Aroma perkamen tua dan tinta besi menguar kental di ruang arsip bawah tanah. Di bawah pendar cahaya lampu minyak yang berkedip tak beraturan, Arka Virel mengusap matanya yang perih. Tangannya yang kapalan karena terlalu sering memindahkan tong logistik dan mengikat tali rami, kini meraba permukaan kasar sebuah peta benua raksasa.

Tugasnya sederhana: memastikan manifes barang cocok dengan rute kapal dagang. Namun, malam ini, perhatiannya tertuju pada sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat napasnya tertahan.

Jari telunjuknya menyusuri garis pantai timur, melewati kepulauan rempah, melintasi lautan luas yang digambarkan dengan ilustrasi monster laut—hingga jarinya tiba-tiba berhenti.

Peta itu tidak berlanjut.

Bukan terpotong karena robek, dan bukan pula diakhiri oleh bingkai hiasan kompas. Garis-garis benua dan gelombang laut itu terhenti begitu saja. Selebihnya hanyalah kertas perkamen yang kosong. Bersih. Memutih. Sebuah kehampaan yang terasa lebih seperti ancaman daripada ketidaktahuan.

Arka menelan ludah. Rasa dingin menjalari tengkuknya. Di kalangan pekerja pelabuhan, ada desas-desus yang hanya diucapkan dalam bisikan setelah gelas bir ketiga. Mereka menyebutnya Ujung Dunia. Sebuah titik di mana laut tidak lagi memiliki ombak, di mana angin berhenti bernapas, dan di mana kapal-kapal yang terlalu berani tidak pernah kembali untuk menceritakan apa yang mereka lihat.

"Kenapa mereka tidak menggambar laut saja?" gumam Arka pada dirinya sendiri, suaranya terdengar terlalu keras di ruangan yang sepi. "Setidaknya beri warna biru."

Tetapi kekosongan di atas kertas itu menolak untuk dipahami. Makin lama Arka menatapnya, ruang kosong itu seolah perlahan membesar, menyedot cahaya dari sekitarnya. Garis-garis tinta di batas peta tampak bergetar pelan, seolah berusaha menarik diri dari ketiadaan tersebut.

Arka segera memalingkan wajah, mengutuk matanya yang mungkin sudah terlalu lelah. Ia menutup gulungan peta itu dengan kasar, mengikatnya dengan pita kulit, dan melemparkannya ke dalam keranjang arsip. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang berderit, membiarkan matanya terpejam. Hanya butuh istirahat, pikirnya. Hanya butuh lima menit.

Dalam sekejap, kesadarannya ditarik paksa.

Arka tidak bermimpi tentang gudang, pelabuhan, atau tumpukan gandum. Ia mendapati dirinya berdiri di atas pijakan batu yang halus, begitu sunyi hingga ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang memburu. Di depannya, langit dan laut tidak memiliki batas horizon. Semuanya terputus. Garis realitas hancur menjadi jurang kegelapan mutlak yang tak berdasar.

Ia mencoba mundur, tetapi kakinya tidak bisa digerakkan. Sesuatu yang dingin dan tak kasatmata mencengkeram pergelangan kakinya. Tarikan itu tidak kuat, namun pasti. Pasir dan kerikil di bawah sepatunya mulai longsor, jatuh ke dalam kehampaan tanpa menghasilkan suara pantulan.

Lalu, pijakan itu hancur.

Arka terjatuh. Ia menggapai-gapai ke udara kosong. Angin menderu menulikan telinga, tetapi udara di sekitarnya terasa beku dan hampa. Kegelapan menelannya hidup-hidup, dan tepat ketika ia merasa tubuhnya mulai terurai menjadi ketiadaan—

Arka terbangun dengan napas tersengal, dadanya naik-turun dengan kasar. Keringat dingin membasahi seragam kerjanya. Peta yang tadi sudah ia gulung dan lempar ke keranjang, kini terbentang lebar di atas mejanya, tepat memperlihatkan bagian yang kosong.