Surat panggilan itu menggunakan stempel lilin merah berlogo burung gagak bermata satu—lambang Serikat Ekspedisi Elit. Tidak ada pekerja logistik tingkat rendah seperti Arka yang pernah menerima surat ini, kecuali mereka melakukan kesalahan fatal yang berujung pada eksekusi.

Namun, di sinilah ia berada. Duduk canggung di ruangan megah dengan perabotan kayu eboni dan tirai beludru tebal yang menutupi sinar matahari siang. Di sekelilingnya, duduk empat pria dengan postur menakutkan. Ada yang memiliki bekas luka melintang di wajah, ada yang membawa pedang besar di punggung, dan ada yang auranya memancarkan niat membunuh yang pekat. Mereka adalah tentara bayaran, pemburu monster, dan penjelajah garis depan.

Di antara mereka, Arka hanyalah pemuda dua puluh tahun yang keahlian terbesarnya adalah menghitung kebutuhan ransum untuk perjalanan sebulan penuh.

Pintu ganda di ujung ruangan terbuka. Seorang wanita melangkah masuk. Hawa di ruangan itu mendadak turun beberapa derajat.

Kapten Lyra. Rambut peraknya diikat rapi, matanya semerah darah beku, dan posturnya memancarkan otoritas mutlak. Ia tidak membawa senjata, namun setiap langkahnya membuat para tentara bayaran di ruangan itu menahan napas.

"Aku tidak akan membuang waktu," suara Lyra memecah kesunyian. Dingin, tanpa emosi. Ia melemparkan sebuah kantong kulit ke atas meja. Bunyi dentingan koin emas di dalamnya cukup untuk membeli sebuah desa kecil. "Ini adalah uang muka. Sisa bayaran kalian adalah sepuluh kali lipat dari ini, dibayarkan jika kalian berhasil kembali."

Salah satu tentara bayaran mendengus. "Misi macam apa yang berani membayar sebesar itu, Kapten? Membunuh Raja?"

"Ekspedisi," jawab Lyra singkat. "Ke titik koordinat yang tidak ada di peta."

Ruangan itu seketika hening. Ketegangan mencekik udara. Koordinat yang tidak ada di peta. Semua orang di ruangan itu tahu apa artinya.

"Ujung Dunia," bisik pria berwajah codet. Ia berdiri perlahan, wajahnya pucat. "Itu misi bunuh diri. Tidak ada yang pernah kembali dari sana. Hukum alam tidak berlaku di tempat itu!"

"Itulah sebabnya bayarannya tinggi," Lyra menatap pria itu dengan pandangan merendahkan. "Jika kau takut, pintu keluar ada di belakangmu."

Satu per satu, para pria tangguh itu berdiri. Nyawa mereka jauh lebih berharga daripada emas sebanyak apa pun. Dalam waktu kurang dari satu menit, ruangan besar itu kosong.

Tinggal Arka.

Pemuda itu masih duduk mematung di kursinya, jari-jarinya gemetar mencengkeram lutut. Ia ingin berdiri, ia ingin berlari keluar seperti yang lain, tetapi kakinya terasa seberat timah. Tatapan Lyra kini sepenuhnya tertuju padanya. Wanita itu berjalan mendekat, langkah sepatunya menggema di lantai marmer.

"Arka Virel," sebut Lyra, membaca nama dari sebuah perkamen kecil. "Pekerja logistik. Tidak punya keahlian bertarung. Tidak punya sihir pelindung. Catatan medismu menunjukkan kau sering berhalusinasi akibat kelelahan."

Arka menelan ludah. "K-kalau Anda sudah tahu, untuk apa memanggil saya ke sini? Saya hanya tukang hitung barang. Saya tidak pantas berada di kapal itu."

Lyra berhenti tepat di depan Arka. Wanita itu membungkuk sedikit, menyejajarkan wajahnya dengan Arka. Jarak mereka begitu dekat hingga Arka bisa melihat pupil mata Lyra yang seolah menyerap cahaya.

"Para petarung itu mengandalkan otot dan logika yang terikat pada dunia ini. Di tempat yang akan kita tuju, logika adalah hal pertama yang akan membunuh mereka," bisik Lyra, suaranya mengalun seperti lagu kematian. "Kami tidak butuh ototmu, Arka."

"Lalu... apa yang Anda butuhkan dari saya?" suara Arka nyaris menghilang.

Senyum tipis, sangat tipis, terbentuk di sudut bibir Lyra. Senyum yang membuat darah Arka membeku.

"Kami butuh kamu," ucap Lyra perlahan, matanya menatap tepat menembus jiwa Arka. "Karena kamu pernah ke sana."