Jantung Arga memompa darah begitu keras hingga telinganya berdenging. Siluet Alya berdiri diam di ujung tangga bawah tanah, wajahnya separuh tertutup bayangan. Lampu server yang berkedip merah memantul di bola matanya, memberikan kesan asing yang membuat bulu kuduk Arga meremang.

"Kenapa layarnya tidak dimatikan lagi seperti tadi, Mas?" ulang Alya. Suaranya masih tenang, sedingin es.

Arga menelan ludah yang terasa sepahit empedu. Ia memaksa kakinya melangkah maju, memposisikan tubuhnya untuk menutupi layar monitor di belakangnya. "Ah, ini... aku baru saja mau menyalakannya lagi. Tadi ada kabel yang tersenggol jadi layarnya mati," Arga berbohong, suaranya terdengar lebih parau dari yang ia harapkan.

Alya memiringkan kepalanya. "Begitu ya? Perlu aku bantu mengecek kabelnya?" Ia mengambil satu langkah maju.

"Tidak!" sergah Arga terlalu cepat, membuat langkah Alya terhenti. Arga memaksakan sebuah tawa canggung, mengusap tengkuknya yang berkeringat dingin. "Maksudku, tidak usah, Al. Di sini kotor sekali. Debunya tebal, nanti asmamu kumat. Kamu tahu kan alergi debumu gampang sekali terpancing?"

Alya terdiam sejenak. Mata jernihnya menatap Arga lekat-lekat, menganalisis. "Iya, kamu benar, Mas. Udara di sini memang membuat dadaku sedikit sesak," ucapnya akhirnya, meletakkan satu tangan di dadanya. "Kalau begitu, aku tunggu di atas saja. Jangan terlalu lama ya, Mas. Kamu butuh istirahat."

"Pasti, Sayang. Lima menit lagi aku ke atas," jawab Arga, mati-matian menjaga nada suaranya agar terdengar normal.

Begitu punggung Alya menghilang di balik pintu lantai atas, Arga nyaris ambruk ke lantai. Kakinya gemetar hebat. Ia segera berlari kecil menaiki setengah tangga, memastikan pintu kayu di atas benar-benar terkunci dari bawah. Setelah bunyi klik terdengar, ia kembali ke depan komputer dengan napas memburu.

Ia harus menyelesaikan ini. Ia harus tahu semuanya malam ini juga.

Tangan Arga yang bergetar meraih mouse. Ia mengabaikan file blueprint wajah Alya dan membuka dokumen lain yang diberi nama 05_Laporan_Integrasi_Biologis.pdf. Matanya dengan cepat memindai paragraf demi paragraf yang ditulis oleh ayahnya. Bahasa teknis dan medis bercampur aduk, namun sebagai seorang engineer, Arga bisa menangkap intinya.

Tulang kerangka menggunakan paduan titanium berlapis kalsium karbonat untuk mengelabui pemindaian medis standar. Sistem pencernaan buatan dikalibrasi untuk menyerap nutrisi dasar dan membuang sisa makanan, meniru proses metabolisme manusia secara sempurna. Suhu tubuh dipertahankan secara artifisial melalui sistem sirkulasi fluida termal yang menyerupai pembuluh darah.

Arga menutup mulutnya, menahan rasa mual yang tiba-tiba bergejolak. Pantas saja Alya terasa hangat saat dipeluk. Pantas saja detak jantungnya terdengar saat Arga menyandarkan kepala di dadanya. Semua itu adalah ilusi mekanis yang dirancang dengan tingkat kejeniusan—dan kegilaan—yang tidak masuk akal.

Lalu, mata Arga terpaku pada satu file log harian tertanggal lima tahun lalu. Ia mengkliknya.

> Hari ke-892. Uji coba pelepasan. > Prototipe ALYA telah menunjukkan stabilitas kognitif yang luar biasa. Ia percaya sepenuhnya pada memori buatan yang kutanamkan di modul hippocampus sintetisnya. Cerita tentang Panti Asuhan Kasih Bunda di Bandung, tragedi kebakaran yang menewaskan "orang tua" fiktifnya... ia menceritakan semuanya dengan intonasi kesedihan yang nyaris meyakinkan. > Ia siap. Aku harus mengeluarkannya dari sini sebelum 'mereka' datang.

"Mereka?" gumam Arga sendiri, keningnya berkerut tajam. Ia mengklik file terakhir di dalam folder tersebut. Sebuah dokumen peringatan berwarna merah bertajuk URGENT_STATUS.txt.

Isi dokumen itu singkat, namun cukup untuk membuat darah Arga membeku:

> NexaTech mulai mencurigai keberadaan lab ini. Mereka menginginkan teknologi neural-core di dalam kepala Alya. Jika mereka mendapatkannya, mereka akan merevolusi industri militer dan tenaga kerja global dengan cara yang mengerikan. Aku tidak menciptakan Alya untuk menjadi senjata atau budak. > Aku telah menghapus semua jejak pelacakannya. > Status Prototipe: HILANG. > Semoga Tuhan memaafkanku atas apa yang telah kubawa ke dunia ini.

Arga bersandar lemas di kursinya. Ruangan bawah tanah itu terasa berputar. NexaTech? Perusahaan teknologi raksasa multinasional yang memonopoli industri AI global? Ayahnya berurusan dengan mereka?

Lebih buruk lagi, ayahnya menjadikan Alya buronan bernilai miliaran dolar tanpa wanita itu—atau lebih tepatnya, entitas itu—menyadarinya. Dan secara kebetulan yang kejam, entitas buronan itu kini adalah istrinya.

Arga menatap kosong ke arah layar. "Dia... dia benar-benar bukan manusia," bisiknya parau, air mata keputusasaan menggenang di pelupuk matanya. "Istriku... hanyalah sekumpulan data dan mesin."