Kabut tebal menyelimuti Pelabuhan Obsidian malam itu. Suara air yang menampar lambung kapal terdengar redup, teredam oleh pekatnya kabut yang seolah memiliki bentuk fisik. Di ujung dermaga kayu yang berderit, bersandar sebuah kapal hitam pekat. Tanpa lambang kerajaan, tanpa nama di lambungnya. Kapal itu terlihat seperti peti mati raksasa yang siap mengarungi lautan ketiadaan.

Arka memeluk papan dadanya erat-erat, mencoba mencari rasa aman dari deretan angka dan daftar inventaris di tangannya. Ransum: cukup untuk tiga bulan. Air bersih: tiga ratus barel. Peralatan darurat: lengkap. Manifes penumpang: 5 orang.

Hanya lima orang untuk mengoperasikan kapal sebesar ini? Pikiran itu terus mengganggu Arka.

"Kau menghalangi jalan, Anak Logistik," sebuah suara serak dan berat mengejutkannya.

Arka menoleh dan menyingkir dengan cepat. Seorang pria bertubuh jangkung dengan jas kulit panjang berjalan melewatinya. Draven, sang peneliti. Di tangan pria itu terdapat berbagai macam alat ukur aneh—kompas dengan tiga jarum yang berputar liar, tabung kaca berisi cairan yang menyala redup, dan tumpukan buku tebal. Draven terus bergumam sendiri, menghitung sesuatu di udara kosong yang sama sekali tidak dipahami Arka.

Di geladak atas, Arka melihat sosok lain. Eidon, sang navigator. Pria kurus itu berdiri di dekat kemudi. Yang membuat bulu kuduk Arka meremang adalah cara Eidon melihat sekeliling. Eidon memegang teropong perunggu, namun ia tidak mengarahkannya ke horizon, laut, ataupun bintang. Eidon mendongak, menatap ke arah langit yang kosong tanpa bintang, di sudut yang sangat tidak wajar, seolah ia sedang membaca peta dari garis-garis retakan udara yang tidak terlihat oleh mata manusia biasa.

Arka menggelengkan kepala, mencoba fokus pada tugasnya. Ia berjalan menuju ke arah tumpukan peti di sudut dermaga, bersiap mencatat barang terakhir yang akan dinaikkan.

Di dekat peti tersebut, berdirilah Kael, penjaga yang disewa untuk ekspedisi ini. Kael berdiri diam, bersandar pada sebuah tong kayu besar di bawah pendaran cahaya lentera pelabuhan yang berayun ditiup angin. Jubahnya menutupi sebagian besar tubuhnya, dan wajahnya tertutup bayang-bayang tudung.

Arka menunduk untuk memeriksa gembok peti di dekat kaki Kael. Saat itulah matanya menangkap sesuatu yang membuat napasnya tercekat.

Lentera pelabuhan berayun ke arah mereka, melemparkan cahaya kuning yang terang. Bayangan Arka memanjang ke belakang, menari di atas papan dermaga. Bayangan tong kayu juga terbentuk jelas.

Tetapi Kael... Kael tidak memiliki bayangan.

Cahaya lentera menembus posisinya begitu saja, seolah pria itu tidak memiliki massa padat, seolah ia hanyalah ilusi yang menumpang di dunia nyata. Arka berkedip cepat, mengucek matanya. Ketika ia melihat lagi, Kael sudah menoleh ke arahnya dari balik tudung, meski matanya tak terlihat. Arka buru-buru menunduk, jantungnya berdebar keras, berpura-pura menulis di papan dadanya dengan tangan gemetar.

Apa-apaan mereka ini? jerit Arka dalam hati. Tidak ada satu pun yang normal!

Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri dengan bersandar pada fakta. Fakta tertulis. Ia mengangkat papan dadanya dan membaca ulang manifes penumpang yang resmi dicap oleh Kapten Lyra.

  1. Lyra (Kapten)
  2. Eidon (Navigator)
  3. Draven (Peneliti)
  4. Kael (Penjaga)
  5. Arka Virel (Logistik)

Lima. Hanya lima orang yang akan melakukan perjalanan terlarang ini. Arka mengangkat wajahnya, memindai sekeliling geladak kapal yang remang-remang untuk memastikan keberadaan mereka sebelum tali tambat dilepas.

Kapten Lyra di anjungan. Eidon di dekat kemudi. Draven sedang membongkar peralatannya di dekat tangga lambung. Kael baru saja melangkah naik ke geladak. Dan dirinya sendiri. Itu lima.

Arka menghembuskan napas lega. Setidaknya, perhitungannya benar.

Namun, ketika pandangannya tidak sengaja menyapu ke arah tiang utama kapal yang diselimuti kabut, darah Arka kembali mendingin. Di sana, duduk bersandar di pangkal tiang utama, sosok yang mengenakan jubah abu-abu lusuh. Sosok itu diam, tak bergerak, kepalanya menunduk menatap lantai kayu.

Arka menghitung ulang dengan jari yang bergetar. Lyra, Eidon, Draven, Kael, dirinya... dan sosok di tiang itu.

Ada enam orang di atas kapal.

Arka menatap papan manifesnya, lalu menatap sosok itu lagi. Tulisan di kertasnya jelas hanya lima. Siapa sosok keenam itu? Dan mengapa, entah bagaimana, Arka merasa bahwa sosok itu sudah berada di sana sejak awal, mengawasi mereka semua?