Aku tidur di rumah Tania malam itu.


Bukan karena aku takut. Itu yang kubilang ke diriku sendiri. Aku hanya butuh teman ngobrol. Aku hanya tidak ingin sendirian di apartemen yang katanya didatangi suami yang tidak kupunya, anak yang tidak kulahirkan, dan tetangga sebelah yang—mungkin selama tiga puluh lima tahun—juga tidak benar-benar sendirian.


Tania tidur di kasur. Aku di sofa ruang tamu. Lampu menyala. Pintu kamar Tania terbuka. Kami sepakat: tidak ada kamar tertutup malam ini.


Aku tidak tidur.


Aku menatap langit-langit selama tiga jam, mendengarkan suara AC dan napas Tania yang akhirnya teratur sekitar jam dua pagi. Lalu aku bangun, menyalakan HP, dan mengetik di Google.


*"Aplikasi Pulse. Penipuan. Akun hilang."*


Empat hasil.


Reddit. Tahun lalu. Empat thread berbeda. Semua dengan judul yang mirip:


*"Has anyone else used Pulse and gotten a screenshot of their bedroom?"*


Aku tap thread pertama. Buka. Loading.


*"Halaman tidak ditemukan."*


Aku tap thread kedua.


*"Halaman tidak ditemukan."*


Ketiga.


*"Halaman tidak ditemukan."*


Keempat. Loading lebih lama. Lalu muncul. Thread oleh user @SashaMelati23, dipost tahun lalu—nama yang membuat dadaku menyempit.


Sasha.


Tapi aku tidak punya waktu untuk memikirkan kebetulan. Aku membaca cepat sebelum thread ini juga dihapus.


*"Aku install Pulse minggu lalu. Match sama cowok namanya R. Chat semaleman. Pagi akun dia ilang. Yang aneh: di galeri HP gue ada foto kamar gue sendiri yang gue gak inget ambil. Diambil dari sudut yang aneh. Sekarang gue takut tidur. Ada yang ngalamin?"*


Sembilan komentar di bawahnya.


Aku scroll cepat. Tujuh komentar dari user yang sudah inactive—akun nonaktif lebih dari setahun. Dua komentar tersisa terbaca.


@MiraDPL: *"Gue juga, Tahun lalu. Kalo lo lagi sendiri, jangan pernah liat ke cermin pas hujan."*


@LinaR: *"Pindah dari kamar lo. Sekarang. Jangan tunggu hari ke-21."*


Aku menatap dua komentar itu.


*Hari ke-21.*


Aku hitung. Aku match dengan Reza tiga malam lalu. Hari ini hari keempat.


Aku punya tujuh belas hari.



"Tan."


Tania bangun di pagi hari dengan mata bengkak. Tidur empat jam. Aku memberikannya kopi yang sudah kubuatkan.


"Aku perlu CCTV."


"Apa?"


"Apartemenku. Aku mau lihat rekaman koridor dari malam Selasa. Mbak Yuli bilang dia lihat 'suami' aku. Aku perlu bukti yang bisa dipegang orang luar."


Tania menggosok matanya. "Pak Joni, security senior?"


"Iya."


"Aku ikut. Lo gak pulang sendiri."



Pak Joni adalah security yang sudah kerja di apartemen ini sejak awal, sepuluh tahun. Dia kenal semua penghuni. Dia rambutnya sudah putih. Dia ramah, tapi seperti semua security lama, dia juga lelah.


Aku jelaskan tanpa detail mistis. *"Pak, saya mau cek CCTV koridor lantai 12, Selasa malam, jam tiga pagi. Saya khawatir ada yang masuk ke unit saya."*


Pak Joni mengernyit. Mengetik di komputernya.


"Wah, Mbak. CCTV koridor lantai 12 udah rusak dua tahun. Anggaran perbaikan belum cair."


"Yang ada apa, Pak?"


"CCTV lift, parkiran, pintu lobi. Itu masih jalan."


"Boleh saya lihat?"


Pak Joni menatapku. Lalu menatap Tania. Lalu menghela napas.


"Mbak Aira, kalau ada masalah serius, harusnya lapor polisi dulu—"


"Pak, please."


Pak Joni diam sebentar. Lalu mengangguk pelan. "Lima belas menit aja ya."



Aku duduk di kursi plastik di ruang security. Tania berdiri di belakangku. Pak Joni mengoperasikan komputer.


CCTV lift. Tanggal Selasa. Jam 02:30.


Aku menunggu.


02:43. Pintu lift terbuka di lobi. Aku—Aira, dengan kemeja kerja yang sama yang kuingat kupakai Selasa—masuk lift sendiri. Tap kartu. Lift naik. Aku berdiri di tengah lift, menunduk menatap HP. Lift sampai lantai 12. Aku keluar.


Pintu lift menutup.


Aku tarik napas. Aman. Tidak ada siapa-siapa di sebelahku.


"Cek ulang, Pak. Slow motion."


Pak Joni mundurkan rekaman. Mainkan dengan kecepatan setengah.


Aku menatap layar.


Aku—di lift—berdiri sendiri. Lift sampai lantai 12. Pintu terbuka. Aku keluar.


Lalu, selama dua detik kosong sebelum pintu menutup penuh—


Tunggu.


"Pak, mundurin lagi. Yang detik terakhir."


Pak Joni mundurkan.


Aira keluar dari lift. Pintu mulai menutup. Detik pertama: pintu mulai bergerak menutup. Detik kedua: pintu hampir tertutup penuh.


Tapi di antara dua detik itu—di sudut frame, di sisi kanan—


Sebuah tangan.


Memegang gagang pintu lift dari luar. Dari sisi koridor. Menahan pintu agar tidak menutup terlalu cepat.


Tangan dengan jari-jari yang **terlalu panjang**.


Tania mencengkeram bahuku.


Pak Joni mendekat ke layar. Mengernyit dalam. "Apa itu?"


Aku tidak menjawab.


"Mbak, ini—saya gak pernah liat ini sebelumnya."


"Pak, bisa diperbesar?"


Pak Joni zoom in. Tangan itu—pucat, jari-jari panjang, terlalu panjang untuk proporsi normal. Kuku—kuku-kuku itu pendek, tapi kasar, seperti baru dipotong asal-asalan.


Aku ingat tujuh serpihan kuku di kantong plastik di tasku. Tujuh serpihan yang terlalu besar untuk kuku jari manusia normal.


"Pak, bisa diprint? Atau di-export?"


"Bisa, Mbak. Sebentar."


Pak Joni klik export. Loading.


*"File corrupted."*


Pak Joni mengernyit. Coba lagi. Loading.


*"File corrupted."*


"Aneh. Coba di tanggal lain dulu, biar saya yakin sistemnya jalan."


Pak Joni klik export di rekaman tanggal kemarin. Loading. Selesai. File tersimpan.


Pak Joni klik export di rekaman Selasa malam—rekaman yang baru kami tonton.


*"File corrupted."*


Aku ambil HP dari tas. Tania paham. Dia berdiri di sebelahku, menutupi sudut layar dari Pak Joni dengan badannya.


Aku foto layar CCTV pakai HP-ku.


Klik.


Aku cek hasil.


Foto tersimpan di galeri. Tangan berjari panjang itu masih jelas di layar.


"Pak, makasih banyak. Saya kabarin lagi kalau ada update."



Kami keluar dari pos security cepat-cepat. Tania tarik aku ke parkiran. Aku setengah lari.


"Foto-nya jadi?" tanya Tania.


"Jadi."


"Tunjukin."


Aku buka galeri. Tap foto terakhir.


Foto tangan di lift CCTV terbuka.


Tapi—


"Ra," kata Tania pelan. "Itu—itu nggak sama dengan yang kita liat tadi."


Aku menatap foto.


Tangan itu masih ada. Masih berjari panjang. Masih pucat. Tapi tangan itu tidak lagi memegang gagang pintu lift.


Tangan itu sekarang **menunjuk**.


Lurus ke arah kamera. Lurus ke arah aku yang sedang memotret layar CCTV beberapa menit lalu.


Dan di sudut bawah foto—di tempat seharusnya hanya ada timestamp digital—ada teks kecil yang tampak seperti tulisan tangan tergores di atas frame:


***"Berhenti mencariku. Aku sudah ketemu kamu."***


Tania mengambil HP dari tanganku. Menatap foto. Lalu menatap aku.


"Ra, jangan dihapus. Jangan dipindah. Jangan disimpan ke cloud. Diem aja dulu."


Aku mengangguk. Tidak bisa bicara.


Tania mengembalikan HP. Memutuskan koneksi data dan WiFi-nya. "Kita ke counter HP. Kita beli HP baru. Lo pindah nomor sementara."


Aku mengangguk.


Kami berjalan ke mobil.


Di sebelahku—di sudut parkiran yang gelap, di antara mobil-mobil—aku melihat sosok seseorang yang berdiri diam.


Jaket hitam. Topi hitam baseball. Tinggi sedang. Kurus.


Aku tidak menoleh penuh. Aku hanya melihat lewat sudut mata.


Sosok itu mengangkat tangan kanannya pelan-pelan.


Lalu menunjuk ke arahku.


Tangan dengan jari-jari yang **terlalu panjang**.

-e 


---