Jangkar ditarik dengan bunyi derit besi yang menyayat telinga, membelah kabut Pelabuhan Obsidian yang tebal. Saat kapal mulai bergerak perlahan meninggalkan dermaga, Arka mengedipkan matanya dengan kuat. Ia menatap lekat-lekat ke arah pangkal tiang utama.
Kosong.
Tidak ada sosok berjubah abu-abu di sana. Hanya ada gulungan tali rami raksasa dan tong air hujan. Arka memijat pelipisnya yang berdenyut. Halusinasi lagi, batinnya, mencoba meyakinkan diri sendiri. Tidur kurang dari tiga jam dan ancaman mati memang kombinasi yang buruk untuk kewarasan.
Dua hari pertama pelayaran terasa seperti ironi yang menyiksa. Dunia tampak sepenuhnya normal, hampir mengejek ketakutan Arka. Matahari terbit dari timur, camar-camar laut sesekali melintas mencari sisa ikan, dan ombak menghempas lambung kapal dengan ritme yang menenangkan. Semuanya terasa begitu biasa, hingga Arka nyaris percaya bahwa Ujung Dunia hanyalah mitos yang dibesar-besarkan.
Namun, di sore hari ketiga, keabnormalan pertama mulai merayap pelan.
Arka sedang duduk di atas peti kayu, menyusun daftar persediaan ketika ia mendengar Draven mengumpat kasar dari balik kemudi. Peneliti itu mengetuk-ngetuk kompas kuningan besarnya dengan raut wajah frustrasi.
"Medan magnetnya menangis," gumam Draven, suaranya lebih terdengar seperti rintihan ketakutan daripada observasi ilmiah.
Arka berdiri dan mendekat dengan hati-hati. "Ada masalah dengan alatnya, Tuan Draven?"
Draven menatap Arka dengan mata melebar, lalu menyorongkan kompas itu ke depan wajah sang logistik. Arka menunduk. Jarum merah yang seharusnya dengan patuh menunjuk ke arah utara kini berputar liar. Bukan hanya berputar cepat seperti gasing, melainkan bergerak patah-patah secara acak—ke barat laut, lalu melompat ke tenggara, lalu bergetar hebat di titik selatan.
Tiba-tiba, putaran jarum itu berhenti. Bunyi krek kecil terdengar dari dalam tabung kaca. Jarum itu tidak lagi menunjuk ke arah mana pun di permukaan bumi. Alih-alih mendatar, jarum itu bengkok dan menunjuk lurus ke arah bawah. Ke dasar laut yang gelap.
Sebuah rasa dingin yang tidak wajar merayap naik dari ujung tumit Arka.
"Ini bukan kerusakan mekanis," bisik Draven sambil mencengkeram rambutnya. "Sesuatu di bawah sana... sedang menarik orientasi dunia ini."
Arka memalingkan wajah, merasa mual tanpa alasan yang jelas. Ia menengadah, berusaha mencari udara segar, mencari langit biru yang cerah untuk meyakinkan dirinya bahwa mereka masih berada di bumi yang ia kenal.
Namun, saat matanya menatap bentangan awan tipis di atas tiang layar, langit itu merespons.
Selama satu detik yang mematikan, warna biru di atas mereka... bergetar. Bukan awan yang bergerak tertiup angin, melainkan langit itu sendiri. Lapisan realitas beriak tajam, seperti pantulan pemandangan di genangan air yang tiba-tiba dilempar batu kerikil. Garis-garis udara melengkung tak wajar sebelum kembali merapat dengan cepat.
Arka menahan napas. Tangannya mencengkeram pagar kapal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Dunia baru saja berkedip.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar