Udara di Terminal Terpadu pagi itu terasa seperti sup panas yang dimasak dengan knalpot bus dan aroma keringat manusia. Bram duduk di bangku peron nomor sembilan, menatap lurus ke aspal dengan pandangan kosong. Di sampingnya, sebuah koper hitam besar berdiri kaku, seolah ikut berduka atas apa yang tersimpan di dalamnya: dua lusin kemeja yang sudah disetrika rapi, panduan wisata "101 Cara Menikmati Keheningan", dan sebuah kotak beludru kecil berisi cincin yang baru saja ditolak mentah-mentah dua malam lalu.
"Logika, Bram. Gunakan logika," bisik Bram pada dirinya sendiri. Suaranya serak, khas orang yang menghabiskan 48 jam terakhir dengan bertanya-tanya pada dinding kamar di mana letak kesalahannya.
Bram adalah tipe pria yang percaya bahwa hidup bisa dijinakkan dengan diagram alur. Dia bekerja sebagai analis risiko di sebuah perusahaan asuransi. Baginya, setiap keputusan harus memiliki perhitungan probabilitas. Tapi, menghitung probabilitas tunanganmu—yang sudah bersamamu selama empat tahun—tiba-tiba mengatakan, "Aku merasa kita lebih cocok jadi teman olahraga daripada teman hidup," adalah variabel yang tidak pernah masuk dalam tabel Excel-nya.
"Sialan," umpatnya lirih. Ia merogoh saku, mengeluarkan tiket bus "Agen Travel Bahagia" yang ia beli secara impulsif semalam. Rencananya sederhana: pergi ke arah mana pun yang paling jauh dari Jakarta, selama tempat itu tidak punya kenangan tentang kafe tempat mereka pertama kali bertemu atau toko furnitur tempat mereka pernah berdebat soal warna gorden.
Tepat saat itu, sebuah aroma parfum yang sangat menyengat—campuran vanila dan bunga mawar yang terlalu mahal untuk suasana terminal—menusuk hidungnya. Seorang wanita dengan kacamata hitam besar, topi pantai lebar, dan jaket kulit yang tampak terlalu panas untuk iklim tropis, menghempaskan diri di bangku sebelah Bram.
Wanita itu adalah Lia. Dan dia sedang menangis. Hebatnya, dia menangis dengan cara yang tetap estetis. Air matanya mengalir dengan presisi di bawah bingkai kacamata hitamnya, tidak sampai merusak sapuan maskara yang (sepertinya) tahan air.
Lia tidak peduli pada sekitar. Dia terus menatap layar ponselnya yang retak di bagian sudut. Di layar itu, terpampang foto seorang pria tampan dengan rahang tegas yang sedang merangkul wanita lain—yang sialnya, adalah sahabat Lia sendiri. Caption-nya: "New chapter, new vibes."
"Vibes kepalamu meledak!" Lia memaki ponselnya. Suaranya yang serak-serak basah membuat beberapa orang di peron menoleh.
Lia adalah seorang influencer gaya hidup dengan pengikut yang lumayan. Hidupnya biasanya dipenuhi dengan filter warm-gold dan sudut-sudut kopi estetik. Tapi pagi ini, hidupnya terasa seperti video blur tanpa musik latar. Diselingkuhi oleh pacar yang juga manajernya, sekaligus dikhianati oleh sahabat yang selama ini membantunya mengambil foto OOTD, adalah skenario terburuk yang pernah ia alami.
Bram menoleh sedikit, merasa terganggu sekaligus iba. "Mbak, maaf... tisu?" Bram menyodorkan sebungkus tisu saku yang selalu ia bawa (sesuai protokol kesiapsiagaan pribadi).
Lia menoleh, menurunkan sedikit kacamata hitamnya. Ia melihat pria di sampingnya: kacamata minus yang tebal, rambut yang belum disisir dengan benar, dan wajah yang tampak seperti orang yang baru saja kehilangan harta warisan.
"Terima kasih," jawab Lia singkat, menyambar tisu itu. "Kamu juga baru diputusin?"
Bram terkejut dengan kejujuran yang tiba-tiba itu. "Ehm, secara teknis... pembatalan komitmen sepihak."
Lia mendengus sambil mengusap hidungnya. "Sama saja. Intinya kita berdua adalah sampah yang dibuang di terminal ini. Nama saya Lia. Dan saya membenci laki-laki."
"Saya Bram. Dan saya sedang mencoba merasionalisasi rasa sakit ini," balas Bram kaku.
Seharusnya, itu adalah akhir dari interaksi mereka. Dua orang asing yang berbagi duka di sebuah terminal. Namun, speaker terminal yang sudah tua dan pecah suaranya tiba-tiba berbunyi:
"Panggilan untuk penumpang tujuan Ekspedisi Borneo... Harap segera menuju Gate Lima Belas. Bus akan segera diberangkatkan."
Bram melihat tiketnya. "Gate Lima Belas?" gumamnya. Di tiketnya tertulis Gate Lima, tapi angka '5'-nya sedikit kabur karena terkena tumpesan air mineral. Karena panik mendengar kata "segera diberangkatkan", logikanya yang biasanya tajam mendadak tumpul. Dia bangun dengan tergesa-gesa.
"Itu busku," kata Bram.
Lia melihat jam di ponselnya. "Eh, aku juga ke arah sana. Aku cuma mau pergi sejauh mungkin. Pokoknya yang ada kata 'Borneo' atau 'Hutan'. Aku mau jadi tarzan saja daripada di kota ini." Lia ikut berdiri, menyeret koper bermotif macan tutulnya yang sangat mencolok.
Mereka berdua berlari menuju Gate Lima Belas. Di sana, sebuah bus besar berwarna hijau tua tanpa stiker travel resmi sudah menunggu. Mesinnya menderu rendah, mengeluarkan asap hitam yang pekat. Di depan pintu bus, berdiri seorang pria berwajah sangar dengan bekas luka di pipi, memegang papan klip.
"Dua orang lagi?" tanya pria itu dengan nada dingin.
"Iya, tiket saya..." Bram mencoba menunjukkan tiketnya, tapi pria itu hanya melirik koper hitam besar milik Bram dan koper mahal milik Lia.
"Kalian tim ahli dari pusat?" tanya si pria dengan nada yang tiba-tiba sedikit lebih sopan, meski tetap tegas.
Bram dan Lia saling lirik. "Ahli? Oh, saya analis..." Bram hendak menjelaskan pekerjaannya di asuransi.
"Iya, benar! Kami ahlinya!" potong Lia cepat. Dia hanya ingin segera masuk ke dalam bus ber-AC dan tidur untuk melupakan wajah mantan pacarnya. "Ayo cepat, Mas Bram, jangan buat mereka menunggu."
Lia mendorong Bram masuk ke dalam bus. Pria berwajah sangar itu mengangguk dan memberikan kode kepada supir. Pintu bus tertutup dengan dentuman keras.
Saat mereka melangkah ke koridor bus, suasana di dalam terasa... berbeda. Tidak ada keluarga yang membawa kardus oleh-oleh, tidak ada anak kecil yang menangis, atau nenek-nenek yang mabuk darat. Bus itu diisi oleh dua belas pria berbadan tegap dengan kaos ketat berwarna hitam atau loreng. Di bawah kursi-kursi mereka, terlihat tas-tas panjang yang bentuknya sangat mencurigakan.
Bram mendadak merasa mual. "Lia, kurasa ini bukan bus wisata 'Bahagia'."
"Ssst! Lihat AC-nya dingin sekali, Bram. Sudahlah, yang penting kita pergi," bisik Lia, mencari tempat duduk di bagian paling belakang.
Saat mereka duduk, bus mulai bergerak dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Jakarta yang mulai bising. Bram mencoba menenangkan diri. Dia merogoh kopernya untuk mengambil buku manual keselamatannya, tapi saat dia menarik ritsleting koper hitam di depannya, matanya hampir keluar dari kelopak.
Di dalam koper itu bukan kemeja rapi miliknya.
Melainkan sepasang perangkat navigasi militer, beberapa granat asap, dua pistol semi-otomatis, dan sebuah tablet dengan peta digital yang menunjukkan titik merah di tengah jantung hutan Kalimantan.
"Lia..." bisik Bram dengan suara yang menghilang.
"Apa sih? Aku lagi coba cari sinyal buat update status kalau aku mau healing," jawab Lia tanpa menoleh.
Bram memutar koper itu ke arah Lia. Lia menunduk, melihat isinya, lalu melihat ke arah pria-pria berotot di depan mereka yang sekarang sedang asyik membersihkan pisau sangkur.
"Bram," bisik Lia, wajahnya yang tadinya estetik kini memucat seperti kertas HVS.
"Ya?"
"Sepertinya 'healing' kita akan sedikit lebih ekstrim dari rencana."
Bus itu terus melaju, membawa dua orang yang hatinya baru saja patah menuju petualangan yang sama sekali tidak ada dalam rencana rasionil maupun feed Instagram mereka. Mereka baru saja memulai perjalanan salah sasaran yang paling berbahaya dalam hidup mereka.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar