Dua minggu berlalu.
Kalau lo tanya ke gue gimana prosesnya dari yang tadinya gue mati-matian ngehindar sampai sekarang malah jadi kebiasaan, gue juga nggak tahu jawabannya. Semuanya mengalir gitu aja. Kayak air ujan yang nyari jalan sendiri.
Awalnya, gue masih sering ngedumel kalau lihat dia nunggu di gerbang. Hari ketiga, gue nyoba nyuekin dia sepanjang jalan. Hari kelima, gue cuma ngangguk pas dia nyapa. Tapi masuk ke minggu kedua… entah kenapa, mata gue mulai refleks nyari sosok cowok jangkung dengan tas di satu bahu tiap kali gue nginjekin kaki di area gerbang depan.
Dan sore ini, hari Selasa, untuk pertama kalinya… gue sengaja lama-lamain di toilet benerin rambut, cuma buat mastiin dia udah ada di sana pas gue keluar.
Salsa, lo udah gila, rutuk gue dalam hati sambil ngaca di wastafel toilet. Gue nepuk pipi gue sendiri pelan. Jangan baper. Dia cuma gabut. Cuma kebetulan. Inget, tiang listrik.
Pas gue keluar sekolah, cuaca lagi mendung. Nggak hujan, tapi anginnya lumayan kencang dan langit warnanya abu-abu tua.
Di tempat biasa, di samping pos satpam, Arka berdiri. Hari ini dia lagi dengerin musik pakai earphone kabel warna putih. Kepalanya sedikit manggut-manggut ngikutin irama. Begitu dia lihat gue jalan mendekat, dia langsung nyopot earphone-nya dan masukin ke saku baju.
"Lama," katanya santai, tanpa nada protes.
"Ya maaf. Tadi antre di toilet," dusta gue dengan lancar. "Lo ngapain dengerin lagu di pinggir jalan? Kalau ada motor nyelonong gimana?"
"Kan aku di trotoar. Motornya yang salah kalau nyelonong," jawabnya lempeng. Dia mulai melangkah pelan, ngasih isyarat biar gue jalan di sebelahnya, bukan lagi di depan atau di belakangnya.
Gue menyejajarkan langkah. Suasana di antara kita udah nggak sekaku dua minggu lalu. Setidaknya gue udah nggak perlu pura-pura garuk kepala buat ngilangin awkward.
"Tadi ulangan Kimia susah nggak menurut lo?" gue membuka obrolan. Biasanya, dari sini sampai ke pangkalan angkot kita cuma diem-dieman. Hari ini gue pengen nyoba mecah keheningan duluan.
"Lumayan. Ada dua soal esai yang aku asal isi pakai rumus fisika," jawab Arka tenang.
Gue langsung noleh ke dia sambil melongo. "Hah? Rumus fisika buat Kimia? Lo sehat, Ka?"
Arka menoleh ke gue, dan untuk pertama kalinya sejak gue kenal dia… sudut bibirnya tertarik ke atas. Sedikit banget. Hampir nggak kelihatan kalau lo nggak merhatiin lekat-lekat. Tapi itu senyum.
"Daripada kosong, Sa. Pak Iwan kan pernah bilang, yang penting usahanya kelihatan di lembar jawaban," jawabnya santai.
Gue tertawa kecil, nggak habis pikir. "Ternyata lo bisa ngaco juga ya. Gue pikir lo tipe cowok yang nangis di pojokan kalau nilai ulangannya nggak seratus."
"Kata siapa?"
"Kata anak-anak. Lo kan diem terus kerjanya di kelas. Bimo doang tuh yang berani noyor kepala lo."
"Aku emang malas ngomong aja kalau nggak penting," Arka mengedikkan bahu.
Kita sampai di pertigaan dekat sekolah. Di seberang jalan ada gerobak cimol yang biasanya mangkal. Wangi bumbu balado campur keju menyengat hidung gue. Tanpa sadar langkah gue melambat. Gue emang belum makan siang karena tadi istirahat dipake buat ngerjain tugas sejarah yang kelupaan.
Arka menyadari gue ketinggalan langkah. Dia ikut berhenti. Matanya ngikutin arah pandangan gue ke seberang jalan.
"Lapar?" tanyanya.
"Dikit sih," jujur gue sambil ngeraba perut. "Tapi nanggung ah, bentar lagi sampai rumah."
"Makan dulu aja," kata Arka. Sebelum gue sempat nolak, dia udah nyeberang jalan duluan ke arah tukang cimol.
Gue kalang kabut ngikutin dia. "Eh, Ka! Nggak usah, gue nggak bawa uang cash. Uang jajan gue abis buat bayar kas kelas tadi pagi!" seru gue pas nyusul dia di depan gerobak.
Arka nggak gubris omongan gue. Dia malah ngeluarin dompet warna hitam dari sakunya. "Bang, cimolnya sepuluh ribu dua. Yang satu bumbunya pedes manis, yang satu lagi asin aja."
Abang cimolnya langsung gerak cepat. "Siap, Jang. Buat pacarnya pedes manis ya?" goda si Abang sambil masukin cimol ke dalem plastik.
Muka gue rasanya langsung panas. "Eh, bukan Bang! Temen doang!" sanggah gue panik.
Gue ngelirik Arka. Dia cuma diem nungguin pesanannya kelar, sama sekali nggak ada niat buat meralat omongan si Abang. Ekspresinya setenang air di baskom.
Setelah nerima plastik cimol, Arka nyodorin yang pedes manis ke gue. "Nih."
Gue nerima plastik hangat itu dengan canggung. "Ka, seriusan, besok gue ganti ya uangnya. Gue jadi nggak enak."
"Nggak usah," jawabnya sambil mulai nusuk cimolnya dan makan sambil jalan lagi. "Nggak bikin aku miskin juga beli cimol doang."
Gue mendecih pelan, tapi diam-diam gue nahan senyum. "Kok lo tahu gue suka pedes manis?" tanya gue sambil mulai ngunyah.
"Tebak aja. Kamu kalau di kantin beli mi ayam sambelnya tiga sendok. Pasti suka pedes."
Langkah gue agak tersendat. Dia perhatiin gue sampai segitunya? Gue kira selama di kantin matanya cuma nempel di layar HP atau di mangkok makanannya sendiri.
"Lo diem-diem pengamat yang handal juga ya," kata gue mencoba bercanda buat nutupin jantung gue yang mendadak disko.
"Mungkin," jawabnya singkat.
Kita nerusin jalan kaki. Kali ini sambil makan cimol dan ngobrol ringan. Arka cerita sedikit tentang Bimo yang kemarin jatoh dari motor karena kaget ada kucing nyeberang, dan gue cerita soal kucing peliharaan gue di rumah yang kelakuannya mirip preman pasar.
Obrolannya receh. Nggak ada topik berat. Nggak ada basa-basi yang dipaksakan. Kita ketawa di momen yang pas, dan kita diam di momen yang pas. Rasanya… nyaman banget. Kayak gue udah kenal dia bertahun-tahun, bukan sekadar cowok pendiam dari kelas yang sama.
Hari itu, untuk pertama kalinya, gue ngerasa jalan pulang ke rumah kerasa terlalu pendek. Pas angkot gue datang dan gue harus naik, gue sempat ngelihat ke luar jendela. Arka masih berdiri di trotoar, nungguin angkot gue jalan, persis kayak hari pertama.
Bedanya, kali ini dia melambaikan tangannya sedikit ke arah gue sebelum berbalik pergi.
Besoknya, guru-guru ada rapat MGMP dadakan jam satu siang. Semua murid dipulangin cepat. Kelas langsung sorak-sorai bahagia kayak abis menang piala dunia.
Gue beres-beres tas dengan cepat. Di kepala gue, gue mikir hari ini gue bakal pulang sendiri. Jam satu siang itu jamnya anak cowok main bola di lapangan atau nongkrong di warkop depan. Nggak mungkin Arka nunggu di jam segini. Kita juga nggak janjian apa-apa.
Sambil ngobrol sama Tiara soal drakor terbaru, gue berjalan keluar gerbang. Matahari lagi terik-teriknya, bikin aspal kelihatan berbayang-bayang.
Gue ngelap keringat di dahi, siap-siap mau nyetop angkot yang lewat. Tapi begitu gue menoleh ke arah pos satpam… langkah gue terhenti.
Di bawah bayangan pohon pinggir jalan, duduk di atas motor matic yang diparkir asal, cowok itu ada di sana. Seragamnya udah dikeluarkan, lengannya digulung sampai siku. Dia lagi minum es teh plastik sambil mainin kunci motornya.
Arka.
Dia tetap datang. Di jam yang jauh lebih awal dari biasanya. Dan entah sejak kapan dia udah standby di sana.
Gue menelan ludah, tiba-tiba merasa ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar "kebetulan" sedang terjadi di sini.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar