku lihat kamu belok ke arah tangga lab kimia. Ya udah, aku tunggu di sini. Kan jalan keluarnya cuma ini kalau nggak mau lewat depan."
Gue bengong. Mulut gue setengah terbuka saking speechless-nya. "Lo… ngikutin gue?"
"Bukan ngikutin. Kan aku udah bilang kemarin." Mata Arka menatap gue lurus. "Aku bakal tetep di sini besok. Terserah kamu mau bareng atau nggak."
Gue mengusap wajah dengan kasar. "Ka, dengerin gue ya. Kita tuh aneh tahu nggak sih? Maksud gue, lo aneh! Kenapa sih lo harus repot-repot nungguin gue? Kalau ada temen sekelas yang lihat, mereka pasti mikir yang nggak-nggak."
"Emang mereka bakal mikir apa?" tanyanya polos. Benar-benar polos tanpa dosa.
"Ya mikir kalau kita… kita ada apa-apa lah! Orang-orang tuh mulutnya ember, Ka. Tiara aja tadi pagi udah mulai curiga nanya-nanya soal lo ke gue." Gue nyerocos panjang lebar, ngerasa frustrasi sendiri.
Arka diam sejenak. Angin sore niup rambut depannya yang agak kepanjangan. "Kalau mereka mikir gitu, terus kenapa?"
"Ya gue risih lah!" jawab gue refleks, mungkin nadanya agak sedikit tinggi.
Keheningan tiba-tiba turun di antara kita. Suara kendaraan dari jalan raya terdengar sayup-sayup, tapi di sini, di bawah pohon mangga ini, rasanya cuma ada suara napas gue yang ngos-ngosan karena emosi.
Gue melihat perubahan kecil di wajah Arka. Matanya agak turun, dan dia menunduk sebentar ngelihat ujung sepatunya. Ada perasaan bersalah yang tiba-tiba nyubit dada gue. Apa omongan gue terlalu kasar?
"Maaf," kata Arka akhirnya. Suaranya lebih pelan dari biasanya. "Aku bikin kamu risih ya?"
Gue menggigit bibir bawah. "Bukan… bukan gitu maksud gue. Gue cuma… gue nggak biasa diginiin, Ka. Gue nggak biasa ada orang yang nungguin gue, apalagi orang yang baru ngobrol sama gue dua hari ini."
Arka mengangkat wajahnya lagi. "Terus, aku harus gimana biar kamu nggak risih?"
"Ya lo nggak usah nungguin gue pulang! Lo pulang aja duluan, main PS kek, nongkrong sama Bimo kek, ngapain kek gitu."
"Kalau aku nggak mau?"
"Hah?" Gue melotot. "Kok lo batu banget sih dibilangin?!"
Arka malah mengedikkan bahu pelan. "Aku emang nggak suka nongkrong. Dan aku lebih suka jalan kaki pulang sekolah. Arah kita sama. Kebetulan aja aku nunggu. Anggap aja aku tiang listrik yang lagi jalan di sebelah kamu."
Gue mendengus keras. "Mana ada tiang listrik bisa jalan."
"Ada. Buktinya aku."
Gue hampir aja senyum denger balasan ngawurnya, tapi gue buru-buru masang muka jutek lagi. "Terserah lo deh, Ka. Kepala lo isinya batu bata semua kayaknya. Gue mau pulang."
Gue jalan mendahului dia dengan langkah lebar-lebar. Langkah gue sengaja gue bikin secepat mungkin biar dia ketinggalan. Tapi karena kakinya lebih panjang, dia dengan gampang nyamain langkah gue tanpa harus lari.
Kita jalan menyusuri gang kecil di belakang sekolah yang tembus ke jalan raya besar. Lebar gangnya cuma cukup buat satu motor. Gue jalan di depan, Arka persis di belakang gue, berjarak sekitar satu meter.
"Sa," panggilnya tiba-tiba dari belakang.
"Apa lagi?" sahut gue tanpa menoleh.
"Tas kamu resletingnya nggak ketutup rapet."
Gue refleks berhenti dan narik tas gue ke depan. Benar aja, resleting bagian paling gede masih mangap karena tadi gue buru-buru di kelas. Buku Biologi gue kelihatan nongol.
"Oh. Iya," gue bergumam canggung sambil nutup resleting itu rapat-rapat.
Gue kembali jalanin langkah gue. Kali ini temponya agak lebih lambat. Nggak secepat tadi. Gue ngelirik ke bayangan kita berdua yang tercetak di aspal jalanan karena sinar matahari sore dari arah barat. Bayangan gue yang kecil, diikuti bayangan Arka yang lebih tinggi di belakang.
Dan entah kenapa… di saat gue ngelihat dua bayangan itu jalan beriringan, detak jantung gue yang tadinya cepat karena marah, perlahan mulai tenang. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba nyusup.
Batas yang gue buat tadi, rasanya mulai memudar. Dan yang bikin gue paling takut adalah… saat gue sadar kalau jalan pulang yang biasanya terasa panjang dan sepi ini, ternyata nggak seburuk itu kalau ada tiang listrik bernapas di belakang gue.
Gue mulai terbiasa. Sialan.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar