Pertama Kali ke Pasar

Lima hari setelah Sumiati dimakamkan, Raka pergi ke pasar.

Bukan untuk belanja. Bukan untuk jalan-jalan. Ia pergi untuk meminta pekerjaan.

Pagi itu ia bangun sebelum subuh — menyiapkan susu untuk Rini, memastikan Nisa sudah makan roti yang ia titipkan dari semalam, menitipkan keduanya kepada Marni dengan satu pesan yang ia ulang tiga kali: "Kalau Rini nangis terus, perutnya mungkin lapar. Kalau Nisa nanya saya, bilang Bapaknya sebentar lagi pulang."

Marni mengangguk-angguk sambil mengambil Rini dari gendongannya. "Pergi sana. Jangan pikirin rumah."

Mudah diucapkan.

Pasar Pon — pasar induk di kecamatan mereka — sudah ramai sebelum matahari benar-benar terbit. Di sinilah denyut ekonomi kecil itu berdetak paling keras: pedagang sayur yang menata dagangannya dengan sisa kantuk di mata, tukang ikan yang teriak-teriak dengan suara yang tidak ada hubungannya dengan volume percakapan normal, ibu-ibu yang memilah cabai dengan jari-jari terampil, dan di sudut-sudut tertentu — para kuli panggul yang menunggu.

Raka mengenal beberapa dari mereka. Ia pernah sesekali membantu mengangkat barang di sini dua atau tiga tahun lalu, sebelum Nisa lahir, ketika ia dan Sumiati baru menikah dan uang masih sangat tipis. Tapi itu dulu. Setelah Nisa lahir, ia beralih ke kerjaan yang lebih tetap — bantu-bantu di toko bangunan, jadi penjaga malam, sesekali jadi kuli bangunan. Pekerjaan yang tidak mewah tapi cukup untuk makan dan menyewa rumah kecil mereka.

Sekarang ia harus mulai dari awal lagi.

"Ka? Raka?"

Suara itu datang dari arah los sayuran. Seorang lelaki seusia Raka — kulit gelap, badan kekar, dengan topi anyaman yang sudah kehitaman — melambai padanya. Itu Darmo. Mereka dulu satu kampung sebelum Raka pindah setelah menikah.

"Darmo," Raka menghampirinya.

Darmo menjabat tangannya erat. "Saya dengar kabar, Ka. Turut berduka." Matanya tulus — tidak ada basa-basi di sana, tidak ada rasa ingin tahu yang dibungkus simpati. "Kamu mau kerja di sini?"

"Mau." Tidak ada gunanya berputar-putar. "Kamu tahu siapa yang butuh tenaga?"

Darmo mengangguk, matanya menyapu area pasar. "Pak Giman biasanya butuh tenaga angkut tiap pagi. Dari truk ke los. Lumayan, tapi berat." Ia melirik tubuh Raka. "Kamu masih kuat, tapi kamu belum makan kelihatannya."

Raka tidak menjawab bagian terakhir itu.

Pak Giman adalah pedagang beras grosiran yang los-nya berada di bagian belakang pasar, di mana truk-truk pengiriman bisa masuk lewat gang sempit. Lelaki enam puluhan itu menilai Raka dengan pandangan yang sudah terbiasa menilai tenaga manusia seperti menilai kualitas beras — sekilas, tapi tidak melewatkan apa-apa.

"Pernah angkut karung sebelumnya?"

"Pernah."

"Karung lima puluh kilo, sepuluh karung per jam. Kuat?"

"Kuat."

"Upah dua belas ribu per jam. Mulai jam lima pagi, selesai jam delapan atau sampai barang habis."

Raka menghitung cepat di kepalanya. Tiga jam, tiga puluh enam ribu. Tidak banyak. Tapi cukup untuk susu formula dua hari.

"Oke," katanya.

Pak Giman mengangguk ke arah truk yang baru parkir di belakang. "Mulai sekarang."

Karung pertama hampir membuatnya jatuh.

Bukan karena tidak kuat — Raka cukup kuat untuk itu. Tapi ia belum makan dari semalam, tidurnya tidak sampai tiga jam, dan ternyata tubuh manusia punya batasnya sendiri yang tidak peduli dengan tekad seberapa keras pun. Lututnya sempat ngilu di karung ketiga. Bahunya mulai panas di karung keenam.

Tapi ia tidak berhenti.

Di sebelahnya, seorang kuli panggul lain yang lebih muda — mungkin delapan belas, sembilan belas tahun — meliriknya sambil mengangkat karungnya sendiri. "Baru pertama?"

"Lama tidak kerja sini," jawab Raka singkat.

"Punya anak?"

Raka hampir menjawab satu sesuai kebiasaan, lalu menyadari. "Dua."

Anak muda itu manggut-manggut seperti itu menjelaskan segalanya. "Oh, makanya."

Pukul delapan kurang, ketika pekerjaan selesai dan Pak Giman menyerahkan upah, seorang perempuan paruh baya di los sebelah — pedagang bumbu yang dari tadi memperhatikan — berseru cukup keras ke temannya:

"Itu suaminya yang istrinya baru meninggal lho. Yang anaknya dua itu. Yang bayi baru lahir."

Suaranya tidak pelan. Mungkin tidak dimaksudkan pelan.

Raka mendengar. Beberapa kepala menoleh ke arahnya dengan campuran ekspresi yang sulit ia kategorikan — kasihan, penasaran, sedikit ngeri, sedikit takjub.

Ia menyelipkan uang ke saku celananya. Mengucapkan terima kasih singkat kepada Pak Giman. Berbalik pergi.

Biarkan mereka melihat, pikirnya. Biarkan mereka bicara. Yang penting pulang ada uang.

Tapi di jalan pulang, ketika ia melewati deretan lapak dan trotoar dan bau pasar yang menyengat di pakaiannya, ada satu momen — satu momen kecil yang hampir tidak berarti — yang mengendap dan tinggal di dadanya.

Di depan toko kelontong di ujung pasar, seorang bapak sedang menggendong anak perempuannya — umur tiga atau empat tahun — sambil membiarkan anak itu memilih permen dari toples bening di etalase. Anak itu menunjuk satu, lalu berubah pikiran, lalu menunjuk lagi dengan ekspresi serius yang lucu. Bapaknya menunggu dengan sabar, sambil senyum-senyum sendiri.

Raka berdiri dua detik terlalu lama memandangi mereka.

Lalu berjalan lagi. Lebih cepat.

Yang tidak ia sadari saat itu: pemilik toko kelontong yang berdiri di balik etalase — Pak Budi, namanya, dengan rambut yang sudah memutih di pelipisnya — memperhatikannya sejak tadi. Dan ada sesuatu di cara Raka berjalan, di cara ia menyelipkan uang ke saku, di cara ia memandang bapak dan anak itu sebentar lalu berpaling — yang membuat Pak Budi menyimpan wajahnya di ingatan.