Punggung Anton menabrak daun pintu dengan keras. Napasnya memburu, keluar masuk dari mulutnya dalam bentuk gumpalan asap putih yang tebal, bagaikan lokomotif tua yang kehabisan tenaga. Otot-otot kakinya gemetar hebat, bukan hanya karena hawa dingin yang kini mulai menusuk hingga ke sumsum tulang, tetapi juga karena teror yang memompa adrenalinnya hingga ke batas maksimal. Ia berdiri mematung, matanya nanar menatap ke arah kegelapan halaman rumahnya, mencari-cari wujud dari suara bisikan yang baru saja menyapu tengkuknya. Namun, seperti sebelumnya, tidak ada apa-apa di sana. Hanya kesunyian malam yang mencekam dan hamparan embun beku yang menutupi rerumputan bagai kain kafan.

"Ini gila," gumam Anton, giginya bergemeretak tak terkendali. "Aku pasti sudah gila. Ini pasti halusinasi karena terlalu lelah."

Ia berusaha merasionalisasi apa yang terjadi. Otaknya yang terbiasa berpikir logis sebagai seorang profesional menolak mentah-mentah konsep hantu atau fenomena supernatural. Mungkin ia terlalu banyak bekerja, kurang tidur, dan udara dingin ini memicu semacam delusi pendengaran. Namun, rasionalisasi itu hancur berkeping-keping saat ia mengingat betapa nyatanya suara Rara. Betapa pedihnya rintihan anak itu. Jika Rara benar-benar ada di luar sana, bersembunyi atau tersesat di tengah cuaca seekstrem ini, nyawanya berada dalam bahaya besar. Hipotermia bisa membunuh seorang anak kecil dalam hitungan jam, atau bahkan menit.

Anton harus membawa Rara masuk. Ia harus mencari senter yang lebih besar, jaket tebal, dan mungkin peralatan untuk memancing anak itu keluar dari persembunyiannya. Dan untuk itu, ia harus masuk ke dalam rumah. Sekarang juga.

Dengan tekad yang kembali menyala, Anton berbalik menghadap pintu utama. Jika kunci tidak bisa digunakan, ia akan menggunakan paksaan. Ia mencengkeram gagang pintu besi itu dengan kedua tangannya, bersiap untuk mendobrak dengan bahunya. Namun, detik ketika telapak tangannya bersentuhan dengan logam tersebut, sebuah rasa sakit yang luar biasa menyengatnya.

Besi gagang pintu itu tidak sekadar dingin; suhunya telah merosot ke titik ekstrem yang tidak masuk akal. Rasanya seolah Anton baru saja menggenggam bongkahan es kering (dry ice) dengan tangan kosong. Logam beku itu secara harfiah menggigit kulit telapak tangannya.

"Aargh!" Anton menjerit tertahan. Ia berusaha menarik tangannya, namun kelembapan di kulitnya telah membeku seketika, menempelkan telapak tangannya pada gagang pintu seperti dilem.

Panik, ia menarik tubuhnya ke belakang dengan sekuat tenaga. Terdengar bunyi srek yang memuakkan saat lapisan kulit di telapak tangannya terkelupas, tertinggal menempel di permukaan logam beku tersebut. Anton terhuyung ke belakang, jatuh terduduk di lantai teras sambil memegangi tangannya. Darah segar mulai merembes dari luka robek di telapak kanannya, menetes ke atas ubin teras dan seketika membeku menjadi bercak merah gelap. Rasa perih yang tajam berdenyut seiring dengan detak jantungnya, namun rasa dingin di sekitarnya begitu kuat hingga luka itu perlahan mulai terasa kebas.

Sambil meringis menahan sakit, Anton bangkit berdiri. Ia membungkus tangannya yang terluka dengan ujung mantelnya. Pintunya tidak bisa dibuka. Gagang pintunya telah berubah menjadi senjata yang melukai siapa pun yang menyentuhnya.

"Baiklah... kalau begitu kita lewat jalan lain," desisnya dengan mata berkilat marah. Ketakutannya kini bercampur dengan kemarahan yang meluap-luap. Rumah ini, rumah yang ia beli dengan keringat dan darahnya sendiri, kini seolah memiliki kesadaran dan menolaknya masuk.

Anton berjalan terpincang-pincang menuju jendela ruang tamu yang besar, yang terletak tepat di sebelah kanan teras. Jendela itu terdiri dari dua panel kaca tebal yang biasanya menyajikan pemandangan hangat ruang keluarga mereka. Kini, kaca itu tertutup embun beku yang tebal. Anton mengangkat siku kanannya, melindungi wajahnya dengan lengan kiri, dan menghantamkan sikunya sekuat tenaga ke arah tengah kaca.

Dukk!

Anton mengaduh keras, terhuyung mundur sambil memegangi sikunya yang terasa seperti baru saja menghantam dinding beton. Kaca itu sama sekali tidak retak. Tidak ada suara nyaring kaca pecah, hanya bunyi pantulan tumpul yang aneh.

"Sialan! Terbuat dari apa kaca ini?!" raungnya frustrasi. Ia ingat betul bahwa ia hanya memasang kaca jendela standar saat merenovasi rumah ini, bukan kaca anti-peluru.

Ia tidak menyerah. Ia berlari turun dari teras menuju ke taman kecil di dekat garasi. Di sana, Maya menyusun beberapa batu kali berukuran sebesar buah melon sebagai pembatas taman bunga. Anton membungkuk, mengabaikan rasa perih di tangannya yang robek, dan mengangkat salah satu batu kali yang paling besar. Berat batu itu cukup untuk menghancurkan tengkorak manusia, apalagi selembar kaca.

Dengan terengah-engah, Anton membawa batu itu kembali ke teras. Ia mengambil posisi kuda-kuda, mengangkat batu itu tinggi-tinggi di atas bahunya, dan dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia melemparkan batu tersebut tepat ke tengah jendela kaca ruang tamu.

BUM!

Suara benturannya bergema memekakkan telinga, namun pemandangan yang terjadi di depan mata Anton membuat akal sehatnya runtuh. Batu kali yang berat itu memantul dari permukaan kaca seolah-olah kaca tersebut terbuat dari lapisan karet tebal yang tak terlihat. Batu itu terlempar balik, menggelinding ke lantai teras dan berhenti di dekat kaki Anton.

Kaca jendela itu tetap utuh. Tidak ada satu pun goresan atau retakan rambut di permukaannya. Embun beku yang menempel di atasnya bahkan tidak rontok sedikit pun.

Anton menatap batu itu, lalu menatap jendela rumahnya dengan napas terengah-engah. Matanya membelalak lebar, memancarkan kengerian dan keputusasaan yang absolut. Ini bukan lagi sekadar pintu yang macet. Ini adalah fenomena yang melawan hukum fisika. Rumah itu telah mengunci dirinya dari dunia luar dengan sebuah perisai yang tidak kasat mata. Sebuah entitas tak bernyawa yang kini menunjukkan dominasinya, menghukum Anton untuk tetap berada di luar, di tengah cuaca yang membekukan ini.

Ia berlari menuju sisi lain rumah, mencoba memecahkan jendela kamar tamu, jendela dapur, bahkan ventilasi kamar mandi. Ia menggunakan batu, menggunakan ranting pohon yang patah, bahkan menggunakan kotak perkakas tua yang ia temukan tertinggal di garasi luar. Semuanya gagal. Setiap hantaman hanya menghasilkan bunyi tumpul yang mengejek. Setiap usaha hanya semakin menguras energinya dan membuat tubuhnya semakin kehilangan panas.

Anton kembali ke teras depan dengan langkah gontai. Tubuhnya kini bergetar sangat hebat hingga ia kesulitan berdiri tegak. Ujung jari, hidung, dan telinganya sudah kehilangan sensasi, berubah warna menjadi pucat kebiruan. Ia telah dikalahkan. Rumahnya sendiri telah mengusirnya. Dan di luar sana, di suatu tempat di tengah kegelapan yang membeku ini, putrinya masih terjebak bersamanya. Kesadaran akan ketidakberdayaannya itu menekan dadanya, membuatnya nyaris tersedak oleh tangisannya sendiri yang membeku di tenggorokan.