Belajar Memandikan Bayi
Hari kedua tanpa Sumiati dimulai dengan tangisan.
Bukan tangisan Raka — meski malam itu ia menangis cukup lama di kamar mandi dengan air keran dinyalakan agar tidak terdengar Nisa. Bukan tangisan Nisa — meski gadis itu tidur dengan mata merah dan bangun dengan mata yang lebih merah lagi.
Itu tangisan Rini.
Bayi itu menangis sejak subuh dengan konsistensi yang luar biasa — seolah ia memiliki cadangan energi yang tidak terbatas untuk hal ini saja. Raka sudah memberinya susu formula — cara Bu Lastri mengajarkannya semalam, takar sekian sendok, air sekian derajat, kocok pelan-pelan. Rini minum, tapi kemudian menangis lagi. Raka menggendong, tapi tangisannya tidak berhenti. Raka mengayun, tapi hasilnya sama.
"Mungkin popoknya," kata Nisa dari balik selimut, suaranya serak mengantuk.
Raka memandang putrinya. "Kamu tahu cara ganti popok?"
"Nisa pernah lihat Ibu." Nisa bangkit duduk, mengucek mata. "Tapi tidak yakin bisa."
Mereka berdua menatap Rini yang menangis di atas kasur dengan tatapan dua orang yang baru pertama kali berhadapan dengan ujian yang tidak pernah mereka pelajari.
Itu yang membuat Raka akhirnya mengetuk pintu Marni jam enam pagi.
Perempuan itu membuka pintu bahkan sebelum ketukan kedua — seperti ia sudah menunggu. Mungkin memang menunggu. Matanya langsung jatuh pada Rini yang menangis dalam gendongan Raka, lalu pada Raka yang berdiri dengan lingkaran hitam tebal di bawah matanya dan ekspresi orang yang sudah kalah bahkan sebelum bertanding.
"Masuk," kata Marni tanpa basa-basi.
Dapur Marni hangat. Ada bau bawang yang ditumis dan teh yang diseduh dan roti yang dipanggang — bau-bau yang seharusnya biasa tapi pagi ini terasa seperti kemewahan yang menyesakkan. Raka duduk di kursi kayu, Nisa di sebelahnya, sementara Marni dengan cekatan mengambil Rini dari gendongan Raka dan langsung tahu masalahnya.
"Popoknya penuh. Sudah dari kapan ini tidak diganti?"
"Semalam saya ganti sekali," kata Raka. "Tapi saya tidak yakin benar caranya."
Marni mendengus — bukan dengan nada mencela, tapi nada orang yang sudah menduga. "Sini lihat. Nisa juga lihat ya, kamu yang nanti lebih sering di rumah."
Apa yang terjadi berikutnya adalah pelajaran pertama Raka tentang merawat bayi — yang ternyata jauh lebih kompleks dari yang ia bayangkan dari jauh.
Marni menjelaskan dengan sabar: cara membuka popok, cara membersihkan tanpa melukai kulit bayi yang setipis kertas, cara melipat kain yang benar agar tidak terlalu ketat tapi tidak longgar, cara memeriksa apakah cukup hangat. Tangannya bergerak dengan terampil dan pasti, tangan yang sudah pernah melakukan ini puluhan tahun lalu untuk anak-anaknya sendiri, tangan yang ingatan ototnya tidak pernah benar-benar lupa.
Raka menonton dengan seksama. Nisa menonton dengan lebih seksama lagi, bibir bawahnya sedikit menggigit tanda ia sedang serius mengingat.
"Sekarang coba kamu," kata Marni pada Raka.
Raka mengambil Rini dengan hati-hati — hati-hati yang berlebihan, yang membuat Marni hampir tertawa tapi berhasil menahannya. Tangannya yang biasa mengangkat karung beras lima puluh kilogram itu gemetar saat memegang bayi tiga kilogram.
"Jangan tegang," kata Marni. "Bayi bisa ngerasain. Santai."
"Gimana santai, Bu Marni," gumam Raka, "ini pertama kali saya pegang bayi yang ini anak saya sendiri."
"Waktu Nisa dulu?"
"Waktu Nisa dulu ada Sumiati." Raka mengucapkan nama itu dengan nada yang biasa saja, tapi kedua perempuan di ruangan itu — Marni dan Nisa kecil — menangkap getaran di baliknya.
Marni tidak merespons. Ia hanya menepuk punggung tangan Raka pelan. "Sekarang ada kamu. Cukup itu."
Sesi memandikan Rini sore harinya adalah bab tersendiri.
Marni meminjamkan baskom karet berwarna kuning dan mengisi air hangat — ia menguji suhunya dengan siku, bukan telapak tangan, dan mengajarkan Raka untuk melakukan hal yang sama. Raka mencoba: sikunya menyentuh air, keningnya berkerut mengukur.
"Hangat tapi tidak panas?"
"Betul. Coba lagi. Siku tengah, bukan ujungnya."
Ketika Rini akhirnya dimasukkan ke baskom kecil itu, bayi itu berhenti menangis. Matanya terbuka lebar — dua bola hitam yang belum sepenuhnya fokus menatap dunia, tapi cukup fokus untuk tampak terkejut dan kemudian... tenang.
Raka merasakan sesuatu longgar di dadanya.
"Dia suka air," kata Nisa dengan nada kagum.
"Mirip ibunya," kata Marni tanpa berpikir — lalu mengira-ira apakah itu hal yang tepat untuk diucapkan. Tapi Raka tersenyum kecil, dan Marni lega.
Raka belajar cara menopang kepala bayi dengan satu tangan dan membersihkan tubuhnya dengan tangan lain. Belajar cara membilas dengan air yang dituang pelan dari cangkir. Belajar cara mengangkat bayi dari air — momen yang membuatnya menahan napas penuh karena tubuh basah bayi terasa dua kali lebih licin dari yang ia bayangkan.
"Satu tangan di kepala, satu di pantat," instruksi Marni.
"Iya, iya—"
"Jangan panik."
"Saya tidak panik."
"Muka kamu panik."
Nisa terkikik dari sudut ruangan. Pertama kali ia tertawa sejak dua hari lalu — suara itu kecil, tertahan, tapi nyata. Raka meliriknya. Nisa langsung kembali serius. Tapi sudut bibirnya tidak bisa bohong.
Malam itu, Raka memandikan Rini untuk pertama kalinya sendiri — tanpa Marni, hanya dengan Nisa yang duduk di tepi bak mandi sambil memegang handuk kecil, siap membantu.
Tangannya masih gemetar. Ia masih menahan napas di momen-momen yang genting. Tapi Rini tidak menangis. Bayi itu memandangi wajah bapaknya dari dalam baskom kuning itu dengan ekspresi yang entah mengapa terlihat seperti... menerima. Seperti bayi yang belum tahu kata percaya tapi sudah memilih untuk percaya.
Setelah selesai, Raka membungkus Rini dengan handuk dan mendekapnya. Bayi itu hangat. Bau sabun bayi yang lembut naik ke hidungnya — bau yang akan menjadi salah satu bau paling dikenalnya dalam hidup.
"Berhasil, Pak," kata Nisa pelan.
Raka mengangguk. Tenggorokannya terlalu ketat untuk bicara.
Apa yang tidak Raka tahu malam itu adalah bahwa besok pagi, perut lapar Rini akan membangunkannya jam dua dinihari — dan uang terakhir di dompetnya tidak akan cukup untuk membeli susu formula. Dan untuk pertama kalinya, ia harus memilih antara gengsi dan keselamatan bayinya
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar