Tania uninstall Pulse dari HP-nya di parkiran kafe.
Kami diam di mobil selama lima menit pertama. Tania pegang setir. Aku duduk di kursi penumpang. Kami menatap lurus ke depan—ke pohon mangga di pinggir jalan, ke ojol yang lewat, ke ibu yang menyeberang dengan dua anak kecil—seperti dua orang yang baru saja melihat kecelakaan dan belum tahu bagaimana mengakui bahwa mereka melihatnya.
"Aku percaya lo," kata Tania akhirnya. Pelan. "Tapi aku gak ngerti, Ra."
"Aku juga gak ngerti."
"Lo aman tidur di rumah aku malem ini?"
"Aku gak tau."
Tania menyalakan mesin.
—
Kami pulang ke apartemenku dulu. Mengambil baju. Charger. Laptop. Tania tidak mau aku masuk sendirian, jadi dia ikut naik. Lift kosong. Koridor kosong. Sore yang biasa.
Aku buka pintu unit.
Di dalam, semua sama persis dengan tadi pagi—kecuali pintu lemari yang sudah tertutup kembali. Gembok terpasang. Kunci masih tergeletak di lantai di mana aku jatuhkan.
Aku tidak melihat ke lemari.
Aku mengemas baju cepat-cepat. Tania berdiri di pintu kamar, tidak masuk.
"Ra," katanya. "Aku ke kamar mandi sebentar."
"Yang di lobi aja, Tan."
"Hmm?"
"Yang di lobi. Yang di sini—" aku menelan ludah—"jangan pakai cermin yang di sini."
Tania menatapku. Lalu mengangguk pelan. "Oke."
Dia keluar ke koridor.
—
Lima detik kemudian, aku mendengar Tania berbicara.
Bukan kepadaku. Suaranya teredam pintu.
"Eh, Ibu. Permisi—iya, ini Mbak Aira lagi packing."
Aku berhenti melipat baju. Aku berjalan ke pintu. Mbak Yuli, tetangga sebelah, berdiri di koridor dengan plastik sampah di tangan. Senyum ramahnya yang biasa.
"Mbak Aira!" panggilnya saat melihatku. "Mau pergi ya?"
"Iya, Mbak. Mau ke rumah temen sebentar."
"Suaminya kerja shift malem ya, Mbak?"
Aku berhenti.
Tania berhenti.
"Mbak?" suaraku tipis.
"Saya sering lihat Mas-nya pulang malem-malem," lanjut Mbak Yuli, tidak menyadari ekspresi kami. "Kasian ya, kerja sampe larut. Saya kadang ketemu di koridor pas saya keluar buang sampah subuh. Dia ramah orangnya."
Aku tidak punya suami. Aku tidak punya pacar. Aku tidak punya siapa pun yang masuk ke unit ini selain aku.
Tapi aku berusaha tenang.
"Mbak. Mbak salah orang mungkin?"
"Eh, masak. Yang ini, unit C-12. Bukan?"
"Iya, ini unit saya. Tapi saya tinggal sendiri, Mbak."
Mbak Yuli mengernyit. Senyumnya berubah jadi bingung.
"Mbak, masak sih? Saya hampir tiap minggu lihat. Bukan tiap hari. Tapi sering. Pakai jaket hitam. Topi baseball. Tinggi sedang. Kurus. Jalannya pelan."
Tania melirikku. Aku melirik Tania. Kami sama-sama tahu deskripsinya.
"Mbak," kataku pelan. "Boleh saya tunjukkin foto?"
Aku ambil HP. Buka galeri—yang tidak ada lagi foto Reza. Buka Pulse—yang masih terinstal entah bagaimana, walaupun aku ingat menghapusnya. Cari profil Reza.
Profilnya tidak ada lagi.
Aku tap pencarian. Mengetik "Reza."
*"Tidak ada hasil."*
Tania mengulurkan HP-nya. "Ini, Bu."
Aku tidak tahu kapan Tania screenshot. Aku tidak tahu apakah dia memang screenshot. Tapi di layar HP Tania—HP yang Pulse-nya sudah dihapus dua puluh menit lalu di parkiran kafe—ada foto Reza Aditya. Foto profilnya yang kemarin malam aku swipe right. Pria dengan jaket hitam, topi hitam, rahang tegas.
Mbak Yuli menatap foto itu.
Lama.
"Eh, iya," katanya pelan. "Kayaknya iya. Tapi—" dia mengernyit—"aslinya lebih kurus dari foto ini. Mukanya juga... gimana ya. Lebih—" dia mencari kata—"lebih datar. Kayak lagi capek banget."
"Mbak," suaraku tipis. "Mbak terakhir lihat dia kapan?"
Mbak Yuli berpikir. "Kapan ya... Selasa kemaren? Pagi-pagi banget. Saya pas mau sholat tahajud. Buka pintu mau ngambil koran. Eh, dia pas keluar dari unit Mbak. Kira-kira jam tiga lebih."
Tiga belas. Tujuh belas.
03:17.
Aku tahu jam itu sebelum dia menyebutkan menitnya.
Mbak Yuli melanjutkan, tanpa menyadari aku gemetar.
"Saya pikir suami Mbak. Ramah orangnya. Sempet nyapa saya. Bilang—" Mbak Yuli mengingat—"bilang apa ya. Oh, '*Mbak Yuli, Aira-nya lagi tidur. Tolong jangan berisik ya.*' Saya bilang oke aja. Soalnya emang saya kadang berisik kalo bersih-bersih subuh."
Tania memegang lenganku. Pegangan yang erat.
"Mbak—" kataku—"Mbak pernah lihat anak kecil di sekitar unit saya?"
Mbak Yuli mengangguk cepat. Senyumnya kembali. "Iya! Anaknya juga lucu ya, Mbak. Saya gak tau Mbak punya anak."
Aku menatap Mbak Yuli.
"Mbak, saya nggak punya anak."
Mbak Yuli mengernyit dalam. "Loh, masak. Kemarin sore saya lihat anak kecil di depan pintu Mbak. Cewek. Kira-kira lima tahunan. Rambutnya kuncir dua. Pakai daster putih. Saya kira anak Mbak yang lagi nungguin Mbak pulang dari kerja. Saya lambai, dia lambai balik. Lucu banget."
Aku menatap pintu unit—pintu yang sekarang setengah terbuka, karena aku belum menutupnya saat ke koridor.
Dari dalam unit, dari kamarku yang seharusnya kosong, terdengar suara.
Suara langkah kaki kecil.
Berlari pelan di lantai keramik. Pelan, ringan, kayak suara sandal anak kecil. Dari arah dapur menuju kamar tidur.
Lalu berhenti.
Lalu dimulai lagi—kali ini dari kamar tidur menuju ruang tamu.
Lalu berhenti tepat di balik pintu unit.
Tania mendengar. Aku tahu dia mendengar karena dia mencengkeram lenganku lebih keras.
Mbak Yuli tidak mendengar. Mbak Yuli masih tersenyum. "Anaknya pendiem ya, Mbak. Tapi lucu. Saya seneng kalo ngeliat dia di balkon."
Aku menatap Mbak Yuli.
"Balkon?"
"Iya. Yang ngadep ke koridor."
Aku tahu balkonku tidak menghadap koridor. Balkonku menghadap belakang gedung. Ke parkiran. Ke jalan kecil di belakang.
Tidak ada balkon di unitku yang bisa dilihat dari koridor.
Aku menatap Tania. Tania menatap aku.
"Mbak Yuli," kata Tania pelan. "Mbak ada anak kecil?"
Mbak Yuli tertawa. "Saya udah tua, Mbak. Udah ditinggal anak-anak udah lama. Cucu paling. Tapi cucu saya laki, gemuk."
"Mbak Yuli pernah punya anak perempuan kecil yang—"
Mbak Yuli berhenti tertawa.
Senyum di wajahnya menghilang pelan-pelan, seperti foto yang luntur.
"Mbak," katanya, suaranya berubah—lebih dingin, lebih tua—"Mbak kok nanya gitu?"
Tania tidak menjawab.
Mbak Yuli menatap pintu unitku. Lama. Lalu menatap aku.
"Mbak Aira," katanya pelan. "Saya pernah punya anak perempuan."
"Mbak..."
"Namanya Sasha. Dia meninggal pas umur lima. Tahun delapan puluh sembilan. Tenggelam di kolam komplek." Mbak Yuli menelan ludah. "Tapi itu—itu udah lama banget. Itu bukan anak yang saya lihat di pintu Mbak."
"Mbak yakin?"
Mbak Yuli menatap pintu unitku.
Lalu Mbak Yuli menatap pintu unitnya sendiri, di sebelah unitku.
Dia berbalik perlahan.
Berjalan ke pintu unitnya.
Membuka pintu pelan.
"Sasha?" panggilnya, suaranya gemetar. "Sayang? Mama disini."
Dari dalam unitnya—unit yang aku tahu Mbak Yuli tinggal sendiri sejak suaminya meninggal tiga tahun lalu—terdengar suara langkah kaki kecil.
Yang sama persis dengan suara langkah kaki dari dalam unitku.
Dua langkah kaki kecil. Dari dua pintu yang berbeda. Pada saat yang sama.
Berhenti.
Mbak Yuli menutup pintu unitnya pelan-pelan, dari dalam.
Aku mendengar bunyi kunci.
Bunyi kunci kedua.
Bunyi rantai pengaman.
Lalu hening.
-e
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar