Ruang kantor di lantai dua belas ini terasa seperti kuburan beton. Cahaya dari lampu pendar di langit-langit berkedip pelan, mengeluarkan suara dengungan elektrik rendah yang sejak tiga jam lalu mulai menyiksa gendang telingaku. Aku menatap layar monitor yang menampilkan barisan kode dan antarmuka aplikasi dengan mata yang terasa seperti ditusuk ribuan jarum kecil. Huruf-huruf di layar mulai berbaur menjadi satu, kehilangan maknanya. Kuangkat tangan, memijat pangkal hidungku kuat-kuat sambil memejamkan mata. Tulang punggungku menjerit protes, kaku dan perih setelah dipaksa mempertahankan postur duduk yang sama sejak jam sembilan pagi.
Malam ini, aku adalah orang terakhir yang tersisa di divisi pengembangan. Rekan-rekanku sudah menyerah sejak pukul delapan malam tadi, meninggalkan cangkir-cangkir kopi yang isinya mulai mengering dan menyisakan noda kecoklatan di meja masing-masing. Udara dingin dari pendingin ruangan yang entah mengapa selalu disetel pada suhu maksimal di malam hari, mulai menusuk menembus rajutan kardigan tipis yang kukenakan.
Aku melirik jam digital di sudut kanan bawah monitor komputerku. Angkanya bercahaya kebiruan di tengah kegelapan ruangan.
23.45.
Sudah waktunya menyerah. Tubuhku sudah mencapai batas toleransinya. Aku menekan tombol save, mematikan komputer, dan membiarkan keheningan pekat langsung menelan ruangan begitu bunyi kipas prosesor berhenti berputar. Kumasukkan laptop, botol minum, dan beberapa dokumen ke dalam tas dengan gerakan lambat dan mekanis. Suara resleting tasku terdengar luar biasa keras memecah kesunyian lantai ini.
Lorong menuju lift terasa lebih panjang dari biasanya. Karpet tebal meredam suara langkah sepatuku, menciptakan ilusi seolah aku sedang mengambang di udara. Saat pintu lift berbahan stainless steel terbuka, pantulan diriku di sana membuatku meringis. Kantung mataku menghitam parah, kulit wajahku pucat pasi seperti mayat hidup, dan rambutku berantakan tak keruan.
Lift turun dengan kecepatan konstan. Angka-angka lantai yang menyala merah menghitung mundur. 10... 7... 4... 1.
Ting.
Pintu lift terbuka, membawaku ke area lobi utama yang remang-remang. Sebagian besar lampu kristal besar di langit-langit lobi sudah dimatikan. Hanya ada beberapa lampu sorot kecil yang mengarah ke meja resepsionis berbahan marmer hitam. Di sana, Pak Yanto, satpam paruh baya yang sudah kuhafal wajahnya, sedang sibuk mengunci laci-laci meja dan merapikan buku tamu.
Mendengar suara langkahku, beliau menoleh dan tersenyum simpul, menampilkan garis-garis keriput di sudut matanya yang lelah. "Baru kelar lemburnya, Mbak Maya?"
Aku membalas senyumnya dengan susah payah, mengangguk pelan. "Iya nih, Pak. Kejar deadline aplikasi besok pagi. Bapak udah mau shift malam ke belakang?"
"Iya, Mbak. Ini pintu utama mau saya kunci dari dalam, saya standby di pos belakang dekat parkiran. Mbak Maya nunggu jemputan apa pesen online?" tangannya dengan cekatan memutar anak kunci raksasa pada pintu kaca ganda di pintu masuk utama.
"Pesen online aja, Pak. Kalau gitu saya tunggu di luar aja ya, di bawah kanopi biar Bapak bisa langsung kunci."
"Hati-hati lho, Mbak. Di luar hujannya deres banget, badai dari sore belum reda-reda. Kalau lama dapetnya, ketuk kaca aja, nanti saya bukain lagi buat neduh di dalem."
"Siap, Pak. Makasih ya."
Aku melangkah keluar menembus pintu kaca. Detik itu juga, perbedaan tekanan udara dan suhu langsung menghantamku.
Hujan malam ini tidak turun dari langit, melainkan tumpah ruah seperti bejana raksasa yang pecah. Titik-titik air sebesar kelereng menghantam permukaan aspal jalan masuk gedung dengan beringas. Suaranya memekakkan telinga, sebuah gemuruh statis yang menelan semua suara lain di kota ini. Kabut air memercik ke mana-mana, menciptakan dinding putih transparan yang mengaburkan pandangan ke arah Jalan Jenderal Sudirman di depan sana. Udara di luar sini luar biasa dingin, menusuk masuk ke tulang dan membawa aroma khas tanah basah yang tercampur dengan bau karat dari pagar besi, serta polusi knalpot yang mengendap di genangan air.
Di belakangku, terdengar bunyi klik yang berat. Pak Yanto sudah mengunci pintu kaca. Aku menoleh ke belakang, melihat bayangan punggungnya yang menjauh di dalam lobi yang gelap, hingga akhirnya menghilang di balik lorong menuju area belakang. Kini, aku benar-benar sendirian di teras lobi ini, terkurung di bawah kanopi beton sementara badai mengamuk di sekelilingku.
Aku menggosokkan kedua telapak tangan dengan cepat, meniupkan udara hangat dari mulut untuk mengusir rasa kebas yang mulai merayap di ujung-ujung jariku. Aku merogoh saku kardigan, mengeluarkan ponselku.
Layarnya menyala seketika, menyorotkan cahaya putih yang menyilaukan ke arah wajahku. Aku menyipitkan mata, mengusap tetesan embun di layarnya. Angka persentase baterai di sudut kanan atas menunjukkan warna merah yang kritis: 14%. Sisa daya yang sangat menyedihkan untuk situasi seperti ini.
Jari jempolku yang sedikit kaku karena dingin menekan ikon aplikasi ojek online berwarna hijau. Layar loading muncul selama beberapa detikβlebih lama dari biasanya, menandakan koneksi internet yang tercekik oleh cuaca ekstremβsebelum akhirnya memunculkan peta digital.
Aku mendesah frustrasi. Peta itu kosong melompong. Ikon-ikon motor dan mobil yang biasanya berkerumun layaknya semut di sekitar titik lokasiku sama sekali tidak terlihat. Jalan raya di peta digital itu membentang seperti garis abu-abu mati. Tidak ada satupun pergerakan. Sistem algoritma aplikasi ini seolah menyatakan bahwa kota ini sudah mati.
Kuketik alamat rumahku di kolom pencarian. Jaraknya dua puluh dua kilometer, membelah kota menuju area pinggiran yang sepi. Di malam yang normal, butuh waktu sekitar empat puluh lima menit dengan motor. Di bawah badai yang membutakan jarak pandang ini? Hanya Tuhan yang tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan. Layar aplikasi memuat ulang, dan mataku sedikit membelalak melihat tarif yang muncul. Angkanya dicetak dengan warna merah menyala, menandakan surge pricing. Nyaris tiga kali lipat dari harga normal.
Sistem seolah sedang mengejekku, memberitahu bahwa mengharapkan ada pengemudi yang mau menembus badai di tengah malam demi uang segitu adalah hal yang mustahil. Tapi aku tidak punya kemewahan untuk memilih. Tidak ada taksi konvensional yang melintas. Berjalan kaki menembus hujan ke halte TransJakarta terdekat sama saja dengan mengantarkan diri ke rumah sakit akibat hipotermia.
Aku menekan tombol 'Pesan Sekarang' dengan satu sentuhan mantap.
Lingkaran hijau di tengah layar mulai berputar lambat. Teks kecil di bawahnya berkedip berirama: Mencari pengemudi di sekitar Anda...
Aku menggeser posisiku, menyandarkan bahu kiriku pada pilar beton besar penyangga kanopi. Sebagai seseorang yang bekerja di balik layar pembuatan aplikasi, aku tahu persis bagaimana sistem ini memproses permintaanku. Server sedang mengirimkan sinyal ke radius satu kilometer, mencari perangkat driver yang aktif, menunggu salah satu dari mereka menyentuh tombol terima. Di saat hujan lebat dan nyaris tengah malam, latency akan tinggi. Banyak pesanan yang diabaikan. Aku sudah menyiapkan mental, menghitung dalam hati kapan notifikasi 'Maaf, pengemudi tidak ditemukan' akan muncul, memaksaku menekan tombol pesan ulang hingga lima atau enam kali.
Aku menunduk, memejamkan mata, membiarkan ritme suara hujan yang menghantam kanopi mengalihkan rasa penat di kepalaku. Aku menghitung detik. Satu... dua...
Ting!
Mataku tersentak terbuka. Ponselku bergetar keras, nyaris terlepas dari telapak tanganku yang licin. Layar ponselku berganti antarmuka dalam kedipan mata.
Pengemudi ditemukan.
Alisku berkerut tajam. Napasku tertahan sesaat. Aku menatap layar itu dengan rasa bingung yang bercampur dengan ketidakpercayaan. Hitungannya bahkan belum sampai detik ketiga sejak jariku menekan tombol pesan. Bagaimana bisa?
Ini sama sekali tidak masuk akal secara teknis. Bahkan jika ada pengemudi yang kebetulan sedang menepi dan memegang ponselnya tepat di seberang gedungku, tetap butuh jeda waktu bagi data untuk bolak-balik dari server, butuh waktu bagi mata manusia untuk membaca rute, dan butuh waktu bagi jari untuk menekan tombol terima. Tidak ada proses di dunia nyata yang terjadi secepat ini. Proses matching ini terasa... instan. Seolah-olah sistem tidak melakukan pencarian sama sekali, melainkan langsung melemparkan pesanan ini kepada sesuatu yang memang sudah menunggunya sejak awal.
Perasaan janggal mulai merayap di tengkukku, perlahan tapi pasti.
Aku mengusap layar ponselku dengan ibu jari, melihat ke arah peta. Biasanya, setelah mendapatkan pengemudi, aplikasi akan menampilkan garis biru yang menunjukkan rute dari lokasi pengemudi menuju titik penjemputan, lengkap dengan estimasi waktu dalam hitungan menit.
Namun, yang kulihat di layar membuat darahku terasa mengalir lebih lambat. Antarmukanya rusak, atau setidaknya, menampilkan anomali yang tidak pernah kulihat selama bertahun-tahun menggunakan aplikasi ini.
Tidak ada rute garis biru. Tidak ada ikon motor kecil yang bergerak di peta. Dan tidak ada estimasi waktu kedatangan. Tepat di bawah nama pengemudi, di baris yang seharusnya menunjukkan seberapa jauh jaraknya, tertera deretan angka dan huruf yang membuat instingku memberontak.
Jarak: 0 meter.
Nol meter.
Aku memiringkan ponselku, memastikan tidak ada pantulan air atau kotoran yang membuat mataku salah membaca. Angkanya tetap sama. Nol meter. Sebuah kemustahilan ruang dan waktu.
"Pasti nge-bug parah servernya," bisikku pada diri sendiri, suaraku terdengar serak, berusaha merasionalisasi ketakutan yang mendadak muncul. Cuaca buruk sering kali mengacaukan sinyal GPS. Sering kali lokasi di peta melonjak-lonjak tidak karuan. Mungkin sistem menganggap koordinat pengemudi bertumpuk dengan koordinatku. Ya, itu penjelasan logisnya.
Kugeser layar ke atas untuk melihat profil pengemudi tersebut, mencari sedikit ketenangan dari informasi visual. Namanya tertera dengan jelas: Suryo.
Tidak ada foto profil. Lingkaran yang seharusnya menampilkan wajah seseorang hanya diisi oleh gambar siluet manusia abu-abu default dari sistem. Plat nomor kendaraannya tercetak jelas, sebuah kombinasi huruf dan angka daerah sini, dengan deskripsi kendaraan: Honda Supra Fit Lama. Motor tua.
Tapi, ketika mataku turun mencari detail statistik pengemudi untuk meyakinkan diriku bahwa dia adalah manusia nyata, perutku mendadak mual. Kolom jumlah perjalanan yang telah diselesaikan tidak menunjukkan angka apa-apa. Kosong. Bintang rating yang biasanya berwarna kuning menyala di bawah nama juga tidak ada. Bukan tertulis 0 atau bintang abu-abu, melainkan bagian antarmuka UI itu benar-benar hilang, blank, seolah front-end aplikasi gagal menarik data database-nya. Atau lebih menakutkan lagi... karena data riwayat orang bernama Suryo ini memang tidak pernah ada dalam sistem.
Tanganku mulai gemetar tipis, entah karena suhu udara yang semakin anjlok atau karena kepanikan halus yang mulai menyuntikkan adrenalin ke aliran darahku. Aku segera menekan ikon pesan berbentuk balon percakapan di aplikasi. Aku harus memastikan ada manusia di ujung sana.
Aku: Malam, Pak. Posisinya di mana ya? Titik jemput saya sesuai di lobi gedung.
Kutekan tombol kirim.
Dua centang abu-abu muncul sepersekon, lalu seketika berubah menjadi biru terang.
Dibaca. Dalam hitungan milidetik. Nyaris persis bersamaan dengan saat jariku melepaskan tombol kirim di layar. Respons yang sama sekali tidak manusiawi. Cepatnya tidak wajar.
Aku menahan napas, menatap layar dengan tegang, menunggu tulisan 'Suryo sedang mengetik...' muncul di bagian atas bar percakapan. Sepuluh detik berlalu. Angin malam berhembus kencang, membawa tampias air hujan yang mengenai wajahku. Dua puluh detik. Tiga puluh detik. Tidak ada perubahan status. Tidak ada balasan. Pesanku dibaca oleh sesuatu yang tidak berniat menjawabnya.
Tiba-tiba, bulu kuduk di lenganku dan di belakang leherku berdiri serempak.
Sebuah perasaan aneh menghantamku. Perasaan diawasi. Rasanya begitu berat dan menindas, seperti ada tekanan barometrik yang berubah drastis di sekitarku. Hawa dingin yang mengelilingiku tidak lagi terasa seperti udara malam, melainkan seperti suhu dari sebuah ruangan pendingin dagingβkering, menusuk, dan mematikan.
Suara hujan yang beringas itu entah bagaimana mengalami distorsi di telingaku. Gemuruh air yang menghantam aspal seolah direnggut frekuensinya, berubah menjadi dengungan rendah yang membuat telinga berdenging. Di balik suara redam itu, keheningan absolut mengambil alih lobi gedung. Keheningan yang begitu pekat hingga aku bisa mendengar detak jantungku sendiri yang berpacu di dada.
Secara refleks, aku melangkah mundur hingga punggungku menabrak kasar pintu kaca lobi di belakangku. Suara benturan tasku terdengar keras. Aku mencengkeram tali tas kerjaku erat-erat.
Aku mendongak dari layar ponsel, melemparkan pandangan liar ke area jalan masuk gedung. Gelap dan kosong. Lampu jalan yang remang-remang hanya menyoroti aspal basah yang dipenuhi genangan air beriak. Tidak ada sorot lampu kendaraan dari arah gerbang. Tidak ada suara gesekan ban atau deru knalpot motor tua yang mendekat.
Logikaku menjerit. Jika aplikasi mengatakan jaraknya nol meter, dan pesanan diterima seketika, seharusnya pengemudi itu sudah ada di sini. Di sampingku. Di dalam jarak pandang mataku.
Tapi aku sendirian.
Aku mencoba menelan ludah, namun tenggorokanku terasa kering kerontang. "Bego," umpatku pelan dengan suara bergetar. "Cuma aplikasi error aja dibikin parno. Dia pasti masih di jalan... neduh di warung kopi..."
Namun, argumen logisku terpotong saat sudut mata kananku menangkap pergerakan.
Sesuatu yang lambat dan tak bersuara.
Pergerakan itu bukan berasal dari arah jalan raya utama di depan sana. Bukan dari area yang terang. Melainkan dari arah kanan gedungku. Di sana, terdapat sebuah lorong sempit yang terjepit di antara dinding gedung kantorku dan tembok beton pembatas bangunan sebelah. Lorong itu adalah jalan buntu total. Tempat pembuangan puing dan tumpukan material sisa renovasi yang tak terurus. Lebarnya tak lebih dari satu setengah meter. Lantainya berupa tanah liat bercampur kerikil yang tak pernah diaspal, penuh lumpur dan beling. Tempat itu tidak memiliki sumber cahaya, selalu gelap gulita, dan jelas bukan tempat yang bisa dilalui oleh kendaraan apa pun dari luar.
Dari kedalaman lorong buntu yang segelap tinta itulah... sebuah cahaya tunggal perlahan menyala.
Napas tertahan kuat di dada. Mataku terbelalak tak percaya.
Itu adalah sorot lampu kendaraan. Warnanya kuning keruh, redup dan berkedip sesekali, memancarkan cahaya yang tampak lelah, seperti nyala lilin yang hampir mati tertiup angin.
Lalu, terdengar suaranya.
Bukan suara mesin pembakaran yang menderu. Sama sekali bukan. Itu adalah suara putaran ban karet yang bergesekan lambat dengan lumpur dan kerikil. Lemah, berat, terseret-seret.
Srekk... srekk... srekk...
Suara itu merobek frekuensi hujan yang anehnya terdengar semakin menjauh.
Dari balik tirai kegelapan pekat di lorong buntu itu, muncullah moncong sebuah motor matic model lama yang bodinya sudah dipenuhi karat dan lumpur kering. Motor itu bergerak maju merayap keluar dari lorong, membelah genangan air kotor, tanpa mengeluarkan suara mesin secuil pun. Bisu. Seolah motor itu meluncur begitu saja didorong oleh tenaga tak kasat mata.
Pengendaranya duduk kaku di jok yang robek-robek. Posturnya tegak lurus secara tidak natural. Ia mengenakan jas hujan model kelelawar berwarna hijau tua yang luar biasa kotor, sobek di beberapa bagian ujungnya hingga menjuntai layaknya kain perca basah. Jas hujan itu kebesaran, menutupi seluruh proporsi tubuhnya. Kepalanya diselubungi helm full-face berwarna hitam legam yang sudah pudar termakan cuaca. Kaca visor helm itu dipenuhi goresan dalam yang tak terhitung jumlahnya, tertutup embun dan lapisan noda gelap yang membuatnya mustahil untuk ditembus oleh pandangan mata manusia.
Motor itu terus merayap dalam kebisuan yang mematikan, perlahan-lahan meninggalkan area lorong, hingga akhirnya roda depannya berhenti berputar tepat lima langkah di depanku.
Tepat di perbatasan garis kanopi lobi gedung.
Air hujan mengguyur sosok itu tanpa ampun. Tetesan air meluncur turun dari jas hujannya, jatuh ke aspal menciptakan genangan gelap di bawah kakinya. Pengemudi itu tidak menurunkan kakinya dari pijakan motor untuk menahan keseimbangan. Ia tetap berada dalam posisi melaju, namun motor itu berdiri tegak sempurna di tempatnya.
Ia tidak menoleh ke arahku. Kepalanya lurus menghadap lobi, seolah lehernya dikunci menggunakan gips beton. Dua tangannya yang terbalut sarung tangan kain murahan berwarna hitam pekat mencengkeram stang motor dengan cengkeraman mati.
Aku tidak bisa bergerak. Kaki-kakiku terasa dipaku ke lantai ubin kanopi. Otakku berteriak, memberikan sinyal bahaya tingkat tinggi, memerintahkan kakiku untuk berbalik, berlari, menggedor pintu kaca lobi, memanggil Pak Yanto. Namun otot-ototku menolak patuh. Hawa dingin yang memancar dari sosok diam di atasku itu membekukan seluruh saraf motorku.
Tepat saat keheningan di antara kami berdua mencapai titik puncak ketegangan, layar ponsel dalam genggamanku menyala terang, menggetarkan tanganku dengan kasar.
Sebuah pop-up notifikasi dari aplikasi muncul menutupi layar.
Pengemudi Anda telah tiba.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar