Telinga Anton seolah menangkap sebuah ilusi, namun getaran di gendang telinganya menegaskan bahwa suara itu nyata. Itu adalah suara yang sangat ia kenal, suara yang biasanya menyambutnya dengan tawa riang saat ia membuka pintu rumah. Namun kali ini, tidak ada tawa. Suara itu terdengar rapuh, bergetar hebat, dan diwarnai oleh keputusasaan yang mencekik.

"Ayah... Rara di sini... dingin sekali..."

Jantung Anton serasa berhenti berdetak selama satu detik penuh sebelum akhirnya bergemuruh dengan kecepatan yang menyakitkan. Ponsel yang masih menempel di telinganya perlahan merosot saat layar perangkat itu menyala sesaat, menampilkan keterangan bahwa panggilannya ke nomor Maya telah dialihkan ke kotak suara. Suara operator mesin penjawab yang datar terdengar lamat-lamat, berbaur dengan desisan angin malam, sebelum akhirnya sambungan itu terputus sepenuhnya.

Anton berdiri mematung di teras rumahnya yang membeku. Matanya terbelalak menatap ke arah lorong sempit di sisi kanan rumahβ€”sebuah celah memanjang yang memisahkan dinding rumahnya dengan pagar tembok tetangga, mengarah langsung ke halaman belakang. Lorong itu diselimuti bayang-bayang pekat, seolah kegelapan malam telah berkumpul dan memadat di sana.

"Rara?" panggil Anton, suaranya parau dan bergetar. Ia menelan ludah, mencoba membasahi tenggorokannya yang mendadak kering seperti amplas. "Sayang... kamu di sana?"

Logikanya menjerit, menolak mentah-mentah apa yang baru saja ia dengar. Rara baru berusia tujuh tahun. Anak perempuan kecilnya itu sangat takut pada kegelapan. Tidak ada alasan logis, sama sekali tidak ada, yang bisa menjelaskan mengapa Rara berada di luar rumah pada tengah malam buta, di tengah suhu udara yang nyaris menyentuh titik beku ini. Apakah Maya dan Rara sedang bermain petak umpet yang kebablasan? Tidak mungkin. Maya bukan ibu yang ceroboh. Apakah terjadi sesuatu di dalam rumah yang memaksa Rara melarikan diri ke luar? Atau... apakah ada orang jahat yang membawanya keluar?

Pikiran terakhir itu membuat darah Anton mendidih oleh adrenalin. Rasa dingin yang tadi menyiksa ujung-ujung jarinya kini terlupakan, tergantikan oleh insting seorang ayah yang panik.

Ia melompat turun dari teras, nyaris tersandung anak tangga, dan berlari kecil menuju mulut lorong tersebut. Kerikil dan rumput yang membeku bergemeretak di bawah sol sepatu pantofelnya. Saat ia tiba di bibir lorong, ia berhenti sejenak. Kegelapan di depannya begitu pekat hingga ia tidak bisa melihat ujung jalan yang berbatasan dengan halaman belakang. Hembusan angin dingin keluar dari lorong itu, membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang anehβ€”aroma logam yang samar, seperti bau koin karat atau... darah.

Anton dengan tangan gemetar mengangkat ponselnya yang layarnya sudah retak di bagian sudut. Ia menyalakan fitur senter. Seberkas cahaya putih LED menembus kegelapan, menyoroti dinding batu bata rumahnya di satu sisi, dan pagar lumutan di sisi lainnya. Di tengah-tengahnya, terdapat tumpukan pot bunga kosong dan unit kompresor AC yang diam tak bersuara.

Tidak ada siapa-siapa di sana.

"Rara, ini Ayah! Jangan main-main, Nak, di luar sangat dingin!" Anton melangkah maju, menyorotkan senternya ke setiap sudut yang memungkinan seorang anak kecil bersembunyi. Cahaya senter itu memantul pada genangan air kecil yang permukaannya telah mengeras menjadi lapisan es tipis.

Ia terus melangkah menembus lorong sempit itu. Jaring laba-laba yang tak terlihat menempel di wajahnya, membuatnya mengumpat pelan sambil mengusap pipinya. Setiap langkahnya terasa berat, diiringi oleh rasa was-was yang semakin membesar.

Tepat ketika ia hampir mencapai ujung lorong yang terbuka ke arah halaman belakang, suara itu kembali terdengar. Kali ini, suaranya tidak datang dari depannya, melainkan bergema dari balik semak-semak di halaman belakang.

"Ayah... kenapa pintunya dikunci? Rara takut..."

Suara itu disusul oleh isakan tangis tertahan, isakan khas Rara ketika ia sedang ketakutan setelah terbangun dari mimpi buruk. Isakan itu begitu nyata, begitu dekat, merobek malam dan menghancurkan hati Anton berkeping-keping.

"Ayah datang, Sayang! Ayah di sini!" Anton berteriak, tidak lagi peduli jika suaranya membangunkan tetangga. Ia memaksakan kakinya untuk berlari menerobos ujung lorong, menyerbu masuk ke dalam kegelapan halaman belakang rumahnya.