Tenaga Anton benar-benar habis. Rasa sakit di sikunya, perih di telapak tangannya yang robek, dan kram di otot-otot kakinya perlahan memudar, ditelan oleh mati rasa yang dibawa oleh suhu beku. Dalam ilmu medis, ini adalah tanda yang sangat buruk. Saat tubuh mulai berhenti menggigil dan rasa sakit menghilang dalam cuaca ekstrem, itu artinya sistem saraf mulai menyerah pada hipotermia.

Anton merosot di depan pintu utama. Punggungnya merosot perlahan menyusuri daun pintu kayu yang sedingin es hingga pantatnya menyentuh lantai teras. Ia menarik kedua lututnya ke dada, memeluknya erat-erat dalam usaha sia-sia untuk mempertahankan sisa-sisa panas tubuhnya. Kepalanya terkulai, bersandar pada ukiran kayu pintu rumahnya. Matanya setengah terpejam, menatap kosong ke arah jalanan di depan rumah yang gelap dan sunyi.

Angin malam yang sedari tadi menderu dengan buas secara perlahan mulai mereda. Desirannya di sela-sela ranting pohon berangsur menghilang, meninggalkan keheningan yang tebal dan menekan telinga. Di dalam kesunyian yang absolut itu, kewarasan Anton berada di ujung tanduk. Ia menunggu, menahan napas, bersiap untuk kembali mendengar suara bisikan Rara yang memanggil-manggilnya dari kegelapan.

Namun, bukan suara Rara yang memecah keheningan itu.

Saat telinga kanan Anton menempel erat pada permukaan pintu kayu, sebuah getaran halus merambat dari dalam rumah. Awalnya, getaran itu sangat pelan, nyaris tak terdengar. Anton mengerutkan kening, mencoba memfokuskan pendengarannya yang mulai tumpul. Ia memutar kepalanya, menempelkan telinganya lebih rapat ke pintu.

Ada suara dari dalam sana.

Bukan suara langkah kaki, bukan suara televisi, dan bukan suara perabotan yang digeser. Itu adalah suara manusia. Suara seorang wanita.

Suara itu dimulai dengan tarikan napas yang gemetar, disusul oleh isakan tertahan yang sangat pelan. Lalu, isakan itu bertambah keras, berubah menjadi tangisan. Tangisan itu tidak seperti tangisan orang yang sedang menonton film sedih atau tangisan karena pertengkaran kecil. Ini adalah tangisan yang berasal dari tempat terdalam di jiwa seseorang, sebuah ratapan yang dipenuhi oleh penderitaan, keputusasaan, dan kehilangan yang tak terukur besarnya. Suara tangisan itu bergema di lorong rumahnya yang kosong, memantul di dinding-dinding yang dingin, sebelum akhirnya merembes keluar menembus pintu kayu yang memisahkan Anton dari keluarganya.

Mata Anton terbuka lebar. Jantungnya, yang tadi berdetak lambat karena kedinginan, kini kembali berpacu liar. Ia mengenal suara itu. Ia sangat mengenalnya.

"Maya...?" bisik Anton parau.

Tangisan dari dalam rumah semakin menjadi-jadi. Kini terdengar suara isakan yang terputus-putus, seolah wanita di dalam sana kesulitan menarik napas di antara tangisnya. Terdengar pula bunyi samar brukk, brukk, seperti seseorang yang memukulkan kepalanya atau tinjunya ke lantai dengan penuh penyesalan.

"Maya!" Anton berseru. Sisa tenaga yang entah dari mana asalnya tiba-tiba melonjak di nadinya. Ia memutar tubuhnya hingga berlutut menghadap pintu. Ia menempelkan wajahnya ke celah pintu, mengabaikan rasa dingin yang menyengat pipinya. "Maya! Ini aku! Buka pintunya, May! Apa yang terjadi di dalam?!"

Tidak ada jawaban. Tangisan Maya terus berlanjut, sama sekali tidak terganggu oleh teriakan Anton. Seolah-olah lapisan pintu kayu ini bukan sekadar memisahkan ruang luar dan dalam, melainkan memisahkan dua dimensi yang berbeda. Maya meratap, berteriak tertahan dengan suara serak yang menyayat hati, "Tidak... tidak mungkin... ya Tuhan, tidak..."

Suara Maya itu merobek-robek sanubari Anton. Ia belum pernah mendengar istrinya menangis seperti itu. Terakhir kali Maya menangis tersedu-sedu adalah saat ia kehilangan ibunya beberapa tahun lalu, tetapi bahkan tangisan duka itu tidak sebanding dengan ratapan mengerikan yang kini terdengar dari dalam rumah. Tangisan ini adalah tangisan seseorang yang dunianya baru saja hancur lebur di depan matanya.

"Maya, kumohon! Tolong buka pintunya! Rara ada di luar!" Anton menggedor pintu dengan kepalan tangannya yang tidak terluka. Duk! Duk! Duk! "Maya, jawab aku! Kamu kenapa?! Siapa yang ada di dalam?!"

Anton membayangkan hal-hal yang paling mengerikan. Apakah ada penyusup yang menyakiti Maya? Apakah Maya menemukan sesuatu yang buruk terjadi di dalam rumah? Di mana Rara sebenarnya? Jika Rara ada di luar bersama Anton, lalu apa yang membuat Maya menangis begitu histeris di dalam sana?

"May... tolong..." Suara Anton kini melemah, berubah menjadi isakan keputusasaan. Ia menempelkan dahinya ke pintu. Air mata yang hangat mengalir di pipinya, namun seketika terasa perih saat angin malam yang dingin kembali berhembus dan membekukan jejak air mata tersebut di kulitnya.

Di saat Anton menangis memohon pada istrinya yang berada tak lebih dari dua meter di depannya, suara lain dari luar rumah menyela.

Dari arah kegelapan halaman depan, suara Rara kembali menggema, kali ini terdengar lebih lemah dari sebelumnya. "Ayah... Rara mengantuk... Rara tidak bisa merasakan tangan Rara..."

Anton tersentak, terjepit di antara dua teror. Di punggungnya, suara putrinya yang perlahan meregang nyawa karena kedinginan di tengah malam yang gelap. Di depan wajahnya, dari balik pintu yang tak bisa ditembus, ratapan istrinya yang hancur dalam keputusasaan yang tak terjelaskan.

Ia terjebak di tengah-tengah. Sebuah ambang pintu yang menjadi garis batas antara dua penderitaan yang sama-sama tak bisa ia jangkau. Anton menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya yang beku dan berdarah, menjerit sekeras-kerasnya ke udara malam yang kosong, berharap semua ini hanyalah mimpi buruk yang akan segera berakhir. Namun, gema dari teriakannya sendiri hanya berlalu ditelan kesunyian, menyisakan suara tangisan istri dan bisikan anaknya yang terus menyiksa gendang telinganya tanpa henti. Rumah itu telah menjadi panggung penyiksaan psikologis yang dirancang khusus untuknya, dan pertunjukan utamanya baru saja dimulai.