Riak di langit itu ternyata bukan sekadar ilusi optik. Itu adalah gerbang.
Perubahan itu terjadi begitu tiba-tiba hingga tubuh Arka terdorong ke depan, seolah kapal baru saja menabrak dinding yang terbuat dari udara padat. Papan dadanya terlepas dari pegangan, jatuh menghantam geladak.
Trak.
Suara kayu yang membentur papan itu terdengar menggelegar, sangat keras dan tajam. Arka butuh beberapa detik penuh untuk menyadari mengapa suara sekecil itu terdengar bagai ledakan meriam.
Ombaknya hilang.
Arka berlari ke pinggir kapal, menatap ke bawah. Laut biru beriak yang sejak awal menemani mereka kini telah lenyap. Permukaan air di sekitar kapal kini rata, mulus, dan berwarna hitam pekat seperti cermin obsidian cair. Tidak ada satupun buih. Tidak ada suara deburan air yang menampar lambung kayu. Sepi yang absolut dan menulikan kini menyelimuti mereka.
Layar kapal di atas tiang terkulai lemas tanpa ada setitik pun angin yang mengembusnya. Namun, anehnya, lambung kapal membelah air hitam itu dengan mulus. Mereka terus melaju, didorong oleh sesuatu yang sama sekali tidak dapat dijelaskan oleh hukum alam mana pun.
"Kita sudah melewati batasnya," suara Kapten Lyra turun dari anjungan. Nadanya begitu datar, nyaris mengapresiasi kengerian di depan mereka.
Arka memungut papan dadanya dengan tangan gemetar. Ia menatap ke sekeliling geladak. Draven sedang mengusap peluh di dahinya yang pucat pasi, menolak untuk melihat ke luar kapal. Eidon, sang navigator, mematung dengan mata membelalak ke arah cakrawala yang kini sepenuhnya diselimuti kabut abu-abu tanpa gradasi.
Lalu, pandangan Arka jatuh pada Kael. Sang penjaga itu berdiri tegap di dekat pintu turun, jubahnya diam tak bergerak. Di tempat yang tidak memiliki cahaya matahari dengan arah yang jelas ini, ketiadaan bayangan Kael terasa semakin mencolok, seolah ia adalah sebuah kekosongan yang diisi oleh siluet manusia.
Keheningan ini tidak wajar. Ini adalah jenis keheningan yang menekan gendang telinga, yang membuat detak jantung sendiri terdengar seperti ancaman. Arka merasa dadanya sesak, ruang di sekitarnya terasa mengecil.
Tiba-tiba, Kael memutar kepalanya dari arah laut menuju Arka. Gerakannya pelan, dan dari balik tudungnya, suara parau yang jarang ia gunakan mengalun membelah kesunyian matikan tersebut.
"Arka," panggil Kael perlahan.
Arka menelan ludah paksa. "Ya?"
Kael menunjuk ke arah papan dada di tangan Arka. "Di pelabuhan, kau menghitung persediaan dan membaginya sesuai kepala. Coba lihat kembali catatan manifesmu. Tepat sebelum kita berangkat tadi..."
Kael memberi jeda yang terasa seperti seabad.
"...kita berangkat berapa orang?"
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar