Angin malam menderu dengan buas, membawa hawa dingin yang terasa menusuk hingga ke sumsum tulang. Malam itu, udara tidak sekadar dingin; ada ketajaman yang tidak wajar di dalamnya, seolah-olah setiap hembusan angin membawa serpihan es mikroskopis yang menyayat permukaan kulit. Anton merapatkan kerah mantel tebalnya, menundukkan kepala untuk melindungi wajahnya dari tamparan angin, dan melangkah gontai meninggalkan mobilnya yang terparkir di tepi jalan aspal yang mulai membeku.

Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Ini adalah rutinitas yang menyiksa, rutinitas yang sudah menggerogoti kewarasannya selama berbulan-bulan. Tuntutan pekerjaan dari kantor memaksanya untuk terus lembur, menguras setiap tetes energi yang ia miliki hingga yang tersisa di dalam kepalanya hanyalah antisipasi akan kehangatan. Ya, kehangatan. Di sepanjang perjalanan pulangnya, bayangan tentang ruang tamu yang terang, secangkir teh panas yang mengepul di atas meja kayu, dan selimut tebal di ranjangnya adalah satu-satunya bahan bakar yang membuat kedua kaki Anton tetap melangkah. Ia sangat lelah. Otot-otot punggungnya kaku, dan matanya terasa pedih karena terlalu lama menatap layar komputer.

Namun, saat ia berbelok memasuki halaman rumahnya, antisipasi yang hangat itu menguap seketika, digantikan oleh kerutan bingung di dahinya.

Rumahnya gelap gulita.

Langkah Anton melambat. Sepatu pantofelnya berderak di atas rerumputan halaman yang diselimuti embun beku. Ia menatap bangunan dua lantai di hadapannya dengan perasaan ganjil yang mulai merayap di dada. Biasanya, Maya selalu menyalakan lampu teras. Istrinya itu tahu bahwa Anton membenci kegelapan saat pulang larut. Maya juga selalu membiarkan satu lampu redup menyala di ruang tengah agar suaminya tidak tersandung perabotan saat masuk. Tetapi malam ini, rumah itu berdiri diam seperti sebuah monolit hitam yang mati. Tidak ada satu pun pendar cahaya yang lolos dari celah-celah tirai. Bahkan lampu jalanan di depan rumahnya tampak berkedip-kedip redup, seolah enggan menyorot bangunan tersebut.

"Sialan," umpat Anton pelan, suaranya membentuk kepulan asap putih tipis di udara malam yang membeku. "Apa mati lampu lagi?"

Ia menoleh ke arah rumah tetangganya di sebelah kiri dan kanan. Tidak, lampu teras mereka menyala terang. Hanya rumahnya yang tenggelam dalam gulita. Rasa kesal mulai bercampur dengan rasa dingin yang semakin tidak tertahankan. Ujung-ujung jari tangannya mulai terasa kebas. Ia harus segera masuk sebelum hidungnya mati rasa sepenuhnya.

Anton menaiki tiga anak tangga kecil menuju teras depan. Terdengar bunyi decit kayu yang melengkung di bawah beban tubuhnya, suara yang entah mengapa terdengar lebih nyaring dari biasanya di tengah keheningan malam yang menindas ini. Ia merogoh saku mantelnya, jemarinya yang kaku berusaha mencari-cari bentuk logam yang familier. Terdengar bunyi gemerincing pelan saat ia menarik keluar sekumpulan kunci.

Dalam kegelapan yang pekat, Anton meraba-raba permukaan pintu kayu berukir itu untuk menemukan lubang kunci. Permukaan pintunya terasa aneh. Alih-alih kayu yang kering dan solid, permukaannya terasa sangat dingin, nyaris seperti balok es yang baru dikeluarkan dari lemari pendingin. Ia menggigil, namun mengabaikan sensasi itu. Setelah menemukan tonjolan besi dari gagang pintu, ia mengarahkan kunci utamanya dan mendorongnya masuk.

Klak.

Kunci itu masuk setengah jalan, lalu berhenti. Anton mengerutkan kening. Ia menarik kunci itu keluar, meniup lubangnyaβ€”berpikir mungkin ada kotoran atau serpihan es yang menyumbatnyaβ€”dan mencoba memasukkannya lagi.

Klak. Srett.

Kali ini kuncinya hanya masuk sepertiga jalan dan menolak didorong lebih jauh. Ada suara gesekan logam yang kasar, seolah bagian dalam silinder kunci itu telah berubah bentuk atau membeku sepenuhnya.

"Ayolah, jangan malam ini," gerutu Anton, giginya mulai gemeretak menahan dingin. Ia memegang gagang pintu dengan tangan kirinya untuk mendapatkan tuas yang lebih baik, mencoba memutar dan menggoyangkan kuncinya.

Saat telapak tangan kirinya mencengkeram gagang pintu, Anton tersentak. Sensasi dingin yang luar biasa menyengat telapak tangannya, mengalir cepat dari jari-jarinya, merayap naik ke lengan, dan menghantam dadanya. Itu bukan sekadar dinginnya malam; itu adalah dingin yang terasa... bermusuhan. Secara refleks ia melepaskan cengkeramannya, menatap telapak tangannya yang kini memerah dan terasa perih, seperti baru saja menyentuh panci panas, namun dengan suhu yang sebaliknya.

"Apa-apaan ini?" bisiknya, menatap pintu rumahnya dengan ketidakpercayaan.

Udara di sekitarnya seolah merosot beberapa derajat lagi. Angin yang tadi menderu kini anehnya mereda, menyisakan kesunyian yang tebal, berat, dan menekan telinga. Di dalam kesunyian itu, Anton mencoba lagi. Ia menggunakan kunci cadangan. Hasilnya sama. Ia mencoba menekan pintu itu dengan bahunya, berharap pintunya sebenarnya tidak terkunci namun hanya macet karena kelembapan. Pintu itu sama sekali tidak bergeming. Rasanya bukan seperti mendorong sebuah pintu kayu, melainkan seperti mendorong dinding beton yang menyatu dengan fondasi bumi.

Keputusasaan dan rasa frustrasi mulai menguasai akal sehatnya. Anton mengepalkan tangannya dan mulai menggedor pintu.

Duk! Duk! Duk!

"Maya! Maya, kamu di dalam?!" teriak Anton. Suaranya terdengar cempreng dan ditelan oleh kegelapan malam. "Maya! Buka pintunya! Kuncinya macet!"

Ia menempelkan telinganya pada daun pintu, menahan napasnya, mencoba mendengarkan suara langkah kaki istri atau anaknya dari dalam. Namun, tidak ada apa-apa. Keheningan dari balik pintu itu terasa sangat absolut. Tidak ada dengungan kulkas yang biasa terdengar samar, tidak ada suara detak jam dinding besar di ruang tamu, bahkan tidak ada suara pergeseran lantai kayu. Rumah itu terasa sepenuhnya kosong, atau lebih buruk lagi, mati.

Anton mundur selangkah. Ia menatap ke arah jendela besar di sebelah kiri pintu utama. Permukaan kaca jendela itu buram, tertutup oleh lapisan embun beku yang tebal. Ia mengangkat tangannya dan mengusap kaca tersebut, mencoba membuat celah untuk mengintip ke dalam. Kaca itu terasa sangat tebal dan dingin. Saat ia mendekatkan wajahnya ke celah yang baru saja ia usap, matanya berusaha menembus kegelapan di dalam ruang tamu.

Seketika, perut Anton terasa mual. Ia tidak melihat ruang tamunya. Ia tidak melihat sofa abu-abu tempat Maya biasanya menonton televisi, atau meja kecil tempat Rara sering meninggalkan krayon-krayonnya. Yang ia lihat di balik kaca itu hanyalah kegelapan yang solid. Sebuah kepekatan yang seolah-olah menyerap cahaya, hitam yang sangat pekat hingga terasa memiliki tekstur dan kedalaman yang tidak berujung. Itu bukanlah kegelapan dari sebuah ruangan yang tidak dinyalakan lampunya; itu adalah kegelapan dari sebuah kehampaan.

Duk! Duk! Duk! Ia kembali menggedor jendela kaca itu, kali ini lebih keras, nyaris tidak peduli jika kacanya akan retak. Kepanikan mulai mengambil alih. Sesuatu yang sangat salah sedang terjadi.

"Maya!! Ini aku, Anton! Tolong buka pintunya, di luar dingin sekali!" teriaknya lagi, kali ini dengan nada yang lebih tinggi, nyaris putus asa.

Ia memeluk tubuhnya sendiri, menggosok-gosokkan kedua lengannya yang kini terasa kaku. Napasnya terengah-engah, menghasilkan awan-awan putih yang tebal di depan wajahnya. Ia melihat ke sekeliling halamannya. Pepohonan yang gundul tampak seperti siluet monster yang mengawasi dari kejauhan. Jalanan di belakangnya kosong melompong. Ia terisolasi di teras rumahnya sendiri, ditolak oleh tempat yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya.

Kenapa Maya tidak menjawab? Apakah ia tidur begitu lelap? Dan di mana Rara? Anak perempuannya itu biasanya sangat peka terhadap suara, sering kali terbangun hanya karena suara derik pintu mobil Anton di halaman. Mengapa gedoran keras di jendela dan pintu ini tidak membangunkan siapa pun?

Pikiran-pikiran liar mulai berkelebat di benak Anton. Apakah terjadi sesuatu di dalam? Apakah ada penyusup? Apakah terjadi kebocoran gas yang membuat istri dan anaknya tidak sadarkan diri?

Anton merogoh saku celananya dengan gerakan panik, mencari ponselnya. Jari-jarinya yang nyaris beku kesulitan membuka kunci layar. Layar ponsel yang menyala menyilaukan matanya sejenak. Ia mencari nama 'Maya' di daftar kontak dan segera menekan tombol panggil.

Ia mendekatkan ponsel itu ke telinganya. Hening sejenak. Lalu, terdengar nada sambung.

Tuut... Tuut... Tuut...

Anton menempelkan telinganya kembali ke kaca jendela, berharap bisa mendengar dering ponsel Maya dari dalam rumah. Ia tahu Maya selalu menaruh ponselnya di atas meja makan atau di nakas kamarnya. Di tengah keheningan rumah yang absolut ini, suara dering sekecil apa pun pasti akan terdengar hingga ke luar.

Namun, tidak ada suara dari dalam. Rumah itu tetap bisu.

Tepat ketika nada panggil di ponselnya akan berganti menjadi kotak suara, Anton menyadari sesuatu. Suhu udara di sekitarnya mendadak anjlok drastis ke tingkat yang mustahil. Napasnya terhenti di tenggorokan. Bulu kuduknya meremang bukan hanya karena dingin, tetapi karena sebuah insting purba yang memperingatkannya akan sebuah bahaya.

Ia menurunkan ponselnya secara perlahan. Layarnya meredup, lalu mati. Di tengah kebekuan malam dan keheningan yang menyiksa, indera pendengarannya menangkap sesuatu. Sesuatu yang membuat aliran darah di tubuhnya seolah berhenti mengalir.

Itu bukan berasal dari dalam rumah.

Suara itu datang dari kegelapan di sebelah kanan rumahnya, dari arah lorong sempit yang menuju ke halaman belakang. Sebuah suara yang sangat ia kenal, rapuh, bergetar, dan membelah kesunyian malam dengan kepedihan yang tak tertahankan.