Aku tidak membalas pesan itu.
Aku menatap layar selama tiga puluh detik, lalu kuletakkan HP terbalik di kasur. Layar menghadap ke seprai. Seakan dengan menutup wajahnya, pesan itu akan ikut hilang.
Tapi aku, Aira Pradipta, content strategist yang setiap hari kerjanya mengelola data, tahu satu hal pasti: pesan tidak hilang karena kita tidak melihatnya.
Aku duduk di tepi kasur. Tujuh serpihan kuku masih di telapak tangan kananku. Aku berdiri. Berjalan ke dapur. Membuka lemari di bawah wastafel. Mengambil kantong plastik kecil bekas bumbu—aku menyimpan banyak, kebiasaan ibu yang tidak pernah hilang—dan memasukkan tujuh serpihan itu ke dalam.
Aku mengikat kantong dengan rapat. Menaruhnya di dalam tas kerja.
Aku tidak tahu kenapa aku menyimpannya. Aku hanya tahu aku harus.
Lalu aku duduk di meja kerja, menyalakan laptop, dan membuka HP.
Aku punya satu kebiasaan yang menyelamatkan banyak hal.
Aku screenshot semuanya.
Chat penting. Bukti transfer. Status WhatsApp mantan. Bukti percakapan dengan klien yang suka mengubah brief. Aku tipe orang yang tidak percaya pada memori—manusiaku, atau cloud-nya. Memori bisa salah. Memori bisa dihapus. Tapi screenshot, sekali tersimpan, akan tetap ada.
Jadi saat aku tidak menemukan satu pun screenshot chat dengan Reza di galeri pagi itu, aku tahu dua hal.
Satu, aku tidak gila.
Dua, ada yang menghapusnya.
—
Aku buka Play Store. Mengetik "DiskDigger." Aplikasi recovery foto yang dulu pernah kupakai untuk mengembalikan foto liburan yang tidak sengaja terhapus.
Install. Buka. Izinkan akses storage.
Aku tap "Pemindaian Penuh."
Loading bar mulai bergerak. Lambat. Dua puluh menit estimasi.
Aku ke dapur, membuat kopi tubruk—dingin, kebiasaan yang baru kusadari beberapa orang lain juga punya—lalu kembali ke meja kerja. Sambil menunggu, aku buka laptop dan login ke akun Pulse di browser.
*"Akun tidak ditemukan."*
Aku coba ulang. Username aku ingat. Password aku ingat—aku selalu pakai pola yang sama.
*"Akun tidak ditemukan."*
Aku coba reset password.
*"Email tidak terdaftar."*
Aku tertawa kecil. Tertawa bukan karena lucu. Tertawa karena aku tidak tahu harus apa lagi.
Lalu HP-ku berdenting. Notifikasi DiskDigger.
*"Pemindaian selesai. 47 foto ditemukan."*
—
Aku scroll hasilnya.
Foto-foto lama: Daffa di Plataran tahun lalu—aku menghapusnya bulan kemarin. Foto liburan ke Bali bersama Tania. Foto sticker meme yang dulu kukirim ke grup keluarga. Foto resep nasi bakar yang nggak pernah jadi kumasak.
Aku scroll terus.
Lalu aku menemukan folder yang aku tidak ingat pernah ada.
Folder bernama *"DCIM/HiddenCache/2024-2025"*—folder yang seharusnya tidak ada di galeri normal. Folder yang dibuat oleh aplikasi—oleh sesuatu yang berjalan di HP-ku tanpa aku tahu.
Aku tap.
Lima belas foto.
Semua foto kamarku.
Semua diambil dari sudut yang sama persis—dari dalam lemari, antara tumpukan baju, ke arah kasurku.
Aku buka satu per satu.
Foto pertama: kamar yang sama, tapi sedikit berbeda. Lampu tidur belum kupakai. Aku belum punya lampu itu sampai bulan lalu. Timestamp metadata: **3 bulan lalu, 03:17 AM.**
Foto kedua: kasur kosong. Tidak ada aku. **2 bulan lalu, 03:17 AM.**
Foto ketiga: aku, di kasur, tidur miring. Selimut sampai pinggang. **6 minggu lalu, 03:17 AM.**
Foto-foto berikutnya: aku tidur. Aku tidur. Aku tidur. Selalu sudut yang sama. Selalu jam yang sama.
Foto kelima belas: kamarku tadi malam. Aku terbaring di kasur, HP masih di tanganku. Senyum kecil di wajahku.
Yang aku tidak ingat tertangkap kamera siapa pun.
—
Aku menutup HP. Berdiri.
Aku berjalan ke laci kerja. Mengambil perjanjian sewa apartemen. Tanggal masuk tertulis jelas: aku pindah ke unit C-12 ini **tujuh minggu lalu.**
Foto kelima belas tadi—foto kamarku tiga bulan lalu, lampu tidur yang belum ada—diambil **enam minggu sebelum aku tinggal di sini.**
Aku berdiri lama, memegang perjanjian sewa di tangan.
Lalu aku ambil tas. Memakai jaket. Turun ke lobi.
—
"Mbak Aira, ada yang bisa dibantu?"
Resepsionis pengelola apartemen, Mbak Devi, tersenyum dari balik meja. Aku tarik napas.
"Mbak, aku mau tanya. Unit C-12—sebelum aku, penghuninya siapa ya?"
Mbak Devi mengernyit. "Sebelum Mbak? Coba saya cek."
Dia mengetik di komputernya. Mengernyit lebih dalam. Mengetik lagi.
"Eh, aneh, Mbak. Sistem bilang unit itu kosong sebelum Mbak."
"Kosong? Maksudnya berapa lama?"
"Sebentar saya cek riwayat lengkapnya."
Klik. Klik. Klik.
"Setahun, Mbak."
"Setahun kosong?"
"Iya. Penghuni terakhir keluar—" dia mengetik lagi—"Februari tahun lalu. Habis itu kosong sampai Mbak masuk September."
Aku berusaha tidak menunjukkan apapun di wajahku. "Boleh saya tahu nama penghuni sebelumnya?"
Mbak Devi menatap layarnya. Lalu menatapku. Lalu menatap layarnya lagi.
"Mbak, ini... aneh sih."
"Kenapa?"
"Nama penghuni sebelumnya nggak ada di sistem. Cuma ada catatan dia keluar. Tapi data masuknya hilang. Kayak diapus sebagian." Dia menggeleng. "Kadang sistem kami begini, Mbak. IT lagi update."
Aku tersenyum tipis. "Ada nomor kontak yang bisa saya hubungi mungkin?"
"Cuma ada nomor darurat. Tapi—" dia menatap layar—"nomor itu nggak aktif."
Aku berterima kasih, berbalik, dan kembali ke unit dengan jantung berdetak terlalu pelan.
—
Aku masuk unit. Kunci pintu. Kunci ganda.
Aku berjalan ke kamar.
Aku berdiri di depan lemari yang masih terbuka—aku lupa menutupnya saat keluar tadi pagi. Kunci gembok tergeletak di lantai.
Aku menutup pintu lemari. Memasang gembok. Mengunci dua kali.
Aku tarik napas panjang. Mengeluarkan HP. Mau telepon Tania.
Tapi sebelum sempat menekan tombol panggil, aku merasakannya.
Ruangan ini terlalu hening.
AC menyala—aku dengar dengungannya. Lemari es di dapur—dengung ringan dari ruang sebelah. Klakson dari jalan luar—samar.
Tapi di kamar ini, tepat di belakangku, ada *kekosongan suara.* Seperti ada bagian ruang yang menelan suara, bukan menyalurkannya.
Aku berbalik pelan.
Lemari masih tertutup. Gembok masih terkunci.
Tapi di celah antara dua daun pintu lemari—celah kecil yang lebarnya tidak lebih dari lima milimeter—aku bisa melihat gelap di dalam.
Gelap yang biasa.
Sampai gelap itu mengedipkan mata.
—
Aku tidak teriak.
Aku tidak lari.
Aku, Aira Pradipta, dua puluh empat tahun, anak ibu yang mengajarkan untuk tidak pura-pura tidak melihat, hanya berdiri di tengah kamar dengan HP di tangan kiri dan kunci lemari di tangan kanan, dan menatap balik celah itu.
Sepasang mata di balik pintu lemari menatapku selama tiga detik penuh.
Lalu pelan-pelan—tanpa suara, tanpa engsel berderit—pintu lemari yang sudah kukunci dengan gembok mulai terbuka dari dalam.
HP-ku bergetar di tangan kiri.
Notifikasi.
Aku tidak melihat layar. Aku tidak bisa memalingkan mata dari celah lemari yang terus melebar.
Tapi suara notifikasi itu kukenal. Suara yang sama dengan tadi pagi. Suara yang sama dengan Pulse.
Lalu HP-ku mati.
Bukan layar yang mati. Seluruh HP. Mati total. Hitam.
Dan dari balik pintu lemari yang sekarang sudah terbuka sekitar dua puluh sentimeter, aku mendengar suaraku sendiri—suaraku, Aira, suara yang aku dengar setiap hari saat aku bicara—berbisik pelan dari dalam kegelapan:
*"Akhirnya kamu liat."*
-e
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar