Mobil SUV yang dikendarai Arga membelah jalanan menanjak kawasan Lembang yang diselimuti kabut tebal. Udara dingin pegunungan menembus masuk melalui celah kaca jendela yang sengaja ia buka sedikit. Matanya merah, kurang tidur, namun pikirannya terlalu penuh untuk bisa diistirahatkan.
Alya duduk di kursi penumpang di sebelahnya. Sejak semalam, wanita itu menunjukkan simpati yang luar biasa. Ia menyiapkan pakaian hitam Arga, mengurus tiket perjalanan, dan menemani Arga tanpa banyak bertanya.
"Mas, kamu sudah menyetir selama tiga jam. Mau aku gantian?" tawar Alya lembut. Tangannya mengusap lengan Arga.
"Tidak usah, Al. Kita sudah hampir sampai," jawab Arga serak.
Mereka berbelok memasuki sebuah jalan kecil berbatu yang diapit oleh pepohonan pinus menjulang. Di ujung jalan itu, berdirilah sebuah rumah bergaya arsitektur Belanda kuno yang tampak suram dan tidak terawat. Cat dindingnya yang dulu putih kini kusam dan mengelupas di banyak bagian. Tanaman rambat liar menutupi sebagian jendela.
Ini adalah rumah Prof. Hendra. Ayahnya. Pria yang memilih untuk mengubur dirinya dalam penelitian setelah ibunda Arga meninggal dunia sepuluh tahun lalu.
Setelah mengurus segala prosedur dengan pihak kepolisian dan rumah sakit—yang menyatakan ayahnya meninggal karena serangan jantung mendadak—Arga kini harus membereskan barang-barang peninggalan pria tua itu.
Arga memutar kunci berkarat pada pintu utama. Terdengar bunyi derit engsel yang memekakkan telinga saat pintu kayu jati itu terbuka. Aroma debu, kertas apak, dan bahan kimia langsung menyergap penciuman.
"Gelap sekali," gumam Alya. Ia melangkah masuk, membiarkan Arga meraba-raba dinding mencari sakelar lampu.
Klik.
Lampu neon yang berkedip-kedip menyala, menerangi ruang tamu yang berantakan. Tumpukan buku setinggi dada manusia berserakan di mana-mana. Kertas-kertas berisi rumus algoritma rumit dan diagram biologi menempel tak beraturan di dinding.
"Ayah... apa yang sebenarnya kau kerjakan selama ini?" bisik Arga getir. Hubungan mereka memang buruk. Ayahnya menganggap Arga menyia-nyiakan otaknya dengan hanya menjadi software engineer di perusahaan komersial, sementara Arga membenci ayahnya yang menganggap sains lebih penting daripada keluarga.
"Aku akan bantu merapikan ruang tamu ini, Mas. Kamu bisa mulai memeriksa kamar beliau," kata Alya, sudah bersiap dengan masker dan sarung tangan karet yang entah sejak kapan ia bawa.
Arga mengangguk pelan. Ia melangkah melewati lorong panjang menuju kamar ayahnya di bagian belakang rumah. Kamar itu sama kacaunya. Tempat tidur tidak beralas sprei, meja kerja penuh dengan cangkir kopi berjamur dan perangkat keras komputer yang dibongkar.
Arga mulai mengumpulkan dokumen-dokumen penting: sertifikat rumah, buku tabungan, asuransi. Saat ia menarik laci meja paling bawah, laci itu tersangkut. Arga menariknya lebih keras hingga laci itu terlepas dan jatuh ke lantai.
Brak!
Dari balik celah laci yang terbuka, Arga melihat ada sesuatu yang aneh. Papan kayu di bagian bawah meja itu memiliki engsel kecil. Arga berjongkok, meraba pinggiran kayu itu, dan menemukan sebuah tuas tersembunyi. Ia menariknya.
Lantai kayu di bawah meja bergeser pelan, menampakkan sebuah tangga beton sempit yang mengarah ke bawah tanah.
Jantung Arga berdegup kencang. Ia menyalakan senter ponselnya dan menuruni tangga itu perlahan. Udara di bawah sini jauh lebih dingin dan berbau seperti ruang operasi rumah sakit—kombinasi antara antiseptik dan ozon dari mesin elektronik.
Di ujung tangga, Arga menemukan sebuah ruangan luas yang sangat kontras dengan kondisi rumah di atas. Ruangan ini bersih, benderang, dan dipenuhi peralatan berteknologi tinggi. Terdapat deretan server besar yang berkedip-kedip mengeluarkan suara dengungan rendah (humming). Di tengah ruangan, terdapat sebuah kursi eksperimen yang dikelilingi lengan-lengan robotik, mirip seperti alat perakit mobil, namun dalam skala yang jauh lebih presisi dan kecil.
"Lab tersembunyi?" gumam Arga tak percaya. Ayahnya adalah ilmuwan biologi seluler, untuk apa ia memiliki perangkat keras robotic dan server raksasa seperti ini?
Mata Arga tertuju pada sebuah meja logam di sudut ruangan. Di atasnya terdapat sebuah komputer desktop kuno yang mesinnya masih menyala, layar monitornya menampilkan kotak dialog login dengan latar belakang hitam pekat.
Arga duduk di depan komputer itu. Ia menekan sembarang tombol pada keyboard.
ENTER PASSWORD:
Arga mencoba memasukkan tanggal lahir ibunya. Salah. Tanggal lahir ayahnya sendiri. Salah. Nama ibunya. Salah.
Arga mengusap wajahnya yang frustrasi. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling meja kerja, mencari petunjuk. Matanya tertuju pada sebuah bingkai foto kecil yang posisinya tertelungkup. Arga membaliknya.
Itu adalah foto dirinya saat masih berusia lima tahun, sedang duduk di pangkuan ayahnya. Di balik foto itu, terdapat coretan spidol merah: Titik Awal.
Titik awal? Arga berpikir keras. Kapan ayahnya mulai mengisolasi diri? Kapan semua obsesi ini dimulai? Tanggal kematian ibunya.
Arga kembali ke keyboard, mengetikkan kombinasi angka: 14082016.
Layar berkedip. Bunyi beep kecil terdengar.
ACCESS GRANTED.
Desktop utama terbuka. Tidak ada ikon aplikasi berjejer seperti komputer pada umumnya. Hanya layar kosong berwarna abu-abu dengan satu buah folder di tengah layar.
Tangan Arga yang memegang mouse tiba-tiba gemetar. Tenggorokannya seakan tercekat melihat nama yang tertera di bawah ikon folder kuning tersebut.
Folder itu bernama: PROJECT ALYA
Arga menahan napas. Suara detak jam dinding di belakangnya tiba-tiba terdengar seperti ketukan palu godam. Alya? Kenapa nama istrinya ada di komputer rahasia ayahnya? Alya dan ayahnya bahkan belum pernah bertemu secara langsung karena Arga sengaja menjauhkan istrinya dari pria tua yang temperamental itu. Atau... begitulah yang Arga pikirkan selama ini.
Di atas, terdengar suara langkah kaki Alya menuruni tangga.
"Mas? Kamu di bawah?" suara Alya memantul di dinding beton.
Arga menatap folder itu, lalu menatap arah tangga. Tangannya mencengkeram mouse semakin erat.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar