Tidak ada yang pernah memberitahuku bahwa menikah dengan seorang duda beranak adalah seperti mengundang badai masuk ke dalam rumah yang sudah susah payah kubangun. Badai itu tidak selalu datang dalam bentuk angin kencang atau petir yang menyambar. Kadang ia datang perlahan, berupa pesan singkat di tengah malam, atau suara langkah kaki suamiku yang pergi terlalu lama dan pulang dengan wajah yang tidak sepenuhnya milikku.


Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, Ardan pergi.


"Mas, kenapa harus ke sana lagi?" tanyaku, mencoba menjaga suara agar tetap datar meski dadaku sudah sesak sejak satu jam lalu.


Ardan berdiri di depan cermin, merapikan kerah kemejanya. Ia tidak menjawab langsung. Kebiasaan buruknya — diam dulu, berpikir dulu, lalu menjawab dengan kalimat yang seolah sudah dipersiapkan.


"Cinta telepon tadi, Ran. Dia bilang ada urusan mendadak yang harus dibicarakan sama Ayahnya."


"Urusan apa, Mas? Cinta baru kelas empat SD. Urusan apa yang begitu mendadak sampai harus dibicarakan malam-malam begini?"


Ardan menghela napas. Panjang. Seperti orang yang lelah menjelaskan hal yang sama untuk kesekian kalinya.


"Aku tidak tahu persis, Ran. Tapi Siska bilang penting."


Dan di sanalah inti persoalannya. Siska. Nama itu selalu muncul seperti duri yang tidak pernah benar-benar tercabut dari telapak kakiku. Siska Paramita, mantan istri Ardan, perempuan yang sudah resmi dicerai tapi tampaknya tidak pernah benar-benar melepaskan mantan suaminya.


"Siska yang minta, atau Cinta yang minta?" tanyaku lebih tegas.


Ardan berpaling dari cermin dan menatapku. Ada sesuatu di matanya — bukan rasa bersalah, tapi sesuatu yang lebih menyakitkan: ketidakberdayaan.


"Keduanya."


Aku tidak berkata apa-apa lagi. Kupersilakan ia pergi dengan gestur tangan yang kuperkirakan terlihat biasa, padahal di dalam dadaku ada sesuatu yang retak dengan cara yang sangat pelan.


***


Sudah tiga bulan kami tinggal di Yogyakarta, mengikuti penempatan kerja Ardan yang dipindahtugaskan dari Jakarta. Tiga bulan yang kukira akan menjadi babak baru dalam pernikahan kami — lebih tenang, lebih damai, jauh dari hiruk pikuk ibukota. Tapi ternyata Siska pun pindah. Atau lebih tepatnya, Siska sudah lebih dulu ada di Yogyakarta bersama ibunya, dan keberadaan kami di kota yang sama ini seperti memberikannya alasan baru untuk terus hadir dalam kehidupan kami.


Aku menikah dengan Ardan dua tahun lalu. Saat itu aku sudah tahu risikonya — ia duda dengan tiga anak. Dua dari mendiang istrinya, Salma, yang pergi karena kanker setahun sebelum kami bertemu. Satu lagi dari Siska, perempuan yang dinikahinya setelah Salma tiada namun kemudian bercerai dalam waktu dua tahun.


Bagas dan Tiara, dua anak pertama Ardan, tinggal bersama kami. Bagas kini duduk di bangku kuliah, sementara Tiara baru masuk SMA. Cinta, anak dari Siska, ikut ibunya. Tapi sebagai anak yang sah, ia tentu punya hak untuk bertemu ayahnya kapan pun.


Yang menjadi masalah adalah caranya.


Atau lebih tepatnya, cara Siska menggunakan Cinta.


***


Ardan baru pulang pukul sepuluh malam. Aku sudah selesai menyuapi Naya dan Nisa, dua putri kecil kami yang berumur tiga dan empat tahun, dan menidurkan mereka di kamar. Dafa, anakku dari pernikahan pertama yang kini kelas enam SD, sudah lebih dulu tertidur setelah lelah bermain seharian.


"Tadi bahas apa?" tanyaku begitu suara pintu terdengar.


Aku duduk di meja makan dengan segelas air yang sudah lama tidak kusentuh. Ardan menaruh kunci di gantungan, lalu berjalan ke arahku. Wajahnya terlihat lelah.


"Bahas soal sekolah Cinta," jawabnya sambil menarik kursi dan duduk.


"Kelas berapa Cinta sekarang?"


"Empat SD."


"Jadi kalian bahas sekolah SD-nya?"


"Siska bilang mau memindahkan Cinta ke sekolah yang lebih dekat dengan rumahnya yang baru. Minta pendapat Ayahnya."


Aku mengangguk pelan. Mengangguk bukan berarti menyetujui — itu hanya isyarat bahwa aku sedang mencernanya, dan mencoba tidak meledak.


"Mas," kataku akhirnya, "apakah setiap malam aku harus merelakan suamiku pergi ke rumah mantan istrinya hanya untuk urusan yang sebenarnya bisa diselesaikan lewat telepon?"


Ardan tidak menjawab.


"Mas," kataku lagi, "aku bukan tidak mengerti soal Cinta. Dia anakmu, dan itu hak yang tidak bisa diganggu gugat. Tapi yang aku persoalkan adalah cara Siska selalu menjadikan Cinta sebagai alasan untuk memanggilmu datang. Ke rumahnya. Malam-malam. Sendirian."


"Aku tidak pergi sendirian, Ran. Supir—"


"Mas pergi sendirian dari sini. Dan Mas meninggalkan istri dan anak-anakmu di rumah."


Ardan terdiam lagi. Ia memang tidak pandai berdebat. Tapi ketidakmampuannya untuk menolak permintaan Siska adalah masalah yang jauh lebih besar dari sekadar perdebatan malam ini.


Aku bangkit, mengangkat gelas kosong itu, dan berjalan ke dapur.


"Makan dulu, sudah kusimpan di rice cooker," kataku tanpa menoleh.


Itu saja yang kukatakan. Karena terkadang, perempuan yang paling sabar pun tahu kapan waktunya berhenti bicara — bukan karena sudah tidak ada yang ingin dikatakan, tapi karena kata-kata yang tersisa terlalu berat untuk diucapkan tanpa air mata.


Dan malam itu, aku belum siap menangis di depannya.