Proses pemakaman dan penyelesaian urusan rumah Lembang berlangsung seperti dalam kabut bagi Arga. Ia bergerak seperti robot, merespons ucapan belasungkawa kerabat dengan senyum tipis yang dipaksakan. Sepanjang waktu, matanya tak pernah lepas dari Alya.

Wanita itu mengenakan gaun hitam panjang, rambutnya digelung rapi. Alya menyambut tamu, menyuguhkan minuman, dan sesekali mengusap punggung Arga untuk menenangkannya. Setiap sentuhan Alya kini terasa berbeda bagi Arga. Alih-alih menghangatkan, sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik statis yang memperingatkannya akan bahaya.

Tiga hari kemudian, mereka kembali ke Jakarta.

Malam pertama di rumah mereka sendiri terasa mencekik. Hujan rintik turun membasahi kaca jendela ruang makan. Alya tengah menata meja, menghidangkan sup ayam hangat kesukaan Arga. Aroma kaldu dan seledri memenuhi ruangan, aroma yang dulu selalu membuat Arga merasa berada di rumah.

Arga duduk diam di kursinya. Kepalanya kacau. Ia belum tidur dengan benar selama tiga hari. Matanya merah, kantung matanya menghitam.

Alya duduk di hadapannya, meletakkan mangkuk nasi di depan Arga. "Makanlah, Mas. Kamu butuh tenaga. Tiga hari ini kamu kurang istirahat," ucapnya lembut.

Arga tidak menyentuh sendoknya. Ia hanya menatap Alya. Ia mengamati cara wanita itu berkedip, cara dadanya naik turun saat bernapas, cara otot lehernya bergerak saat menelan ludah. Semuanya terlalu sempurna. Terlalu presisi. Tidak ada cacat. Tidak ada asimetri yang alami.

"Kenapa kamu menatapku seperti itu, Mas?" tanya Alya, meletakkan sendoknya. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang takarannya sangat pas. "Ada yang salah dengan supnya?"

Arga menarik napas panjang. Ia menggeser mangkuknya sedikit. "Al... boleh aku tanya sesuatu?"

"Tentu saja. Kamu bisa tanya apa pun padaku," Alya tersenyum teduh.

"Kamu... lahir di mana?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Sederhana, tapi mematikan.

Senyum Alya tidak pudar, ia menjawab dengan nada yang sama lembutnya. "Kamu kan sudah tahu, Mas. Aku lahir di Bandung. Di rumah sakit kecil yang sekarang sudah tutup. Aku dibesarkan di Panti Asuhan Kasih Bunda setelah kecelakaan lalu lintas merenggut nyawa orang tuaku saat aku berumur tiga tahun."

Arga menelan ludah. "Kecelakaan lalu lintas? Di jalan apa?"

Alya menatapnya tanpa ragu. "Jalan Soekarno-Hatta, perempatan lampu merah. Hujan deras malam itu, mobil ayahku tergelincir dan menabrak pembatas jalan. Aku satu-satunya yang selamat karena ibu mendekapku erat-erat."

Arga memejamkan matanya sejenak. Rasa sakit menusuk pelipisnya. Cerita itu... Arga sudah mendengarnya tiga kali sejak mereka berpacaran. Dan malam ini, Arga menyadari sesuatu yang mengerikan.

Pilihan kata, jeda napas, bahkan intonasi kesedihan saat Alya menceritakannya... semuanya persis sama. Seratus persen identik dengan saat ia menceritakannya dua tahun lalu. Manusia normal tidak akan mengingat dan menceritakan trauma masa lalu dengan narasi struktural yang persis sama setiap kalinya. Ada kalanya mereka lupa detail, ada kalanya mereka mengganti kata. Tapi Alya? Ceritanya rapi. Terlalu rapi. Seperti skrip audio yang ditekan tombol play.

"Kamu yakin itu ingatanmu sendiri, Al?" suara Arga sedikit bergetar. "Atau... sesuatu yang diceritakan orang lain padamu?"

Kening Alya berkerut halus. Ekspresi bingung muncul di wajahnya. "Mas Arga, kamu kenapa? Tentu saja itu ingatanku, walaupun samar karena aku masih sangat kecil. Kamu sedang banyak pikiran karena kepergian Ayah. Sebaiknya kamu makan lalu tidur."

Arga tidak mendebat. Ia tidak bisa. Pikirannya berlomba mencari bukti konkret, sesuatu yang tidak bisa dibantah oleh argumen apa pun.

Malam itu, jam dua dini hari, Alya tertidur lelap di ranjang mereka. Napasnya teratur, tubuhnya sesekali bergerak mengubah posisi. Sangat manusiawi.

Arga perlahan bangkit dari sisi ranjang. Ia meraih ponselnya dari nakas, lalu melangkah tanpa suara ke meja rias Alya. Ia mengambil sebuah gelas kaca sisa air minum yang baru saja dipegang Alya sebelum tidur. Dengan hati-hati, menggunakan bubuk bedak dan sepotong selotip bening, Arga mengangkat sidik jari Alya dari permukaan gelas tersebut. Sebuah trik lama yang ia pelajari dari forum hacker masa kuliahnya.

Arga membawa selotip itu ke ruang kerjanya. Ia menempelkannya pada pemindai biometrik kecil yang terhubung ke laptopnya. Sebagai software engineer yang sering memegang proyek sistem keamanan perbankan, Arga memiliki akses tak resmi ke database kependudukan nasional—sesuatu yang sangat ilegal, namun ia butuh jawaban malam ini juga.

Jari-jarinya menari cepat di atas keyboard. Layar hitam dengan baris kode hijau terpampang di depannya. Ia memasukkan data sidik jari yang baru saja ia pindai, lalu menjalankan algoritma pencarian silang dengan database KTP pemerintah pusat.

Scanning in progress... Matching geometric patterns...

Ruang kerja itu hening. Hanya terdengar dengungan kipas laptop Arga. Keringat dingin menetes dari dahi Arga ke pelipisnya. Matanya tak berkedip menatap bar pemuatan di layar yang terus berjalan. 90%... 95%... 100%.

Layar berkedip merah.

RESULT: NO MATCH FOUND. ERROR 404: FINGERPRINT DATA DOES NOT EXIST IN NATIONAL DATABASE.

Arga merosot di kursinya. Paru-parunya seakan lupa cara bekerja. Tidak ada data. Tidak ada rekam jejak. Wanita yang tidur di kamarnya saat ini, secara hukum dan biologis, tidak pernah lahir ke dunia ini.

Semua dokumen ayahnya benar. Alya adalah mahakarya sintesis.

Malam itu, Arga menangis tanpa suara dalam kegelapan ruang kerjanya. Istrinya bukan manusia. Dan parahnya, istrinya sendiri tidak mengetahui hal itu.