Yang paling membuatku takut bukan screenshot itu sendiri.

Yang membuatku takut adalah kenyataan bahwa lemariku selalu kukunci dari luar.

Aku menatap layar HP-ku selama hampir satu menit tanpa berkedip. Foto di galeri itu—foto kamar yang sedang kududuki sekarang, kasur yang sama, lampu tidur yang sama, tumpukan buku di nakas yang sama—diambil dari sudut yang seharusnya tidak mungkin. Dari atas. Dari ketinggian sekitar satu setengah meter. Dari arah lemari pakaian di sisi kanan kasur.

Aku tidak ingat memotret ini.

Aku tidak punya kamera tersembunyi.

Dan lemariku—lemari kayu lapis kecil yang aku beli karena murah waktu pindah dua bulan lalu—terkunci dari luar dengan gembok sepuluh ribuan yang kuncinya kusimpan di laci nakas, di bawah tumpukan struk belanja dan obat tidur yang sudah lama tidak kupakai.

Aku menatap pintu lemari itu dari kasur.

Pintu lemari itu menatapku balik.

Sebelum aku ceritakan apa yang kutemukan di dalam lemari pagi itu, kalian perlu tahu satu hal.

Aku, Aira Pradipta, dua puluh empat tahun, content strategist di startup fintech yang office-nya di SCBD, bukan tipe orang yang percaya hal-hal aneh.

Aku tidak percaya hantu. Aku tidak percaya kebetulan. Aku tidak percaya cinta dari aplikasi kencan.

Tapi malam sebelumnya, aku melakukan ketiganya sekaligus.

Pukul sebelas malam. Tania, sahabatku sejak kuliah, video call ketiga dalam dua hari.

"Ra. Aku mohon. Demi gue, demi mama lo, demi kucingnya pak satpam yang lo suka kasih makan—install ulang aplikasi kencannya. Sekarang."

"Tan, aku capek."

"Lo udah dua bulan jadi zombie. Lo ke kantor pakai kaos yang sama tiga hari. Gue tau karena gue nge-stalk feed lo. Daffa udah move on. Selingkuhannya udah dia ajak dinner ke Plataran. Lo masih nungguin apa?"

Aku menutup mata. Kasur empukku terasa seperti pasir. Aku tidak ingin install aplikasi apa-apa. Aku ingin tidur. Tapi insomnia sudah dua bulan teman terbaikku, dan tidur sama susahnya dengan menjelaskan ke ibu kenapa aku belum nikah.

"Aplikasi apa, Tan?"

"Pulse. Lagi viral."

"Pulse? Gue belum pernah denger."

"Justru itu. Algoritmanya katanya lebih cocok ke orang yang udah trauma. Yaudah, install dulu. Swipe lima kali. Habis itu lo boleh tidur. Janji."

Aku terlalu lelah untuk berdebat.

Aku buka Play Store. Mengetik "Pulse." Aplikasi pertama yang muncul punya logo gelombang biru sederhana. Empat juta pengguna. Rating 4.8. Tidak ada yang aneh.

Aku install. Bikin profil dengan tiga foto lama dan bio yang seadanya. Aku swipe.

Lima profil pertama: tidak menarik.

Profil keenam: Reza Aditya, dua puluh tujuh tahun, fotografer freelance.

Aku berhenti di profilnya bukan karena fotonya. Fotonya bagus, tapi tidak luar biasa—pria dengan rahang tegas, rambut sedikit berantakan, jaket hitam, topi baseball hitam. Tipe yang di kafe specialty coffee Jakarta ada tiga puluh setiap weekend.

Aku berhenti karena bionya.

"Pendengar yang baik. Suka kopi tubruk dingin (ya, dingin). Trauma pada perempuan yang bilang 'gakpapa' padahal apapa."

Aku menatap kalimat terakhir itu lama sekali.

Karena minggu lalu—tepat tujuh hari sebelum malam itu—aku berkata persis kata-kata itu kepada Daffa di restoran Italia di Senopati. Daffa baru saja meminta maaf untuk ketujuh kalinya. Aku menatap pasta yang tidak kusentuh, menggeleng, dan berkata, "Gue trauma sama orang yang bilang 'sorry' padahal nggak sorry. Sama kayak orang yang bilang 'gakpapa' padahal apapa."

Daffa tidak mengerti.

Tapi pria di layar HP-ku ini, Reza Aditya, yang tidak pernah kukenal—dia menulisnya di bionya seakan dia mendengar.

Aku swipe right.

Beberapa detik kemudian: Match.

Yang aneh dari Reza bukan karena dia ngajak ngobrol duluan.

Yang aneh adalah pertanyaan pertamanya.

Bukan "halo." Bukan "hai cantik." Bukan "wkwk salam kenal."

Pesan pertamanya, dua menit setelah match, hanya satu kalimat:

"Lo udah tidur belum?"

Aku menatap layar. Tertawa kecil sendiri. Aku ketik balasan dengan ibu jari yang masih ragu.

"Lagi nyoba."

"Lagu Mocca yang biasa lo dengerin?"

Aku berhenti mengetik.

Aku tidak pernah menulis di profil bahwa aku suka Mocca. Aku tidak pernah menulis di profil bahwa aku punya playlist khusus untuk insomnia. Tapi aku berasumsi—mungkin tebakan keberuntungan. Mocca sudah viral lagi setelah TikTok. Banyak orang dengar.

"Iya. 'I Remember.' Lo juga?"

"Setiap malam. Lima tahun terakhir."

Aku tidak tahu jam berapa kami berhenti chat.

Yang kuingat: kami bicara tentang film Eternal Sunshine of the Spotless Mind—aku bilang aku menontonnya tiga kali setiap putus, Reza bilang dia juga, dan kami berdua tertawa karena kami tahu itu film yang menyakitkan untuk ditonton berulang. Kami bicara tentang ibu—Reza juga anak tunggal dari ibu single parent. Kami bicara tentang trauma kecil—rasa tidak enak ditinggalkan terus-menerus oleh orang yang berjanji akan tinggal.

Pukul dua pagi, dia ketik:

"Aku tahu ini terdengar aneh."

"Tapi rasanya kayak udah kenal kamu lama."

Aku menatap kalimat itu. Mengetik balasan. Menghapus. Mengetik lagi.

"Same."

Aku tidur dengan HP di samping bantal. Senyum kecil terakhir kali sejak Daffa.

Pagi.

Pukul tujuh lewat lima belas. Alarmku berbunyi.

Aku meraih HP. Mata setengah terbuka. Hal pertama yang ingin kulakukan adalah membaca chat semalam—pesan yang kukira akan jadi cerita lucu untuk kuceritakan ke Tania saat makan siang.

Aku buka Pulse.

Halaman match: kosong.

Aku refresh. Kosong.

Aku scroll ke arsip pesan. Kosong.

Aku force close aplikasi. Buka lagi. Login ulang dengan akun yang baru kubuat semalam.

"Tidak ada match."

Aku menatap layar. Otak masih bangun setengah. Aku pikir mungkin server error. Mungkin Reza yang unmatch—itu menyebalkan tapi mungkin. Aku buka galeri HP, ingin mencari screenshot chat yang biasanya kuambil saat ngobrol dengan orang baru.

Karena aku, Aira Pradipta, dua puluh empat tahun, anak ibu single parent yang mengajarkan untuk selalu menyimpan bukti, punya satu kebiasaan yang menyelamatkan banyak hal.

Aku screenshot semua.

Tapi pagi itu, di galeri HP-ku, tidak ada satu pun screenshot Reza.

Yang ada hanya satu foto baru. Foto yang tidak kuambil. Foto yang timestamp-nya tertulis pukul 03:17 pagi—tujuh jam dan dua menit setelah aku ketiduran.

Foto kamarku sendiri.

Diambil dari dalam lemari.

Aku duduk lima menit di tepi kasur tanpa bergerak.

Lalu aku berdiri.

Aku berjalan ke nakas. Membuka laci. Tumpukan struk belanja, obat tidur, charger lama, dan—di bagian bawah—gembok kecil dengan kunci masih menggantung di lubangnya.

Gembok masih terkunci.

Aku tarik napas. Aku tahu yang harus kulakukan. Tapi aku tidak ingin melakukannya.

Lalu aku ingat kalimat ibu, suatu sore di teras rumah saat aku sembilan tahun dan takut kegelapan: "Yang membuat takut bukan apa yang ada di kegelapan, Nak. Yang membuat takut adalah pura-pura tidak melihatnya."

Aku berjalan ke lemari.

Kunci di tangan kanan. Tangan kiri di gagang gembok. Tangan kananku gemetar.

Aku masukkan kunci. Putar. Klik.

Aku tarik gembok keluar.

Aku berhenti sebentar—satu detik, dua detik—lalu kubuka pintu lemari.

Bau pakaian biasa. Sabun cuci. Pelembut. Sedikit debu.

Aku menatap ke dalam. Tumpukan baju kerja di rak atas, gantungan kemeja di rel tengah, tumpukan baju kotor di lantai bawah lemari. Semua biasa. Semua di tempatnya.

Lalu mataku turun.

Di lantai lemari, di sudut belakang yang gelap, di antara tumpukan kaos kotor dan dinding kayu—ada sesuatu yang kecil, putih, dan tidak seharusnya ada di sana.

Aku menunduk. Mengulurkan tangan. Tanganku menyentuh lantai lemari yang dingin.

Aku menjemput benda-benda kecil itu satu per satu.

Tujuh helai.

Putih kekuningan.

Bentuknya melengkung, seperti bulan sabit kecil.

Serpihan kuku jari.

Aku potong kukuku tiga hari lalu di kamar mandi. Aku ingat. Aku selalu ingat hal-hal kecil seperti itu. Aku potong di atas tempat sampah, kubuang, kucuci tangan, kembali ke kamar.

Tujuh serpihan kuku ini—di telapak tanganku sekarang, di lantai lemari yang seharusnya kosong—terlalu besar untuk kuku jariku sendiri.

Aku menatap telapak tanganku.

Aku menatap pintu lemari yang masih terbuka.

Lalu aku menatap—

Tidak.

Aku tidak menatap.

Aku menutup mata.

Karena dari sudut ruangan, dari arah kasurku yang tidak kulihat—aku mendengar suara HP-ku bergetar pelan.

Notifikasi masuk.

Aku tidak ingin melihat. Aku tidak ingin tahu.

Tapi aku, Aira Pradipta, anak ibu yang mengajarkan untuk tidak pura-pura tidak melihat, membuka mata. Berjalan ke kasur. Mengangkat HP.

Notifikasi dari aplikasi yang seharusnya sudah kosong:

Pulse: Reza baru saja melihat profilmu.

Lalu pesan kedua, masuk persis di detik aku menatap layar.

Reza: Selamat pagi, sayang. Aku tinggalin sesuatu di lemari kemarin malem. Udah ketemu, kan?