Ada satu hal yang paling membuatku frustrasi dari seluruh situasi ini: Ardan tidak pernah benar-benar sadar bahwa dirinya sedang dimanipulasi.
Ia terlalu baik hatinya. Terlalu tidak enakan. Dan Siska, dengan segala kecerdasannya dalam membaca kelemahan manusia, memanfaatkan itu dengan sangat terampil.
Pagi ini contohnya.
Ardan baru selesai sarapan dan hendak berangkat kerja ketika ponselnya berdering. Aku sedang di dapur menyiapkan bekal Dafa, sementara Naya dan Nisa masih rewel di ruang makan karena tidak mau menghabiskan susu mereka.
"Iya, Cinta. Ayah lagi mau berangkat," kudengar suara Ardan menjawab telepon.
Aku menghentikan tanganku sejenak.
"Sakit? Sejak kapan?" Jeda. "Ya sudah, Ayah telepon dokternya dulu ya."
Aku keluar dari dapur tepat ketika Ardan memasukkan ponselnya ke dalam saku.
"Cinta sakit?" tanyaku.
"Katanya panas sejak semalam. Siska minta tolong aku cariin dokter anak yang buka pagi."
"Siska tidak punya nomor dokter sendiri?"
Ardan mengerutkan dahi, seperti baru menyadari bahwa pertanyaanku sangat logis. "Mungkin tidak tahu dokter yang bagus di sini. Baru pindah juga."
"Mas," kataku dengan suara yang kujaga setenang mungkin, "Siska tinggal di Yogyakarta sudah tiga bulan. Lebih lama dari kita. Dan ibunya juga tinggal di sini. Masa untuk soal dokter anak saja harus menghubungi mantan suaminya?"
Ardan tidak menjawab.
"Aku bukan melarang Mas peduli sama Cinta," lanjutku. "Tapi ada batas yang seharusnya dijaga, Mas. Dan batas itu sudah berkali-kali dilanggar oleh Siska."
"Ran—"
"Aku hanya ingin Mas sadar," kataku, memotong dengan lembut. "Bukan marah. Sadar."
Aku kembali ke dapur. Mendengar Ardan menelepon seseorang — entah dokter, entah Siska — sementara tanganku mengemas bekal Dafa dengan gerakan otomatis yang tidak membutuhkan pikiran.
***
Sore harinya, Lia datang.
Lia adalah sahabatku sejak kuliah di UGM. Kami sama-sama berasal dari Jawa Tengah, sama-sama pernah menikah dan bercerai, dan kini sama-sama mencoba membangun hidup yang lebih baik — bedanya Lia belum menikah lagi, sementara aku sudah.
Ia duduk di kursi rotan di teras depan sementara aku membawakan dua gelas es jeruk nipis.
"Kamu kelihatan pucat," komentarnya langsung begitu melihatku.
"Kurang tidur."
"Karena si Siska lagi?"
Aku menyerahkan segelas es padanya, lalu duduk. "Dia minta Ardan cariin dokter untuk Cinta pagi ini."
Lia memonyongkan bibir. "Waw. Kreatif juga dia cari alasan."
"Yang lebih mengherankan adalah Ardan menurut begitu saja."
"Karena Ardan memang tipe yang tidak bisa menolak. Kamu sudah tahu itu dari awal, Ran."
"Tahu dan menghadapinya setiap hari itu dua hal yang berbeda, Li."
Lia mengangguk pelan, menyeruput es jeruknya. Ia tidak langsung berkomentar — salah satu hal yang kusuka darinya adalah ia tidak terburu-buru memberi nasihat. Ia mendengarkan dulu sampai habis.
"Seberapa sering dia menghubungi Ardan?" tanyanya akhirnya.
"Hampir setiap hari. Kadang dua-tiga kali sehari. Dengan berbagai macam alasan. Cinta demam, Cinta minta dibelikan buku, Cinta kangen ayahnya, Cinta ini-itu. Tapi ujungnya selalu sama — Ardan harus datang ke sana. Sendirian."
"Sendirian?"
"Itu yang selalu ditekankan dalam pesannya. Sendirian. Tidak perlu ngajak siapa-siapa."
Lia diam sejenak. "Itu manipulasi yang sangat calculated, Ran."
"Aku tahu."
"Dan Ardan tidak sadar?"
Aku mengangkat bahu. "Entah tidak sadar atau tidak mau sadar. Keduanya sama-sama menyakitkan bagiku."
Angin sore berhembus, menggerakkan dedaunan tanaman hias di pot-pot yang berjajar di tepi teras. Di sudut jalan, seorang tukang bakso lewat dengan lonceng khasnya. Suara Naya dan Nisa berlarian di dalam terdengar samar.
"Kamu mau sampai kapan begini, Ran?" tanya Lia pelan.
Aku menatap gelas di tanganku. "Sampai aku menemukan cara yang tepat untuk mengatasinya tanpa merusak rumah tanggaku."
"Bukan dengan cara meledak-ledak?"
"Bukan."
"Bukan dengan cara menyerah?"
"Tentu tidak."
Lia tersenyum kecil. "Kamu memang perempuan yang aneh, Ran. Tapi itu yang membuatmu kuat."
Aku tidak membalas. Hanya menyeruput es jeruk dan memandang jalan di depan rumah, berpikir tentang perang sunyi yang sudah berbulan-bulan kujalani — perang yang bahkan suamiku sendiri tidak sepenuhnya menyadari keberadaannya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar