Pulang Tanpa Ibu

Pagi datang tanpa permisi.

Langit di luar jendela klinik perlahan berubah dari hitam ke abu-abu, lalu ke jingga pucat yang tidak terlalu meyakinkan — seperti matahari pun ragu apakah hari ini layak untuk terbit. Raka tidak tidur sedetik pun. Ia duduk di bangku yang sama, dengan bayi yang sama di pelukannya, sementara Nisa akhirnya kembali tertidur bersandar di bahunya.

Bu Lastri datang dua kali semalam — pertama membawa susu formula untuk bayi, kedua membawa segelas teh hangat untuk Raka yang tidak ia sentuh. Perempuan itu tidak banyak bicara. Ia hanya melakukan tugasnya dengan gerakan yang berpengalaman dan mata yang penuh dengan kesedihan profesional — kesedihan orang yang sudah terlalu sering menyaksikan momen seperti ini tapi tidak pernah benar-benar kebal.

Sebelum subuh, Raka pergi sebentar ke kamar tempat Sumiati berbaring untuk terakhir kalinya.

Ia tidak mengizinkan Nisa ikut.

Ruangan itu sudah dibersihkan. Selimut sudah diganti. Tapi baunya masih ada — campuran antiseptik dan sesuatu yang lebih berat, lebih dalam, yang tidak bisa dibersihkan oleh cairan apapun. Raka berdiri di ambang pintu lama sekali sebelum melangkah masuk.

Wajah Sumiati tenang. Lebih tenang dari wajahnya yang terakhir Raka lihat — wajah yang kesakitan, wajah yang berjuang. Sekarang tidak ada lagi perjuangan di sana. Hanya damai yang membuat Raka iri sekaligus hancur.

Ia duduk di tepi ranjang. Mengambil tangan istrinya — sudah dingin, sudah kaku di ujung jari-jarinya.

"Mi," bisiknya. Suaranya tidak keluar sempurna. "Bayinya cantik. Persis kamu waktu senyum."

Ia tidak berkata lagi setelah itu. Kata-kata terasa tidak cukup dan terlalu banyak sekaligus.

Jenazah Sumiati dibawa pulang menjelang siang dengan mobil sewaan yang dibantu urunannya oleh Marni — tetangga mereka yang kabar kematian Sumiati entah bagaimana sudah sampai ke telinganya sebelum fajar. Perempuan lima puluh tahun itu muncul di klinik dengan mata sembab dan termos berisi nasi dan lauk yang ia masak sebelum subuh, dan Raka tidak pernah merasa begitu lega melihat seseorang dalam hidupnya.

"Biar Marni yang urus semua, Ka," kata Marni. "Kamu pegang anakmu saja."

Raka hanya mengangguk.

Nisa duduk di jok belakang mobil sewaan itu, di samping Raka yang menggendong bayi. Ia tidak bertanya apa-apa selama perjalanan. Matanya menatap keluar jendela — jalanan pagi yang mulai ramai, tukang sayur yang mendorong gerobak, ibu-ibu yang menjemur baju di pagar, semua orang menjalani hari yang normal, semua orang tidak tahu bahwa di dalam mobil butut ini ada keluarga yang baru saja kehilangan separuh langitnya.

"Bapak," kata Nisa tiba-tiba, tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela.

"Ya."

"Ibu tidak ikut pulang, ya."

Bukan pertanyaan. Nisa mengucapkannya dengan nada yang terlalu datar untuk seorang anak tujuh tahun — nada orang yang sudah menerima sesuatu yang tidak ingin ia terima tapi tidak punya pilihan.

Tenggorokan Raka terasa seperti ada batu yang tersangkut. "Ibu pulang duluan, Nis. Ke tempat yang lebih baik."

Nisa diam sebentar. "Surga?"

"Iya."

"Jauh?"

"Jauh. Tapi dari sana bisa lihat kita."

Nisa mengangguk pelan. Tangannya yang kecil bergerak — menyentuh selimut bayi yang terbuka sedikit, merapikannya. Gerakan kecil yang tidak perlu, tapi ia lakukan dengan serius, dengan hati-hati, seperti seseorang yang tiba-tiba memahami bahwa ada hal baru yang kini menjadi tanggung jawabnya.

"Namanya siapa?" tanya Nisa.

"Belum ada nama."

"Nisa boleh kasih nama?"

Raka menatap putri sulungnya. Anak yang semalam masih tidur dengan remah biskuit di bibirnya, yang rambutnya masih dikepang oleh tangan ibunya, yang pagi ini sudah harus belajar menjadi kakak sekaligus kehilangan ibu.

"Boleh," kata Raka pelan. "Nama apa?"

Nisa berpikir sebentar, dahinya berkerut serius. "Rini. Biar mirip sama Nisa."

Raka hampir tersenyum. Hampir.

"Rini," ulangnya pelan, mencoba nama itu di lidahnya. Bayi di pelukannya menggeliat sedikit, mulutnya mengerucut. "Rini Darmawan."

Pemakaman Sumiati berlangsung sore hari.

Raka berdiri di tepi liang kubur dengan Nisa di sisinya dan Rini — yang belum tahu apa-apa — dalam gendongan Marni. Beberapa tetangga hadir. Ada yang benar-benar berduka. Ada yang datang karena memang begitulah adat. Ada yang berbisik-bisik di belakang dengan nada yang tidak sepenuhnya menjaga kesopanan.

"Kasihan. Masih muda."

"Anaknya dua sekarang. Yang satu baru lahir."

"Bapaknya mau gimana? Kerja serabutan begitu."

Raka mendengar semuanya. Ia memilih untuk tidak mendengar semuanya.

Ia menatap tanah merah yang kini menutup Sumiati. Merah seperti luka. Merah seperti mawar yang pernah ia beli murah di pasar untuk ulang tahun pernikahan mereka tahun lalu — Sumiati tertawa bilang bunga apaan ini, sudah layu. Tapi ia tetap menaruhnya di gelas bening di meja makan sampai kelopaknya rontok satu per satu.

Seharusnya masih banyak ulang tahun pernikahan yang akan datang.

Nisa menyentuh jari-jari Raka. Tangannya kecil, hangat, dan genggamannya lebih erat dari yang seharusnya untuk anak seusianya.

Raka menggenggam balik. Tidak melepaskan sampai selesai.

Malam itu, untuk pertama kalinya, Raka menidurkan dua anak sekaligus sendirian.

Rini tidak mau diam. Bayi itu menangis dengan suara yang mengisi seluruh ruangan — suara yang terdengar seperti protes kepada dunia yang menyambutnya dengan begitu tidak adil. Raka menggendong, mengayun, berdiri, duduk, berdiri lagi. Punggungnya sakit. Matanya perih. Tapi setiap kali ia hampir menyerah, ia melihat Nisa yang sudah seharusnya tidur duduk di sudut kasur, memandanginya dengan mata yang tidak bisa dipejamkan.

"Bapak," panggil Nisa pelan.

"Tidur, Nis."

"Nisa tidak ngantuk."

Raka menatap putrinya. "Besok sekolah."

"Besok Ibu sudah tidak ada." Nisa mengucapkannya bukan dengan nada sedih — tapi dengan nada anak yang baru saja memverifikasi fakta yang berat. "Ibu yang biasanya anter Nisa."

Raka menarik napas panjang. Ia duduk di tepi kasur, Rini masih dalam gendongannya — ajaibnya, bayi itu mulai diam, mungkin kelelahan menangis. "Besok Bapak yang anter."

"Bapak kan mau kerja."

"Bapak anter dulu, baru kerja."

Nisa memandanginya sebentar. Lalu mengangguk pelan dan berbaring, menarik selimut tipis hingga ke dagu. Matanya masih terbuka, menatap langit-langit.

"Bapak," panggilnya lagi, hampir berbisik.

"Ya."

"Kita tidak apa-apa, kan?"

Raka menatap langit-langit yang sama. Ada retak kecil di sudutnya — ia ingat sudah lama ingin menambalnya tapi selalu lupa. Sekarang ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menambalnya besok. Hal kecil yang bisa ia perbaiki.

"Tidak apa-apa, Nis," katanya. "Kita tidak apa-apa."

Rini mendecap pelan dalam tidurnya yang baru saja tiba.

Tapi janji itu lebih mudah diucapkan daripada ditepati — dan Raka akan menemukan betapa beratnya di pagi-pagi yang akan datang, ketika ia harus belajar sesuatu yang tidak pernah ada di dalam bayangannya: cara memandikan bayi yang baru lahir, seorang diri, dengan tangan yang biasa mengangkat karung