Besoknya di sekolah, gue nggak bisa fokus. Tiap kali guru ngejelasin, mata gue malah curi-curi pandang ke barisan belakang, tempat Arka duduk.
Arka tetep Arka. Dia duduk tegak, nyatet apa yang ada di papan tulis, sesekali ngelihat ke jendela. Nggak ada yang spesial. Nggak ada tanda-tanda kalau dia itu cowok "penguntit" atau cowok romantis yang ada di novel-novel. Penampilannya bener-bener low profile. Rambutnya potongan standar, seragamnya rapi tapi nggak yang kegedean atau kekecilan banget.
"Sa, lo liatin Arka terus deh dari tadi. Kenapa? Naksir?" celetuk Tiara sukses bikin gue nyaris ngebanting pulpen.
"Apaan sih! Nggaklah," bisik gue galak.
"Ya lagian, aneh aja. Arka tuh emang ganteng sih kalau dilihat lama-lama, tapi ya itu⦠dingin banget. Kayak kulkas dua pintu. Temennya cuma si Bimo doang itu juga karena mereka tetanggan dari kecil."
Gue diem. Kulkas dua pintu ya? Tapi kulkas itu kalau dibuka dalemnya adem, bukan dingin yang nyakitin.
Pulang sekolah, gue sengaja ngetes. Gue nggak langsung pulang, tapi gue pergi ke kantin dulu, duduk-duduk sebentar sama anak-anak jurnalistik, terus ke perpus buat balikin buku. Gue keluar sekolah hampir jam setengah enam. Langit sudah mulai gelap, lampu-lampu jalan sudah nyala.
Pasti dia udah pulang, pikir gue. Mana ada orang waras nungguin selama ini.
Tapi pas gue sampai di gerbang, jantung gue rasanya mau copot.
Arka masih di sana. Dia lagi duduk di beton pembatas jalan, kepalanya nunduk, tangannya sibuk mainin batu kecil di bawah kakinya. Pas dia denger suara sepatu gue, dia langsung berdiri. Mukanya kelihatan agak capek, tapi dia tetep nunggu.
"Lama banget hari ini, Sa," katanya pelan. Suaranya agak serak.
Gue ngerasa rasa bersalah campur aduk sama rasa risih yang luar biasa. "Ka, lo ngapain sih? Gue nggak minta ditungguin. Lo ngapain nungguin gue sampai jam segini? Kalau gue nggak pulang lewat sini gimana? Kalau gue dijemput gimana?"
Gue nanya bertubi-tubi karena gue bingung. Gue nggak terbiasa diprioritasin kayak gini sama orang asing.
Arka jalan mendekat. Sekarang jarak kita cuma satu meter. Bau parfumnya yang samar-samar wangi sabun kecium sama gue.
"Aku tahu kamu nggak dijemput," katanya tenang.
"Ya tapi tetep aja! Kita nggak sedeket itu, Ka. Lo bikin gue bingung, tahu nggak?"
Arka menghela napas panjang. Dia melihat ke mata gue dalam-dalam. Nggak ada keraguan di sana.
"Aku nggak bermaksud bikin kamu bingung. Aku cuma mau mastiin kamu pulang ada temennya. Jalanan sini kalau makin sore makin sepi, Sa."
"Kenapa harus gue? Kan banyak cewek lain yang pulang telat juga."
Arka diem sebentar, terus dia ngomong kalimat yang bikin pertahanan gue runtuh seketika.
"Karena cuma kamu yang pulangnya selalu kelihatan sedih kalau sendirian."
Gue tercekat. Gue nggak tahu harus jawab apa. Selama ini gue pikir gue jago nyembunyiin perasaan gue lewat dengerin lagu atau pura-pura sibuk. Tapi cowok yang jarang ngomong ini, malah bisa lihat apa yang orang lain nggak lihat.
"Aku emang nunggu kamu," lanjutnya lagi, menegaskan apa yang dia bilang di bab sebelumnya. "Dan aku bakal tetep di sini besok. Terserah kamu mau bareng atau nggak."
Dia jalan duluan, ninggalin gue yang sekarang bener-bener nggak bisa nolak kalau dia itu⦠emang beda.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar