Malam yang Mengubah Segalanya
Jam dinding di lorong klinik itu berdetak terlalu keras.
Atau mungkin itu hanya perasaan Raka — karena selain detak jam, tidak ada suara lain yang sanggup ia tangkap. Semua suara lain tenggelam dalam gemuruh dadanya sendiri. Suara langkah suster yang tergesa. Suara roda brankar yang berdecit. Suara hujan yang mulai mengetuk atap seng klinik dengan tidak sabaran.
Semua itu terdengar jauh. Seperti berasal dari dunia lain.
Raka duduk di bangku panjang berwarna hijau pucat — cat bangku itu sudah mengelupas di beberapa bagian, menyisakan noda kecokelatan seperti luka lama. Kedua tangannya terjepit di antara kedua lututnya. Ia tidak berdoa dengan kata-kata. Ia tidak tahu harus merangkai kata apa. Yang ia lakukan hanya menunduk, menutup mata, dan berulang-ulang menyebut satu nama dalam hati.
Sumiati. Sumiati. Sumiati.
Di sebelahnya, Nisa tidur.
Gadis tujuh tahun itu meringkuk di bangku yang sama, kepalanya tersandar di paha Raka, mulutnya sedikit terbuka. Napasnya teratur — napas anak kecil yang belum paham bahwa malam ini bukan malam biasa. Raka memandangi wajah putrinya itu lama. Ada remah biskuit di sudut bibir Nisa. Ada bekas coretan pena di punggung tangannya — entah kapan dan di mana ia mencoret-coret tangannya sendiri. Rambutnya yang dikepang dua oleh Sumiati pagi tadi kini sudah agak berantakan, satu ikat rambutnya hampir lepas.
Tadi pagi. Raka menghela napas berat.
Tadi pagi Sumiati masih mengepang rambut Nisa sambil bernyanyi kecil. Perutnya yang besar membuat ia susah membungkuk, tapi ia tetap jongkok di depan Nisa dengan sabar, jari-jarinya yang terampil menjalin helai demi helai rambut hitam putrinya. Nisa protes karena kepangan itu terlalu ketat. Sumiati tertawa.
Tawa itu — Raka tidak tahu apakah ia akan pernah mendengarnya lagi.
Pintu ruang bersalin di ujung lorong terbuka.
Raka berdiri sebelum menyadari dirinya berdiri. Kakinya bergerak sendiri. Seorang bidan paruh baya keluar — Bu Lastri, yang tadi menyambut mereka dengan senyum tenang ketika Raka menggotong Sumiati masuk dalam kepanikan. Sekarang senyum itu tidak ada. Wajah Bu Lastri datar, matanya mencari mata Raka.
Dan dari cara perempuan itu menarik napas sebelum bicara, Raka sudah tahu.
Ia sudah tahu sebelum satu kata pun terucap.
"Pak Raka..."
Suara Bu Lastri terdengar seperti dari balik air. Raka merasakan sesuatu runtuh di dalam dadanya — perlahan, seperti tembok tua yang diguyur hujan, bata demi bata luruh tanpa suara. Ia mendengar kata-kata itu. Ia memahaminya. Tapi tubuhnya tidak bergerak. Kakinya seolah tertanam ke lantai keramik klinik yang dingin.
Ibu dan bayi tidak bisa diselamatkan bersamaan. Pendarahan terlalu hebat. Kami sudah berusaha.
Bayinya selamat, Pak. Perempuan. Sehat.
Istrinya...
Bu Lastri tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia tidak perlu.
Raka tidak ingat bagaimana ia bisa tiba-tiba duduk lagi di bangku hijau itu. Ia tidak ingat apakah ia yang duduk sendiri atau apakah kakinya yang menyerah duluan. Yang ia ingat adalah langit-langit klinik yang retak di satu sudut, dengan noda rembesan air hujan yang membentuk pola seperti peta pulau antah berantah.
Ia menatap noda itu lama sekali.
Di sebelahnya, Nisa masih tidur. Masih bernapas teratur. Masih dengan remah biskuit di sudut bibirnya.
Sesaat kemudian, dari balik pintu yang sama, Bu Lastri keluar lagi — kali ini menggendong sesuatu yang dibungkus kain flannel berwarna merah muda. Sesuatu yang sangat kecil. Sesuatu yang mengeluarkan suara — tipis, bergetar, seperti anak kucing pertama kali menyuarakan dunia.
Bu Lastri meletakkan bayi itu ke dalam dekapan Raka.
Raka tidak siap. Tangannya kaku. Tapi naluri entah dari mana memandu tangannya untuk menopang kepala mungil itu, untuk melingkarkan lengannya dengan hati-hati, untuk tidak menjatuhkan makhluk kecil yang hangat dan merah dan hidup ini.
Bayi itu membuka matanya sebentar — atau mungkin hanya berkedip — lalu mengerucut mulutnya dan menangis lagi dengan suara yang tipis dan memilukan.
Kamu belum tahu, batin Raka, bahwa kamu sudah kehilangan ibumu bahkan sebelum sempat melihat wajahnya.
Di sebelah Raka, Nisa menggeliat. Mata kecilnya terbuka perlahan — berat, mengantuk, sedikit bingung.
"Bapak...?" suaranya serak oleh tidur. Lalu matanya jatuh pada bayi di pelukan Raka. Langsung terbelalak. "Adiknya sudah lahir?"
Raka membuka mulutnya. Menutupnya lagi.
"Sudah," katanya akhirnya. Suaranya keluar aneh — terlalu datar, terlalu tenang, seperti orang yang berbicara dari balik kaca tebal.
Nisa duduk tegak, matanya berbinar meski masih setengah mengantuk. "Mana Ibu? Ibu di dalam?"
Raka menatap putrinya. Gadis tujuh tahun dengan kepangan berantakan dan remah biskuit di sudut bibirnya. Gadis yang tadi pagi dikepalakan rambutnya oleh tangan yang sama yang kini sudah dingin di balik pintu itu.
"Nisa," kata Raka pelan.
Sesuatu dalam nada suara ayahnya itu membuat Nisa diam. Entah apa. Mungkin anak-anak memiliki insting yang belum terkontaminasi oleh logika — insting yang langsung tahu ketika ada sesuatu yang tidak bisa diperbaiki.
Nisa tidak bertanya lagi.
Ia hanya menatap bayinya. Lalu menatap wajah bapaknya. Lalu menatap bayinya lagi.
Dan malam itu, di bangku hijau yang catnya mengelupas, di bawah langit-langit yang retak, hujan di luar makin deras — seolah langit pun ikut berduka untuk Sumiati yang pergi terlalu cepat, terlalu tiba-tiba, meninggalkan seorang suami dan dua putri kecil yang belum siap ditinggal.
Raka mendekatkan bayi itu ke dadanya. Memejamkan mata.
Aku tidak tahu caranya, Mi, katanya dalam hati. Aku tidak tahu caranya melakukan ini sendirian.
Bayi itu menangis lagi — pelan, lelah, seolah ia pun sudah kelelahan berjuang malam ini.
Tapi aku akan belajar, lanjut Raka dalam diam. Aku janji.
Di luar klinik, hujan tidak berhenti. Dan Nisa, yang pura-pura tidak mengerti, diam-diam mengusap matanya sendiri — berharap bapaknya tidak melihat.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar