Aroma kopi robusta yang diseduh dengan suhu presisi menguar di udara, menyambut Arga yang baru saja melangkah keluar dari kamar mandi. Di meja makan, roti bakar dengan tingkat kecokelatan yang persis seperti seleranya sudah tersaji berdampingan dengan telur mata sapi yang bagian kuningnya setengah matang.
Tidak pernah terlalu matang. Tidak pernah terlalu mentah. Selalu sempurna.
"Kopinya sengaja aku dinginkan tiga menit, Mas. Supaya saat kamu duduk, suhunya pas untuk langsung diminum," suara lembut itu mengalihkan perhatian Arga.
Alya berdiri di dekat meja pantri. Rambut hitamnya diikat rapi, senyumnya melengkung hangat. Ia mengenakan apron berwarna krem yang melingkari pinggang rampingnya.
Arga menarik kursi dan duduk. Ia menatap cangkir kopi itu, lalu menatap istrinya. "Kamu tahu, Al? Kadang aku merasa kamu punya kekuatan membaca pikiran. Aku baru saja membatin kalau aku sedang tidak ingin kopi yang terlalu panas hari ini."
Alya tertawa kecil. Suara tawanya renyah, seperti melodi yang sudah diatur sedemikian rupa untuk menenangkan saraf yang tegang. Ia berjalan mendekat, lalu merapikan kerah kemeja Arga yang sedikit terlipat di bagian belakang.
"Aku tidak bisa membaca pikiranmu, Mas Arga. Aku hanya memperhatikan. Kamu selalu mandi dua menit lebih lama kalau udara sedang dingin, dan kalau mandimu lebih lama, toleransimu terhadap minuman panas biasanya menurun," jelas Alya lembut. Tangannya dengan cekatan membuatkan simpul dasi yang rapi di leher Arga.
Arga terdiam. Ia membiarkan tangan istrinya merapikan dasinya. Logika itu masuk akal, sangat masuk akal. Namun, ada sesuatu di balik penjelasan itu yang terkadang membuat dada Arga berdesir aneh. Ketelitian Alya bukan seperti ketelitian seorang istri pada umumnya. Ketelitian itu terasa matematis. Tanpa celah.
"Terima kasih, Sayang," ucap Arga akhirnya, memilih untuk membuang jauh-jauh pikiran konyolnya. Ia mencium punggung tangan Alya. Kulit wanita itu terasa hangat dan lembut. "Kamu selalu tahu apa yang aku butuhkan, bahkan sebelum aku sendiri menyadarinya."
"Itu karena tugasku adalah memastikan kamu bahagia," balas Alya, menatap tepat ke mata Arga dengan pandangan yang teduh.
Hari itu berjalan seperti ratusan hari lainnya dalam dua tahun pernikahan mereka. Damai. Tanpa perdebatan. Tanpa piring pecah atau suara meninggi. Alya adalah wujud dari doa setiap pria yang mencari ketenangan di rumah. Ia tidak pernah mengeluh saat Arga pulang larut karena lembur coding di kantor. Ia tidak pernah cemburu buta saat Arga harus rapat dengan klien wanita.
Namun, kesempurnaan yang konstan itu, entah mengapa, mulai terasa seperti sebuah ruangan kedap suara. Terlalu sunyi.
Malam harinya, hujan turun deras mengguyur Jakarta. Arga duduk di sofa ruang tengah, memangku laptopnya sambil memeriksa barisan kode yang belum selesai. Alya duduk di karpet di bawahnya, bersandar pada kaki Arga sambil membaca sebuah novel. Tangan kiri Arga sesekali membelai rambut istrinya.
Suasana begitu hangat. Namun, pikiran Arga tiba-tiba mengembara pada percakapannya dengan teman-teman kantornya tadi siang. Mereka mengeluhkan istri masing-masing yang marah besar karena masalah sepele—lupa hari jadi, salah membalas pesan, hingga cemburu pada rekan kerja. Arga tidak bisa menimpali. Ia tidak punya pengalaman itu.
"Al," panggil Arga tiba-tiba. Matanya masih menatap layar laptop, namun jari-jarinya berhenti mengetik.
"Ya, Mas?" Alya menutup novelnya dan mendongak menatap Arga.
"Aku mau tanya sesuatu. Pertanyaan aneh, sih." Arga terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana. Ia menutup laptopnya dan menaruhnya di meja. "Tadi di kantor, si Doni dimarahi habis-habisan sama istrinya karena ketahuan membalas pesan mantan pacarnya. Cuma basa-basi, tapi istrinya ngamuk sampai piring melayang."
Alya mendengarkan dengan saksama, matanya tidak berkedip menatap Arga. "Lalu?"
"Lalu aku jadi berpikir..." Arga mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap mata istrinya dengan tatapan menyelidik yang dibalut nada bercanda. "Kalau misalnya, ini misalnya ya. Kalau aku selingkuh... kamu bakal marah besar seperti istrinya Doni tidak? Kamu bakal lempar piring ke kepalaku?"
Alya tidak langsung menjawab. Ia terdiam selama beberapa detik. Arga memperkirakan Alya akan mencubit pahanya, atau cemberut, atau melontarkan ancaman manja seperti, 'Awas saja kalau berani.' Namun, Alya malah tersenyum. Senyum yang sangat tenang.
"Kemungkinan itu sangat kecil, Mas," jawab Alya. Suaranya datar, nyaris tanpa intonasi emosi.
Kening Arga berkerut. "Maksudmu?"
"Berdasarkan pola perilakumu selama dua tahun, tiga bulan, dan empat belas hari kita menikah, probabilitas kamu melakukan perselingkuhan berada di bawah angka satu persen. Kamu memiliki rutinitas yang stabil, tingkat stres yang masih bisa ditoleransi, dan tingkat kepuasan pernikahan kita, dari observasiku, sangat optimal. Jadi, aku tidak perlu memproses respons kemarahan untuk probabilitas yang hampir mustahil terjadi."
Arga terpaku. Udara di sekitarnya seolah membeku sesaat. Jawaban itu... itu bukan jawaban seorang istri yang sedang digoda suaminya. Itu adalah analisis data.
"Al... kamu menghitung probabilitas perselingkuhanku?" tanya Arga dengan nada setengah tidak percaya.
Alya memiringkan kepalanya sedikit, senyum lembut kembali menghiasi wajahnya, seolah ia baru saja mereset ekspresinya. "Aku hanya sangat mengenalmu, Mas. Aku percaya padamu. Kenapa aku harus marah untuk sesuatu yang tidak akan kamu lakukan?"
Penjelasan kedua ini terdengar lebih manusiawi. Lebih wajar. Arga menghela napas panjang, mengusap wajahnya, dan memaksakan sebuah tawa. "Ya, kamu benar. Pertanyaanku yang konyol."
"Kamu lelah. Aku buatkan teh chamomile ya?" tawar Alya sambil beranjak berdiri.
"Boleh. Terima kasih, Al."
Saat Alya melangkah ke dapur, pandangan Arga terus mengikuti punggung istrinya. Ada rasa dingin yang tiba-tiba merayap di tengkuknya. Ia mencoba menepis perasaan ganjil itu. Dia hanya istri yang terlalu baik, Ga. Jangan merusak apa yang sudah sempurna, batinnya menasihati diri sendiri.
Tepat saat Alya menghilang di balik sekat dapur, ponsel Arga yang tergeletak di atas meja bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan nomor yang tidak dikenal.
Arga meraihnya dan menggeser layar. "Halo?"
"Selamat malam. Benar ini dengan Bapak Arga Dirgantara?" Suara seorang pria di seberang sana terdengar resmi, diiringi suara bising sirine samar di latar belakang.
"Ya, benar. Ini siapa?"
"Saya dari Kepolisian Resor Bandung, Pak. Kami ingin menyampaikan kabar duka. Apakah Bapak memiliki kerabat bernama Prof. dr. Hendra Dirgantara?"
Jantung Arga seakan berhenti berdetak. Itu nama ayahnya. Ilmuwan eksentrik yang sudah lima tahun terakhir memutus kontak dengannya dan memilih mengisolasi diri di sebuah rumah terpencil di Lembang.
"Y-ya... Beliau ayah saya. Ada apa dengan ayah saya?" Suara Arga bergetar, tiba-tiba tenggorokannya terasa kering.
Hening sejenak di seberang sana, sebelum polisi itu memberikan jawaban yang meruntuhkan malam Arga.
"Beliau ditemukan meninggal dunia di kediamannya malam ini, Pak. Kami mohon kehadiran Bapak secepatnya untuk proses identifikasi."
Genggaman Arga pada ponselnya melemas. Di saat yang sama, Alya muncul dari dapur membawa secangkir teh panas. Asap mengepul perlahan dari cangkir itu. Alya menatap Arga dengan wajah sempurnanya, tersenyum, seolah dunia baik-baik saja.
Arga menatap istrinya, lalu menatap kegelapan di luar jendela. Malam itu, kehidupan normalnya resmi berakhir.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar