Cemoohan Pertama

Rumah Raka adalah rumah yang tidak bisa berpura-pura lebih dari apa adanya.

Dinding batanya di beberapa bagian masih bata merah ekspos — Raka tidak pernah punya cukup uang untuk melapisi semuanya dengan plester. Lantainya semen polos yang dingin di musim hujan. Dapur dan ruang makan menjadi satu ruangan kecil yang dipisahkan hanya oleh posisi meja. Kamar tidur ada dua — satu yang dulu ia tiduri bersama Sumiati, satu yang lebih kecil untuk Nisa. Sekarang Rini tidur di kamar yang pertama, dalam box bayi pinjaman dari Marni, sementara Raka tidur di kursi panjang di ruang tengah lebih banyak waktu daripada di kasur.

Tapi halaman depannya ada pohon mangga tua yang berbuah dua kali setahun. Itu yang selalu Sumiati sebut ketika mereka pertama menyewa rumah ini. "Yang penting ada pohon mangga, Ka. Biar seger."

Raka tidak memotong pohon itu.

Sepuluh hari setelah Sumiati pergi, kehidupan mulai membangun ritmenya sendiri yang baru — ritual-ritual kecil yang lahir dari kebutuhan dan bukan dari perencanaan.

Raka bangun jam empat, menyiapkan susu Rini. Jam lima ke pasar atau ke manapun ada pekerjaan hari itu. Jam delapan atau sembilan pulang, Nisa sudah siap sekolah. Raka mengantar Nisa jalan kaki dua ratus meter ke sekolah, lalu kembali ke rumah dimana Marni sudah menunggu untuk menjaga Rini sampai Nisa pulang siang.

Sederhana di atas kertas. Melelahkan dalam praktik.

Pagi itu adalah Sabtu — tidak ada sekolah. Nisa membantu Raka menjemur pakaian di halaman depan sementara Rini tidur di dalam. Udara masih segar, embun belum sepenuhnya kering dari rumput, dan dari arah jalan terdengar suara ibu-ibu yang sedang ramai mengobrol di depan rumah Bu Tini — tetangga tiga pintu dari mereka, yang terkenal sebagai pusat sirkulasi informasi di gang itu.

Nisa mengambil baju kecil Rini dari ember, memerasnya, menjepitkan ke tali jemuran. Caranya meniru persis cara Sumiati melakukannya — Raka memperhatikan dan ada yang mencelos di dadanya.

"Bapak," kata Nisa sambil tetap memandangi jemuran.

"Ya."

"Ibu-ibu itu ngomong tentang kita."

Raka tidak langsung menjawab. Ia mengambil kain panjang dari ember. "Kamu dengar apa?"

Nisa diam sebentar. Jari-jarinya menjepitkan klip jemuran dengan gerakan yang terlalu hati-hati untuk ukuran pertanyaan yang ia tahan. "Kata Bu Tini, kita kasihan. Katanya Bapak tidak akan bisa besarkan Nisa dan Rini sendirian."

Bunyi ibu-ibu itu sayup sampai dari ujung gang — tawa, komentar, tawa lagi. Ritme gosip yang sudah seperti musik latar di gang ini.

"Kata siapa lagi?" tanya Raka, nada suaranya dijaga datar.

"Bu Parti." Nisa menelan ludah. "Katanya... katanya Bapak paling benar cari ibu baru buat Nisa sama Rini. Biar ada yang ngurus."

Raka meletakkan kain yang baru saja ia pegang ke ember. Ia berdiri tegak, menatap jemuran di depannya. Di ujung gang, tawa itu berlanjut.

"Nisa kesal?" tanya Raka akhirnya.

Nisa berpikir sungguh-sungguh. "Nisa tidak kesal karena mereka salah. Nisa kesal karena mereka ngomongnya keras."

Raka menatap putrinya. Ada sesuatu di jawaban itu yang terasa lebih tua dari tujuh tahun. "Artinya?"

"Kalau mereka mau kasihan, kasihan saja dalam hati. Tidak usah keras-keras." Nisa mengambil baju Raka yang berikutnya dari ember. "Nisa tidak mau dikasihani."

Raka diam sejenak. Lalu ia berlutut di samping Nisa sampai tingginya sejajar, dan ia menatap wajah putrinya langsung. "Dengarkan Bapak."

Nisa berbalik menatapnya.

"Orang akan selalu ngomong. Waktu kita susah, mereka ngomong. Waktu kita berhasil, mereka juga masih ngomong — nanti ceritanya beda. Yang penting kita tahu kita mau jadi apa. Mengerti?"

Nisa mengangguk pelan.

"Jadi kalau lain kali kamu dengar orang ngomong tentang kita—"

"Kepala tetap tegak," potong Nisa. Ia mengucapkannya seperti mengulang sesuatu yang sudah pernah didengar, dan mungkin memang begitu — mungkin Raka pernah berkata itu suatu waktu yang tidak ia ingat, atau mungkin Nisa baru saja menciptakannya sendiri dan ia tidak tahu dari mana.

Raka mengangguk. "Kepala tetap tegak."

Tapi sore harinya, ketika Nisa sedang bermain di halaman dan Rini sedang tidur, Raka duduk di dapur dan mendengar lebih banyak dari yang ingin ia dengar.

Bu Parti dan Bu Tini rupanya berpindah pos ke pagar samping yang bersebelahan langsung dengan dapur Raka yang jendelanya terbuka. Suara mereka masuk tanpa diundang.

"...ya kasihan memang. Tapi ya mau gimana, kerjanya begitu. Kuli-kulian. Dari dulu juga."

"Anaknya yang kecil itu belum dua minggu sudah ditinggal ibunya. Nanti besar bagaimana?"

"Yang kakaknya itu, si Nisa, sudah keliatan agak-agak. Muka jutek, tidak mau gabung main sama anak-anak lain."

"Ya namanya juga sudah tahu kondisi, malu mungkin."

"Malu apa, wong dia yang harusnya malu. Masa anaknya orang susah gitu gaya."

Raka meletakkan cangkir teh di meja dengan sedikit lebih keras dari yang ia rencanakan.

Di luar, Nisa bermain sendirian di bawah pohon mangga — mengumpulkan daun-daun kering dan menyusunnya menjadi pola yang hanya ia sendiri yang tahu artinya. Jauh dari pagar samping. Jauh dari suara-suara itu.

Tapi Raka tahu — anak kecil punya telinga yang lebih tajam dari yang orang dewasa kira.

Yang belum Raka ketahui adalah bahwa Nisa sudah mendengar semua itu. Sudah dari tadi. Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, gadis tujuh tahun itu akan berbaring di kasurnya dan bertanya-tanya apakah benar ada yang salah dengan keluarganya — pertanyaan yang racunnya akan butuh waktu bertahun-tahun untuk dinetralkan.