Aroma nasi goreng mentega dan telur mata sapi yang sempurna biasanya menjadi pembuka hari yang manis bagi pasangan Arkan dan Hana. Selama lima tahun, rutinitas ini tidak pernah berubah. Hana akan memastikan kemeja Arkan rapi, dan Arkan akan mengecup kening Hana sebelum mereka duduk di meja makan. Namun, pagi ini, aroma gurih itu terasa hambar karena kehadiran sosok wanita paruh baya yang duduk di kursi utama dengan wajah masam: Bu Ratna, ibu kandung Arkan.
"Nasi goreng lagi, Hana?" suara Bu Ratna memecah keheningan dengan nada tinggi yang sengaja dibuat-buat. "Pantas saja Arkan kelihatan agak kurus. Kurang gizi, kurang variasi. Sama seperti rumah ini... kurang suara tangisan bayi."
Hana tertegun, tangannya yang sedang menuangkan kopi untuk Arkan sedikit gemetar. Kalimat itu bukan hal baru, tapi selalu berhasil menyayat bagian terdalam hatinya. Lima tahun. Angka itu seolah menjadi vonis kegagalan bagi Hana di mata mertuanya.
"Ibu, Arkan yang minta nasi goreng ini. Ini menu favorit Arkan, dan Hana masaknya enak sekali," potong Arkan dengan suara tenang namun tegas. Ia meraih tangan Hana, menggenggamnya erat di atas meja seolah ingin menyalurkan kekuatan.
Bu Ratna mendengus, meletakkan sendoknya dengan denting yang keras. "Kamu selalu membelanya, Arkan. Ibu ini bicara fakta. Lihat teman-teman seangkatanmu, anaknya sudah ada yang masuk TK. Ibu ini sudah tua, ingin menggendong cucu dari anak laki-laki ibu satu-satunya. Kalau istrimu ini memang 'bermasalah', harusnya kamu pikirkan jalan lain."
"Ibu!" Suara Arkan meninggi satu oktaf. "Hana tidak bermasalah. Kami berdua sehat secara medis. Belum waktunya saja Tuhan kasih. Dan tolong, jangan bicara soal 'jalan lain' seolah Hana adalah barang yang bisa diganti kalau rusak."
Hana menunduk, matanya memanas. Ia merasa tenggorokannya tercekat. "Ibu, maaf kalau masakan Hana kurang berkenan. Nanti siang Hana masakkan opor ayam kesukaan Ibu," ucapnya lirih, mencoba meredam ketegangan.
"Tidak usah repot-repot. Opor ayam tidak akan bisa mengisi kekosongan di rahimmu," balas Bu Ratna tajam sebelum berdiri dan melenggang pergi menuju kamarnya di lantai bawah.
Suasana meja makan berubah menjadi pemakaman. Arkan menghela napas panjang, lalu beralih menghadap istrinya. Ia mengangkat dagu Hana, memaksa wanita itu menatap matanya yang penuh cinta.
"Jangan didengarkan, Sayang. Kamu tahu kan, aku tidak peduli soal itu? Aku menikahimu karena aku mencintaimu, bukan karena ingin menjadikanmu mesin pencetak anak," bisik Arkan lembut.
Hana tersenyum tipis, meski air matanya akhirnya luruh juga. "Tapi aku merasa gagal, Mas. Aku merasa menjauhkanmu dari keinginan ibumu."
"Keinginan Ibu bukan tanggung jawabmu. Tanggung jawabmu adalah bahagia bersamaku. Mengerti?" Arkan mengecup telapak tangan Hana lama sekali.
Setelah Arkan berangkat kerja, Hana mencoba menyibukkan diri dengan membersihkan rumah. Namun, rumah itu terlalu luas untuk ditinggali hanya bertiga dengan suasana sedingin ini. Saat melewati ruang tengah, ia mendengar suara Arkan kembali—rupanya pria itu tertinggal ponselnya dan kembali masuk melalui pintu samping. Hana berniat menghampirinya, namun langkahnya terhenti di balik pintu ruang kerja Arkan saat mendengar suara mertuanya sudah ada di sana.
"Arkan, dengar Ibu. Sudah lima tahun! Kamu mau menunggu sampai kapan? Sampai kamu tua dan tidak kuat menggendong anakmu sendiri?" Suara Bu Ratna terdengar mendesak, penuh provokasi.
"Bu, Arkan mohon. Jangan mulai lagi. Arkan baru saja mau berangkat kerja."
"Ibu serius, Arkan. Ibu punya kenalan, anak teman Ibu. Dia cantik, muda, dan yang pasti... subur. Keluarganya sudah punya banyak anak. Kamu tidak perlu menceraikan Hana kalau kamu memang se-setia itu. Nikah siri saja, yang penting ada keturunan—"
PLAK!
Hana menutup mulutnya dengan tangan, terkejut. Bukan suara tamparan, tapi suara Arkan yang menggebrak meja dengan sangat keras.
"Cukup, Bu! Sekali lagi Ibu bicara soal poligami atau merendahkan Hana, Arkan akan minta Ibu kembali ke rumah di desa hari ini juga. Arkan mencintai Hana. Utuh. Kalau Tuhan tidak memberi kami anak sampai mati pun, Arkan akan tetap bersama Hana. Jangan paksa Arkan menjadi anak durhaka karena harus mengusir ibunya sendiri demi menjaga kehormatan istrinya!"
Suasana menjadi hening mencekam. Hana bersandar di dinding, air matanya mengalir tanpa suara. Di satu sisi, hatinya hancur mendengar betapa rendahnya ia di mata mertuanya. Namun di sisi lain, ia merasa menjadi wanita paling beruntung karena memiliki Arkan. Pria itu adalah bentengnya, sekaligus luka indahnya.
Hana segera berlari kecil menuju dapur sebelum mereka tahu dia mendengarkan. Ia menyalakan keran air tinggi-tinggi, menyamarkan isak tangisnya di antara gemericik air yang jatuh.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar