Aku tidak ingat bagaimana aku keluar dari kamar.
Yang aku ingat: aku berdiri di depan lemari yang sudah terbuka dua puluh sentimeter, mendengar suaraku sendiri berbisik dari dalam, dan tiba-tiba aku sudah di koridor apartemen, menutup pintu unit dengan napas yang terlalu cepat.
HP di tanganku menyala kembali. Layar terang seperti tidak pernah mati.
Tapi notifikasi yang masuk tadi—saat aku menatap lemari—sudah hilang. Tidak ada di notification bar. Tidak ada di Pulse. Tidak ada di mana pun.
Aku turun ke lobi dengan tangga. Aku tidak ingin masuk lift. Aku tidak ingin masuk ruang tertutup yang reflektif.
Aku pesan ojol ke kafe favorit Tania di Tebet.
—
"Ra, lo break-up sama Daffa baru dua bulan."
Tania menatapku dengan tatapan yang sangat dia kenal—tatapan jurnalis yang sedang menebak apakah narasumbernya bohong atau sakit jiwa. Dia menyeruput es kopinya yang sudah encer. Aku belum menyentuh punyaku.
Aku sudah cerita semua. Match. Chat. Reza yang hilang. Screenshot yang tidak ada. Foto-foto recovery. Pengelola apartemen yang tidak punya data penghuni sebelumnya. Pintu lemari yang terbuka sendiri. Suaraku sendiri yang berbisik dari dalam.
Empat puluh menit aku bicara. Tania tidak menyela.
Sekarang dia bicara.
"Aku nggak bilang lo bohong, Ra. Aku bilang—lo lagi nggak baik."
"Tan—"
"Sleep paralysis, Ra. Lo udah berapa bulan insomnia? Otak yang nggak tidur tuh bisa bikin lo ngeliat hal-hal yang nggak ada. Aku pernah baca jurnalnya. Hipnagogik—itu istilahnya."
"Tania."
"Foto-foto di recovery itu—Ra, aplikasi recovery tuh bisa salah baca metadata. Timestamp bisa rusak. Foto kosong yang dicocokin sama foto lain bisa jadi keliatan kayak satu folder."
"Tania, aku tau apa yang aku lihat."
"Aku tau lo tau. Tapi—" dia menarik napas—"aku juga tau lo masih sakit hati sama Daffa. Dan otak lo cari excuse buat nggak fokus ke itu. Match tengah malam yang ngilang sama screenshot yang ngilang—itu story yang sempurna buat orang yang lagi nggak mau ngehadapin diri sendiri."
Aku menatap dia.
Tania bukan tipe yang kasar. Dia bicara begini karena dia khawatir. Dia pernah nemenin aku ke psikolog setelah ibu meninggal. Dia tahu aku tipe yang gampang spiral.
Aku ambil HP. Buka galeri. Mau tunjukkan foto-foto recovery itu—foto kamarku dari dalam lemari, foto-foto yang tadi pagi kuhitung sampai lima belas.
Galeri terbuka.
Folder *DCIM/HiddenCache/2024-2025*—folder yang tadi pagi kuselipkan ke favorit—tidak ada.
Aku scroll. Scroll lagi. Refresh.
Tidak ada.
Aku buka aplikasi DiskDigger. Mau scan ulang.
Aplikasinya tidak ada.
Tadi pagi aku install. Aku ingat persis tap tombol install. Aku ingat tap tombol "Pemindaian Penuh." Aku ingat melihat hasil empat puluh tujuh foto.
Sekarang aplikasinya tidak ada di HP.
Aku buka Play Store. Cari "DiskDigger." Ketik historis aktivitas. *"Anda belum pernah menginstal aplikasi ini."*
Aku menatap layar. Tania melihat ekspresiku berubah.
"Ra?"
"Aplikasinya hilang."
"Aplikasi apa?"
"Yang aku pakai recovery foto-foto itu. Hilang. Riwayat install di Play Store juga nggak ada."
Tania menarik napas. Pelan. Dia mengulurkan tangan, memegang tanganku. Tangan dingin, mungkin karena es kopi.
"Ra. Mungkin lo nggak install. Mungkin lo cuma mimpiin lo install. Otak yang nggak tidur tuh bener-bener bisa bikin lo bingung sama mimpi dan kenyataan."
Aku tidak menjawab.
Karena aku, Aira Pradipta, dua puluh empat tahun, content strategist di startup fintech, sedang duduk di kafe di Tebet pada hari Selasa siang yang terang, dengan sahabat terbaikku menatapku dengan kasih sayang yang campur kasihan, dan aku tidak punya satupun bukti.
Tidak satupun.
—
"Yaudah," kata Tania pelan. "Aku temenin lo pulang. Kita bersih-bersih kamar. Buang barang-barang Daffa yang masih nyangkut. Kita malem ini nginep di apartemenku. Lo butuh tidur normal dulu. Besok lo bilang kantor, ambil cuti minggu ini. Lo nggak boleh sendirian."
Aku mengangguk. Aku tidak punya argumen.
Mungkin Tania benar.
Mungkin aku memang sedang sakit.
Mungkin pintu lemari yang terbuka, mata yang berkedip, suaraku sendiri yang berbisik—mungkin semua itu adalah bagaimana otak hancur saat dipaksa terus berjalan tanpa tidur.
Aku menyeruput es kopiku yang sudah hangat.
"Tan, makasih ya."
"Apa sih. Kita nih udah dari semester satu. Aku gak akan biarin lo ngebusuk sendirian."
Dia tertawa. Aku ikut tertawa.
Untuk pertama kali sejak pagi, aku merasa lega.
—
Lalu HP-ku bergetar.
Aku otomatis melihat ke layar. Refleks. Tania juga melihat—karena HP itu di antara kami di meja, layarnya di atas, dan kami berdua sama-sama melihat notifikasi pop-up yang muncul.
Notifikasi dari Pulse.
Aplikasi yang seharusnya sudah tidak ada di HP-ku, karena aku ingat persis aku uninstall sebelum ke kafe.
***Pulse: Reza baru saja melihat profilmu.***
Senyum di wajah Tania menghilang. Pelan-pelan. Seperti kabut yang menguap saat matahari muncul, dia tertinggal pucat.
"Ra," suaranya tipis. "Lo bilang akun ini ghost, kan? Aplikasinya juga lo bilang udah dihapus."
Aku tidak menjawab. Aku menatap layar.
Notifikasi kedua masuk.
***Reza mengirim pesan: Tan, jangan dengerin Aira. Dia lagi denial.***
Tania membatu.
Notifikasi ketiga.
***Reza mengirim pesan: Aira, kasih tau Tania soal serpihan kuku di lemari ya.***
Notifikasi keempat.
***Reza mengirim pesan: Atau aku kasih tau dia sendiri.***
Tania mengangkat tangannya dari tanganku. Pelan.
"Aira."
"Tan, sumpah—"
"Lo cerita tentang serpihan kuku ke siapa lagi?"
"Cuma ke lo. Tadi. Dua puluh menit yang lalu."
"Lo nggak posting di mana-mana?"
"Nggak. Tan, sumpah."
Tania menatap HP. Lalu menatap aku. Lalu menatap HP lagi.
"Aku percaya lo," katanya pelan. Suaranya datar. Bukan kasih sayang. Bukan kasihan. "Aku percaya lo, Ra."
Dia mengambil HP-ku dengan tangan yang sedikit gemetar. Mengetik di layar. Membalas pesan Reza.
*"Siapa lo?"*
Pesan terkirim.
Tiga detik.
Lima detik.
Sepuluh detik.
Lalu balasan masuk.
***Reza: Lo udah liat aku, Tan. Selasa kemarin. Di koridor apartemen Aira. Jam dua pagi.***
Tania menjatuhkan HP ke meja.
"Tan?" panggilku.
Dia menatap aku. Wajahnya pucat sempurna sekarang.
"Ra. Selasa kemaren—aku ke apartemen lo. Aku bawain lo soto. Lo ketiduran. Aku pulang sekitar—" dia menelan ludah—"jam dua pagi."
"Tan."
"Aku jalan ke parkiran lewat koridor. Aku ngelewatin koridor lantai 12 karena lift lobi rusak."
"Tan."
"Aku ngelewatin satu cowok di koridor. Pakai jaket hitam. Topi hitam. Aku gak liat mukanya jelas. Aku pikir penghuni lain."
"Tan, please—"
"Dia nyapa aku, Ra."
"Apa?"
"Dia bilang—" Tania menatap aku, mata mulai berkaca—"*'Hati-hati pulang ya, Tan.'* Aku waktu itu bingung kenapa dia tau nama aku. Aku pikir mungkin temen Aira. Aku pulang. Aku lupa."
Kami berdua diam.
HP di antara kami menyala kembali. Notifikasi terakhir masuk.
Tapi kali ini, notifikasi muncul di **kedua** HP—HP-ku dan HP Tania.
Pesan yang sama. Diterima dua orang.
***Reza: Sekarang kalian dua-duanya udah liat aku. Sayang sekali, Tan. Aku suka pas cuma sama Aira.***
-e
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar