Halaman belakang rumah Anton adalah sebidang tanah berumput yang cukup luas, dibatasi oleh pagar kayu setinggi dada orang dewasa. Di sudut kiri terdapat sebuah pohon mangga besar yang ranting-rantingnya gundul meranggas, dan di dekatnya berdiri sebuah ayunan besi tua yang sering dimainkan Rara di sore hari.
Anton menerjang masuk ke halaman belakang, mengayunkan senter ponselnya ke segala arah dengan liar. Cahaya putih itu menari-nari di atas rumput yang memutih karena embun beku, menyapu batang pohon mangga, dan menyorot ayunan besi tersebut.
Ayunan itu bergerak.
Rantainya berderit pelan, kriik... kriik... berayun ke depan dan ke belakang dengan ritme yang lambat dan konstan, seolah-olah baru saja ada seseorang yang melompat turun dari sana.
Napas Anton memburu, membentuk kepulan asap tebal di udara. "Rara? Di mana kamu?!" Ia berlari menuju ayunan itu. Senter di tangannya bergetar hebat. Ia mencari di balik pohon mangga, menyorotkan cahaya ke arah tempat sampah besar di sudut pagar, hingga memeriksa kolam ikan hias kecil yang permukaannya kini tertutup es.
Kosong. Halaman belakang itu sepenuhnya kosong.
Kepanikan Anton kini bertransformasi menjadi teror murni. Ia berdiri di tengah-tengah halaman belakang, memutar tubuhnya perlahan, berusaha menangkap pergerakan sekecil apa pun. Bagaimana mungkin seorang anak kecil bisa menghilang begitu cepat?
Tiba-tiba, sebuah tawa kecil mengudara. Bukan tawa riang, melainkan tawa yang terdengar hampa dan disusul oleh rintihan parau.
"Hihihi... Ayah tidak bisa tangkap Rara... Ayah... kaki Rara sakit..."
Anton tersentak hebat hingga ia hampir menjatuhkan ponselnya. Suara itu! Suara itu tidak lagi berasal dari halaman belakang. Suara itu dengan mustahil telah berpindah ke halaman depan, tepat di tempat ia memarkirkan mobilnya tadi. Itu berarti, Rara harus berlari melewati lorong sempit yang sama yang baru saja Anton lewati, atau memutar lewat sisi lain rumah yang ditumbuhi semak duri tebal. Tidak ada suara langkah kaki. Tidak ada suara gemerisik dedaunan. Suara itu berpindah dengan kecepatan yang melampaui logika manusia.
"Tunggu di sana! Jangan kemana-mana!" Anton meraung frustrasi. Ia memutar tubuhnya dan berlari kembali melewati lorong sempit tadi. Kali ini ia tidak peduli pada ranting atau pot yang menghalanginya. Kakinya menendang ember kosong hingga terlempar ke dinding, menciptakan suara gaduh yang memekakkan telinga.
Ia tiba di halaman depan dengan napas terengah-engah, paru-parunya terasa seperti ditusuk ribuan jarum es. Ia mengarahkan senternya ke arah mobilnya. Cahaya lampu menyorot ban mobil, kap mesin, dan garasi yang tertutup rapat.
Tidak ada Rara.
Anton menyisir rambutnya dengan kasar, menarik pangkal rambutnya sendiri untuk memastikan ia tidak sedang bermimpi. "Maya! Maya, tolong aku! Rara di luar!" teriaknya ke arah jendela ruang tamu yang masih segelap kuburan. Pintu kayu berukir itu tetap berdiri angkuh, menolak mengizinkannya masuk.
Di tengah kebingungan yang menyiksa itu, Anton mengarahkan senternya ke bawah, ke arah rerumputan dan tanah berpasir di halaman depan. Embun beku telah melapisi permukaan tanah, menjadikannya seperti kanvas putih tipis. Anton berlutut, matanya membelalak mencari bukti fisik.
Jika Rara berlari mengelilingi rumah, pasti ada jejak kaki. Sepatu kecilnya atau telapak kakinya yang telanjang pasti akan meninggalkan bekas di atas rumput beku ini. Namun, saat cahaya senter menyapu seluruh permukaan tanah dari lorong hingga ke teras depan, perut Anton melilit hebat.
Permukaan embun beku itu mulus tak tersentuh. Hanya ada satu set jejak kaki di sana: jejak sepatu pantofel berukuran besar milik Anton sendiri yang bergerak ke sana kemari dengan panik. Tidak ada jejak kaki anak kecil. Tidak ada jejak rumput yang terinjak selain miliknya.
Seolah-olah Rara tidak pernah memijak tanah.
Bulu kuduk Anton meremang hebat, sebuah rasa dingin yang jauh lebih mengerikan dari suhu udara malam itu merayap naik di sepanjang tulang belakangnya. Ia perlahan bangkit berdiri, lututnya bergetar. Udara di sekitarnya terasa semakin menekan, mencekik paru-parunya.
Tiba-tiba, hembusan napas yang sangat dingin menyapu tengkuknya. Tepat di belakang telinga kirinya, jaraknya hanya beberapa sentimeter, suara Rara kembali berbisik. Bisikan itu tidak lagi terdengar seperti anak kecil yang bermain-main, melainkan suara yang begitu lelah, begitu pedih, dan dipenuhi oleh keputusasaan yang absolut.
"Ayah jahat... Rara kedinginan, Ayah... Rara tidak kuat lagi..."
Anton menjerit. Ia memutar tubuhnya dengan cepat, tangannya mengayunkan senter seperti senjata. Namun cahaya itu hanya menembus udara kosong. Tidak ada siapa-siapa di belakangnya. Hanya angin malam yang kembali melolong, seakan menertawakan keputusasaan seorang ayah yang terjebak di luar rumahnya sendiri, dipermainkan oleh gema dari suara putrinya yang tak terlihat. Kehabisan akal dan tenaga, Anton mundur perlahan hingga punggungnya menabrak pintu utama rumahnya yang terkunci rapat. Ia harus masuk. Apa pun yang terjadi, ia harus menghancurkan pintu ini dan berlindung di dalam bersama Maya. Ia tidak menyadari bahwa teror yang sesungguhnya belum berniat untuk melepaskannya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar