"Mas Arga? Boleh aku turun?"
Suara Alya semakin dekat. Entah mengapa, insting pertama Arga adalah menyembunyikan penemuannya. Ia panik. Dengan cepat, Arga mematikan layar monitor, membuat ruangan hanya diterangi lampu utama lab.
"Ya, Al! Aku di sini!" seru Arga, suaranya sedikit lebih tinggi dari biasanya. Ia segera berdiri dan berjalan menjauh dari meja komputer, menyongsong Alya yang baru saja tiba di ujung tangga bawah.
Alya mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan bawah tanah itu. Matanya memindai deretan server, lengan robotik, dan meja operasi di tengah ruangan. Ekspresi wajahnya tetap tenang, hanya ada sedikit kerutan halus di dahinya.
"Tempat ini... sangat canggih untuk ukuran sebuah ruang bawah tanah," komentar Alya. Ia berjalan mendekati salah satu server, mengamati lampu indikator yang berkedip. "Ini server dengan kapasitas komputasi tingkat tinggi. Untuk apa ayahmu menyimpannya di sini?"
"Aku... aku juga tidak tahu," bohong Arga. Matanya melirik ke arah monitor yang sudah gelap. "Beliau penuh rahasia. Mungkin penelitian ilegal atau apalah. Kita tidak perlu mengurus ini sekarang. Sebaiknya kita ke atas saja, udara di sini kurang bagus."
Arga dengan cepat meraih lengan Alya, menuntunnya kembali ke tangga. Alya menurut tanpa perlawanan, namun sebelum berbalik, matanya sempat melirik ke arah meja komputer di sudut ruangan.
Malam itu, Arga menyuruh Alya tidur lebih dulu di kamar tamu yang sudah dibersihkan. Beralasan bahwa ia masih harus memilah beberapa dokumen ayah, Arga menyelinap kembali ke ruang bawah tanah. Jantungnya berdebar kencang, seolah ia adalah pencuri di rumahnya sendiri.
Ia duduk kembali di depan komputer. Tangannya sedikit gemetar saat menyalakan kembali layar monitor. Folder PROJECT ALYA masih berada di sana, menunggunya seperti sebuah kotak Pandora.
Dengan satu tarikan napas panjang, Arga mengklik ganda folder tersebut.
Jendela baru terbuka, menampilkan puluhan sub-folder dan file dengan nama-nama yang membuat dahi Arga berkerut dalam.
01_Desain_Jaringan_Saraf_Sintetis.pdf 02_Sirkuit_Biologis_Mandiri.docx Log_Kesalahan_Simulasi_Emosi_v4.xls Integrasi_Memori_Buatan.exe
Arga membuka file pertama. Dokumen PDF itu berisi ribuan halaman tentang struktur otak buatan. Bukan sekadar artificial intelligence berupa software seperti yang biasa Arga kerjakan di kantor, melainkan penggabungan antara kode pemrograman dan sel biologi sintetis. Ayahnya sedang mencoba menciptakan jaringan otak organik yang bisa diprogram.
Arga berpindah ke file log simulasi emosi. Di sana terpampang grafik respons algoritma terhadap berbagai stimulasi: 'Takut', 'Sedih', 'Gembira', 'Cemburu'. Di bagian bawah grafik terdapat catatan kaki yang ditulis oleh ayahnya:
> Catatan Log: Prototipe belum mampu memproses paradoks emosi kompleks secara alami. Respons terhadap stimulus 'cemburu' masih terlihat kaku dan terlalu berbasis probabilitas matematis. Perlu penyesuaian pada algoritma limbik.
Napas Arga tertahan. Kalimat itu. Terlalu berbasis probabilitas matematis. Mengingatkannya pada jawaban Alya semalam saat ia bertanya tentang perselingkuhan.
"Tidak, tidak mungkin. Ini kebetulan. Nama Alya itu nama pasaran," Arga bergumam sendiri di ruang yang sunyi itu. Ia mencoba merasionalisasi kecemasannya. "Mungkin Ayah menamai proyeknya setelah tahu aku berpacaran dengan Alya? Ya, itu pasti."
Namun jari Arga mengkhianati logika yang coba ia bangun. Ia mengklik sebuah file gambar berformat .blueprint dengan ukuran file yang sangat besar.
Layar komputer sempat lagging selama beberapa detik sebelum perlahan merender gambar tersebut.
Arga merasakan aliran darah di tubuhnya seolah berhenti. Seluruh bulu kuduknya meremang.
Di layar, terpampang sebuah desain skematik tiga dimensi dari anatomi manusia biologis-sintetis. Mulai dari kerangka yang terbuat dari material titanium-karbon ringan, otot-otot dari polimer sintetis, hingga lapisan kulit buatan.
Dan di bagian kepala... adalah wajah istrinya.
Bentuk rahangnya, jarak antara kedua matanya, proporsi hidungnya. Semuanya adalah Alya. Bukan sekadar mirip, itu adalah replika presisi geometris dari wajah wanita yang menemaninya tidur selama dua tahun terakhir.
"Tuhan..." suara Arga tercekat. Ia menutup mulutnya dengan tangan, mencegah teriakan ngeri yang mendesak keluar dari tenggorokannya. Ia menekan tombol zoom in pada gambar tersebut. Di dekat tulang selangka kerangka skematik itu, terdapat ukiran nomor seri kecil.
Dengan tangan bergetar hebat, Arga membuka file terakhir yang bernama Status_Akhir_Project.txt. Ia membaca teks pendek di dalamnya.
*> PROJECT ALYA - TAHAP 4.
Konstruksi fisik: Selesai. Integrasi memori buatan (backstory): Selesai. Tujuan utama: Menciptakan entitas yang tidak bisa dibedakan dari manusia, yang mampu beradaptasi dan belajar dari lingkungan tanpa menyadari kodrat aslinya. Subjek harus diisolasi dari pengawasan NexaTech.*
SUBJECT PROTOTYPE : ALYA
Arga mendorong kursinya ke belakang hingga berderit keras. Ia menatap layar itu dengan horor yang melumpuhkan akal sehatnya. Kepalanya pening. Mual menyerang perutnya.
Wanita yang ia nikahi. Wanita yang tersenyum padanya setiap pagi. Wanita yang kulitnya terasa hangat, yang napasnya berhembus teratur saat tidur, yang bisa terluka jika terkena pisau dapur...
Di file terakhir tersebut, di baris paling bawah, terdapat tulisan berkedip berwarna merah yang ditambahkan beberapa tahun lalu.
> STATUS PROTOTIPE: DIBEBASKAN KE LINGKUNGAN (TERPANTAU).
Arga menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Rentetan memori masa lalunya menghantamnya bagai badai. Bagaimana pertama kali ia bertemu Alya secara "kebetulan" di sebuah kafe tepat setelah ia bertengkar hebat dengan ayahnya. Bagaimana Alya tidak punya keluarga, alasannya adalah sebatang kara dari panti asuhan yang sudah lama tutup. Bagaimana Alya tidak pernah sakit parah. Bagaimana Alya selalu, selalu sempurna.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar menuruni tangga.
Sangat pelan. Sangat ritmis.
Arga menoleh dengan cepat ke arah kegelapan di ujung tangga. Siluet seorang wanita berdiri di sana.
"Mas Arga?" suara Alya memecah keheningan lab. Suaranya masih selembut malaikat, tapi di telinga Arga saat ini, suara itu terdengar menakutkan. "Kenapa layarnya tidak dimatikan lagi seperti tadi?"
Arga menatap istrinya dalam keremangan cahaya server. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Untuk pertama kalinya, Arga merasa ia sedang menatap sosok yang sama sekali tidak ia kenal.
Istrinya... mungkin bukan manusia.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar